Perbatasan Thai-Malaysia

Gereja St. Petrus Betong

Gereja St. Petrus Betong

1. Paroki St. Petrus Betong, Yala, Thailand
Genap 9 bulan saya tinggal di Paroki St. Petrus Betong. Tempat ini bisa ditempuh dengan bus selama 20 jam dari Bangkok. Sekitar 120 km atau 3 jam sebelum mencapai tempat ini butuh menempuh jalan perbukitan, cukup memabukkan. Tetapi lingkungan amat menghibur, pepohonan nampak hijau rimbun, terutama perkebunan karet, buah-buahan seperti durian, kelengkeng, manggis, dan jeruk. Udara terasa sejuk sepanjang tahun. Pagi dan sore hari dipiputi kabut. Curah hujan cukup tinggi, dalam satu tahun 9 bulan turun hujan.

Mengurus orang sakit
Selama 7 bulan pertama (September 2013 hingga April 2014) saya mendapat tugas mengurus orang sakit. Beliau mantan karyawan pastoran, sakit kanker dan usia tua, hanya bisa tinggal berbaring di tempat tidur. Untunglah saya pernah tugas melayani orang sakit AIDS. Tetapi seringkali merasa jenuh dan jengkel, terutama waktu mendengar teriakan-teriakan yang tak kunjung berhenti. Kiranya Allah mendengar “permohonannya yang tak kunjung putus”. Ia meninggal persis pada hari Jumat Agung. Kami titipkan jenazahnya selama tiga hari di Rumah Sakit, karena harus merayakan Jumat Agung dan Paskah. Setelah Paskah kami urus pemakamannya. Saat ini tinggal mendoakan arwahnya. RIP.

Main Tennis
Sore hari sekitar jam 17.00-19.00 biasanya kami main tennis. Dengan menjadi anggota pemain tennis mendapat berbagai kesempatan baik: menjaga kesehatan, bertemu dengan orang-orang setempat baik polisi, guru, pemilik hotel, pegawai telokom, pemerintah dan pada pemuda. Semangat dialog beragama juga termasuk di dalamnya. Umumnya mereka beragama Islam dan Buddha. Mereka mengenal saya sebagai pastor di paroki. Waktu istirahat kami biasa bertukar pikiran, terutama mereka menanyakan tentang status tidak menikah. Kadang-kadang mereka mengajak kami makan di restoran segera setelah main tennis dalam seragam olah raga. Mereka juga mengundang kami untuk melihat dan mengunjungi perkembunan mereka. Hidup terasa lebih hidup, tanpa terikat acara harian biara, seperti di pendidikan.

Belajar bahasa China

Saya rasakan belajar bahasa China ternyata jauh lebih sulit daripada belajar bahasa Thai. Tetapi cukup menarik, setiap kata punya arti dan seni menuliskannya. Butuh menghafal dan rajin menulis berulang-ulang supaya hafal tulisan. Pagi hari, setelah doa pribadi, melayani misa di susteran dan bersih-bersih, mulai menghafal kata-kata China sebelum bertemu guru. Sayang usia saya telah lanjut, kalau saya mulai sejak masih muda dulu mungkin lebih baik. Tapi belajar kiranya tak ada istilah terlambat, sekalian menjalani ongoing formation. Menikmati dan mengisi waktu. Cukuplah bisa membaca doa Bapa Kami dan Salam Maria untuk bisa ikut doa Rosario dalam bahasa China Mandarin.

Kunjungan rumah di perkebunan karet

Kunjungan rumah di perkebunan karet

Umat heterogen
Jumlah umat tidaklah banyak tetapi amat heterogen: keturunan China, Kelompok Musher, Lahu, Akka, Burma dan Thai asli serta bahasa Malay. Bahasa Malay pun mereka juga berbicara dalam bahasa Yawi, saya sendiri tidak mengerti. Komunikasi pada umumnya dalam bahasa Thai, sebagai bahasa resmi. Tetapi mereka menggunakan bahasa mereka sendiri. Alangkah baiknya bila kita bisa berbahasa setempat. Itulah realitas hidup di tempat missi.

Kunjungan Bunda Maria

Kunjungan Bunda Maria

Bulan Rosario
Pada bulan Oktober kami biasa doa Rosario bersama dari rumah ke rumah, menelusuri perbukitan. Sehabis misa pagi di Gereja, rombongan berangkat bersama menuju rumah-rumah keluarga yang akan kami kunjungi sesuai dengan jadwal. Di sana kami berdoa Rosario dan membaca kitab suci. Doa biasanya dibawakan dalam bahasa Musher, Thai dan China bergantian. Rumah terakhir menyediakan santap siang. Sisa waktu dimanfaatkan untuk menelusuri perkebunan mereka, menikmati buah-buahan di bawah pohon.

Paroki Kristus Raja Sungai Petani

Paroki Kristus Raja Sungai Petani

2. Mission without border
Paroki tetangga di Malaysia mengajak kerja sama. Pastor Nelson, Pr., Pastor Paroki Kristus Raja Sungai Petani, Kedah Darul Aman, Malaysia, mengundang kami untuk bekerja sama dalam tugas pelayanan. Saya sendiri datang dan ikut perayaan “misa hari MInggu”, tapi dirayakan pada hari Jumat. Karena Minggu tidak libur. Maka hari Jumat diadakan Sekolah Minggu (Sekolah Jumat) dan perayaan Ekaristi.

The healing mass

The healing mass

Missa kharismatik penyembuhan diadakan sebulan sekali. Pada hari Jumat lalu saya ambil bagian dalam perayaan tersebut. Lagu-lagu dinyanyikan dalam bahasa China,( kebetulah saya ikut latihan koor malam sebelumnya), misa dibacakan dalam bahasa Inggris tapi dijawab oleh umat dalam bahasa China-Mandarin, homily disampai dalam bahasa Inggris dan Melayu. Missa berlangsung selama 2,5 jam, lama tapi cukup nyaman. Banyak orang saya tumpangi tangan lalu jatuh. Saya sendiri agak khawatir “jangan-jangan saya sendiri terjatuh”. Ternyata hingga akhir saya tetap tegar tengkuk..

Pastor paroki meminta saya untuk membantu mengurus salah satu stasi di dekat perbatasan yang hanya sekitar 20 km dari tempat saya tinggal. Tetapi amat jauh dari pusat paroki Kristus Raja. Beliau hanya bisa melayani stasi tersebut sebulan sekali. Di tempat ini misa dirayakan dalam bahasa Malaysia. Bila saya membantu melayani stasi tersebut kiranya umat mendapat kesempatan merayakan Ekaristi lebih sering. Semoga kehendak Allah terjadi. Saya sendiri mendapat kesempatan berkeliaran ke luar negeri juga. Bila ada saudara yang ingin ber-exposure..ya silahkan ada kamar.

Salam,
Sdr. Tarjo OFM

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *