Natal di Vatikan, Tahun Baru di Paris

[tab name=”Berita”]

Meninggalkan Jakarta, 22 Desember 2012 dan kembali ke Jakarta, 4 Januari 2013. Kurun waktu itulah yang hendak saya tuturkan berikut ini. Adapun selama periode itu, Raptim memfasilitasi keluarga-keluarga Katolik untuk mengalami khazanah iman Gereja Katolik yang terungkap dalam ziarah dan tur.

Khazanah itu terpendam dan tersingkap di Vatikan, Roma, Padua, Lucern, Nevers, Lourdes, Paris, Brussels, dan Amsterdam. Di samping itu, khazanah itu terlihat pula dalam kebersamaan selama berjalan bersama selama 14 hari. Judul reportase ini mewakili presentasi tentang kurun waktu tersebut di atas.

VATIKAN DAN ITALIA

Rombongan “Natal di Vatikan, Tahun Baru di Paris” yang diorganisasi Raptim dipimpin oleh Ibu Concilia. Tahun-tahun yang silam Ibu Lia -begitulah dia biasa disapa- bekerja sebagai pramugari Singapore Airlines. Sejak sekitar setahun lalu beliau bergabung dengan Raptim. Secara berkala ia memimpin tur Raptim ke Eropa.

Lia memimpin perjalanan ini dengan sangat baik, meski di beberapa kota yang disinggahi rombongan ini, dia untuk pertama kali menginjakkan kaki, misalnya di Padua, Venice, dan Milan.

Dengan terampil dan cekatan, Ibu tiga anak tersebut, mengontak hotel, restoran, gereja (kapel), mengatur secara runtut perjalanan, toko yang hendak disinggahi rombongan. Selain itu, ia mengingatkan peserta akan barang bawaan, ketepatan jadwal perjalanan, dlsb. Sungguh tidak mudah memerankan tugas sebagai pemimpin rombongan!

Sementara itu, penulis reportase ini memerankan tugas sebagai pendamping rohani, yang bertugas antara lain memimpin ekaristi, memimpin doa, memberkati barang-barang sakramentali, menyajikan renungan dalam perjalanan. Kebetulan sekali, penulis ini berminat pada sejarah, spiritualitas, dan terlebih seorang Fransiskan, sehingga banyak sekali penjelasan sekitar kota, devosi, semangat zaman, “elan vital”, tokoh-tokoh Gereja, dlsb hampir selalu dikaitkan dengan matra dan cara pandang seorang Fransiskan.

Juga dalam hal ini, “pengetahuan Sejarah Gereja” sangat bermanfaat, sehingga dapat membantu para anggota rombongan untuk memetik makna perjalanan bersama ini. Kebersamaan selama 14 hari ini jugamenjadi media berkatekese, bahkan berevangelisasi. Mengapa? Semua peserta yang berjumlah 31 orang ini beragama Katolik. Tetapi sebagian terbesar dari mereka masih membutuhkan pencerahan dan motivasi yang berkaitan dengan iman. Pencerahan dan motivasi itu dapat menghindarkan diri dari kedangkalan, yang dapat menyebabkan kekersangan rohani yang berkepanjangan.

Para peserta yang datang dari Kendari dan Jakarta, pada 23 Desember langsung merapat ke Basilika St. Petrus, Vatikan, begitu semua urusan imigrasi, barang bawaan, dan sarana transpor selesai ditangani. Di Bandara Fiumicino sudah siap pemandu lokal, Roberta namanya, yang akan menjelaskan tentang Roma, Vatikan, Basilika St. Petrus, St. Maria Maggiore, St. Yohanes Lateran, St. Paulus di luar tembok Roma.

Jadi, gereja-gereja itulah yang kami kunjungi selama dua hari di Vatikan dan Roma. Sejak di Indonesia saya sudah dibekali informasi bahwa para Fransiskan dari Indonesia yang tengah studi di Roma, sedang berada dalam “tempo forte”. Maksudnya, semua sibuk melayani umat di paroki menjelang Natal. Itulah sebabnya, kepada mereka tidak dibawakan obat yang dijual di dekat perempatan Rawasari. Sebaliknya, separuh dari kopor saya dipenuhi dengan titipan FSGM Indonesia untuk 2 suster yang tengah belajar di Roma, Priscila dan Marianne.

Penjelasan dan tururan Roberta, pemandu lokal, tidak asing bagi saya. Hal itu terutama karena selain saya berminat pada sejarah, juga karena pada abad yang lalu sekitar 6 tahun saya menetap di Roma.

Kami menginap di Hotel Albani, via Adda, yang terletak di dekat Villa Borghese. Ada satu hal yang patut dicatat selama di Roma, yakni misa malam Natal di Lapangan St. Petrus. Untuk pertama kali dalam hidup, saya merayakan Ekaristi di lapangan terbuka, di tengah malam yang sangat dingin dan penuh embun.

Raptim tidak berhasil mendapatkan tiket Ekaristi di dalam Basilika St. Petrus. Hal ini antara lain karena mulai tahun 2012 ini ada pengaturan khusus. Tetapi ketika sampai di Lapangan St. Petrus pada pk 20.00, kami “mengadu nasib”. Melihat rombongan Raptim masuk lapangan dengan membawa Sang Saka Merah Putih, maka banyak orang segera mengenali siapakah kami.

Irulah sebabnya, kami segera mendapat 9 tiket untuk masuk ke dalam basilika. Tiket-tiket ini berasal dari para studen Indonesia di Roma, yang tidak menggunakannya. Tetapi segala sesuatunya harus diatur, mengingat hanya “sepertiga” yang boleh masuk basilika. Sementara itu, yang lainnya dalam sukacita malam Natal yang berudara dingin-menusuk-tulang.

Terbayang, bagaimana para gembala 2000 tahun silam, yang menerima warta Natal dari Malaikat Tuhan, di tengah malam. Apakah mereka juga kedinginan seperti kami semua yang sangat berdevosi dan bertahan dalam dinginnya udara?

Dari Roma kami bergeser ke Pisa, kota yang terkenal secara mondial dengan menara miring. Kami menginap di Hotel Duomo, 100 meter dari komplek Campo dei miracoli. Di komples ini terdapat tiga bangunan utama, yakni Katedral, baptisterium, dan menara miring. Tidak ada objek lain yang disuguhkan untuk dikunjungi, selain ketiga bagunan itu. Seluruh bangunan dalam komplek itu memerlihatkanpaduan dan keserasian antara citarasa akan keindahan dan perhitungan (kalkulasi) yang tepat.

Setelah meninggalkan Pisa giliran Venice kami kunjungi. Objek utamanya adalah Basilika dan Lapangan St. Markus, berikut kanal-kanal dan kakayaan romantisnya, yakni Gondola, sampan yang dipakai untuk menyusuri kanal-kanal Venice, di mana para pengemudinya mendayung sambil bernyanyi “O, sole mio”.

Di sini kami mengunjungi industri kerajinan gelas, perhiasan, ornamen dari kaca. Indah, seni, bagus, dan mahal. Di Venice inilah salah seorang anggota rombongan “hilang” karena ke luar dari rombongan. Ia mencari barang koleksi (yakni topeng), tetapi kemudian ia tersesat. Dia tidak bisa kembali ke meeting point.

Peristiwa ini mencemaskan dan sempat mengacaukan acara sesudahnya, yakni misa Basilika St. Antonius Padua. Kami “molor” satu jam dari waktu yang disepakati. Terlihat bagaimana “tour leader” berupaya keras untuk mencari “si anak hilang” dan mengontak pihak basilika untuk bertenggang rasa pada para peziarah Indonesia yang datang sangat terlambat.

Akhirnya, Ekaristi kami rayakan dengan khidmat, dan setelah itu pun masih diberi kesempatan untuk melihat-lihat relikui Doctor Evangelicus, yakni St. Antonius Padua. Kami sangat lega dan bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan atas pengalaman seluruh hari sebelum akhirnya melepas malam di Hotel Sheraton International. Sebuah penginapan berbintang lima di Padua.

Bus berangkat meninggalkan Padua pk 8 pagi untuk kemudian photostop di Piazza del Duomo, Milan. Dari sini kami melaju ke Lucern, Swis. Di sini kami menjumpai belasan bus penuh yang dipenuhi orang Indonesia, yang berjalan-jalan sambil belanja. Nampak, Lucern dihidupi oleh ekonomi Indonesia, yang merupakan macan ekonomi Asia, di samping China dan India.

SURGA PARA KONSUMERIS

Praktis, Lucern adalah salah satu ‘surga’ bagi para konsumeris. Arloji, sepatu, handtasch, perhiasan, semua bermerek mondial digelar di etalase dan sangat diminati oleh mereka yang berkartu kredit platinum. Selain Lucern, Paris, dengan galeria perbelanjaan, seperti Lafayette dan Benlux juga memperlihatkan perilaku menarik para konsumeris yang membeli dan membeli.

Ribuan orang dari China, Korea, India, Indonesia menebar Euro tanpa disertai timbang-menimbang, apalagi tawar-menawar. Sementara para pembelanja memborong apa yang mereka rindukan, saya bersama seorang Siswa Kanisius-Menteng, Jakarta, mengunjungi Gereja Trinitas yang indah.

Dua malam kami melewatkan malam di Hotel Concorde de Lafayette., yang terdapat di pusat kota Paris. Pusat-pusat turisme Paris tidak kami lewatkan: alun-alun tempat pembantaian Louis XVI dan permaisuri, piramide (yang mengingatkan saya pada karya laris Dan Brown, “Da Vinci Code”, Museum La Luvre tempat Monalisa menyungging senyum, dan karya Leonardo da Vinci yang memamerkan “The Last Supper”, Arch de Triumph, Karya Gustav Eifel yang menjadi “trade mark” Paris.

Sebagian terbesar dari rombongan melewatkan malam “Old and New” dengan tetaptinggal di hotel. Selain letih karena perjalanan,juga malam itu Paris diguyur hujan lebat dengan tiupan angin kencang. Pesta kembang api di Menara Eifel pun tak terlihat. “Terimakasih, ya Tuhan, atas semua pengalaman pada 2012. Selamat Datang, ya rahmat-Mu, Tuhan, dalam tahun 2013”.

Sebelum kami menginjakkan kaki di Paris, rombongan perlu mnempuh jalan panjang. Setelah bermalam di Zurich (Swis), kami menuju Nevers untuk berziarah di makam Bernadette Subirous. Dari Nevers kami beralih ke Lourdes. Jarak Nevers – Lourdes, 650 kilomater, ditempuh sekitar 10 jam.

Lourdes sepi dan dingin. Karena saat ini bukan tempo ziarah masal. Banyak hotel tutup. Toko-toko barang rohani juga tidak membuka pintu. Rombongan mendapat kesempatan misa di kapel basilika Lourdes. Beruntung sekali, setengah jam sebelum rombongan meninggalkan Lourdes ada 3-4 toko religius yang buka. Rombongan menuju Paris dengan Kereta Api, sedangkan kopor bagasi kami diangkut dengan bus.

HARI TERAKHIR, AMSTERDAM

Untuk mencapai Amsterdam dari Paris, kami perlu melewati Belgia dan bermalam di Brusels. Ikon Brusels antara lain Maneken Pis, patung anak laki-laki yang buang air kecil. Ia “pipis” sepanjang tahun. Kami juga melihat tempat ekspo sains, di mana diperlihatkan temuan-temuan ilmu pengetahuan. Coklat Yang dipasarkan di Brusels merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Ungkapan ini tentu dapat dipandang hiperbolik!

Dari Brusels kami menuju Amsterdam dengan singgah di Volendam, sebuah kampung nelayan yang masih mengkonservasi salah satu pakaian adat Nederland. Para pengunjung yang hendak “bergaya” dengan pakaian setempat dan diabadikan, ya silakan saja. Saya pribadi tidak menggunakan kesempatan itu, karena saya sudah memiliki jubah Fransiskan yang meyakinkan.

Amterdam. Ini mengingatkan kita akan kanal-kanal dan kedikdayaan insani untuk menaklukkan sang tirta dari samudera. Wisata kanal merupakan suguhan yang tak boleh dilewatkan, selain tempat pengasahan berlian, Grissan. Asri, tertib, padat, relatif bersih. Inilah kekhasan kota besar Amsterdam. Di sini kami bermalam di Novotel, yang letaknya tidak jauh dengan tempat pembuatan keju. Inilah tempat terakhir wisata kami.

Perjalanan bersama ini menyisakan pengalaman rohani yang sebagian masih perlu dikais dalam hal-hal sekular. Kebaikan yang terpatri pada pengalaman itu membuat rombongan ini sampai saat ini masih berhubungan satu sama lain dalam “Keluarga BlackBerry”. Selain sekedar, “Say Hallo”, tetapi juga disampaikan pesan-pesan padat berisi.

Bagi saya pribadi, perjalanan perpaduan antara tur dan ziarah bersama Raptim ini merupakan yang pertama kali. Sungguh, saya menikmatinya dengan penuh syukur. Pengetahuan dan wawasan diperluas. Mimpi telah dijadikan kenyataan. Relasi dilipatgandakan. Pengalaman baru dibabarkan. Inilah sebagian masa lalu yang dapat disingkap. Terimakasih Raptim! Terimakasih semua peserta “Natal di Vatikan, Tahun Baru di Paris”. * * * *

Kontributor: A Eddy Kristiyanto OFM

[/tab] [tab name=”Foto-foto”]

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM bersama rombongan

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM

Sdr. Eddy K OFM

2 saudari FSGM yang sedang kuliah di Roma

2 saudari FSGM yang sedang kuliah di Roma

Sdr. Eddy di Amsterdam

Sdr. Eddy di Amsterdam

Sdr. Eddy di Brussel

Sdr. Eddy di Brussel

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *