Kursus Jurnalistik 2014

[tab name=”Berita”]

Tulisan yang baik tidak saja dipengaruhi oleh keseringan menulis atau membaca. Pengetahuan tentang metode menulis dapat membantu menghasilkan tulisan yang baik serta berkualitas dan menarik pembaca. Selain itu, pengetahuan mengenai model-model tulisan yang sesuai dengan kebutuhan pembaca juga menjadi ukuran baik tidaknya sebuah tulisan. Inilah beberapa hal yang kami coba pelajari dalam kursus jurnalistik selama 2 hari, 10-11 Januari 2013.

Kursus jurnalistik berlangsung di Ruang Kuliah I STF Driyarkara, Jakarta Pusat. Peserta yang mengikuti kursus ini adalah para saudara muda Tingkat III dan Tingkat VI (tingkat akhir menjelang kaul kekal). Kami berjumlah 9 orang ditambah dengan Sdr. Frumens (sekretaris Wandikdi) yang selalu setia mengikuti kursus bersama kami. Kursus jurnalistik sendiri diberikan oleh seorang wartawan dari majalah Intisari, Birgitta Ajeng. Ajeng, begitu ia disapa, adalah lulusan ISIP Jakarta Selatan. Ia juga pernah bekerja di majalah Hidup Katolik dan di majalah online okezone.com.

Wartawan yang mengasuh kolom psokologi di majalah Intisari ini memberi kami beberapa pengetahuan tentang metode menulis, diantaranya reportase, feature, deskripsi, dan sastra. Setiap bentuk tulisan dipelajari strukturnya, unsur-unsur yang membangun bentuk tulisan tersebut, dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat membuat tulisan kita menjadi menarik dan enak dibaca. Langkah-langkah praktis dalam menyusun sebuah kalimat juga tidak luput dari perhatian kami, seperti memilih jenis-jenis lead serta gaya bahasa yang efektif. Hal lain yang juga berharga bagi kami adalah sharing pengalaman sebagai jurnalis dari pemberi kursus. Pengalaman-pengalaman itu tentu saja memperkaya kami sekaligus juga memotivasi kami untuk bisa menjadi penulis yang baik—setidaknya mampu merumuskan pengalaman dan gagasan sehingga dimengerti orang lain.

Kami sangat antusias mengikuti kursus ini, bukan karena pemberinya seorang kaum hawa yang menawan dan memberi efek cetar pada perasaan, melainkan karena kami bisa bekerjasama dan berbagi dalam praktik menulis. Setiap kesulitan diutarakan tanpa canggung dan diselesaikan dalam diskusi yang ramah. Kami menjadi sangat ekspresif dan berani dalam latihan menulis. Bahkan, Sdr. Frumen, OFM yang setia menemani kami dalam kursus juga sempat terpukau ketika para saudara mempresentasikan setiap hasil tulisan yang menurutnya sangat baik.

Dari hasil evaluasi kami bersama pemberi kursus yang juga adalah anggota OMK Paroki St. Paulus Depok ini, kami menemukan bahwa ternyata setiap saudara memiliki potensi yang memadai untuk menulis. Praktik tulis-menulis selama kursus menunjukkan hal yang megagumkan itu. Hanya saja keberanian dan kemauan untuk bereksplorasi atas potensi ini menjadi penghambat. Hampir setiap saudara mengutarakan kesulitan untuk memulai dan tidak berani mendulang kegagalan dari hasil percobaan. Selain itu, hal yang menjadi kendala juga adalah keterbatasan perbendaharaan kata-kata yang disebabkan oleh kurangnya minat baca.

Kontributor: Sdr. Faris Jebada, OFM
[/tab] [tab name=”Foto-foto”]




[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *