Mengenang Kembali Hidup Fransiskan Masa Novisiat

[tab name=’Berita’]

“MENGENANG KEMBALI HIDUP FRANSISKAN MASA NOVISIAT! GAMSAHAMIDA KOREA SELATAN”

Berangkat dengan Qatar Airways – kembali dengan Emirates Airways

Semenjak mendapat kepercayaan para saudara untuk menjalankan pelayanan sebagai Definitor General, saya lebih merasakan lagi dimensi keperantauan hidup sebagai saudara dina. Perantauan ini secara fisik-konkret dialami, tetapi juga secara rohaniah dimensi itu dihidupi. Erat dengan dimensi keperantauan ini ialah dimensi misi yang perlu menjadi bagian integral dari panggilan menjadi saudara dina. Sejak september 2009, saya menjalankan tugas ini bersama 8 rekan definitor lainnya dengan mengadakan refleksi bersama dalam rapat definitorium yang dikenal dengan sebutan “Tempo Forte” dan perjalanan kunjungan ke berbagai Provinsi, Kustodi, Fundasi yang ada dalam Ordo kita. Prioritas daerah yang saya kunjungi adalah entitas yang ada dalam naungan dua konferensi di Asia-Oceania, yakni SAAOC (Indonesia, India, Pakistan, Australia-NewZealand-Singapure-Malaysia-Brunai, Papua New Guinea, Sri Lanka, Thailand) dan EAC (Korea Selatan, Viet Nam, Philippina, Myanmar, Taiwan, Hongkong, Cina, Jepang, Kamboja). Di negara-negara inilah para fransiskan di Asia menghadirkan dirinya dan membawa warta gembira bagi masyarakat di sana.

Setelah 3 tahun melaksanakan tugas sebagai definitor, saya menjejakan kaki lagi di negeri “ginseng” Korea Selatan. Tahun 2010 bulan Mei, saya pernah datang ke negeri ini bersama Minister General. Saat itu kami berada bersama para saudara hanya 3 hari dan pada hari-hari itu, acaranya amat padat. Kunjungan kali ini agak lain. Dengan penerbangan Qatar Airways dari Roma, saya tiba tanggal 23 September di lapangan internasional “Incheon” – Seoul. Sdr. Moses Kim, OFM, mantan misionaris di Cina, sekretaris Provinsi, menjemput saya dan kami berangkat menuju tempat “Leprosarium” desa Sancheong. Perjalanan ditempuh dengan mobil selama hampir 4 jam. Tiba di tempat jam 22.45 malam. Disinilah 4 hari terakhir pertemuan saudara baseta se-Asia diadakan. Pagi hari jam 06.00 tanggal 24 september, saya memimpin ekaristi dengan animasi liturgi oleh kelompok Myanmar dan Indonesia. Sdr. Peter Beto dan Sdr. Tauchen Hotlan Girsang berperan utama dalam liturgi. Lalu jam 09.00 saya membawakan satu materi atau sharing berkenaan dengan identitas fransiskan dalam kaitan dengan panggilan hidup sebagai misionaris-penginjil. Session ini diikuti oleh tanya jawab hingga menjelang makan siang. Sorenya peserta bekerja dalam kelompok. Mengenai isi pertemuan Baseta ini, kiranya saudara Tauchen akan mensharingkan kepada para saudara sekalian.

Dari Suncheon Bay Eco Park ke ekopastoral Pagal – Indonesia

Tanggal 25 September, kami mengadakan perjalanan sebagai kelompok persaudaraan menuju Seoul. Menggunakan kendaraan bus yang nyaman dan bersih, kami tinggalkan tempat karya Leprosarium. Perjalanan ini memakan waktu sepanjang hari karena kami singgah di dua tempat istimewa. Tempat pertama itu semacam pelestarian alam dengan memperhatikan dimensi ekologis di Suncheon Bay Eco Park. Sedangkan tempat kedua (Folk Village) itu adalah tempat dilestarikan dan dimanifestasikan sejarah kebudayaan orang Korea dari zaman dahulu hingga abad berdirinya pusat-pusat perbelanjaan moderen masa kini. Disuguhkan disini bagaimana zaman dahulu orang Korea menjalankan pertanian mereka secara tradisional. Cara-cara bersawah, berladang dan alat-alat pertanian serta tempat penyimpanan hasil pertanian disuguhkan. Suguhan ini mengingatkan saya akan cara orang Manggarai bersawah, cara orang Ngada menyimpan jagung di ladangnya dan di rumah mereka. Memang negara Korea masa kini masih menjaga kelestarian serta keseimbangan antara membangun negaranya dengan teknologi moderen – termasuk mendirikan apartemen mewah – dan mengembangkan sistim persawahannya yang tidak ditinggalkan, tetapi ditingkatkan mutu pengerjaannya. Diantara kemegahan apartemen moderen, kita menemukan dimana-mana hamparan sawah yang tertata rapih. Saat kunjungan kami (September) padi di sawah-sawah sedang menguning, sehingga pemandangan sangat indah. Kehijauan pohon-pohon di gunung dan bukit-bukit menumbuhkan kekaguman kita betapa pemerintah dan masyarakat Korea menjaga kelestarian hutannya. Sungai-sungai mengalirkan air yang masih jernih dari pegunungan. Pemandangan ini mengingatkan saya akan pemandangan yang kurang lebih sama tatkala kami naik kereta api dari Nagasaki menuju kota Fukuoka di Jepang. Dari pengamatan ini, saya berkesimpulan bahwa pembangunan negara dengan teknologi canggih tidak meniscayakan pembangunan bidang pertanian apalagi untuk negara kita Indonesia. Juga saya berpikir dan meyakini bahwa pengembangan hidup religius fransiskan mestinya tidak melupakan penguatan kelompok umat basis yang dalam banyak paroki yang kita layani, umat kita kebanyakan para petani. Maka strategi pastoral yang digerakkan oleh ekopastoral sejak awal berdirinya yang mengajak para petani menghargai martabatnya sebagai petani, hemat saya berada pada jalur strategi yang baik. Penguatan para petani untuk menghargai dan mempertahankan tanah warisan untuk pertanian pun merupakan langkah heroik yang mesti didukung oleh setiap para saudara dina. Mungkin ini tantangan abadi bagi para saudara yang kini berkarya menganimasi umat di paroki-paroki, sekolah dan asrama seperti di Tentang, Pagal, Laktutus, Airamo.

Dari Sancheong menuju Seoul! Dari impian menjadi Perjalanan

Perjalanan dari Sancheong menuju Seoul boleh disebut sebagai perjalanan bersama sebagai suatu persaudaraan menuju suatu persaudaraan pula. Perjalanan ini bagi saya merupakan simbol perjalanan kita sebagai fransiskan. Kita masuk dalam persaudaraan ini karena kita mau mengadakan perjalanan bersama persaudaraan. Persaudaraan itu konkret dan nyata. Maka setiap aktivitas pastoral – apapun bentuknya – mesti menyuburkan ikatan saya (anda) pada persaudaraan fransiskan lokal dan persaudaraan fransiskan internasional. Ikatan saya pada persaudaraan itu bertumbuh dari pengalaman iman akan Allah yang kita kenal melalui Yesus Kristus dalam bimbingan Roh Kudus. Jadi berkembangnya ikatan saya dalam membangun kesaksian bersama sebagai suatu persaudaraan merupakan barometer yang sahih atas kerasulan yang saya jalankan. Maka patutlah dipertanyakan mutu aktivitas kita dari sudut pandang cara hidup kita, apabila kita amat aktif berkarya kerasulan – apa saja bentuknya – tetapi kita amat minim membangun hidupnya suatu persaudaraan. Fenomena jarangnya makan bersama para saudara sekomunitas dan jarang hadir dalam doa bersama di komunitas mestinya mengusik nurani kita untuk bertanya tentang komitmen kita akan hidup religius fransiskan kita.

Hingga tanggal 29 September saya tinggal di komunitas Provinsialat – Seoul. Saya mendapat kesempatan pula untuk mengunjungi komunitas Novisiat di kota Taejon dan komunitas Postulat di Seoul. Komunitas provinsialat menyuguhkan suatu panorama hidup fransiskan yang membuat saya terkenang akan indahnya kehidupan di novisiat. Komunitas provinsialat ini mempunyai jam doa pagi, siang dan meditasi sore serta ibadat sore. Anggota komunitas terdiri dari para dosen, saudara yang melakukan pekerjaan sosial, guru di sekolah, ekonom, sekretaris provinsi dan pekerjaan apostolik lainnya. Ada juga anggota yang sudah usia lanjut. Pada umumnya mereka setia mengikuti doa bersama yang telah ditetapkan; makan bersama diikuti dengan baik. Ada juga kebiasaan membunyikan bel untuk berdoa pagi, siang, sore. Pun di rumah provinsialat ini, kebiasaan membersihkan rumah secara bersama oleh para saudara dilakukan setiap hari Sabtu. Kebiasaan-kebiasaan baik seperti ini hampir sulit ditemukan di komunitas-komunitas di provinsi kita. Kalau kita mau jujur dan berintrospeksi diri, praktis sulit kita berdoa bersama pada pagi hari (mungkin masih dilaksanakan di beberapa komunitas), lebih sulit lagi doa siang bersama (malah mungkin tidak ada lagi) dan masih kurang sulit atau sulit pula melaksanakan meditasi dan doa sore bersama. Tuntutan kerasulan boleh dikatakan sama kiranya di provinsi Korea dan provinsi Indonesia. Spiritualitas fransiskan yang kita peluk pun asalnya sama. Tetapi pertanyaannya: mengapa disini (Korea) bisa dilaksanakan dengan cukup setia, sedangkan di kebanyakan komunitas kita praksis hidup doa bersama sulit diwujudkan? Dalam konteks itulah saya memimpikan pola hidup doa dan kebersamaan di novisiat dengan sedikit dimodifikasi bisa menjadi kenyataan dalam hidup fransiskan kita di komunitas-komunitas karya. Semoga cara hidup doa itu tidak hanya menjadi nostalgia indah. Untuk mewujudkannya dibutuhkan kontribusi kehadiran personal kita. Bukankah hal ini menjadi mandat dari Kapitel Provinsi yang lalu? Gamsahamida!

Kontributor: Sdr. Paskalis Bruno Syukur, OFM[/tab][tab name=’Foto-foto’]

Mengenang Kembali Hidup Fransiskan Masa Novisiat
Mengenang Kembali Hidup Fransiskan Masa Novisiat

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *