Menjadi Religius (Imam) yang Bahagia

[Index Berita]

“Panggilan untuk menjadi seorang Religius (Imam) hendaklah mengantar kita pada suatu kebahagiaan dalam hidup,” demikian ungkap Sdr. Mateus di awal pembukaan Retret Persiapan Tahbisan Lima Diakon. Kelima diakon itu terdiri dari empat saudara fransiskan dan satu saudara dari Serikat Sabda Allah (SVD) yaitu: Sdr. Leon, OFM, Sdr. Felly, OFM, Sdr. Rikard, OFM, Sdr. Ophin, OFM dan Sdr. Beni, SVD. Peserta retret bersama pendamping sudah tiba di Pusat Ekopastoral Fransiskan di Pagal, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT pada 13 September 2012. Retret tersebut berlangsung sampai dengan 17 September 2012. Lebih lanjut Sdr. Mateus mengatakan bahwa kebahagiaan itu bersumber pada pilihan yang bebas untuk mengikui jejak Tuhan kita Yesus Kristus dan setiap Sabda Tuhan. Pilihan itu berakar pada diri Yesus Kristus sendiri, yang murni, miskin dan taat pada kehendak Bapa. Sekaligus, model pilihan untuk menjalani hidup bakti merupakan sebuah antisipasi akan kehidupan dalam Kerajaan Allah. Identitas Religius menjadi lebih sempurna dalam pilihan untuk menjadi Imam yang berarti ikut ambil bagian dalam tugas perutusan Kristus. Dekrit Konsili Vatikan II mengenai Pelayanan dan Kehidupan Para Imam (Presbyterorum Ordinis/ PO 2) mengungkapkan secara eksplisit tujuan seluruh kehidupan dan pelayanan para imam yaitu memuliakan Allah dan “memajukan kehidupan ilahi” dalam diri manusia.

Apabila pilihan itu dijalankan dan dihayati secara sungguh, akan dirasakan sebuah model radikalisasi dari pilihan hidup seorang Kristen sejati. Karena itu, hendaknya seorang religius yang telah bebas memilih hidup bakti, dan kemudian menjadi Imam, mengalami perubahan yang mengarah pada penyempurnaan hidupnya. Secara terus menerus, ia mengejar kesempurnaan dan setiap saat mengalami pengalaman akan Allah.

Secara khusus sebagai seorang imam, seorang religius imam diajak untuk senantiasa menghadirkan kasih Kristus di tengah dunia melalui Ekaristi dan kesaksian hidup serta karya pelayanan setiap hari. Sebagai kekuatan untuk menjalankan tugas-tugas tersebut, seorang religius perlu menyadari diri dan identitas yang dikenakan padanya dari Tahbisan yang diterimanya. Itu semua hanya dapat bertumbuh dengan baik, ketika ia mampu menempatkan Allah (dalam hidup doa) sebagai pusat hidupnya. Ekaristi yang ia rayakan diharapkan menimbulkan rasa takut dan takjub bagi dirinya sendiri dan juga setiap orang yang hadir merayakan bersamanya. Karena hanya ia sendirilah yang mampu menghadirkan Kristus setiap hari melalui Ekaristi yang dirayakannya (Petuah 1).

Beragam tantangan menanti seorang imam dalam pelayanannya. Tantangan itu bukan untuk dihindari tetapi dihadapi dengan sikap yang bijaksana dan penuh kerendahan hati. Penghayatan Spiritualitas yang sungguh akan sangat membantu seorang religius imam dalam menjaga identitas dan pengertiannya akan Allah. Kebahagiaan dalam pilihan dan sukacita dalam karya pelayanan akan sangat membantu seorang religius imam menjalani tugasnya. Panggilan untuk mengarah ke kesempurnaan hidup sebagai seorang religius (imam) menjadi nyata dalam penerimaaan Sakramen Tobat dari Sdr. Aloysius Ombos, OFM. Seluruh rangkaian retret dimahkotai dengan Perayaan Ekaristi di sore hari pada 17 September 2012 pukul 18.00 WITA.

Kontributor : Sdr. Yosef Selvinus Agut, OFM

menjadi-religius-1

menjadi-religius

menjadi-religius

menjadi-religius

menjadi-religius

menjadi-religius

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *