Maria Menggoyang Monika

Dengan pamitan lebih dahulu pada jasad Sdr. Petrus Djehadan OFM yang membujur dalam peti di Ruang Duka Carolus, saya berangkat ke Bumi Serpong Damai, Tangerang, Kamis 18 Oktober 2012. Penjemput sudah datang di Pastoran St. Paskalis, Cempaka Putih, pada jam 16:15. Kami meninggalkan kompleks pastoran jam 16:30 dengan kesadaran bahwa kami akan melewati jalanan yang sangat padat, cenderung macet – meski Jokowi-Ahok sudah dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.

MARIA SELALU MENAWAN

Kami menginjakkan kaki di kompleks Gereja St. Monika, Bumi Serpong Damai, pada jam 18:45. Perjalanan kami lalui dengan lancar, meski di beberapa ruas jalan terjadi penumpukan arus lalu lintas yang tak mudah terurai. Kaki ini langsung menuju ke aula (lantai 2). Peserta Pendalaman Iman belum genap 10 orang. Sebab acara baru dimulai jam 19:30. Sambil menunggu saya melakukan meditasi. Saya hanya membawa serta USB berisi materi presentasi.

Kepada Panitia Penyelenggara, saya sudah memesan agar disediakan laptop, LCD Projector, pointer, dan materi pengajaran dapat dimiliki oleh peserta hanya setelah presentasi saya selesai dibawakan. Maksudnya tidak lain adalah agar para peserta memfokuskan seluruh diri pada apa yang saya bawakan, dan tidak sibuk dengan membolak-balik kertas fotocopy materi yang ada di tangan mereka. Ini “ilmu” yang hendak saya tularkan.

Menjelang jam 19:30 ruangan yang memuat sekitar 150 kursi nyaris dipadati hadirin. Seperti biasanya, pengajaran didahului dengan puji-pujian, apalagi yang menjadi penyelenggara acara ini adalah Sub Seksi KEP (Kursus Evangelisasi Privadi). Segelintir orang bernyanyi sambil jingkrak-jingkrak. Orang bilang, “Pantekostal banget”. Semua anggota panitia berseragam. Semua peserta mengenakan “name-tag” dengan tulisan nama sangat jelas.

Bagian saya adalah menggelar khazanah kehidupan iman Bunda Maria, secara lebih khusus devosi kepada Sang Bunda. Empat hal saya singkapkan. Satu, Arti devosi. Dua, Alasan-alasan mengapa kita Berdevosi. Tiga, macam dan bentuk devosi dengan berguru pada “Marialis Cultus” Paulus VI. Empat, Prinsip-prinsip devosi yang tepat dan beberapa sugesti.

Pokok pembicaraan tentang Bunda Maria selalu manawan, bukan hanya menawan saya tetapi juga pada peserta. Hal itu masih diimbuhi dengan metode atau cara membawakan yang bagus, penguasaan materi yang dibawakan. Dua unsur yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam hal ini. Satu, saya adalah guru, bahkan anak guru, yang tahu bagaimana membuat orang paham dan terpengaruh oleh ilmu yang tengah dipelajari. Kedua, pengalaman berhadapan dengan publik. Tidak kalah pentingnya adalah faktor ikhtiar meng-upgrade, meng-aggiornamento materi presentasi. Saya merasa tak sampai hati, mendaur ulang dan mempresentasikan materi lama (yang basi). Upgrading dan aggiornamento ini juga didorong oleh faktor pengalaman yang bertambah, yang pada gilirannya memperdalam diri yang tengah memandang, mencerna hidup sehari-hari. Untuk itu perlunya di sini membaca artikel atau buku yang berhubungan dengan pokok tersebut.

UMPAN BALIK

Dihitung dari segi waktu saya, seluruh acara ini memakan lebih dari 7 (tujuh) jam. Wauw! Betapa tidak?! Saya berangkat dari Pastoran Paskalis jam 16:30. Tiba kembali di pastoran jam 23:30. Belum terhitung saat persiapan materi yang membutuhkan sekitar 2-3 jam. Namun kalau melihat dan mendengarkan umpan balik dari para peserta, waktu dan keletihan itu – menurut istilah Indonesia Timur – TERBAYAR SUDAH. Banyak di antara peserta yang mengaku berdevosi kepada Bunda Maria, tetapi pengetahuan mereka sekitar dan mengenai devosi tersebut sangat minim. Hal itu terukur saat diadakan dialog interaktif. Mata yang menyinarkan keingintahuan. Mulut yang tidak menguap meski arloji sudah menunjuk angka 21.45. Aneka pertanyaan yang muncul dari kehausan akan pemahaman. Materi yang dikemas dengan populer, sederhana, mengena. Semua ini mengharuskan saya untuk menyatakan Maria tengah menggoncang Monika.

Harus ditafsirkan bagaimana kalau pasca presentasi peserta selain meminta materi, meminta foto bersama, ingin memiliki nomor kontak pribadi baik ponsel, PIN, maupun e-mail? Semuanya ini dikembalikan kepada Tuhan. Dialah yang menginspirasikan agar pada akhir studi di Kentungan, Yogyakarta (1986) saya membuat karya tulis yang dibimbing oleh Sdr. Cletus Groenen OFM. Karya ini mengenai Maria dalam Gereja, sebagaimana terungkap dalam Lumen Gentium Bab VIII.

Catatan akhir saya berhubungan dengan kegiatan pelayanan di Paroki St. Monika, BSD ini, segera saya taruh di depan cermin, agar kita semua bercermin. Oleh karena itu, catatan berikut tidaklah kurang penting.

Mungkin baik dicatat oleh kita, para Fransiskan pengelola paroki. Kalau ada tamu-tamu yang diundang secara khusus untuk membantu pelayanan di paroki kita, sebaik-baiknya kita datang, sekedar mengatakan “Hallo, “Mari singgah di Pastoran”, “Mari minum di Pastoran”, dan lain sejenisnya. Atau, meminta kepada Panitia Penyelenggara untuk mengantar tamu (narasumber, pembicara) ke Pastoran. Hal ini berhubungan dengan adat hospitalitas (keramahtamahan dalam menerima tamu).

Cita rasa ketimuran kita kiranya memberi ruang pada sikap ramah seperti itu. Dalam hal ini mungkin kita sendiri sudah tergerus tanpa sengaja dan tanpa disadari oleh sikap cuek (kurang perhatian) dan kurang beradab.*****

Kontributor: A. Eddy Kristiyanto, OFM

maria-goyang-monika

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *