Menghidupi Injil, Menginkarnasikan Karisma, dan Menanggapi Misi

Pada tanggal 2-8 Juni 2025, diselenggarakan Kapitel Tikar tingkat mondial di Porziuncola. Sdr. Gusti Nggame OFM berkesempatan hadir sebagai salah satu utusan SAAOC. Pada artikel ini beliau membagikan pengalaman dan laporan singkat perihal jalannya Kapitel Tikar. Laporan ini diperkaya butir-butir refleksi yang lahir selama kapitel. Selengkapnya!

Para peserta Kapitel Tikar dalam kesempatan Ziarah di sela-sela dinamika kapitel.

 

Pada tanggal 2 hinga 8 Juni 2025, Ordo Saudara-Saudara Dina menyelenggarakan sebuah pertemuan yang disebut Kapitel Tikar Ordo. Tema yang diusung dalam Kapitel ini adalah “Menghidupi Injil, Menginkarnasikan Karisma, dan Menanggapi Misi”.   Kapitel berlangsung di Hotel Domus Pacis, Porziuncola dan dihadiri oleh 150 peserta dari pelbagai konferensi. Perlu diketahui, OFM memiliki 13 konferensi, yaitu CEM (Conference of Southern Europe), CONAMO (Conference of North Africa and Middle East), ESC (English Speaking Countries), SLAN (Conference of North Slavic), SLAS (Conference of South Slavic), EAC (East Asian Conference), BRACS (Brazil and Southern Cone Conference), BOLIV (Bolivarian Conference), MEXAC (Mexico and Central America Conference), ESAC (English Speaking Africa Conference), CAF (Francophone African Conference), COTAF (Transalpine Conference), SAAOC (South Asia, Australia, Ocenia Conference).

Masing-masing konferensi mengirim utusan yang terdiri dari para saudara OFM, religius Fransiskan, OFS, serta awam non Fransiskan. Saya menghadiri Kapitel ini sebagai salah satu utusan dari SAAOC. Selain saya, ada Sdr. Derrick Yap (Singapura, Presiden SAAOC), Sdr. Santosh Ekka (India), Sdr. John Sekar (India), Sr. Ruth Dias FSM (India), Sr. Bernadeta Budi Juliati FMM (Indonesia), Sdri. Lindey Easter (Malaysia), Sdri. Flora Imaculata Pereira (Timor Leste), Sdri. Emily Sit (New Zealand).

 

Mandat Kapitel General

Kapitel Tikar internasional ini merupakan tindak lanjut dari mandat Kapitel General 2021. Dalam mandat nomor 4 dijelaskan bahwa Kapitel General memberi wewenang kepada Minister General dan Definitornya untuk melibatkan para Minister Provinsi, Kustos dan dewan masing-masing dalam memajukan hidup persaudaraan yang otentik dan mendengarkan setiap orang, terutama kaum muda, di berbagai tingkat.

Dengan mandat ini, Minister General dan Definitornya mengambil keputusan untuk mengadakan Kapitel Tikar berjenjang, dari tingkat Gardianat, Provinsi atau Kustodi, sampai ke tingkat Ordo. Sejak tingkat pertama, Kapitel Tikar ini diatur sebagai sebuah perjalanan sinodal dengan melibatkan saudara-saudara dari Ordo Pertama, para saudara dan saudari dari Ordo Kedua dan Ketiga, baik religius maupun awam. Saudara dan saudari ini memberikan masukan kepada para Saudara Dina dengan mengarahkan perhatian mereka pada tiga pokok dasar, yaitu Karisma, Persekutuan, dan Misi.

Selanjutnya, panitia di tingkat konferensi merangkum seluruh hasil Kapitel Tikar di tingkat lokal dan mengirimnya ke Kuria General. Rangkuman yang dibuat di tingkat konferensi ini menjadi bahan dasar bagi penyusunan Instrumentum Laboris untuk Kapitel Tikar Ordo.

 

Dalam Semangat Pembaruan

Kapitel Tikar Ordo dibuka dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Minister General, Sdr. Massimo Fusarelli OFM. Dalam homilinya, beliau mengajak para kapitularis untuk menimba inspirasi dari Tindakan yang dilakukan oleh Santo Paulus. Seperti yang dilukiskan dalam Kisah Para Rasul 19:1-8, Paulus menemukan bahwa murid-murid di Efesus belum menerima Roh Kudus. Di sini, Paulus tidak puas dengan apa yang ia temukan dan ingin melangkah lebih dalam. Minister General mengharapkan agar semangat Santo Paulus ini bisa mendorong para kapitularis untuk tidak berpuas diri pada apa yang sudah bersifat rutin tetapi selalu terbuka pada kebaruan-kebaruan yang dihembuskan Roh Tuhan.

Saudara Massimo juga mengingatkan para kapitularis bahwa Yesus tidak pernah menjanjikan jalan yang serba mudah (Yoh. 16:29-33). Ia secara realistis berbicara kepada para murid mengenai kesusahan yang akan mereka hadapi. Kesusahan yang dihadapi para murid, menurut Minister General, seharusnya mengingatkan kita juga akan pelbagai kesusahan yang kita hadapi dewasa ini, seperti budaya perang dan perlombaan senjata, berbagai bentuk sekularisasi, menurunnya panggilan, serta tantangan modernitas. Tetapi kesusahan-kesusahan itu, lanjutnya, jangan sampai membuat kita pasif dan takut. Yesus sendiri mengatakan: “kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). “Kita perlu menemukan keberanian yang bersumber pada Kristus yang bangkit, yang hidup dan berkarya secara aktif di tengah kita,” jelas beliau.

Santo Fransiskus dari Assisi, menurutnya, telah menunjukkan keberanian tersebut. Hal itu tampak, antara lain, dalam keputusannya untuk mengirim para saudara ke tengah kaum Saracen, menyeberangi batas-batas ketakutan dan prasangka, menghidupi Injil secara sine glosa, walaupun dia tahu bahwa dunia akan menolak dan mencemooh mereka. Kita juga, kata Saudara Massimo, perlu memiliki keberanian untuk terbuka pada suara-suara yang datang dari luar melalui tanda-tanda zaman dan suara-suara dari semua anggota yang berasal dari pelbagai benua.

Mengacu pada apa yang ditunjukkan Paulus di Efesus, Saudara Massimo mengartikan Kapitel Tikar sebagai momen discernment komunal di mana masing-masing orang membiarkan Roh Kudus berbicara melalui suara-suara dari pelbagai belahan dunia. Ini mengandaikan keberanian untuk menghadapi realitas dan mencari kebenaran secara bersama. Ia mendorong para kapitularis untuk membiarkan diri dan misinya dipertanyakan. Kapitel Tikar, menurutnya, harus dijalani dengan semangat untuk meneliti apakah Roh Kudus sungguh menganimasi hidup dan misi kita.

 

Laporan dari Konferensi

Pada tanggal 2 hingga 3 Juni, acara diisi dengan laporan dari setiap konferensi. Presiden konferensi atau saudara yang mewakili menjelaskan keadaan entitas-entitas yang termasuk dalam konferensinya. Dalam pemaparan, beberapa saudara menggunakan power point. Ada yang menggunakan video. Ada juga yang hanya membacakan teks yang sudah disiapkan. Hal-hal yang disampaikan, antara lain, adalah jumlah para saudara, karya-karya yang ditangani, hal-hal yang menggembirakan, tantangan-tantangan yang dihadapi, serta inisiatif-inisiatif baru yang muncul di konferensi dan entitas.

Dari presentasi masing-masing konferensi, salah satu hal yang langsung mengundang perhatian adalah tren penurunan jumlah anggota. Sebagaian besar entitas mengalami gejala ini. Ada entitas-entitas yang memiliki saudara-saudara berprofesi kekal dengan usia rata-rata di atas 50 tahun. Ada entitas-entitas yang jumlah saudara berprofesi kekal masih banyak, tetapi jumlah saudara-saudara yang berada dalam formasi awal semakin berkurang atau bahkan tidak ada. Di tengah tren penurunan kuantitas ini, beberapa entitas di Asia dan Afrika justru mengalami situasi sebaliknya. Indonesia, Vietnam, Kongo adalah contoh dari entitas-entitas yang pertumbuhan anggotanya mengalami kenaikan. Dalam beberapa pembicaraan informal, beberapa saudara melontarkan kata-kata ini: Indonesia sarà il futuro dell’ordine (Indonesia akan menjadi masa depan Ordo)

Menariknya, tren penurunan jumlah anggota tidak menyurutkan semangat para saudara untuk terus menampilkan karisma Fransiskan melalui hidup dan karya-karya yang ditangani. Di tengah keterbatasan dan kendala, ada upaya nyata untuk menemukan bentuk-bentuk kehadiran baru. Pendampingan kaum migran, pembangunan komunitas di tengah masyarakat asli, pelayanan makanan gratis untuk orang miskin adalah beberapa contoh dari sekian banyak upaya menampilkan karisma yang diangkat selama sesi presentasi.

Hal lain yang juga menarik perhatian adalah munculnya berbagai inisiatif dan usaha membangun kolaborasi antara entitas. Banyak entitas yang semakin terbuka dalam bekerja sama dengan entitas-entitas lain. Keterbukaan untuk kerja sama ini bisa disebabkan oleh kebutuhan konkret untuk memperkuat entitas tertentu. Selain itu, kerja sama juga dilakukan karena entitas-entitas memiliki perhatian yang sama. Sebagian besar kolaborasi antara entitas terjadi dalam bidang formasi. Dalam beberapa kasus, kolaborasi juga dilakukan di area misi dan evangelisasi.

 

World Café Method

Setelah mendengar laporan dari setiap konferensi, para kapitularis diarahkan untuk masuk dalam sesi sharing. Sesi ini berlangsung dari tanggal 4 hingga 6 Juni. Selama hari-hari ini, para kapitularis merefleksikan tiga tema besar, yaitu karisma, persekutuan, dan misi.   Guna mengarahkan refleksi, panitia sudah menyediakan sejumlah pertanyaan. Dalam satu hari, sharing dibagi dalam 3 sesi, yaitu pada pukul 09.30-10.30, 11.00-12.30; 15.00-16.30. Setelah sesi sharing pada sore hari, para kapitularis mendengarkan pleno yang disampaikan oleh para sekretaris dari setiap meja.

Metode yang digunakan dalam sharing ini adalah world café. Panitia menyediakan beberapa meja untuk sharing. Pada setiap meja sudah ada fasilitator dan sekretaris. Para kapitularis dipersilahkan memilih meja tempat dia ingin mensharingkan refleksi atau gagasannya. Setelah 20 menit, para kapitularis berpindah ke meja lain. Mereka harus memastikan bahwa di meja selanjutnya mereka tidak bertemu dengan orang yang sama di meja sebelumnya. Dinamika ini dilakukan selama tiga kali dalam setiap sesi.

Diskusi dan sharing para kapitularis melalui World Cafe Method.

Melalui metode ini, refleksi menjadi sangat kaya dan komprehensif. Metode ini bisa menyatukan pelbagai sudut pandang serta mengintegrasikan perbedaan konteks dan budaya. Salah satu tantangan yang sangat terasa dalam sharing adalah bahasa. Sebelum sharing para fasilitator memastikan jika masing-masing kapitularis bisa mensharingkan refleksinya dan sharingnya dapat dipahami oleh yang lain. Untungnya, panitia memiliki beberapa saudara yang bisa menjadi penerjemah. Selain itu, banyak kapitularis yang menguasai lebih dari satu bahasa. Hal ini meringankan tugas fasilitator.

 

Beberapa Kesadaran Yang Kuat Selama Kapitel

Dinamika Kapitel Tikar Ordo menyingkapkan banyak refleksi yang menarik dan meneguhkan. Beberapa di antaranya dirangkum di bawah ini.

  • Kesadaran akan pentingnya keterbukaan pada Roh Kudus

Salah satu kesadaran yang kuat selama Kapitel adalah kesadaran mengenai peran mutlak Roh Kudus dalam menghidupkan karisma. Roh Kudus memanifestasikan diri-Nya dalam seluruh hidup harian para saudara dengan menggunakan pelbagai macam sarana. Roh Kudus adalah animator sesungguhnya dari karisma fransiskan. Ia mentransformasi hidup para Fransiskan. Seluruh hidup dan pelayanan Fransiskan, baik terhadap manusia maupun alam ciptaan, dimaknai sebagai buah dari dorongan relasi dengan Roh Kudus.

Untuk memajukan karya Roh Kudus dalam diri masing-masing dan persaudaraan, penting untuk mengolah secara lebih mendalam relasi kita dengan Sabda Allah dan menjalani doa-doa liturgi (ibadat harian, Ekaristi, meditasi, adorasi) secara teratur. Selain itu, para Fransiskan juga perlu mengusahakan keheningan dan membangun perjumpaan dengan saudara-saudari dalam semangat mendengarkan.

  • Formasi

Rabi (Ibrani: Guru), di manakah Engkau tinggal? Ia berkata kepada mereka: Marilah dan kamu akan melihatnya.” (Yoh 1:39). Teks dari Injil Yohanes ini menjadi salah satu dasar bagi model formasi yang seharusnya dikembangkan dalam sekolah Fransiskan. Formasi dalam mengikuti Kristus menurut karisma Fransiskus muncul dari sebuah undangan untuk hidup dalam kenyataan, terlibat dalam kehidupan konkret. Karena itu, formasi hadir sebagai sebuah proses integral yang menyatukan spiritualitas ke dalam aspek-aspek konkret kehidupan Fransiskan: persaudaraan, misi, dan evangelisasi.

Pengalaman banyak orang menunjukkan bahwa formasi bisa menjadi kekuatan transformatif ketika ia disatukan dengan kehidupan nyata. Melalui pengalaman nyata, kategori dan pandangan kita ditantang, kemanusiaan kita diasah, dan kita menjadi pribadi yang lebih hidup dan berbuah. Karena itu, proses formasi yang baik didasarkan pada gaya hidup sehari-hari, di mana kerja fisik, kegiatan pastoral, dan kontemplasi diseimbangkan dan dibagi. Keyakinan ini menuntun kita untuk menjauhkan diri dari model-model pembinaan yang terlalu teoritis dan merangkul kompleksitas kehidupan, keragaman budaya, dan kerapuhan kondisi manusiawi kita.

  • Kerja Sama dan Persekutuan di Antara Anggota Keluarga Fransiskan

Para kapitularis melihat kerja sama di antara anggota keluarga Fransiskan sebagai kesempatan berharga, yang melaluinya karisma kita menemukan kekuatan dan momentum baru. Ikatan persekutuan di antara keluarga Fransiskan menyajikan kunci penting untuk memahami kehidupan gerejawi dan komitmen kita di dunia. Selama ini, kerja sama terjadi dalam banyak aspek, seperti kehidupan doa, formasi, evangelisasi, proyek sosial dan karitatif, bantuan kepada migran, orang miskin, dan orang sakit, pendidikan, pastoral orang muda, kepedulian terhadap ciptaan, dunia komunikasi dan media.

Menyadari pentingnya kerja sama di antara keluaga Fransiskan bagi pertumbuhan karisma dan misi, maka Kapitel Tikar mendorong agar kesadaran bahwa kita semua adalah saudara dan saudari terus ditumbuhkan. Kesadaran ini perlu diwujudnyatakan, antara lain, dengan lebih menghargai kehadiran para religius dan awam. Sejalan dengan itu, Kapitel mengingatkan para saudara untuk mengatasi klerikalisme. Dalam beberapa kasus, klerikalisme ini tercermin dalam sikap yang menganggap para suster dan kaum awam hanya sebagai pembantu para saudara. Kapitel mendorong para Saudara Dina agar dalam kerja sama perlu memajukan co-responsibility (tanggung jawab bersama)

  • Dalam Gereja yang Bergerak Keluar

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). Kapitel melihat amanat Kristus ini sebagai alasan utama bagi misi Gereja. Amanat ini menjadikan Gereja sebagai “komunitas yang bergerak keluar”.

Misi Gereja (dan Fransiskan) dicirikan oleh kepercayaan pada pemeliharaan ilahi dan keberanian untuk mengambil risiko dengan memberikan semua yang kita miliki. Untuk melakukan ini, kita perlu membiarkan diri kita disentuh oleh ketidakadilan, penderitaan, dan tangisan orang miskin. Bagi para Fransiskan, misi dijalankan sebagai tindakan mengembalikan semua hal yang baik kepada Tuhan dengan rasa syukur.

“Gereja yang pergi keluar” lahir dan tumbuh dalam hubungan dengan Tuhan dan dalam kontemplasi. Doa adalah elemen mendasar dari gerakan “pergi keluar”, karena doa memungkinkan kita untuk mempertahankan ikatan yang hidup dengan Tuhan dan untuk memperoleh kekuatan yang diperlukan dalam melaksanakan perjalanan misi kita. Selain itu, “Gereja yang pergi keluar” bisa terwujud jika kita mau melakukan perjalanan untuk keluar dari diri sendiri dan zona nyaman demi menjumpai wajah-wajah konkret yang membutuhkan kasih dan pengharapan.

Kendala yang perlu diatasi bagi terwujudnya “Gereja yang pergi keluar” adalah takut akan perubahan, keterikatan pada struktur pastoral yang kaku dan tertutup, skeptis terhadap bentuk-bentuk baru evangelisasi, prasangka politik dan sejarah, skandal moral, rasa puas diri, dan ekspresi hak istimewa klerikal yang merusak semangat minoritas Fransiskan.

 

Rekreasi dan Ziarah

Kapitel Tikar tidak hanya diisi dengan laporan dan sharing. Guna mengobati kepenatan, panitia mengalokasikan dua waktu berbeda (setelah makan malam) untuk rekreasi. Dalam rekreasi pertama, para kapitularis berkumpul di sebuah ruangan untuk sekedar berbincang-bincang ringan dan bersenda gurau sambil mencicipi minuman dan snack ringan yang disediakan panitia. Dalam rekreasi kedua, masing-masing kapitularis membawa buah tangan dari negaranya masing-masing. Berbagai macam minuman, makanan ringan, serta souvernir tersaji di atas meja. Selain itu, beberapa kapitularis secara sukarela mempersembahkan acara yang mengundang banyak peserta untuk menari, bernyanyi dan tertawa.

Ziarah menjadi kesempatan untuk reuni dengan sesama saudara dan saudari dari Indonesia (dan Asia). Tampak dalam gambar (ki-ka): Sdr. Derrick (Presiden SAAOC-Singapura), Sdr. Gusti, Sdr. Feli (misionaris OFM Indonesia di Turkiye), Sr. Juliati FMM (Indonesia), dan Sdr. Sam Nasada OFM (OFM Amerika asal Indonesia).

Selain rekreasi, panitia juga mengorganisir kegiatan ziarah bagi para kapitularis. Kegiatan ziarah ini berlangsung pada Sabtu, 7 Juni, pukul 08.00-16.00. Ada dua tempat yang menjadi tujuan utama ziarah, yaitu Basilika Santo Fransiskus dari Assisi dan Basilika Santa Klara. Guna memperlancar perjalanan ziarah, para kapitularis dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan bahasa, yaitu kelompok berbahasa Inggris (paling banyak anggotanya), kelompok berbahasa Italia, dan kelompok berbahasa Spanyol.  Di Basilika Santo Fransiskus, dipandu oleh seorang Saudara Konventual, para kapitularis diajak untuk mengenal sejarah Basilika dan hal-hal khusus yang ada di dalamnya. Setelahnya, masing-masing diberi kesempatan untuk berdoa secara pribadi di makam Bapa Serafik. Dari Basilika Santo Fransiskus, para kapitularis berjalan menuju Basilika Santa Klara. Di sini, para kapitularis mengadakan ibadat, yang diikuti dengan tour singkat untuk melihat, antara lain, jenazah Santa Klara, jubah-jubah yang dipakai Fransiskus dan Klara, serta Salib San Damiano yang asli.

Setelah kunjungan ke Basilika Santa Klara, para kapitularis diberi waktu untuk mengatur kegiatannya secara mandiri. Banyak dari para saudara yang masih meluangkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat suci fransiskan lainnya. Beberapa juga mengunjungi gereja, tempat jenazah Beato Carlo Acutis dibaringkan.

 

Diutus Menjadi Tanda Pengharapan, Nabi Persekutuan dan Damai

Seluruh rangkaian kegiatan Kapitel Tikar ditutup pada hari Pentekosta, Minggu, 8 Juni, 2025. Pada hari itu itu, acara dimulai dengan presentasi dokumen final dan voting para kapitularis untuk keabsahan dokumen tersebut.

Setelahnya, Minister General, menyampaikan sambutan terakhir di hadapan para kapitularis. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan kegembiraan atas terlaksananya Kapitel Tikar dan menegaskan bahwa pertemuan ini telah memancarkan cahaya baru bagi karisma itu sendiri. Selain itu, ia mengingatkan para kapitularis untuk tetap menjaga dinamika sinodal dalam keluarga Fransiskan terutama melalui dialog dan semangat saling mendengarkan.

Kapitel Tikar akhirnya berpuncak pada Misa Hari Raya Pentekosta di Basilika Maria Ratu Para Malaikat, Porziuncola. Misa dipimpin Vikaris General, Sdr. Ignacio Ceja OFM. Dalam homilinya, Sdr. Ignacio mengundang para kapitularis untuk bersyukur kepada Tuhan atas berkat yang telah diterima dalam hari-hari pertemuan yang penuh dengan dialog, discernment, refleksi, doa, dan sukacita. Seperti Santo Fransiskus, kita juga bisa dengan sukacita mengatakan hari ini: “Tuhan memberikan aku sejumlah saudara dan saudari”.

Selain itu, ia juga mendorong para kapitularis untuk membarui tugas perutusan mereka sebagai pewarta-pewarta Injil di tengah dunia. Ia mengajak para kapitularis untuk pulang ke keluarga, tempat kerja, tempat-tempat studi dan komunitas, sambil memberi perhatian khusus kepada mereka yang sangat membutuhkan bantuan: yang menderita, yang terlupakan, dan yang jatuh. Mengakhiri homilinya, Sdr. Ignacio dengan tegas mengatakan, “mari kita mencontohi Santo Fransiskus dan menjadi tanda pengharapan, nabi persekutuan dan damai”.

Tinggalkan Komentar