Jakarta, OFM – Senin, 4 Mei 2026, Komunitas Beato Yohanes Duns Scotus menyelenggarakan seminar bertema “Literasi Digital” pada pukul 11.30-12.45 WIB, bertempat di ruang rapat Scotus. Kegiatan ini menghadirkan Mba Sara Lea Tunas sebagai pemateri dengan topik “Digital Missionaries: Menjadi Saudara di Era Algoritma.” Seminar ini diikuti oleh 16 Saudara Muda, yang terdiri dari 12 saudara dari Scotus dan 4 saudara dari Padua.
Seminar ini dilatarbelakangi oleh keputusan Kapitel 2025 yang memberikan izin kepada para saudara untuk menggunakan handphone secara legal dan mandiri. Menyikapi hal tersebut, komunitas memandang penting adanya pendampingan dalam penggunaan teknologi, sehingga literasi digital menjadi sarana untuk membentuk sikap bijaksana, bertanggung jawab, dan tepat guna dalam kehidupan sehari-hari.
Acara berlangsung dengan sangat baik dan komunikatif. Mba Sara, yang memiliki latar belakang sebagai katekis agama Katolik sekaligus managing director, project, dan communication lead, menghadirkan perspektif yang segar dan kontekstual. Seminar dibagi dalam dua sesi, yaitu pemaparan materi selama 45 menit dan sesi tanya jawab selama 30 menit.
Sejak awal, suasana sudah dibuat partisipatif. Para peserta diajak untuk mengecek screen time masing-masing sebagai langkah refleksi awal. Menariknya, Mba Sara menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa lama waktu yang dihabiskan di handphone, melainkan untuk apa waktu tersebut digunakan, apa tujuan dari aktivitas digital itu sendiri.
Materi kemudian dikembangkan secara sistematis, dimulai dari perjalanan era komunikasi, dari era lisan, cetak, audiovisual, hingga era algoritma saat ini, yang ditandai dengan kecepatan, visualitas, partisipasi, dan adaptivitas. Dalam konteks ini, para saudara diajak memahami berbagai tantangan digital masa kini, seperti fragmentasi perhatian, budaya instan, hingga kecenderungan narsisme digital dan kehilangan keheningan kontemplatif.
Lebih jauh, Mba Sara mengajak peserta melihat dunia digital bukan lagi sekadar alat (instrument), tetapi sebagai lingkungan (environment) yang menjadi ruang publik baru untuk bermisi. Ia menegaskan bahwa panggilan sebagai digital missionaries berarti hadir sebagai saudara di tengah dunia digital, dengan semangat Fransiskan yang otentik.
Salah satu kutipan yang mengena dari pemateri adalah:
“Sekarang kita sudah tidak bisa lagi memisahkan mana yang online dan mana yang offline. Semuanya sudah menjadi ‘onlife’. Maka kalau kita mau menjadi digital missionaries, kita harus berani masuk ke dalam medianya, hadir di sana, dan membawa nilai sebagai saudara.”
Seminar juga diwarnai dengan antusiasme peserta dalam sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan menarik disampaikan oleh Sdr. Andre:
“Bagaimana sikap yang semestinya ditunjukkan oleh para konten kreator, terutama para Romo, ketika berhadapan dengan umat yang tidak lagi mampu menghargai privasi, misalnya dengan mengumbar masalah personal di media sosial?”
Menanggapi hal ini, Mba Sara menjelaskan bahwa penting bagi para pelayan maupun kreator konten untuk tetap menjaga integritas dan kebijaksanaan. Kehadiran di media sosial harus dilandasi kesadaran akan batasan, martabat pribadi, serta tanggung jawab pastoral. Ia menekankan bahwa tidak semua hal perlu dibagikan, dan justru di tengah budaya keterbukaan yang berlebihan, sikap bijak dalam memilah konten menjadi kesaksian yang kuat.
Pertanyaan lain yang tak kalah menarik berkaitan dengan strategi membuat konten yang menarik dan mampu menjangkau banyak orang. Menanggapi hal ini, Mba Sara menjelaskan pentingnya memahami cara penyajian konten, bukan hanya isi. Ia memperkenalkan kerangka konten digital seperti hero, hub, dan hygiene content, yang dapat membantu membangun relasi, menjawab kebutuhan audiens, serta menghadirkan inspirasi yang berdampak luas.
Dengan gaya santai, ia juga menambahkan bahwa mungkin diperlukan sesi lanjutan yang lebih praktis. “Sepertinya frater-frater perlu bikin sesi kedua, khusus belajar bikin konten,” ujarnya sambil berkelakar, yang langsung disambut antusias oleh para peserta. Ke depan, ada kemungkinan diskusi lanjutan akan diadakan dalam forum FORKASI dengan melibatkan lebih banyak frater.
Sebagai penutup, komunitas menyampaikan tanda terima kasih kepada Mba Sara berupa sertifikat sebagai pemateri. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan diakhiri dengan makan siang bersama di ruang makan.
Seminar ini tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga menjadi langkah awal yang penting dalam membentuk kesadaran dan tanggung jawab para saudara sebagai digital missionaries, membawa semangat Fransiskan ke dalam dunia digital yang terus berkembang.
Kontributor: Sdr. Evaldus Ndulu OFM

Tinggalkan Komentar