Analisa Text untuk Kongres Saudara Bruder

Pada tanggal 28 April-2 Mei 2025, Sdr. Titus Angga Restuaji OFM menghadiri pertemuan para Saudara Bruder Fransiskan sedunia di Roma. Pertemuan ini merupakan amanat Kapitel General 2021. Sebelumnya, pertemuan para Saudara Bruder sudah diselenggarakan pada tingkat provinsi dan konferensi. Sdr. Titus menjadi perwakilan para Saudara Bruder pada tingkat Konferensi Asia Tenggara dan Oceania (SAAOC). Tulisan berikut adalah materi presentasi Minister General, Sdr. Massimo Fusarelli OFM di hadapan para Bruder bertempat di  Hotel Domus Pacis, Santa Maria Degli Angeli, Assisi, 2 Mei 2025.

 

 

 

 

 

 

 

 

Presentasi Minister General, Sdr. Massimo Fusarelli, OFM

Benang Merah

Benang merah yang tampak dari analisis dokumen-dokumen dalam Kongres ini dapat digambarkan sebagai suatu perjalanan historis-teologis penemuan kembali dan tinjauan ulang atas panggilan para saudara Fransiskan bruder. Perjalanan ini terungkap melalui lima dimensi yang saling terkait, yaitu:

  1. Evolusi historis dan identitas – Transisi dari konsep fungsional (“apa yang saudara bruder lakukan”) ke dimensi vokasional atau panggilan (“siapa saudara bruder itu”), menemukan kembali ekspresi sejati nan otentik dari keberadaan kita sebagai “saudara” seturut nilai-nilai fundamental Fransiskan.
  2. Berbeda-beda tetapi tetap satu– Pengakuan bahwa semua saudara berbagi misi fundamental yang sama, yang diekspresikan melalui karisma yang berbeda-beda dan melalui ragam pilihan jawaban atas kebutuhan-kebutuhan gereja dan konteks yang beraneka pula. Panggilan itu mengambil bentuk berbeda-beda sesuai dengan konteks budaya dan historis.
  3. Tegangan antara pengakuan dan minoritas – pencarian akan pengakuan yang sepantasnya sebagai suatu bagian dari pengalaman para saudara bruder, yang, bagaimanapun juga, harus tetap setia pada spiritualitas kedinaan Fransiskan.
  4. Kesaksian teologis – Panggilan sebagai bruder merupakan sebuh ekspresi kesaksian teologis khusus di dalam Gereja kontemporer, dengan kontribusi khususnya pula bagi persekutuan gerejawi.
  5. Pendekatan formatif yang terintegrasi – Kebutuhan untuk memperbaharui formasi ke dalam dan komunikasi eksternal untuk mendukung visi ini, dimulai dengan fondasi bersama dan diikuti dengan membangun jalan yang lebih personal.

           

  Pemikiran-Pemikiran yang Muncul Selama Kongres yang Menguatkan dan Memberi Dorongan untuk Pembaharuan

 

  1. Narasi historis yang transformatif

Transisi dari “fungsi ke vokasi (panggilan)” menggambarkan alat narasi yang kuat yang sangat baik untuk dikembangkan terus. Transisi cara pandang ini dapat diajukan sebagai sebuah paradigma dalam memahami transformasi-transformasi lainnya dalam hidup religious dan di dalam Gerjea, yang menekankan:

  • Evolusi pemahaman teologis dari peran para saudara bruder.
  • Perbaikan atas visi-visi hirarkis dari panggilan religius.
  • Kontribusi dari evolusi tersebut bagi pemahaman akan hidup bhakti secara keseluruhan.
  1. Inkulturasi panggilan

Dimensi budaya memperlihatkan pentingnya pemahaman bagaimana panggilan para saudara bruder diinkarnasikan secara signifikan di tempat-tempat yang berbeda di seluruh dunia. Sebuah pendekatan yang terakulturasi seharusnya mampu:

  • Menghargai ekspresi yang beraneka macam dari panggilan yang sama.
  • Menawarkan model-model formatif yang kontekstual.
  • Mengembangkan sebuah framework atas prinsip-prinsip bersama untuk menjadi pedoman bagi adaptasi-adaptasi lokal.
  • Menciptakan ruang-ruang bagi sharingpengalaman dan praktek baik yang terjadi di entitas-entitas yang berbeda.
  1. Kesaksian eksistensial dan teologis

Pemikiran tentang keberadaan “para saudara bruder” sebagai suatu persekutuan yang memberikan kesaksian teologis membuka perspektif mendalam yang menghubungkan pengalaman personal dengan refleksi eklesiologis:

  • Bagaimana persaudaraan para bruder memberi kesaksian akan aspek khusus dari misteri Kristiani.
  • Bagaimana kesaksian tersebut melengkapi kesaksian pelayanan para saudara tertahbis.
  • Kontribusi spesifik apa yang ditawarkan persaudaraan para bruder bagi pemahaman akan Gereja sebagai sebuah persatuan (communion) dari panggilan yang berbeda-beda.
  • Bagaimana mengidentifikasi dan menguatkan “praktek-praktek baik” penginjilan oleh para saudara bruder.
  1. Dialektika antara pengakuan dan minoritas

Paradoks antara pencarian akan pengakuan dan idealisme Fransiskan akan minoritas (kedinaan) memberikan sebuah tanah yang subur untuk merefleksikan:

  • Bagaimana mencapai penilaian yang adil dengan tetap setia pada spiritualitas kedinaan (minoritas).
  • Bagaimana mentransformasi tegangan tersebut menjadi energi kreatif untuk pembaharuan.
  • Mengartikulasikan apa artinya menjadi seorang saudara bruder melalui istilah-istilah yang positif dan menguatkan, bukan sekedar konsep yang dikontraskan dengan konsep “menjadi seorang imam”.
  • Mengajukan contoh-contoh konkret bagaimana identitas ini diwujudkan dalam hidup sehari-hari.
  1. Formasi yang terintegrasi dan terdiferensiasi

Model formatif yang sedang muncul perlu mendapat perhatian khusus karena potensinya untuk menyeimbangkan persatuan dan kekhususan:

  • Fondasi bina awal bersama untuk semua saudara.
  • Jalur formasi ter-personalisasi-kan yang didasarkan pada karunia dan panggilan individual.
  • Penghargaan pada perbedaan tanpa menciptakan hirarki nilai.

Pendekatan ini mengandaikan kejelasan:

  • Elemen-elemen yang menyusun (konstitutif) “fondasi bersama sebagai Fransiskan”.
  • Cara-cara tertentu untuk membentuk tahap-tahap formatif yang menghargai baik persatuan maupun keberagaman.
  • Kriteria untuk mengevaluasi efektifitas jalur formasi yang ter-personalisasi-kan.
  1. Dimensi profetis untuk zaman ini

Panggilan sebagai saduara bruder membawa di dalamnya dimensi profetis dalam menghadapi tantangan-tantangan gerejawi saat ini:

  • Kontribusi bagi sinodalitas dan tanggung jawab bersama di dalam Gereja.
  • Kesaksian akan persaudaraan di dalam dunia yang ditandai oleh perpecahan.
  • Model pelayanan non-klerikal di dalam Gereja yang sedang berjuang mengatasi klerikalisme.
  • Menjadi laboratorium bagi hubungan-hubungan gerejawi yang terbarukan.

Pembaharuan pemahaman atas panggilan saudara bruder, dengan demikian, dapat menjadi sebuah kesempatan untuk merevitalisasi seluruh Persaudaraan Fransiskan, menguatkan persatuan di dalam perbedaan.

 

 

Rencana Aksi Terintegrasi

Dari analisis tersebut muncullah kemungkinan sebuah rencana aksi yang dijabarkan dalam empat tahap berikut:

  1. Menemukan dan memungut kembali
  • Pemulihan sejarah panggilan saudara bruder dalam konteks yang berbeda-beda.
  • Pengumpulan dan penguatan pengalaman-pengalaman personal.
  • Pengembangan sebuah teologi panggilan yang diperbaharui.
  1. Pembaharuan formatif
  • Revisi program-program bina awal (initial formation) untuk memastikan fondasi bersama.
  • Pengembangan jalur yang ter-personalisasi-kan dengan menghormati karunia-karunia setiap orang.
  • Pembuatan alat-alat untuk evaluasi praktek-praktek penginjilan.
  1. Implementasi yang kontekstual
  • Aplikasi yang fleksibel pada entitas-entitas yang berbeda.
  • Memonitor dan sharingpengalaman-pengalaman penting dari tiap saudara.
  1. Komunikasi dan kesadaran
  • Internal: bagi seluruh anggota Ordo.
  • Keluar: bagi Gereja dan Masyarakat luas.

 

Kesimpulan

Benang merah yang muncul dari analisa terintegrasi atas semua dokumen memunculkan visi yang diperbaharui tentang panggilan Fransiskan yang melampaui pembedaan sederhana antara saudara bruder dan imam, untuk mampu menghidupi model persatuan yang terdiferensiasi. Dalam visi ini, panggilan saudara bruder bukan sekedar dikuatkan, tetapi juga diintegrasikan dalam pemahaman yang lebih dalam atas panggilan bersama sebagai Fransiskan.

Untuk sebuah dorongan Kembali yang efektif, maka perlulah untuk:

  1. Membangun sebuah narasi koheren yang mengintegrasikan semua elemen-elemen tersebut.
  2. Memunculkan testimoni atau kesaksian konkret atas evolusi pemahaman “dari fungsi ke vokasi (panggilan)”.
  3. Penjabaran lebih lanjut atas teologi panggilan saudara bruder yang mengungkapkan relevansi eklesial dari panggilan bruder.
  4. Kerangka jalur formasi yang menghargai baik dimensi ekperiensial maupun teologis.

Integrasi ini akan memampukan kita untuk bergerak melampaui re-afirmasi identitas yang sederhana, demi Langkah-langkah dinamis dan profetik bagi seluruh Gereja, di mana panggilan Fransiskan bruder menawarkan kontribusi signifikan bagi penemuan Kembali persaduaraan sebagai sebuah paradigma eklesial.

 

Sebuah Narasi Fraternitas Fransiskan untuk Zaman Ini

 

Pada akar panggilan yang satu dalam keberagaman

Fraternitas Fransiskan yang pertama muncul sebagai sebuah letupan otentisitas injili. Ketika Bernardus Quintavalle dan Petrus Cattani bergabung dengan Fransiskus, mereka tidak melakukannya karena mau menggabungkan diri dengan ordo religius yang terstruktur, tetapi karena mau berbagi hidup injili yang radikal. Inti dari persaudaraan paling awal tersebut – sebagian besar orang awam – tidak didefinisikan denga napa yang mereka lakukan, tetapi oleh bagaimana mereka hidup: dalam kemiskinan, kegembiraan, dan persaudaraan. Pada saat itu bukanlah fungsi yang menjelaskan identitas mereka, tetapi relasi dengan Kristus dan satu sama lain.

Intuisi asali tersebut mengandung benih-benih profetis yang terus berkecambah dan berkembang: fraternitas sebagai sebuah ruang di mana keberagaman panggilan dan karisma dipersatukan, bukan melalui struktur hirarkis, tetapi di dalam kebersamaan dalam mengikuti Kristus yang miskin dan tersalib.

 

Transformasi dan keteguhan

Sejarah menunjukkan kepada kita sebuah transformasi yang cepat dan penuh gejolak dari pengalaman persaudaraan pertama tersebut. Institusionalisasi, klerikalisasi, kebutuhan akan misi dan kerasulan perlahan-lahan mengubah inti asali persaudaraan. Saudara bruder secara perlahan-lahan menjadi sebuah figure “pembantu (auxiliary)”, yang keberadaannya lebih didefinisikan oleh fungsi dari pada vokasi (panggilan).

Meskipun demikian, daya tarik dari intuisi asali tidak akan pernah pudar. Selama berabad-abad, melalui berbagai transformasi, ada sesuatu yang tetap dalam fraternitas, yang bertahan sebagai panggilan yang terus hidup, yaitu sebuah memori yang terus-menerus menantang Ordo kita.

 

Sebuah narasi untuk zaman ini

Untuk menarasikan kesatuan panggilan Fransiskan dalam keberagaman dimensi-dimensinya saat ini, kita dapat mengilustrasikannya melalui tiga gambaran kuat yang beresonansi dengan sensibilitas zaman ini:

  1. Persaudaraan sebagai sebuah “ekosistem spiritual”

Ekologi telah mengajarkan kita bahwa kekayaan lingkungan alami justru terletak pada keberagaman spesies yang menghuninya dan hubungan-hubungan di antara spesies-spesies tersebut. Mirip dengan hal tersebut, fraternitas Fransiskan dapat dinarasikan sebagai sebuah “ekosistem spiritual” di mana perbedaan panggilan – bruder dan imam – bersifat saling melengkapi, bukan hirarkis.

Dalam ekosistem ini:

  • Setiap panggilan memiliki nilai intrinsik, bukan nilai yang ditambahkan karena fungsi atau tugas tertentu.
  • Keaneka ragaman justru memperkaya keseluruhan (ekosistem) dan membuatnya semakin tangguh.
  • Setiap anggota berkontribusi pada keseimbangan seluruh ekosistem.
  • Kesehatan seluruh ekosistem tergantung pada penghormatan atas kekhususan-kekhususan setiap anggota.

Narasi ekologis ini secara mendalam memengaruhi sensibilitas kita pada interkoneksi dan saling ketergantungan pada zaman ini.

  1. Persaudaraan sebagai “polifoni injili”

Music polifoni mengajarkan kita bahwa suara yang berbeda-beda, di mana setiap suara memiliki identitas masing-masing, dapat menciptakan harmoni yang melampaui sekedar berisiknya bayak suara yang berbeda-beda. Fraternitas Fransiskan dapat dinarasikan sebagai sebuah “polifoni injili” di mana banyak suara yang berbeda-beda – suara yang masing-masihg khas – bersama-sama menyanyikan melodi Injil yang sama.

Dalam polifoni ini:

  • Setiap suara menjaga warna nada khas masing-masing (panggilan khas tertentu)
  • Tidak ada suara yang mendominasi suara lain
  • Harmoni dihasilkan dari sikap menghormati waktu dan ruang masing-masing
  • Keindahan keseluruhan berasal dari keberaneka ragaman, bukan keseragaman

Narasi polifoni ini berbicara tentang suatu budaya yang menghargai ekspresi otentik dan personal di dalam suatu komunitas.

  1. Persaudaraan sebagai sebuah “ruang perbatasan”

Pengalaman Fransiskan pertama terletak dalam ruang perbatasan di antara dunia-dunia yang berbeda, yaitu: di antara Gereja institusional dan gerakan-gerakan reformasi, di antara kota dan padang gurun, di antara hidup aktif dan kontemplatif. Fraternitas Fransiskan dapat dinarasikan sebagai sebuah “ruang perbatasan” di mana pengalaman-pengalaman kemuridan Kristiani yang beraneka ragam bertemu dan berdialog.

Di dalam ruang perbatasan itu:

  • Batasan antara berbagai macam panggilan itu berpori dan dapat ditembus
  • Perjumpaan antara berbagai macam perbedaan melahirkan kreativitas injili
  • Identitas dibangun di dalam dialog, bukan dalam pemisahan
  • Misi diwujudkan melalui kehadiran di “wilayah tengah-tengah” antara Gereja dan dunia

Narasi batas-batas ini menjawab kerinduan zaman ini akan ruang-ruang perjumpaan yang otentik di Tengah dunia yang terpecah-belah.

 

Implikasi Konkret

Narasi fraternitas Fransiskan yang diperbaharui ini memiliki beberapa implikasi konkret bagi hidup Ordo kita, yaitu:

Bagi Formasi

  • Mengatasi pemisahan di masa awal tahap formasi
  • Menghargai peristiwa formasi bersama antara para saudara bruder dan klerus
  • Mengembangkan sebuah teologi panggilan Fransiskan yang mendahului dan mendasari berbagai kekhususan
  • Menciptakan pengalaman-pengalaman formatif yang menggaris bawahi kesaling melengkapi panggilan kita yang berbeda-beda

 

Bagi hidup persaudaraan

  • Meninjau kembali struktur-struktur pengambilan keputusan untuk memastikan tanggung jawab bersama yang efektif
  • Merencanakan ruang-ruang fisik yang tidak lagi menampakkan hirarki meskipun secara implisit
  • Merayakan secara liturgis peristiwa-peristiwa panggilan yang berbeda dengan solemnitas atau kemeriahan yang setara
  • Mengembangkan bahasa, simbol, dan tingkah laku yang tidak merendahkan satu panggilan di bawah panggilan lain.

Bagi misi

  • Mengembangkan model-model kehadiran yang menginjili yang menghargai panggilan yang bebeda-beda
  • Menjadi saksi yang terang bagi persatuan di tengah keanekaragaman sebagai sebuah pesan kenabian bagi Gereja
  • Menawarkan kepada Gereja lokal pengalaman-pengalaman persaudaraan dalam pelayanan yang non-hirarkis
  • Bersama-sama mendiami “periferi eksistensial” melalui pendekatan yang saling melengkapi

 

 

Kesimpulan: Sebuah Narasi Generatif

Transisi “dari fungsi ke vokasi” bukanlah hanya sekedar pengelihatan restropektif atas sejarah, tetapi sebuah narasi generaif yang dapat membentuk masa depan. Untuk menarasikan fraternitas Fransiskan sebagai sebuah ekosistem spiritual, polifoni injili, dan ruang perbatasan berarti memunculkan paradigma alternatif di dalam Gereja dan dunia yang masih ditandai oleh cara pandang yang hirarkis dan fungsional dalam melihat relasi-relasi di antara kita.

Tantangan untuk Ordo Fransiskan zaman ini bukan sekedar “meninjau kembali” panggilan para saudara bruder, tetapi untuk menemukan kembali intuisi awali dari persaduaraan injili di mana keberagaman panggilan dihidupi sebagai kekayaan dan bukan sebagai masalah. Dalam proses ini, saudara bruder bukanlah “objek” perhatian kita, tetapi mereka adalah pelaku (protagonis) penting dari pembaharuan yang berdampak pada seluruh charisma Fransiskan kita.

Sebagaimana Bernardus dan Petrus tidak “mengikuti sebuah Ordo atau aturan,” tetapi bergabung dengan Fransiskus untuk menghidupi Injil, saat ini tantangan nyata adalah untuk menemukan kembali kesegaran asli di mana menjadi saudara mendahului setiap perbedaan dan di mana perbedaan panggilan menjadi tanda bagi sebuah Gereja yang menjadi “rumah bagi semua,” kesaksian nyata atas kasih kebapaan Allah yang dicurahkan secara berlimpah ke atas dunia.

 

Alih bahasa: Sdr. Titus Angga Restuaji, OFM

Tinggalkan Komentar