Cerita di Awal Misi – Part 1

Sdr Febrian, OFM (berjubah coklat) berfoto bersama dengan para peziarah Indonesia. Sejak awal tahun 2023, memulai misi di Tanah Suci, khususnya di Nazareth.

Sejak awal tahun 2023, Sdr. Angelus Febrian Pranatasukma, OFM mendapatkan perutusan baru sebagai misionaris di Tanah Suci. Ini adalah perutusan ketiga beliau sebagai misionaris. Sebelumnya, Sdr. Febrian menjalani tugas di Selandia Baru dan Curia Generalat OFM di Roma. Beliau menceritakan proses perjalanan menuju tanah misi baru. Selengkapnya!

Akhirnya, tiba juga di tempat misi baru! Setelah huru-hara keberangkatan dari Jakarta menuju Roma hingga mendapatkan visa Israel di Roma, saya tiba di Israel. Pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv pada tanggal 9 Maret 2023.  Di pintu keluar Bandara, Sdr. Yordan telah menunggu kedatangan saya. Sebelumnya, saya membayangkan akan menghadapi proses check in dan urusan imigrasi yang panjang dan berbelit-belit. Cerita sejumlah saudara tentang proses yang panjang berbelit itu memperkuat keyakinan saya. Ternyata sebaliknya. Mulai dari check-in desk di bandara Roma sampai di imigrasi di Tel Aviv, semuanya berjalan lancar.

Rupanya, saran Sdr. Darius, OFM, anggota Provinsi St. Fransiskus Duta Damai, Papua yang telah lebih dahulu bermisi di Betlehem cukup membantu. Ia menyarankan saya  mengenakan jubah coklat semenjak berangkat dari bandara Roma. Mengikuti sarannya, saya juga mencukur habis jenggot ikonik yang telah dirawat cukup lama. Selain itu, Bandara Ben Gurion juga telah menggunakan metode pengecekan mutakhir dalam memeriksa paspor dan visa pendatang asing. Pihak bandara menyediakan mesin pemeriksa paspor dan visa. Setelah pemeriksaan otomatis, mesin akan mencetak kartu visa yang kita miliki. Pihak imigrasi hanya memeriksa kertas cetakan dari mesin tersebut. Setelah itu, saya melewati bagian imigrasi dengan lancar.

Tidak langsung menuju ke Nazareth, Sdr. Yordan mengantar saya ke komunitas Sang Penebus, Yerusalem. Saya harus tinggal dulu di sana untuk segera memperbarui visa Israel. Visa yang didapat dari kedutaan Israel di Roma hanya berlaku selama 3 bulan. Sembari mengurus pembaharuan visa, saya berupaya beradaptasi dengan “gaya hidup” di Tanah Suci. Salah satu di antaranya adalah perihal tanggung jawab menjaga sanctuary yang dipercayakan kepada tarekat Fransiskan. Banyak sanctuary dipercayakan kepada para Fransiskan tapi bukan tanpa tanggung jawab. Bentuk tanggung jawab itu dapat dilihat dari upaya para Fransiskan memelihara sanctuary dengan penuh perhatian, memastikannya dalam keadaan bersih, terselenggaranya ibadat dan Ekaristi secara teratur dalam Bahasa Latin, dan lain sebagainya.

Di Gereja Makam Kudus, terasa sekali betapa tarekat berjuang keras melanjutkan keberadaan Gereja Katolik Roma. Selain Gereja Katolik, terdapat juga Gereja Orthodox Yunani, Gereja Ethiopia, Gereja Syria dan masih banyak lagi. Setiap hari diadakan prosesi dan doa dalam Gereja Makam Kudus. Takjub rasanya ketika saya mengikuti prosesi dan mendoakan Ratu Santa Helena yang berpengaruh pada pembangunan Gereja Makam Yesus tersebut.

Selain beradaptasi, saya juga diperkenalkan pada komunitas suster Fransiskanes (beberapa dari Indonesia) yang bekerja bersama dengan para saudara Fransiskan di Komunitas Sang Penebus, Yerusalem. Sementara itu, Sdr. Albertus Gesu, OFM  memberikan uang saku dan mengurus beberapa dokumen demi mendapatkan kartu telepon Israel. Ia tidak lupa mengajak saya berkeliling di lingkungan sekitar Komunitas Sang Penebus. Kami sempat mengunjungi Taman Getsemani, Makam Bunda Maria, Tembok Ratapan, serta Masjid Al-Aqsa. Tentu saja, selama perjalanan, layaknya seorang guide profesional, Sdr. Al menerangkan banyak hal terkait dengan tempat-tempat yang kami kunjungi. Sampai di sini, saya terkesan sekali dengan pelayanan para saudara Fransiskan Indonesia di Roma maupun Yerusalem. Mereka dengan penuh perhatian mengulurkan tangan (dare la mano) untuk hal-hal yang saya perlukan. Grazie mille frati. Siete davvero gentili…!!!

Pada 13 Maret 2023, visa saya diperbaharui. Saya juga mendapatkan kartu tanda anggota Kustodi Tanah Suci. Selanjutnya, saya menghubungi Gardian di Nazareth, Sdr. Wojciech, OFM, seorang Saudara Dina asal Polandia. Hari Selasa sore, sekitar pukul 17.00 waktu Israel, gardian membawa saya ke komunitas yang akan saya tinggali. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam 2 jam harus ditempuh hampir 3 jam lantaran beberapa jalur ditutup akibat demonstrasi. Setiba di komunitas, kami disambut dalam acara makan malam bersama. Semua saudara kumpul merayakan perjumpaan ini. Anggota komunitas kami kurang lebih berjumlah 10 orang (bersama dengan kami juga ada beberapa imam diosesan), terdiri dari berbagai bangsa: Italia, Polandia, Amerika Serikat, Irlandia, Ghana, Madagaskar, Brasil, Iraq dan Palestina. Tidak ada mayoritas-minoritas. Paling banyak hanya ada dua orang italia. Suatu komunitas yang sungguh-sungguh internasional. Bahasa yang digunakan pada umumnya adalah Italia dan Inggris. Namun demikian ada juga yang berbahasa Arab. Seorang misionaris dari Madagaskar yang hanya bisa berbahasa Prancis sedang belajar Italia dan Inggris.

Suasana di komunitas dan sanctuary Nazareth sedikit banyak agak berbeda dengan yang di Yerusalem. Di sekitar Gereja Makam Kudus, kita masih banyak menjumpai orang-orang Yahudi. Tidaklah demikian halnya dengan lingkungan sekitar Gereja Kabar Sukacita Nazareth. Lebih dominan komunitas Arab, baik itu Islam maupun Katolik. Gereja paroki di Nazareth melayani umat Katolik Arab. Dengan demikian, perayaan ekaristi di paroki selalu menggunakan bahasa Arab. Hampir tidak terdengar orang-orang berbicara bahasa Ibrani. Komunitas kami di Nazareth bertanggung jawab atas dua basilika (gereja) yakni Gereja Kabar Sukacita dan Gereja Santo Yusuf.

Gereja Kabar Sukacita dibangun di atas paling kurang 4 reruntuhan gereja sebelumnya, mulai dari zaman Kerajaan Bizantium sampai zaman Perang Salib. Tempat suci ini, sejak abad IV sudah menjadi tempat doa dan dipercaya merupakan rumah keluarga Maria, Ibu Yesus. Pertama kali diserahkan kepada umat kristen zaman itu oleh seorang Sultan berkebangsaan Druz (daerah di antara Turki dan Iran). Gereja ini beberapa kali sempat runtuh karena gempa. Gereja yang sekarang berdiri dibangun pada tahun  1969. Demikian juga halnya dengan Gereja Santo Yosef. Gereja yang sekarang ini dibangun di atas reruntuhan sebuah gereja zaman Bizantium. Di bagian bawahnya, terdapat sebuah gua dan reruntuhan tembok yang dipercaya pernah menjadi rumah dan bengkel kayu Santo Yusuf.

Bersambung…..

Kontributor: Sdr. Angelus Febrian Pranatasukma OFM

Tinggalkan Komentar