Menepi ke Palembang dan Sintang

Satu setengah bulan bukanlah waktu yang singkat, apalagi jika dihubungkan dengan kegiatan pendampingan retret. Hanya satu dua hari setelah Gardianat Porzioncula mengadakan rekreasi plus-plus di Carita Beach (11-13 Juni 2012), saya memulai program absen-lama dari komunitas Pastoran St. Paskalis, Jakarta.

Program itu berlangsung di sebagian di Rumah Retret Giri Nugraha, Jl. Kol. H. Burlian, km 7, Palembang. Sebagian lainnya di Susteran SMFA, Jl. Sudirman, Sintang. Tuturan berikut ini merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban atas program tersebut.

Goa Maria di Rumah Retret Giri Nugraha

Goa Maria di Rumah Retret Giri Nugraha

A DWELLING PLACE

Lebih dari dua tahun retret ini disepakati dan direncanakan bersama. Persis dua bulan lalu saya meninggalkan Jakarta dan merapat di Palembang. Di sini sudah siap bermenung bersama 38-an FCh. Kelompok ini segera disusul yang lainnya, yang jumlahnya menembus angka 44 orang. Tidak ada pemisahan jenjang di antara para peserta retret. Maksudnya, suster medior, senior, dan yunior membentuk satu kelompok bersama.

Materi retret saya pungut dan olah dari karya Thadee Matura OFM. Karya itu berkepala A Dwelling Place of the Most High. Dalam buku ini Matura menyediakan 15 pokok permenungan yang bertolak dan berasaskan karya-karya Fransiskus Assisi. Oleh karena itu, para retretan pun selain memanfaatkan Kitab Suci, Konstitusi Kongregasi, juga opus-magnum Kajetan Esser OFM yang diterjemahkan dan diberi catatan oleh Sdr Leo L. Ladjar OFM.

Pendekatan yang saya terapkan pun secara sederhana menggarisbawahi pengalaman iman “kita”, yang dengan demikian menggunakan metode dari bawah. Metode ini pada gilirannya diperkaya dan dikonfrontasikan dengan pendekatan (metode) dari atas. Hemat saya, kedua metode itu menjadi paduan yang saling melengkapi dan memperkaya.

Hampir setiap hari ada tiga “curah ilham”, sebuah ungkapan untuk mengganti kosakata “konferensi”. Curah Ilham itu sendiri berlangsung sekitar enam puluh menit. Beruntung sekali ada imam SCJ, P. Laton Wibowo, seorang misionaris dari Polandia yang sudah dinaturalisasi, yang dengan hati mulia menolong mendengarkan pengakuan dosa. Tanpa uluran tangan beliau, sulit dibayangkan bagaimana akhir dari retret ini.

Pada saat pergantian kelompok satu dengan lainnya, saya berksempatan melihat dari dekat Kompleks Olahraga Jakabaring. Di sinilah sejumlah atlit ASEAN mengukir prestasi. Di samping itu tempat tinggal mereka, yakni Wisma Atlet, masih menyisakan kasus yang belum dikupas tuntas.

Untuk menjaga kebugaran badani, saya menyisihkan waktu untuk berjalan cepat selama minimal 30 menit saban hari. Saya sudah membayangkan kegiatan ini. Makanya, saya menyiapkan dan membawaserta perlengkapan olahraga dari Jakarta. Pendulum fIlosofi religi dewasa ini bergeser ke arah penegasan berikut, “Kalau berdoa saja ada waktu, mengapa olahraga tidak?!”

SUSTER RAKYAT

Dua minggu sudah dilewatkan bersama FCh. di Pelembang. Kini program absen-lama diteruskan ke Sintang. Saya hanya transit di Bandara Cengkareng dan Pontianak. Seterusnya saya menuju Sintang, masih di wilayah Provinsi Kalimantan Barat.
Pesawat ATR 300 yang mengangkut 42 penumpang membawa kami ke ketinggian. Jenis pesawat ini memungkinkan kami melihat kondisi Ibu Bumi yang dilewati, mengingat pesawat dirancang untuk terbang dalam ketinggian moderat. Belang bonteng dan gundul menjadi pemandangan wajar Ibu Bumi Borneo Barat.

Di Bandara Susilo, Sintang (penerbangan 40 menit dari Pontianak) sudah siap dua anggota SMFA dan satu bapak. Bersama mereka saya turun di Susteran SMFA, Jl. Sudirman. Para suster ini mengesankan berhasil menampilkan gaya dan pola hidup yang sederhana. Hal ini kiranya diinspirasikan oleh pendiri SMFA, yang menyebut para susternya sebagai “Suster Rakyat”.

Istilah ini menarik perhatian saya. Sebab sepertinya saya baru pertama kali ini mendengarnya. Makna dari istilah tersebut sangat dalam dan penting, sehingga hemat saya istilah itu meruntuhkan kecongkakan William Shakespeare yang berujar, “What is in a name?” Nama atau istilah itu pasti berkaitan dengan makna, apalagi nama atau istilah yang dipraktikkan dengan setia, bakti, gembira, dan ikhlas.

Para peserta retret, SMFA, dibagi dalam dua kelompok, masing-masing terdiri atas 21 dan 23 orang. Retret dilaksanakan selama tujuh hari penuh. Dari data yang ada, ternyata sejumlah Fransiskan (OFM) pernah melayani SMFA. Mereka itu antara lain Sdr. Alfons S. Suhardi, Yan Ladju, Robby Wowor, Paskalis B. Syukur, Martin Sardi.

Penghiburan terbesar bagi saya selama di Sintang adalah berada di tepian Sungai Kapuas. Di sana saya bisa berlama-lama memandang air yang melimpah. Memang, hari-hari pertama saya di Sintang terasa panas menyengat. Debit air Kapuas pun sangat sedikit. Hal itu terlihat dari: hanya separuh sungai yang dilewati air. Nyaris tidak ada perahu yang hilir mudik. Sudah lama tidak turun hujan.

Sungai Kapuas - saat debit airnya menyurut

Sungai Kapuas - saat debit airnya menyurut

Tetapi tidak lama berselang hujan turun sangat lebat hampir setiap hari. Maka, permukaan air Kapuas meninggi. Geliat ekonomi kian terasa. Perahu bergerak. Orang-orang pada kulakan. Perahu hilir mudik, dan kayu-kayu gelondongan ditarik dari wilayah hulu menuju Pontianak. Di sini pula saya mendengar tentang perlawanan sejumlah kabupaten terhadap sawitisasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan bermodal raksasa.

Sungai Kapuas - saat debit airnya berlebih

Sungai Kapuas - saat debit airnya berlebih

Tetapi ada banyak kabupaten yang membuka pintu bagi pemodal. Pola hidup masyarakat berubah, jika menerima iming-iming sawitisasi. Itu betul! Pada mulanya warga mempunyai uang, tetapi setelah itu sengsara. Karena mereka kemudian bekerja di bekas kebun mereka sendiri. Sebagai orang-orang upahan dari perusahaan. Perubahan pola hidup ini yang tidak dipersiapkan dan tidak diantisipasi oleh pemerintah setempat, yang malah play ding dong dengan para pengusaha kelapa sawit. Tegasnya, sawitisasi menyebabkan banyak orang Dayak masuk penjara.

HIKMAT

Meski saya mempunyai tiket pesawat dengan status OK, namun pada tanggal persis yang tertera pada tiket ternyata tidak ada pesawat ke dan dari Bandara Susilo, Sintang. Maka segera diputuskan untuk mengambil jalan darat. Ini pun pengalaman baru dan unik. Di sejumlah titik antara Sintang-Pontianak, kondisi jalan sungguh memprihatinkan.

Bisa dibayangkan bagaimana ruas-ruas jalan di wilayah lain yang jauh dari Pusat Pemerintahan? Bagaimana mungkin wilayah yang sangat kaya sumber alam, tetapi kondisinya bisa separah itu? Siapa menyedot anggaran pembangunan daerah? Supaya tidak larut, pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya tidak dipaparkan di sini.

Dan perjalanan pun diteruskan. Sejak 31 Juli hingga 15 Agustus saya berada kembali di RR Giri Nugraha, Palembang. Dua kelompok (3 dan 4) retret FCh siap berjalan bersama. Kelompok 3 terdiri atas 55 suster; sedangkan kelompok berikutnya menampung 73 Suster FCh. Ini berarti semua anggota Kongregasi FCh ikut serta dalam retret ini, kecuali mereka yang hidup dan berkarya di Timika, Tanah Papua. Dari rangkainan retret selama 45 hari: di FCh selama 4 minggu, di SMFA selama 2 minggu), saya menarik butir-butir hikmat sebagai berikut.

Pertama-tama, pujian dan syukur dinaikkan kepada Allah Yang Mahaluhur, Mahatinggi, dan penuh kemuliaan atas anugerah kesehatan serta daya tahan yang dilimpahkan-Nya kepada saya. Kemudian, materi retret untuk semua gelombang memang sama. Namun, materi itu lama kelamaan semakin kaya, padat-berisi, inspiratif. Dengan demikian, materi tidak pernah merupakan hasil daur ulang. Itu semua dimungkinkan oleh pembacaan sumber-sumber lain, pengalaman perjumpaan, dan refleksi.

Selain itu, ada kehendak kuat untuk memberikan yang terbaik. Itulah sebabnya, saya terus-menerus meng-upgrade, meng-aggiornamento gagasan-gagasan awal. Dengan demikian, materi itu terus mengalir dan sedang menjadi. Sangat penting di sini bagaimana cara saya menjajakan, mempresentasikan buah-buah pemikiran dan refleksi iman. Semakin terasa, bahwa Kitab Suci, warisan rohani Fransiskus Assisi dan karya-karya tentang (dan sekitar) il poverello d’Assisi sangat relevan dan subur ilham. Semua itu tidak pernah meminggirkan situasi dan kondisi konkret, tempat kita menanggapi wahyu Tuhan.

Akhirnya, saya serahkan dan kembalikan kepada Dia segala yang dianugerahkan-Nya, yakni semua bentuk ikhtiar (usaha), daya kemampuan, kehendak, pengalaman termasuk kekurangan dan keterbatasan saya dalam ucapan syukur yang tiada kendat (putus).

(Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto OFM)

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *