Perayaan Stigmata St. Fransiskus

stigmata-la-verna-17-09-2011
Bukit La Verna, 17 September 2011
Sdr. José Rodríguez Carballo, OFM
Minister General, OFM
Gal 6:14-18; Luk 9:23-26

Saudara dan saudari yang terkasih, semoga Tuhan menganugerahkan damai kepada kalian! Tuhan telah menganugerahi kita datang di gunung yang suci ini, tahun ini, untuk merenungkan Fransiskus sebagai sebuah ikon dari Kristus yang tersalib. Orang ini, seorang pencinta dan pengikut Kristus yang sejati, sebagaimana St. Klara memanggilnya (bdk. WasCl 5), telah membentuk diri segambar dengan penyaliban, baik di dalam hati dan maupun di dalam tubuhnya, dengan menerima stigmata pada gunung ini, dua tahun sebelum kematiannya. Dengan demikian maka dia menjadi sang penerima stigmata di La Verna ini, sebagaimana Beato Yohanes Paulus II, – yang juga seorang peziarah ke tempat Kalvari Fransiskan ini – telah menggambarkan siapakah Fransiskus itu.

Ada banyak sumber sejarah yang menceriterakan kepada kita apa yang telah terjadi di tempat ini, pada 1224, dua tahun sebelum wafat Fransiskus (bdk. 1 Cel III, LM XIII). Fransiskus, yang suka tetirah dalam keheningan La Verna, datang ke sini untuk menjalani masa Puasa Santo Mikael Malaikat Agung dengan berpuasa, melakukan mati raga dan berdoa. Dalam keadaan sakit, secara badaniah lelah, sedih dan menderita pada tubuh dan jiwanya, Fransiskus naik ke gunung La Verna. Sekitar pesta Salib Suci, sementara dia menderita dan secara lebih mendalam ambil bagian dalam penderitaan Kristus, dia pun mengalami suatu kebahagiaan yang mendalam (bdk. LM XIII, 1. 3). Pada waktu itulah dia menerima ungkapan adikodrati yang tertinggi, yakni stigmata. Hasilnya ialah, bahwa dia menjadi seorang Kristus yang lain (alter Christus), sebuah salinan sempurna dari Kristus yang tersalib dan sahabat-Nya yang sejati – sebagaimana dia dilukiskan oleh Bonaventura. Dia, yang pada dirinya gambaran Yang tersalibkan itu tetap terukir sewaktu dia mendengar-Nya di gereja San Damiano, sekarang, pada puncak gunung ini, dia pun secara lahiriah menyerupai Kristus. Sang pencinta (Fransiskus) diubah menjadi yang dicintai (Kristus). Tak seorang pun pada jaman ini dapat menyangkal keaslian kejadian itu, sebagaimana tak seorang pun dapat meragukan keyakinan bahwa Fransiskus adalah orang per tama dalam sejarah, sejauh kita ketahui, yang menanggung kelima luka itu.

Dia minta supaya hal ini dirahasiakan dan para sahabatnya pun dengan setia menjaga kerahasiaan itu. Dengan demikian kita dapat berkata bahwa pengalaman mistik yang tinggi ini harus dipandang sebagai unik, satu-satunya, tak dapat diulangi dan bersifat pribadi, yang dialami hanya oleh Frasiskus sendiri. Rasa nyeri yang dirasakannya kembali dalam dagingnya sendiri sebagai kenyerian Sengsara Kristus, tentulah harus tetap merupakan suatu pengalaman yang tak dapat diungkapkan. Karena pengalaman stigmata itu berakar pada suatu kontemplasi yang terus menerus akan Sengsara Kristus. Memang pada kenyataannya, meditasi dan permenungan perihal Sengsara Kristus, bersama dengan meditasi dan permenungan akan kelahiran-Nya, keduanya merupakan bagian yang terdalam dari Fransiskus dan sebuah unsur hakiki dan pengalaman keagamannya yang mendalam.

Dengan hati berlimpahkan kebahagiaan, sahabat-sahabatku yang terkasih, kita mencoba sedapat mungkin memasuki misteri stigmata bapa Fransiskus. Bila paku yang menembus tubuh Yesus adalah “sakramen” cinta Putera Tuhan pada manusia, stigmata Fransiskus dalam tubuhnya karena itu pun adalah tanda cinta Yesus baginya dan, pada waktu yang sama, tanda dari cinta Fransiskus yang mendalam pada Tuhan Yesus (bdk. LM XIII, 2). Kita mengkontemplasikan luka-luka Kristus dan kita berkata, nyeri, tetapi kita juga berkata, cinta. Kita mengkontemplasikan stigmata Fransiskus dan kita ber kata, nyeri, tetapi kita juga berkata, cinta. Luka-luka itu bertutur kepada kita perihal nyeri yang paling menyengsarakan dan memilukan yang pernah diderita di bumi ini; tetapi luka-luka itu, khususnya berbicara perihal sebuah cinta yang lebih besar, lebih kuat dan lebih murni, yang pernah terungkap dalam sejarah umat manusia, yakni: cinta Yesus yang “mencintai kita dan memberikan dirinya bagi kita” (Ef 5:2). Bila kita berbicara perihal stigmata, kita juga berbicara perihal kesedihan, yang, seperti Yesus, tidak hanya menyangkut kesakitan fisik, tetapi juga dan terutama perihal cinta, cinta yang terbesar yang pernah dimiliki manusia bagi Tuhannya.

Bila luka-luka Kristus adalah perwahyuan yang teragung dari Allah yang menjadi cinta dalam pribadi Putera-Nya, maka stigmata itu mengungkapkan wajah yang sebenarnya dari Fransiskus,yakni: seseorang yang disalibkan karena cinta, seseorang yang jatuh cinta secara mendalam pada Yesus. Dengan mengkonteplasikan Sengsara Yesus, Fransiskus memahami bahwa Tuhan adalah cinta dan bahwa Dia telah mencintai kita sedemikian sehingga tidak menyayangkan Putera-Nya (bdk. Joh 3: 16). Pemahaman ini, yang dalam Fransiskus menjadi suatu pengalaman, membuat orang miskin itu berteriak “cinta tidak dicintai, cinta tidak dicintai” (Amor non amatur). Bahkan seandainya dia dapat mencintai-Nya sedemikian besar sedapat seorang makhluk dapat mencintai, cinta ini pun tak pernah dapat layak mengimbangi cinta Tuhan pada kita. Karena itu dalam arti ini, kita tidak pernah dapat cukup mencintai Tuhan.

Di sini masih ada sebuah aspek penting. Pada akhir hidupnya, Fransiskus merenungkan hidupnya sebagai sebuah anugerah dari Tuhan, dengan berkata berkali-kali dalam Wasiatnya, “Tuhan telah memberikan kepadaku, Tuhan telah menganugerahkan kepadaku”. Bagi Fransiskus, segala sesuatu itu adalah suatu anugerah dari Dia yang telah menjadi segala-galanya selama hidupnya. “Engkau adalah segala-galanya” itulah yang hendak dikatakannya dalam doa pujian kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Dalam pandangan ini, kita dapat berkata bahwa stigmata adalah juga sebuah anugerah yang datang untuk meneguhkan Fransiskus pada jalan yang telah dia mulai dan selesaikan dua tahun kemudian dengan kematian ragawi.

Pada saat-saat kegelapan dalam hati Fransiskus, sebagaimana dia alami melalui pencobaan-pencobaan yang keras dan kesepian yang dahsyat, Tuhan akhirnya berbicara kepadanya dengan tanda yang menakjubkan ini, yakni: tanda salib. Ini adalah kata-kata salib (bdk. 1 Kor 1:10 – 3:4), yang tidak didengarkan oleh orang-orang Yunani atau Yahudi, melainkan oleh mereka yang percaya dan berkehendak untuk mengikut Yesus, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9: 23). Dengan kata lain, orang tidak dapat mengikut Kristus tanpa mendengarkan kata-kata salib, yakni: bila orang tidak bersedia disalibkan bersama dengan Kristus (Gal 6:14).

Bila salib itu adalah keselamatan, maka satu-satunya keselamatan yang dapat diberikan kepada manusia adalah mengikuti Yesus dan mendengarkan kata-kata salib dan memeluk salib itu. Menurut naskah Injil yang baru saja kita baca, kata-kata salib, bersama dengan perkataan-perkataan lain dari teks yang disebutkan, adalah bagian dari ringkasan kehidupan Kristiani dan merupakan cermin dari Sang Sabda dan kepada-Nyalah para murid harus membentuk wajahnya sendiri (bdk. Yak 1:22 – 25). Salib, seperti stigmata Fransiskus, adalah tanda bahwa seseorang adalah milik Tuhan dalam Yesus Kristus (bdk. Wah 7:2 dst; Ez 9:4). Dalam kontemplasi pada Yang Tersalibkan, Tuhan mengungkapkan kepada kita wajah yang sebenarnya dari cinta-Nya kepada kita. Dengan mengkontemplasikan stigmata Fransiskus, terungkaplah wajah setiap orang, wanita dan pria, yang mencintai Tuhan, seperti Fransiskus. Itu merupakan wajah yang sama, karena “kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (1 Kor 3:18). Inilah yang dikatakan oleh Yesus dalam nas Injil dari perayaan ini. Inilah yang dikatakan oleh Fransiskus kepada kita melalui misteri stigmatanya.

Saudara dan saudari yang terkasih, dengan mencintai, orang menjadi sadar akan dirinya sendiri. Namun, untuk mencintai seseorang, orang haruslah dicintai. Marilah kita merenungkan salib dan kita akan menyadari adanya cinta besar yang diberikan Tuhan kepada kita. Renungkanlah stigmata Fransiskus, dan seperti dia, marilah kita gandrung untuk menyamakan diri kita dengan Kristus, karena hanya dengan jalan ini, disalibkan bagi dunia dan dunia disalibkan bagi kita, kita akan menjadi ciptaan-ciptaan yang baru (Gal 6:14 – 15).

(penerjemah: Alfons S. Suhardi OFM)

Sumber: www.ofm.org
Teks asli bahasa Inggris silahkan klik di sini

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *