
Penyerahan kenang-kenangan kepada Sdr. Eddy oleh Ketua Pembina Yayasan Driyarkara, Sdr. Mikhael Peruhe OFM.
Jakarta-OFM, Sejumlah Saudara Dina memadati auditorium STF Driyarkara, Jakarta pada hari Jumat (08/03/2024) sore. Bukan menghadiri kuliah, para Saudara Dina hendak memeriahkan hajatan Festschrift yang diadakan oleh Sekolah Tinggi Filsafat tersebut bagi Prof. Dr. Eddy Kristiyanto, OFM, seorang Saudara Dina yang telah mengabdikan diri sebagai pengajar dan peneliti sejarah Gereja di lembaga pendidikan tersebut.
“Festschrift berasal dari kata Bahasa Jerman, fest dan schrift. Fest berarti pesta dan schrift berarti tulisan. Secara harafiah berarti pesta tulisan. Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai punjung tulis. Festschrift merupakan suatu bentuk apresiasi secara akademis terhadap seseorang yang telah mendedikasikan dirinya dalam dunia akademis,” demikian jelas Rm. Dr. Simon Lili Tjahjadi, Ketua STF Driyarkara dalam sambutan pembukaan acara.

Para Saudara Dina dan sejumlah undangan memenuhi auditorium STF Driyarkara dalam Festschrift bagi Sdr. Eddy.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap Sdr. Eddy, sekaligus merayakan ulang tahunnya ke-65 pada 5 Juli 2023 lalu, pihak STF Driyarkara mengeluarkan bunga rampai artikel berjudul “Sejarah sebagai Perjuangan: Percikan Pemikiran Kristianitas”. Sejumlah dosen filsafat dan teologi bahu-membahu menulis artikel tentang kaitan antara sejarah dan bidang keilmuan mereka masing-masing. Dalam kata pengantar, editor buku, Dr. Fransiskus Sule CICM menjelaskan kelindan antara sejarah, dunia, dan Gereja bertolak dari pemikiran Joseph Lortz. Sejarah, Gereja, dan dunia adalah tiga unsur yang saling berkaitan. “Jika demikian kenyataannya, mengapa tidak memberi buku ini dengan judul “Sejarah sebagai perjuangan?” tulis beliau.
“Keberagaman tulisan yang diniatkan bagi beliau menggambarkan keberagaman minat ilmu yang digeluti oleh Eddy Kristiyanto. Mungkin saja karena beliau seperti Lortz menggeluti pemikiran atau gagasan pendorong dibalik serentetan peristiwa sejarah, beliau memiliki kemampuan berbicara lebih luas dari bidangnya,” lebih lanjut Rm. Frans Sule menjelaskan. Selama mengabdi di STF Driyarkara, Sdr. Eddy tidak hanya menekuni bidang Sejarah Gereja. Beliau juga “merambah” bidang lain. Hal ini tampak pada banyaknya jumlah publikasi ilmiah, baik buku maupun artikel yang telah diterbitkan. Bukan hanya pada bidang Sejarah Gereja tetapi juga pada bidang lain seperti Ajaran Sosial Gereja (ASG), Moral Sosial, dan lain sebagainya. Beberapa di antaranya, seperti Selilit Sang Nabi dan Sakramen Politik menjadi karya yang sensasional.
Dua pembicara dihadirkan dalam acara punjung tulis, yakni Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang, seorang punggawa Sejarah Gereja sekaligus dosen STT Jakarta dan Dr. Andreas Atawolo OFM, dosen Teologi Dogmatik STF Driyarkara. Dalam sesi presentasinya, Prof. Aritonang membahas perihal kerja sama ekumenis antara Katolik dan Kristen dalam konteks Indonesia. Beliau juga menyentil pengalaman bekerja sama dengan Sdr. Eddy. Sdr. Andre sendiri dalam materinya mengulas secara komprehensif artikel-artikel yang tertuang dalam buku Sejarah Adalah perjuangan.

Sdr. Eddy menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung perjalanan hidupnya sebagai Fransiskan dan dosen Sejarah Gereja di STF Driyarkara
Sementara itu, Sdr. Eddy, dalam sesinya menyampaikan barisan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung perjalanan hidup dan karyanya sebagai ahli Sejarah Gereja. Ungkapan terima kasih pertama dialamatkan kepada Persaudaraan OFM Indonesia. “Terima kasih kepada Persaudaraan Fransiskan yang menugaskan saya untuk bertekun dalam bidang Sejarah ini, sebuah bidang mengesankan kurang diminati oleh banyak orang. Mungkin karena sedang mengubur diri, menyangkut satu dimensi saja dari hidup ini, yakni masa lampau, namun tidak kurang menarik karena ada yang belum tersingkap, ada yang ditutupi, ada “rahasia” yang menjanjikan di masa lalu yang sedang menuju ke masa depan,” ucap beliau.
Pada akhir acara, pihak STF Driyarkara memberikan kenang-kenangan kepada Sdr. Eddy. Pemberian kenang-kenangan tersebut diberikan oleh ketua dewan pembina yayasan driyarkara, Sdr. Mikael Peruhe, OFM. Selepas seminar acara berlanjut pada resepsi dan bincang-bincang ringan di ruangan kuliah IV.
Kontributor: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar