Bali, OFM – Bertempat di Rumah Retret St. Yoseph Pekerja, Bedugul, Bali, 19 Saudara Dina Bruder berkumpul selama lima hari (2-6/12/2023). Mereka datang dari berbagai tempat karya di wilayah Provinsi St. Michael Malaikat Agung, Indonesia dan Fundasi St. Antonio de Lisboa, Timor Leste.  Di bawah tema “Listening to the Voice of Lay Brothers, Discerning the Path to Go” para Saudara Bruder saling berbagi kisah panggilan dan karya perutusan. Sepanjang sejarah kehadiran Fransiskan di Bumi Nusantara, ini adalah kali pertama pertemuan para Saudara Bruder diadakan.

Dalam sambutan pembukaan pertemuan, Minister Provinsi menjelaskan latar belakang diadakannya pertemuan para Bruder. “Pertemuan ini adalah mandat dari Kapitel General 2021 dan diteguhkan kembali dalam FCAO Meeting yang juga berlangsung di Bali pada bulam Mei 2023 lalu,” jelasnya. Beliau menambahkan perihal pentingnya mendengarkan suara para Bruder sebagai salah satu upaya menunjukkan ciri khas kesetaraan bagi para Saudara Iman dan Bruder dalam tarekat. “Selanjutnya, pada tahun depan, pertemuan para Bruder dalam tingkat konferensi SAAOC akan diadakan di Singapura,” tegas Pater Mike.

“Bali dipilih karena merupakan titik tengah bagi para saudara yang berkarya di wilayah Barat dan Timur (Indonesia), ungkap Sdr. Trimur. Selain itu, pertemuan ini juga menghadirkan dua Saudara Bruder yang sedang berprofesi sementara yang sedang menjalani Tahun Orientasi karya, yakni Sdr. Irfan dan Sdr. Gerry. Harapannya, melalui pertemuan ini panggilan mereka sebagai Saudara Bruder semakin diteguhkan.

Setelah pembukaan pada hari pertama, acara dilanjutkan dengan pendalaman materi dan sharing di hari kedua dan ketiga. Pada hari kedua, Sdr. David Leary, OFM, seorang Saudara Bruder dari Provinsi Roh Kudus, Australia menjadi pemateri. Ia mengajak para Saudara Bruder untuk berani melihat ke dalam diri dan menerima semua pengalaman hidup apa adanya. Dengan berbicara satu sama lain (talk to each other) dan kolaborasi antara pemahaman psikologi serta teologi, para Saudara dapat menyadari identitas fransiskannya dengan utuh serta mengubah pengalaman kegagalan, kejatuhan, dan kelemahan sebagai peluang untuk saling mengasihi.

Sementara itu, Sdr. Mikael Peruhe, OFM mengajak para Saudara kembali merefleksikan motivasi dan dorongan yang membuat para saudara tetap bertahan dalam panggilannya sebagai seorang Bruder. Berkaca dari tantangan yang dialami, Beliau juga mengajak para Bruder untuk mengungkapkan harapan mereka terhadap persaudaraan dan terhadap sesama Bruder. Tanggapan terhadap materi yang disampaikan oleh Sdr. Mike disampaikan dalam sharing kelompok. Melalui sharing tersebut, para saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.

Acara pada hari ketiga sore hari adalah mini talkshow.  Tampil sebagai pemandun aara Sdr. Sipri dan Sdr. Rahmat dan dua narasumber adalah Sdr. Wiwin dan Sdr. Roberto. Kedua saudara ini diminta untuk membagikan pengalaman dan pergulatan selama menjalani panggilan dan perutusan dalam persaudaraan. Para Saudara yang lain juga diberi kesempatan untuk membagikan refleksi dan permenungannya.

Pada hari keempat, para peserta mengadakan kegiatan outing dengan mengunjungi beberapa destinasi wisata di Bali seperti, Pura Taman Ayun Mengwi, Garuda Wisnu Kencana, (GWK), Pantai Pandawa dan Pantai Jimbaran. Kunjungan berlangsung selama sehari penuh serta menimbulkan kesan menarik di hati para saudara.

Pada hari kelima, (6/12), pertemuan ditutup dalam Perayaan Ekaristi. Dalam perayaan penuh syukur tersebut, Minister Provinsi dan panitia mengucapkan terima kasih kepada Sdr. David Leary, OFM yang telah berkenan hadir untuk turut berdinamika dan mendampingi para Saudara Bruder. Selain itu juga dibacakan resolusi pertemuan oleh Sdr. Titus Angga Restuaji OFM.

Adapun isi dari resolusi tersebut adalah sebagai berikut:

Berdasarkan dua input dari pemateri dan dialog serta “bercakap-cakap dalam perjalanan” yang dilakukan para saudara Bruder selama lima (5) hari di Rumah Retret Karmel, Bali, berikut beberapa pesan dan suara dari para saudara Bruder di Indonesia dan Timor Leste:

Para Saudara Bruder menyadari bahwa pengalaman dikasihi dan diampuni oleh Allah yang tinggal tetap di dalam diri setiap saudara memampukan setiap saudara untuk:

a) membangun relasi keluar dengan sesama saudara maupun orang lain;

b) berekonsiliasi dengan saudara lain dan menerima saudara lain sebagai saudara sendiri;

c) berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, serta mencintai diri sendiri dengan menerima kelemahan dan kekurangan diri.

d) Para Saudara menyadari bahwa identitas dan hidup kita sebagai Saudara Dina selalu ada dalam dialog dengan Allah, diri sendiri, dan orang lain;

e) Para Saudara menyadari bahwa kehadiran dalam setiap dinamika hidup Persaudaraan merupakan bagian penting dari identitas Fransiskan kita.

Pada pukul 10.00 WITA, para Saudara saling berpamitan dan meninggalkan Rumah Retret Karmel untuk kembali ke komunitasnya masing-masing.

Kontributor: Sdr. Irfan Adryanto OFM

Ed.: Sdr. Rio, OFM

Tinggalkan Komentar