Hidup Doa dan Devosi

[tab name=”Berita”] Balita dan Baseta Merapatkan Barisan

Pada tanggal 2-3 Januari 2013 para saudara Baseta (bawah sepuluh tahun – 6-10 thn) mengadakan rekoleksi bersama dengan saudara-saudara Balita (bawah lima tahun – 0-5 thn) yang ada di Pulau Jawa bertempat di Novisiat Transitus Depok. Tema yang direnungkan dalam rekoleksi kali ini adalah Hidup Doa dan Devosi. Pemberi rekoleksi adalah Sdr. Damasus Lekan Ujan, OFM. Selain sebagai kesempatan untuk berjumpa dan sharing pengalaman, rekoleksi kali ini merupakan kesempatan berharga untuk melihat kembali kehidupan doa sejak masuk biara sampai saat ini.

Saudara Damas menekankan pentingnya hidup doa dalam hidup membiara, baik itu doa pribadi maupun doa bersama. Sdr. Damas juga menunjukkan segi-segi positif dari Devosi dan rambu-rambu agar devosi itu tetap bergerak dalam jalur yang benar. Menurutnya Devosi adalah kebaktian, pengorbanan, penyerahan, kesalehan, cinta bakti. Devosi selalu menunjuk pada sikap hati di mana seseorang mengarahkan diri kepada seseorang atau sesuatu yang dijunjung tinggi dan dicintai. Devosi juga mengingatkan umat akan perlunya kesederhanaan ungkapan iman dalam liturgi dan juga bahwa liturgi itu adalah sebuah doa. Devosi menyadarkan pentingnya dimensi afeksi-emosi dalam liturgi. Nilai-nilai yang ditimba dalam devosi dapat membantu kita menghayati liturgi dengan lebih baik. Devosi mengingatkan bahwa liturgi adalah sebuah doa. Kita perlu memikirkan suatu liturgi yang merupakan medan doa umat beriman.

Saudara Damas menunjukkan beberapa tujuan dari sebuah devosi. Devosi bertujuan menggairahkan iman, kasih, dan harapan kepada Allah. devosi juga bertujuan mengantar umat pada penghayatan iman yang benar akan misteri karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus; dan memperoleh buah-buah rohani. Devosi mengungkapkan dan meneguhkan iman terhadap salah satu kebenaran misteri iman. Selain menekankan tujuan devosi, Sdr. Damas juga menunjukkan batasan-batasan yang perlu diwaspadai agar devosi itu tetap berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Menurutnya devosi tidak pernah dipandang sebagai pengganti liturgi. Dari seluruh liturgi resmi gereja, Perayaan Ekaristi merupakan liturgi yang tertinggi dan terutama tingkatnya, sesudah itu menyusul sakramen-sakramen yang lain. Namun demikian, praktek devosi dapat dihubungkan dengan liturgi resmi. Misalnya : novena dalam perayaan ekaristi (Novena Antonius Padua). Devosi harus dijauhkan dari banyak praktek magis. Hal ini terjadi jika orang memandang kekuatan dan daya pengudusan berasal dari barang, mantra, angka, dll.

Saudara Damas juga mengajak para saudara untuk terus menghidupkan semangat doa dan melakukan devosi yang benar. Dia menunjukkan bahwa St. Fransiskus sendiri memperkuat perjuangan panggilannya dengan berdevosi kepada Bunda Maria. Sesuai dengan bukti-bukti yang selama ini telah berhasil ditemukan dalam sumber-sumber Fransiskan, maka devosi kepada Bunda Maria adalah sebuah bagian integral dari kehidupan spiritual ST. Fransiskus Asisi. Dari pembacaan berbagai riwayat hidup awal tentang Fransiskus dan dari tulisan-tulisannya sendiri kita dapat melihat, bahwa Santa Perawan Maria, Bunda Allah menempati tempat yang istimewa dalam kehidupan Fransiskus. Salah satu contoh yang jelas adalah dalam pesan akhir kepada St. Clara, di situ Fransiskus mengatakan: “Aku, Saudara Fransiskus, orang kecil ini, mau mengikuti hidup dan kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus Yang Mahatinggi serta ibu-Nya yang tersuci, dan mau bertekun di dalamnya hingga akhir.” [PesAkh 1]. Di sini Fransiskus menunjukkan dua aspek hakiki hidup para pengikutnya, yaitu sentralitas dari ‘mengikuti jejak Yesus Kristus’, dan implikasi yang kuat dan tak terhindarkan dari Santa Perawan Maria dalam pribadi, hidup dan ‘takdir’ Yesus dari Nazaret.

Dalam sesi pertemuan yang lain para saudara mencoba memperjelas mengenai konsern adanya Balita dan Baseta. Dikatakan bahwa dalam ART Provinsi para saudara yang berusia kaul kekal di bawah lima tahun diberikan perhatian khusus dalam on going formation. Sedangkan kelompok yang berkaul kekal di atas lima tahun sampai sepulu tahun muncul karena adanya kebutuhan untuk berkumpul dan berbagi pengalaman dalam karya dan penghayatan panggilan. Namun untuk skala internasioanal perhatian khusus diberikan untuk semua saudara yang berusia kaul kekal di bawah sepuluh tahun. Pada kesempatan ini para saudara Baseta (0-10 thn) tetap sepakat untuk mengadakan pertemuan berkala untuk saling berbagi pengalaman penghayatan panggilan. Sedangkan para saudara Balita yang diberi perhatian secara khusus oleh provinsi sepakat akan mengadakan pertemuan untuk membicarakan program ke depan. Saat itu para saudara memilih Sdr. Ophin Agut, OFM sebagai koordinator Balita yang ada di pulau jawa.

Dalam pertemuan setelah rekoleksi tersebut juga ditekankan bahwa saudara-saudara Baseta dan Balita sepakat bahwa munculnya kedua kelompok ini bukan hanya karena keprihatinan adanya persoalan yang ditimbulkan oleh beberapa orang dari usia kaul kekal ini, tetapi karena adanya kebutuhan dari para saudara untuk saling mendukung dalam persaudaraan. Semua sepakat untuk merapatkan barisan untuk saling menjaga dan saling mendukung dalam tugas dan panggilan masing-masing saudara dalam kebersamaan dan persaudaraan.

Depok – Sdr. Bovan Lelo, OFM
[/tab] [tab name=”Foto-foto”]



[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *