Bersaudara dengan Para Difabel

Provinsi OFM St. Mikhael Malaikat Agung Indonesia mencanangkan tahun 2021 sebagai tahun “persaudaraan”. Dalam rangka itu, Gardianat San Damiano Depok menanggapi fokus Provinsi ini dengan menggelar pertemuan gardianat di awal tahun 2021. Tema yang diangkat sebagai bahan permenungan bersama adalah Bersaudara dengan Para Difabel.

Pertemuan dilangsungkan di ruang kelas Novisiat Transitus Depok. Pertemuan dimulai Pkl. 16:15, dengan diawali Ibadat Sore bersama. Setelah ibadat, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Sdr. Anton Widarto OFM (Gardian Gardianat San Damiano Depok) tentang pelayanan terhadap kaum difabel. Sembari mendengar pembahasaan, para saudara menikmati snack.

Pembahasan mengenai difabel atau disabilitas ini terinspirasi dari tesis Sdr. Eduard Salvatore da Silva OFM. Pendalaman bersama ini menyadarkan para saudara akan kehadiran para difabel atua disabilitas yang ada di sekitar kita. Lebih dari itu, pemaparan materi ini hendak meyadarkan para saudara bagiamana cara bersikap yang tepat dalam berelasi dengan kaum difabel. Hal ini penting, karena acapkali kita  menomorduakan mereka, meminggirkan mereka, dan melihat mereka sebagai orang-orang yang tidak normal; padahal, jika kita menyadari dengan sungguh, mereka juga diciptakan oleh Allah yang satu dan sama. Hal ini kemudian meyadarkan kita untuk membangun relasi dengan mereka layaknya membangun relasi dengan orang lain pada umumnya.

Setelah pemamparan materi selesai, para saudara diberi kesempatan untuk me-sharing-kan pengalaman berkenaan dengan perjumpaan mereka dengan para difabel. Adapun saudara yang berbagi pengalamannya, diantaranya: Sdr. Oki, Sdr. Marciano, Sdr. Pei, dan Sdr. Alfons. Dalam sharing keempat saudara ini, kesan awal yang muncul dalam perjumpaan dengan kelompok difabel adalah anggapan bahwa mereka (para difabel) adalah orang-orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan belas kasihan. Akan tetapi, setelah mengenal lebih jauh ternyata kaum difabel memiliki kelebihan tertentu yang kadang melampaui manusia pada umumnya. Misalnya, mereka bisa bernyanyi dengan sempurna, bisa bermain musik dengan baik, serta memiliki dan ketrampilan-ketrampilan terntentu. Oleh karena itu, hendaknya kita menghargai mereka dan membangun hubungan yang baik dengan mereka.

Pertemuan ditutup dengan sharing dari Sdr. Wiwin dan Sdr. Alex. Dalam sharingya, Sdr. Wiwin mengatakan bahwa ia adalah seorang yang “difabel”. Ia bercerita bahwa ketika masih tinggal di Komunitas Fransiskus Kramat Raya, selama tiga bulan ia sempat lupa ingatan. Akan tetapi, ia bersyukur atas perhatian para saudara selama ia menjalani masa-masa sulit dalam hidupnya. Sementara, Sdr. Alex mengatakan bahwa kita juga cacat adanya, tidak ada yang sempurna. Maka dari itu, kita mesti memerhatikan satu sama lain, khususnya menghargai merka yang difabel sebagai Citra Allah. Guru Besa filsafat ini juga menegaskan bahwa dalam diri kaum difabel Kristus juga hadir. Mengakhiri sharingnya beliau mengutip kata-kata Paulus, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal. 2:20).

Usai sharing dari Sdr. Wiwin dan Sdr. Alex, para saudara tua melanjutkan pertemuan di kamar makan CDR, sementara para Novis menyiapkan makan malam. Malam ini, semua saudara se-gardianat, makan bersama di Kamar Makan NosTraDe.***

Sdr. Anjelo Darmin

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *