Kaul Kekal dan Rahasia Awet Muda

BeritaFoto-foto

… Seumur hidup aku
tetap jadi abdinya …

Sepenggal syair dari nyanyian pembuka ini sungguh memperlihatkan pilihan keenem Fransiskan muda yang mengikrar profesi meriah pagi itu, dalam Ekaristi meriah di Biara St. Clara Pacet, Jawa Barat, Selasa 23/7. Setelah melewati ret-ret agung selama kurang lebih sebulan, mereka menegaskan pilihan dengan yakin. Kita pun sekali lagi berdecak syukur untuk anugerah ini. Di tengah kebisingan dunia memburu kedudukan mereka memilih menjadi abdi Tuhan. Bukan untuk sehari melainkan seumur hidup.

Enem saudara yang mengikrarkan kaul kekal di pagi cerah itu ialah Sdr. Roberto Fernandez, Sdr. Yohanes Rahmat Fajar Udi, Sdr. Kristian Emanuel Stefan, Sdr. Filomeno Cardoso Andrade, Sdr. Albertus Erens Novendo Gesu, dan Sdr. Andreas Patriamus Mbete Jubeke.

Awet Muda

Mengawali homilinya, minister provinsi memberi resep awet muda. Rupanya tak mau kalah dengan ibu-ibu yang menawarkan jamu. Juga tak mau ketinggalan dengan para motivator yang melihat keajaiban pada senyuman sebagai resep awet muda. Saudara Sunarko menawarkan resepnya sendiri.

Akan tetapi, resep itu tidak ditemukan di toko jamu. Ia menawarkan sebuah sikap. Mengutip Helder Camara, ia mengusulkan ‘penyerahan diri kepada suatu hal yang penting dan hakiki’ sebagai resep awet muda.

Seperti hendak memperlihatkan keampuhan resep itu, Sdr. Sunarko menyebut sederet tokoh yang telah menggandrungi resep itu. Bunda Theresa dan Santo Fransiskus disebutnya sebagai dua figur yang memperlihatkan pilihan itu. Mereka memilih yang penting dan hakiki yakni melayani Allah dan sesama secara total. Untuk ke sekian kali dalam homilinya, ia juga menyebut Jokowi sebagai sosok yang menyerahkan diri pada suatu hal yang hakiki yakni pengabdian kepada rakyat. Hmmm rupanya pengagum Jokowi juga nih!

Penyerahan diri seperti itulah, menurutnya, yang membuat bunda Theresa dan Fransiskus Assisi setia, bahagia, dan penuh semangat dalam pelayanan. Resep demikianlah yang juga membuat pemimpin seperti Jokowi memaknai jabatan bukan sebagai kekuasan melainkan pengabdian.

Tokoh biblis sekaliber Rasul Paulus juga diangkatnya sebagai sosok yang memperlihatkan penyerahan diri seperti itu. Paulus, dari seorang pembunuh, bertobat menjadi pewarta Injil. Ia menyerahkan diri kepada hal yang hakiki. Ia bahkan dengan gagah menegaskan,“Celakalah aku jika tidak mewartakan Injil”.

Sambil mengarahkan tatapan ke Sdr. Gesu, Sdr. Sunarko menambahkan, “Celakalah aku jika tidak memberi rekoleksi kepada anak-anak muda.” Atau juga “celakalah aku jika tidak menjalankan brevir” tambahnya sambil melihat Sdr. Roberto. Ia juga, mengutip Santa Klara, mengajak umat yang hadir dan secara khusus enem saudara itu untuk bersyukur atas anugerah panggilan.

“Besyukurlah bahwa niat itu pernah muncul dahulu kala, entah kapan. Bersyukurlah juga karena di tengah kebisingan dunia, kalian diberi kepekaan untuk memberi diri seutuhnya bagi Tuhan dan sesama. Bersyukurlah juga untuk pengalaman berkorban dan memberikan diri bagi yang menderita. Bersyukurlah bahwa kalian telah memilih menjadi saudara dina. Perjuangkanlah itu dengan dengan kesetiaan, maka dijamin, pasti kalian awet muda” tandas penulis buku Teologi Fundamental ini.

Kesanggupan Kami, Pekerjaan Allah

Keenam saudara ini satu hati meminang kutipan ‘Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah (2 Kor 3:5b)’ sebagai motto untuk profesi meriah mereka. Motto ini, menurut Sdr. Roberto memperlihatkan kesadaran mereka akan keberdosaan dan keterbukaan akan karya Allah. Di sini bertemu bisikan Allah dan jawaban manusia dalam kebebasan atas bisikan itu.
Di awal sambutan mewakili kelima saudaranya, Sdr. Roberto untuk kali ini memperlihatkan kebolehanya berpantun.

Jalan-jalan ke pacet
Tapi kami tidak macet
Karena dengan Tuhan
kami lengket

Untuk orang tua yang hadir, ia mengajukan dua pertanyaan.“Mama, air mata apakah yang keluar tadi?” Pertanyaan ini ditujukannya kepada Ibu Margaretha Nimat, mama dari sdr. Hans yang siang itu sempat menangis saat anaknya memohon restu sembari diiringi lagu “Doa seorang anak” yang sungguh menyayat hati. Para Saudara muda rupanya sukses membawakan lagu ini dengan menampilkan saudara Fendi Marut sebagai solo tunggal. Betapa tidak, tak hanya keenam saudara yang berkaul kekal, Sdr. Arif Laga, yang adalah anggota koor, bahkan sempat meneteskan air mata. Lagu itu sungguh mengundang permenungan, memantik kesedihan dan air mata.

Terhadap pertanyaan Sdr.Roberto, mama Margaretha menjawab dengan tenang “Itu air mata kebahagiaan tadi, bukan air mata kesedihan.” Pertanyaan kedua pun menyusul. Kali ini, giliran Ibu Sabina Nenu, mama dari Saudara Patris yang ditanya. “Apa reaksi mama jika suatu saat Patris diutus keluar negeri?” Mama ….berdiri dan langsung menjawab dengan yakin, “Saya akan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Dialah yang memanggil dan melindungi anak saya!”

Jawaban dari kedua Mama yang ditanya kembali ditegaskannya kepada lima saudara. Ia menasihati mereka berlima. “woi…gayanya provinsial banget!” celoteh seorang saudara. Kali ini Sdr. Roberto tampil lebih dari sekadar teman angkatan. Saudara Narko bahkan berceloteh, “Saudara berto ini memang terkenal sebagai provinsial angkatan.”

Janji: Suatu Komitmen

Mewakili kedua belas orang tua, Bapa Pius Udi, mengingatkan pentingnya memegang janji dan memenuhinya dengan komitmen yang utuh. Untuk keenam saudara ini ia berpesan, “Tetaplah tegar! Janjimu adalah suatu komitmen. Karena itu, perjuangkanlah itu sebagaimana diteladankan oleh Fransiskus dan Yesus Kristus sendiri.” ungkapnya sambil menyeka butiran bening yang menetes di pipi dan membuat ia sedikit mengambil jeda.

“Sebagai orang tua” demikian Bapa Pius, “kami tidak merasa kehilangan karena kamu telah memilih jalan ini. Kalaupun ada air mata yang tertetes, itu bukan air mata penyesalan melainkan kebahagiaan. Sekali lagi, tetaplah tegar”

Kebahagiaan itu pun sungguh terasa di pagi hingga siang itu. Sudara muda dari komunitas Fransiskus dan Padua-Jakarta, dan Bonaventura-Jogjakarta memperlihatkan keceriaan mereka dalam hiburan kreatif yang mengundang tawa serta lekukan indah pada bibir umat dan saudara-saudari yang hadir.

Selain membawakan koor yang mengantar umat pada kekhusukan, mereka kreatif juga meramu gerak dan suara yang menghibur. Siang itu, di biara kontemplatif yang hening, bertudungkan langit siang yang teduh; janji kekal enam saudara, deru syukur, dan riak kegembiraan jemaat yang hadir berpadu. Sungguh, ini pekerjaan Tuhan!)***

Kontributor : Sdr. Johnny Dohut, OFM





Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *