Persaudaraan Fransiskan Provinsi St. Mikael Malaikat Agung bersukacita atas penerimaan enam belas (16) saudara sebagai Novis angkatan 2022-2023 pada hari Jumat (15/07/2022). Setelah menjalani masa postulat selama sepuluh bulan, mereka menyatakan niat untuk menganut cara hidup yang ditunjukkan oleh Santo Fransiskus dari Assisi dengan menerima jubah pertobatan. Acara penerimaan jubah pertobatan dilangsungkan dalam ibadat sabda yang dipimpin oleh Sdr. F. A. Oki Dwihatmanto, OFM dan didampingi oleh Sdr. Santono Situmorang, OFM. Ibadat Penerimaan Novis dilangsungkan pada pukul 10.00 WIB di Kapel Novisiat Transitus, Depok, Jawa Barat. Keenambelas saudara novis yang diterima pada hari ini adalah:

  1. Clementius Fredglino Lenkye Wares
  2. Krisantus Dion
  3. Arnoldus Dua Poa
  4. Marianus Aventino Penabur
  5. Ronaldo Stefanus Gati Aghe
  6. Evaldus Ndulu
  7. Paulinus Hanto
  8. Serafim Wilton Abur
  9. Robertus Evata Lehot
  10. Juan Karlo Suban Mukin
  11. Valentino Elvis Halyo
  12. Beatus Elfridus Yosmen
  13. Alexandro Papino
  14. Evaristus Dwiputra Rodriques Adu
  15. Ray Monthana Sinaga
  16. Lusilso Lelo Mali

Magister Novis, Sdr. Oki Dwihatmanto, OFM, menyerahkan jubah pertobatan kepada Novis baru. Jubah pertobatan akan dikenakan selama Masa Novisiat yang berlangsung selama satu tahun.

Dalam tradisi Fransiskan, Masa Novisiat dikenal juga sebagai tahun pertobatan. Para calon Fransiskan memasuki cara hidup yang baru dengan menghayati secara serius spiritualitas Fransiskan. Sdr. Oki Dwihatmanto, OFM dalam homilinya menyatakan pertobatan menekankan perubahan batin. Tanda nyata pertobatan adalah menyerahkan berbagai materi yang tidak diperlukan selama masa novisiat, seperti smartphone, uang, dan lain sebagainya.

Para Novis baru berfoto bersama seusai menerima jubah pertobatan.

Jubah pertobatan yang diterima adalah jubah bekas. Pengenaan jubah bekas melambangkan kerendahan hati dan kesediaan para Novis dalam menjalani masa pertobatan. Jubah bekas juga bermakna pencarian terdalam para Novis terletak pada kualitas relasi dengan Allah, diri sendiri, dan sesama, bukan pada kualitas kain jubah. “Dengan menerima jubah pertobatan, saya harus menerima kerapuhan diri saya dan dengan itu bertobat,” ungkap Sdr. Juan Karlo Suban Mukin, salah seorang Novis dengan penuh semangat.

 

Sdr. Vincentius Gabriel, OFM

Ed.: Sdr. Rio, OFM

Tinggalkan Komentar