Begitu Syulit Melupakan Depok: FORKASI 2023

Jakarta, OFM- Merefleksikan kenyataan perkembangan dunia digital pada masa kini, para Saudara Muda OFM Indonesia mengusung tema “Mewujudkan Fraternitas dan Minoritas di Era Digital” untuk direnungkan bersama dalam momentum tahunan temu akbar yang berlangsung di Depok pada Rabu sampai Sabtu (18-21 Januari 2023). Lebih dahulu tema ini telah dibicarakan dalam pekan Kapitel Provinsi pada akhir November 2022 lalu. Kali ini, para Saudara Muda juga ingin terlibat untuk memikirkan dengan sungguh tegangan antara perkembangan dunia digital dengan dua aspek dalam spiritualitas kefransiskanan yang dirasa tetap relevan sepanjang waktu itu.

Mengawali acara FORKASI 2023 dengan rekoleksi dan penyalaan api unggun

Pasca pandemi Covid-19, temu akbar Saudara-Saudara muda OFM Indonesia baru dapat dilangsungkan seperti sediakala lagi. Dua tahun berturut-turut, pada tahun 2021 dan 2022, kegiatan ini hanya dapat digelar secara full daring dan hibryd meeting, masing-masing setengah daring dan luring. Maka, untuk menyambut kesempatan ini, para Saudara Muda mengisinya dengan menggelar berbagai jenis mata perlombaan olahraga, mengadakan rekoleksi, dan pementasan tampilan seni, yang di dalamnya juga menghadirkan rekan-rekan OMK dari beberapa paroki Fransiskan di sekitaran wilayah Jakarta-Depok.

Sharing panggilan dan pengalaman sebagai Saudara Dina di era digital

Refleksi bersama tentang tantangan untuk mewujudkan spiritualitas persaudaraan dan kedinaan di era digital mewarnai seluruh dinamika kegiatan temu akbar yang berlangsung di Novisiat Transitus ini. Secara ringkas, Br Tanto OFM, sebagai pemberi rekoleksi, menantang para Saudara Muda untuk menyadari tegangan antara idealisme para Saudara Dina untuk mewujudkan aspek persaudaraan dan kedinaan dengan kenyataan perkembangan dunia digital yang tak jarang membuat sesama saudara justru kesulitan untuk menampilkan wujud persaudaraan yang konkrit. “Jangan sampai kita menghubungi tetangga kamar yang nyata-nyatanya ada di tempat via WA saja. Padahal, mestinya kita dapat menjumpainya secara langsung”, terangnya memberi contoh sederhana soal kesulitan tersebut.

Menjalin persaudaraan melalui kegiatan olahraga bersama

Dalam orasi malam budaya, Sdr. Papin OFM juga menekankan poin serupa. Sebagai kebaruan, ia menyebut soal pentingnya setiap saudara mengenali rambu-rambu dalam menggunakan media-media digital. Menurutnya, di tengah kenyataan membanjirnya beragam informasi, kemudahan untuk mengakses segala sesuatu, dan ketersediaan berbagai fitur aplikasi yang dapat memanjakan hidup, setiap saudara mesti selalu menyadari batas. Menggunakan analogi lampu lalu lintas, para saudara mesti menyadari kapan waktunya berhenti (merah), bilamana saatnya bersiap-siap untuk mengklik (kuning), serta kapan waktunya untuk “go” mengklik pilihan (hijau). Dengan begitu, para Saudara Dina dapat tetap menjadi kawanan yang bijak dalam mengikuti perkembangan dunia digital dewasa ini.

Mengekspresikan diri melalui seni tari. Puncak temu FORKASI dkemas dalam acara Malam Budaya. Para Saudara Muda menghadirkan berbagai macam atraksi dan penampilan. 

Temu akbar yang dihadiri oleh 69 Saudara Muda ini berjalan dengan baik dan penuh kegembiraan. Selain berefleksi bersama, momentum ini juga merupakan ajang yang tepat untuk saling bercengkerama, berkompetisi dengan sehat, berkenalan dengan para novis, hingga bernostalgia ―mengingat banyak kenangan lampau selama masih di Novisiat. “Memang e, selalu syulit untuk melupakan Depok ini”, aku Yon, salah seorang Saudara Muda yang berasal dari Manggarai, NTT, sambil tersenyum haru.

Ed.: Sdr. Tian Gunardo, OFM

Tinggalkan Komentar