Keseimbangan Doa dan Studi: Menghidupi Ketegangan dengan Humilitas

Jakarta, OFM ― Pada hari Sabtu dan Minggu (8-9/02/2025), para Saudara Muda  kembali mengadakan rekoleksi bulanan, bertempat di STF Driyarkara. Rekoleksi kali ini dipandu oleh Sdr. Fery Kurniawan OFM, seorang Fransiskan imam yang baru saja mendapatkan gelar Licentiate dalam bidang Filsafat. Kematangan hidup doa dan studi menjadi alasan utama  para Saudara Muda mengundang Sdr. Fery untuk memberikan rekoleksi bertema, “Keseimbangan Doa dan Studi (?)”.

Sesi pertama berlangsung pada Sabtu malam, pukul 20.00-21.00 WIB. Sdr. Fery membuka sesi ini dengan mengajak para peserta merenungkan makna kata “keseimbangan” yang dianggap cukup problematis. “Sejak awal, tidak ada yang namanya keseimbangan yang ideal. Yang perlu kita pahami bukan soal mencapai keseimbangan, melainkan bagaimana menghidupi ketegangan antara doa dan studi,” tegasnya.

Para Saudara Muda sedang menyimak penyampaian materi rekoleksi oleh Sdr. Fery.

Menurutnya, yang dibutuhkan adalah menemukan titik temu yang integral antara doa dan studi, sehingga keduanya menjadi way of life (cara hidup). “Menghidupi ketegangan antara doa dan studi menuntut sikap hidup humilitas. Humilitas berarti mengenali diri sendiri, bergerak dari interioritas ke exterioritas. Jika kita mampu mengenali diri, maka kita juga dapat mengenali dunia. Studi adalah cara kita memahami dunia,” lanjutnya. Sesi ini diakhiri dengan ajakan untuk merenungkan beberapa kutipan dari St. Bernardinus dari Siena sebagai bahan refleksi pribadi.

Sesi kedua dilaksanakan pada Minggu pagi, pukul 08.00-09.00 WIB, dilanjutkan dengan sharing kelompok. Sdr. Fery membuka sesi ini dengan membahas beberapa kutipan dari St. Bernardinus dari Siena, melanjutkan refleksi dari sesi sebelumnya. Ia menekankan pentingnya mengenali Tuhan, bukan hanya melalui akal budi, tetapi juga dengan melibatkan dimensi afektif.

Mengakhiri kegiatan rekoleksi dengan Perayaan Ekaristi

“Kita tidak bisa sepenuhnya memahami hal-hal tertinggi hanya dengan akal budi karena akal budi memiliki keterbatasan. Oleh sebab itu, penting untuk melibatkan dimensi perasaan atau hati. Perpaduan antara pemikiran dan perasaan inilah yang membentuk kepribadian kita: belajar dengan hati yang berdoa, dan berdoa dengan pikiran yang belajar.” jelasnya

Sebelum sesi ditutup, Sdr. Jerry Ranus OFM yang turut hadir dalam rekoleksi ini, berbagi beberapa pengalaman pastoral yang relevan dengan tema rekoleksi. Ia menegaskan bahwa pengalaman hidup sehari-hari juga menjadi bagian penting dalam mengintegrasikan doa dan studi. Sebagaimana biasanya, rekoleksi ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Sdr Jerry, didampingi oleh Sdr. Ferry. Usai Perayaan Ekaristi, para peserta menikmati makan siang bersama sebagai bentuk perayaan kebersamaan.

 

Kontributor: Sdr. Lian OFM

Ed.: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar