Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM, seorang Fransiskan yang mengabdikan diri di lembaga pendidikan STF Driyarkara, Jakarta membagikan pengalaman pelayanannya selama liburan akademis kampus. Liburan bukan tentang waktu berleha-leha tetapi tentang berpindah locus pelayanan dari ruang-ruang kuliah  kepada ruang-ruang perjumpaan lain. Simak kisahnya!

Catatan sharing ini memuat tiga peristiwa yang masing-masing berbeda berkenaan dengan jenis, bentuk, ruang, waktu, dan isi, berikut pernik-pernik yang menghiasinya. Ketiga peristiwa itu merupakan pengalaman personal, meliputi, satu, mendampingi retret postulan FSGM di Pringsewu pada tanggal 21-29 Juni 2023; dua, kongres mengenai pusat studi dan riset OFM yang berlangsung di Curia Generale Roma, pada tanggal 1-9 Juli 2023; ketiga, penyusunan Kembali Konstitusi dan Statuta Kongregasi SFD di Mary Home, Berastagi, pada tanggal 13-26 Juli 2023.

Ketiga peristiwa tersebut merupakan langkah-langkah kecil yang sarat nilai bagi saya, mengingat suatu tujuan akhir—apapun namanya—senantiasa mulai dari awal. Langkah-langkah ini sudah dimulai dan semoga terus berlanjut secara tetap dalam semangat dan hasil, sehingga tidak diulang terus-menerus. Sebagaimana dikatakan Bapa Serafik, St. Fransiskus Assisi, “Mari kita mulai lagi”. Sebab hal-hal yang telah kita mulai telah pupus, merosot, dan perlu dimulai dari awal.

Perjalanan Menuju Pringsewu

Meski belum selesai membaca semua paper sebagai ganti Ujian Akhir Semester (UAS) beberapa matakuliah yang diampu, saya perlu segera beringsut ke Pringsewu. Saya meninggalkan Jakarta menggunakan moda bis DAMRI kelas Royal. Tujuan perjalanan ke Pringsewu adalah mendampingi retret para postulan FSGM.

Rute perjalanan saya atur sebagai berikut. Pada tanggal 20 Juni saya meninggalkan Komunitas Duns Scotus, Kampung Ambon, Jakarta dengan antaran mobil yang dikemudikan Sdr. Vincent Gabriel, OFM. Bis DAMRI menjauhi Lapangan Gambir pada pkl. 10.00 WIB dan sekitar dua jam kemudian saya sudah berada di atas kapal penyeberangan dari Merak hingga Bakauheni. Tujuan terakhir DAMRI adalah Tanjung Karang, yang kami capai pada pkl. 16.00 WIB. Di sini sudah bersiap dua suster FSGM dan seorang ibu. Mereka mengantar saya ke perhentian pertama, yakni Komunitas Suster FSGM, di Jl. Cendana No. 22, Pahoman–Bandar Lampung.

Pada tanggal 20 Juni pkl. 20.00 WIB terlaksana agenda yang telah direncanakan, yakni perjumpaan dengan teman sebangku sekolah di SMP-SMEP Kanisius, Pakem_Yogyakarta. Dia adalah Suyoto, yang disertai istri dan dua dari tiga anaknya. Setelah tamat dari sekolah tadi, kami tidak pernah bertemu. Berkat WhatsappGroup (WAG) lulusan 1973, yang baru saja kami bentuk, akhirnya kami dapat berjumpa. Jelas, setengah abad telah mengubah diri, pandangan, pendengaran, kedalaman, dan kejernihan kami.  Keesokan hari, setelah merayakan Ekaristi pada peringatan St. Aloisius Gonzaga (bertepatan dengan pesta nama dua orang suster di komunitas Pahoman) dan sarapan, saya pamit dan segera diantar ke Pringsewu, tempat retret para postulant FSGM. Retret sendiri diawali dengan perayaan Ekaristi pada tanggal 21 Juni 2023, pkl. 18.00 WIB.

Sdr. Eddy kristiyanto, OFM berjumpa kembali dengan teman SMP setelah 50 tahun berlalu. Banyak perubahan tapi kenangan masa putih-biru tinggal tetap.

Postulan FSGM Memanggil

Sudah sekian kali saya mendampingi retret para postulan FSGM. Biasanya jumlah postulan berkisar 6 sampai 7. Namun kali ini, jumlah mereka mencapai 10 orang. Karunia Tuhan yang besar dalam jumlah itu meliputi wilayah asal-usul yang luas dari “seluruh Indonesia”: Merauke, Jayapura, Tanjung Selor, Atambua, Tanjung Karang, Palembang. Hal yang perlu dicatat adalah beberapa di antara mereka mengenali panggilan religius melalui kanal media sosial yang dikelola suster-suster muda FSGM. Kontak personal via medsos itu lalu dirawat dan dipelihara dengan intensif.

Terasa sekali bahwa angkatan ini sudah mengalami polesan dan sentuhan “psikologi hidup rohani” yang diterapkan oleh para pembinanya, yang secara khusus mendampingi mereka. Kecintaan para postulan akan panggilan awal hidup rohani, terutama hidup sebagai biarawati atau suster FSGM, memudahkan saya dalam menyampaikan butir-butir retret, terutama yang bertautan dengan kefransiskanan.

Berfoto sejenak sebelum sesi retret dimulai. Sepuluh postulan FSGM dari berbagai wilayah di Indonesia. Berbeda-beda tapi disatukan oleh panggilan Tuhan.

Sebagaimana tema retret untuk para postulan pada angkatan-angkatan yang sebelumnya, kali ini pun pihak FSGM sudah mematoknya, yakni pengenalan akan khazanah rohani Bapa Fransiskus Assisi. Oleh karena itu, sesuai dengan kebutuhan mereka, saya menggagas urutan dan penekanan yang perlu, sebagai berikut: konteks sosial, religius, politik, kebudayaan, ekonomi masyarakat pada zaman Fransiskus Assisi; Keluarga dan warisan keagamaan Pietro Bernardone & Donna Picca; Pertobatan Il poverello d’Assisi; Puncak-puncak kehidupan Fransiskus Assisi: doa-ekaristi, kedinaan, sukacita, perutusan (misi-evangelisasi), formasio, serta persaudaraan-pengampunan.

Pelayanan untuk mendampingi para postulan saya emban untuk mengaktualisasikan diri secara sederhana di hadapan orang-orang yang masih belia. Katakanlah para postulan itu bagaikan “tabularasa” atau kertas kosong yang siap ditulisi. Penyampaian materi yang inspiratif dan menjawab karena dikemas secara sederhana, mudah dicerna, sesuai dengan semangat zaman “yang milennial” biasanya akan berbekas pada formasio yang berkelanjutan.

Berfoto bersama para postulan FSGM yang telah menerima busana kebiaraan. Secara resmi mereka memulai Tahun Kanonik atau Masa Novisiat.

Panggilan untuk berperan dalam formasio FSGM ini saya hayati sebagai suatu bentuk kenosis. Saya berikhtiar membumikan gagasan kefransiskanan demi menguatkan panggilan religius orang-orang muda. Kiranya dengan cara itu, “pengosongan” yang terjadi melalui pemaparkan gagasan dan permenungan pada gilirannya diisi dengan tanggapan berupa buah-buah yang nyata bermanfaat dari para peserta retret.

Mahkota retret para postulan FSGM itu berupa “keberanian mereka untuk menerima pakaian biara,” dalam perayaan Ekaristi pada tanggal 29 Juni 2023. Sejak saat itu dimulailah tahun kanonik masa novisiat. Pasca resepsi, yakni pkl. 15.00 WIB, rombongan suster FSGM dari Kampung Ambon, Jakarta meminta diri pada “pusat markas besar” FSGM dan saya “nebeng”. Penantian kami atas kehadiran kapal penyeberangan di Bakauheni terasa lama bangets. Akhirnya, hampir tengah malam, pk. 23.45, kaki kami menginjak Ibu Bumi Kampung Ambon. Deo gratias!****

Kontributor: Sdr. Eddy Kristiyanto, OFM
Ed.: Sdr. Rio, OFM

Tinggalkan Komentar