JALAN KAKI: INI KAKIKU BUKAN KAKIMU

Pada masa pandemi Covid 19, salah satu kebiasaanku ialah berjalan kaki sedapat dan sejauh mungkin. Dan di sinilah saya menemukan titik balik bahwa jalan kaki setiap hari ternyata bukan hanya sekadar jalan, tetapi menemukan kembali identitasku sebagai Saudara Dina untuk semakin peka dan peduli terhadap ketimpangan kesejahteraan akibat pandemi Covid 19. Itulah yang oleh Richard Khan dalam bukunya, Ekopedagogi (2010) disebut sebagai jalan “kognitif praxis”. Kognitif praxis ialah apa yang kita lihat sepanjang perjalanan, direnungkan, direfeksikan secara utuh dan menyeluruh, lalu dijadikan  pengetahuan  universal untuk memberikan solusi yang benar dan kemudian diwujudkan dalam tindakan.

Ada catatan menarik yang saya dapat sepanjang perjalanan; sejajar dengan gedung-gedung hotel mewah, berdirilah sebuah  Kampus Universitas Bina Sarana Informatika. Pada masa pandemi, kampus ini kelihatannya sepi, setidak-tidaknya tidak ada mahasiswa/ mahasisiswi yang  hadir di sini. Kampus BSI ini memang amat dikenal oleh masyarakat kecil, miskin dan para janda khususnya di kelurahan Kenari-Jakarta Pusat, sebab setiap tahun  pada masa Lebaran, pasti selalu ada pembagian sembako dan makanan bagi warga. Itulah alasan mengapa warga Kenari  mengenalnya sebagai Kampus Belaskasih Sesama Indonesia (BSI). Sebagaimana saat lebaran, secara khusus selama masa pandemi “kampus belaskasih” ini kerap menjatahkan makanan dan minuman bagi para pemulung dan para janda miskin di sekitaran jalan. Ini adalah bentuk solidaritas yang paling nyata.

Melewati kampus ini, terdapat Bank Mandiri, dan kemudian sederatan bangunan tua yang siang hari dipenuhi oleh penjualan buku-buku dan pada malam hari di trotoarnya dipenuhi gerobak para pemulung. Pada siang hari gerobak ini dipakai untuk mengumpulkan sampah sedangkan pada malam hari dijadikan ruang dan tempat untuk membaringkan diri. Itulah cara orang miskin bertahan hidup; memanfaatkan apa yang ada sejauh kebutuhan dasariahnya untuk “meletakkan kepala” bisa terpenuhi. Tentu mereka mensyukuri itu dan mengamininya sebagai salah satu cara untuk survive, bukan saja selama pandemi, tetapi bahkan sepanjang hidup mereka. Barangkali para pemulung di ibukota ini mengajari kita perihal sikap mensyukuri apa yang ada. Kita pun mestinya peduli dan berbelarasa dengan cara kita sebagai Saudara Dina, secara khusus kesaksian riil kita di tengah pandemi ini.

Saya pun sampai di persimpangan jalan. Di depan persimpangan raya Senen,  persis di depannya ada mall atrium Senen dan di sampingnya terdapat pasar raya Senen serta kerangka bangunan baru masih bediri kokoh, yang nampaknya untuk sementara proses pembangunannya dihentikan. Langkah ini barangkali dilakukan sebagai bentuk ‘kepedulian’ terhadap kondisi Jakarta di tengah makin ganasnya persebaran covid 19. Dan di tengah kondisi itu Pemprov DKI memilih mengutamakan kebijakan penanganan kasus Covid dari pada pelaksanaan pembangunan. Seperti yang kita ketahui, kasus Covid 19 di DKI memang sedang meningkat drastis sehingga pilihan Pemerintah DKI tidak lain selain bersikap peka dengan menghentikan sementara proses pembangunan yang telah direncanakan dan yang sedang dijalankan. Tentu saja maksud dari kebijakan ini adalah demi keselamatan warga, juga sekaligus tanda solidaritas terhadap dunia yang sedang dilanda pandemi yang dahsyat.

Patut direfleksikan bahwa pilihan kehidupan yang benar adalah mengutamakan dan berpihak pada orang kecil yang miskin, dari pada sibuk membangun infrastruktur. Uang pasti ada dan dalam pemanfaatannya mestinya diprioritaskan bagi keselamatan setiap orang. Tentu pemerintahan Ordo kita ini jauh lebih bijaksana dan berhati mulia untuk menunda semua proses pembangunan bernuansa bangunan besar dan lekas bergotong royong meringankan duka dan kecemasan saudara-saudari kita yang terpapar covid 19.

Saya menimba refleksi dari rutinitas ‘jalan kaki’ ini, yang bukan sekadar jalan kaki tetapi merupakan momen bermakna untuk melihat dan menemukan beraneka ketimpangan kesejahteraan yang dijumpai sepanjang parjalanan ini, lalu berikhtiar untuk mengambil langkah aksi yang benar demi kebaikan dan kesejahteraan semesta. Tetapi ya, sekali lagi ini kakiku bukan kakimu. Karena itu aku berdoa sambil mengayunkan kakiku secara selaras; “Ajarilah aku menghitung hari sedemikian rupa sehingga aku beroleh hati yang arif bijaksana untuk menjalani hidup ini sebagai saudara dina yang setia dan berbelaskasih.”

Sdr. Vicentius Darmin Mbula OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *