Perjalanan Ini…

[Index Berita]

(Sharing Perjalanan Misi menuju “Custodia Terra Santa”)

“Apa kabar?”
“Bagaimana pengalaman di sana kaé?”
“Romo sekarang tinggal dimana?”
“Udah pindah lagi ya ?”
“Apa kabarnya pater?”
“Romo tugas apa di sana?”
“Enakan di Jakarta apa di sana mo?”

Begitu kurang lebih beberapa pertanyaan yang dilontarkan pada saya oleh beberapa saudara lewat media jejaring sosial facebook, atau juga melalui mail/mail list. Pertanyaan–pertanyaan itu kemudian saya tanggapi sambil lalu saja, tanpa pikir panjang menjawab sekenanya saja. Namun kali ini tidak demikian. Saya hendak menceritakan kepada saudara-saudari berbagai macam pengalaman saya yang akhirnya mengantar saya masuk ke “Tanah Terjanji”, yang mengantar saya kemudian sampai ke tempat dimana kabar bahwa Sang Sabda menjadi manusia, datang pada seorang perawan bernama Maria, di Nazareth (Luk. 1: 26 – 38).

Berangkat ke Italia
15 Agustus 2011 saya berangkat dari Jakarta menuju Roma. Tepat hari itu saya dan beberapa saudara seangkatan merayakan ulang tahun imamat yang ke 3. Bisa jadi keberangkatan ini adalah sebuah “hadiah” bagi saya, namun di lain pihak bukan hal yang mudah juga meninggalkan tanah air, saudara-saudari, orang–orang yang mencintai saya dan saya cintai. Pada hari ini pesan pastor Paroki Paskalis, saya ulang terus untuk menguatkan permulaan perjalanan ini. Sewaktu saya mengakhiri tugas saya di Paroki Paskalis beliau berpesan, seperti Musa yang mengawali tugasnya mengantarkan Bangsa Israel ke tanah terjanji, ketika menghampiri semak yang menyala, Tuhan bersabda: “Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (Kel 3: 5). Demikian juga saya perlu meninggalkan “segala sesuatu” untuk melangkahkan kaki menuju tugas perutusan yang baru. Diantar oleh keluarga, dan sdr. Agus serta sdr. Anton, saya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Fiumicino-Roma.

Kenapa Roma?
Misionaris terdahulu biasanya mempersiapkan diri di Brussels (tempat sebuah lembaga persiapan bagi para misionaris Fransiskan), tapi rupanya tidak berlaku untuk saya. Custodia Terra Santa dalam arti tertentu memiliki kekhususan dibanding daerah misi yang lain, sehingga tidak dipandang perlu untuk saya mempersiapkan diri terlebih dahulu di Brussels. “Yang perlu bagi kamu adalah belajar Bahasa Italia”, demikian saran dari “il Commissario Terra Santa Indonesia”, Sdr. Robby Wowor OFM. Karena bahasa pengantar yang dipakai dalam komunitas, juga dalam pertemuan-pertemuan resmi Custodia Terra Santa adalah Bahasa Italia. Maka, atas bantuan Sdr. Paskalis, jadilah saya “dititipkan” kepada Commissariat Terra Santa Propinsi Roma untuk mempersiapkan diri belajar Bahasa Italia. Selain itu, Kedutaan Israel di Italia juga akan menjadi pintu masuk bagi saya untuk mengurus visa Israel, mengingat NKRI tak punya hubungan diplomatik dengan Israel.

Perjalanan menuju Roma
Dari Jakarta, penerbangan Malaysian Airlines membawa saya ke Roma, meski harus transit beberapa menit di Kuala Lumpur. Agak iri juga melihat bandara negeri jiran ini, karena kalo dibandingkan dengan Bandara Internasional kita, perlu banyak belajarlah kita. Di sini saya bertemu dengan tiga orang suster yang juga hendak ke Roma. Dan kebetulan tempat duduk mereka di pesawat menuju Roma tak jauh dari tempat duduk saya.

Sesampainya di Fiumincino, saya sempat agak khawatir, jangan-jangan Sdr. Iron lupa bahwa saya tiba hari ini. Tapi rupanya tidak. Persis begitu saya baru keluar bandara, Sdr. Iron dari belakang telah mengenali saya dan berteriak memanggil saya. Saya berpisah dengan rombongan suster-suster, beranjak ke stasiun kereta Fiumincino menuju Roma Termini, bersama Sdr. Iron. Sesampainya di Roma Termini, Sdr. Iron memberikan dua opsi untuk menuju Antonianum, jalan kaki atau naik bus. Saya memilih opsi pertama, Sdr. Iron mengikuti. Sekaligus mengenal kembali jalan-jalan kota Roma yang beberapa tahun lalu pernah saya singgahi juga dalam sebuah peziarahan. Perjalanan yang menyenangkan.

Tiba di Antonianum bertemu dengan saudara-saudara lainnya (Agung, Frumens, Tarsi, Soter). Waktu itu tiga saudara yang lain (Oki, Daniel, dan Andre) tengah menjalani kursus di tempat lain sehinga tak sempat bertemu. Setelah sejenak melepas lelah di Antonianum, saya langsung menuju Delegazione di Terra Santa, yang letaknya persis di bagian belakang Collegio Antonianum. Diantar Sdr. Iron dan Frumens, saya bertemu Gardian dan Delegatus, untuk kemudian tinggal di biara ini sementara. Kenapa sementara? Ya rupanya kursus Bahasa Italia yang akan saya ikuti, berlangsung di tempat lain, di Montefalco. Sebuah rumah pendidikan untuk para aspiran dan postulan Custodia Terra Santa.

Collegio Antonianum - Roma

Collegio Antonianum - Roma

Saudara-saudara di Collegio Antonianum - Roma

Saudara-saudara di Collegio Antonianum - Roma

Kira-kira lima hari saya tinggal di Komunitas Delegazione di Terra Santa. Perayaan HUT Kemerdekaan RI saya rayakan bersama Sdr. Agung dan Frumens, dalam misa di Kapel Collegio Antonianum. Kami juga sempat merayakan hari ini dengan makan bersama, masakan Indonesia. Sdr. Agung yang ternyata sudah terkenal sebagai koki yang andal, menyiapkan semua makanan untuk kami. Hingga tiba harinya saya berangkat menuju Montefalco, diantar seorang saudara (yang ternyata kenal dengan sdr. Purnomo karena pernah studi bersama di tempat yang sama) dengan mobil, kira-kira satu setengah jam perjalanan. Dan, salah satu hal yang kami buat sepanjang perjalanan adalah… berdoa rosario. Saya ingat sebuah pengalaman yang sama beberapa tahun yang lampau. Ketika saya bersama sdr. Paskalis dan sdr. Martin Harun, hendak merayakan perayaan Natal di Biara St. Clara, Pacet. Sebuah kebiasaan baik yang mungkin selama ini terlupakan.

Tinggal di Biara San Fortunato, Montefalco
19 Agustus 2011 saya tiba di Biara Sanfortunato. Sebuah rumah pendidikan tahap awal (aspiran dan postulan) untuk mereka yang hendak bergabung dalam ordo di Custodia Terra Santa. Mulanya ada tujuh orang postulan (yang waktu itu akan segera mengakhiri masa postulatnya) dan 8 orang aspiran. Mereka bukan hanya berasal dari Italia (hanya 2 atau tiga orang dari mereka berasal dari Italia), tapi juga dari Brasil, Columbia, USA, Syria, Libanon, Israel, dan Nigeria. Sang Guardian, Padre Rafaello seorang Italia, sang magister postulat, Padre Bahjat, seorang Syria, dan Sang Magister aspiran Padre Augustine, seorang Meksiko. Dua saudara yang terakhir saya sebut tak jauh berbeda usia dengan saya.

Biara tempat saya tinggal ini bernama Biara San fortunato. Menurut kisah ia adalah seorang fransiskan yang menjadi uskup di Montefalco, kemudian wafat dan tulang belulangnya di simpan bawah altar kapel biara ini. Montefalco sendiri bukanlah sebuah kota yang cukup besar. Mungkin lebih tepat disebut desa. Sebuah tempat yang tenang terletak dataran Umbria, setengah jam dari Perugia, empat puluh lima menit dari Asissi, duapuluh menit dari Foligno, amat dekat dengan Greccio (Kota atau tempat yang saya sebut saya kira tidak asing di telinga para saudara, terutama kalau saudara membaca kisah-kisah Santo Fransiskus).

Sekitar 5 bulan saya tinggal di Biara San Fortunato bersama para postulan dan aspiran. Menjelang bulan september, para postulan sudah menyelesaikan masa postulatnya dan mereka hendak pindah ke La Verna untuk memulai masa novisiat. Ada tujuh orang postulan waktu itu yang akhirnya diperkenankan melanjutkan ke Novisiat di La Verna. Masa novisiat untuk para novis Custodia Terra Santa memang sudah beberapa tahun terakhir dilaksanakan di La Verna, sesuai keputusan Kapitel Kustodi (karena pada periode-periode sebelumnya masa novisiat pernah berlangsung di Bethlehem, dan Ein Kareem).

Convento San Fortunato – Montefalco

Convento San Fortunato – Montefalco

Bersama anggota komunitas Convento San Fortunato

Bersama anggota komunitas Convento San Fortunato

Mulai belajar Bahasa Italia
Bersama dengan para aspiran, saya memulai hari-hari saya di Biara Sanfortunato dengan belajar Bahasa Italia. Dengan modal beberapa kata dan struktur kalimat yang saya pelajari dari Instituto Italiano d’Cultura, mulailah pelajaran itu. Saya memang terlambat memulai pelajaran, karena para aspiran sudah tiba dan mulai pelajaran itu tiga bulan sebelum saya datang. Namun tak apa, karena pelajaran ini pelajaran privat, artinya sang “maestra” datang ke biara setiap hari senin sampai sabtu untuk mengajar kami, dan suasana yang dibangun dalam kelas sangat “fransiskan” (artinya begitu akrab penuh rasa kekeluargaan) maka lebih memungkinkan untuk saya bertanya secara personal kepada sang guru ketika saya tidak mengerti sesuatu. Secara formal saya mempelajari bahasa italia dalam kelas bersama para aspiran dan postulan. Tapi informal, di ruang makan, di ruang rekreasi, di manapun di luar kelas, saya lebih banyak belajar lagi bahasa italia dari para saudara, termasuk belajar sedikit-sedikit “parolaccia”…hehehe… (Sdr. Oki mungkin sempat bingung karena koleksi “parolaccia” saya lebih banyak dari pada yang dia punya…hehehe).

Saya belajar Bahasa Italia tanpa beban. Artinya, tidak terlalu dikejar target. Saya sungguh menikmati tinggal di Biara Sanfortunato, sebuah tempat yang tenang, tinggal bersama dengan orang-orang muda yang penuh semangat (karena sama-sama belajar bahasa, sehingga kadang kalau mereka lebih maju dari saya, ada semangat untuk belajar), ada cukup banyak waktu untuk berdoa, refleksi, kerja tangan dan juga sharing dengan sesama saudara bahkan juga dengan para postulan. Acara komunitas juga berjalan dengan baik (mungkin karena ini komunitas pendidikan awal hehehe..) juga cukup membantu saya untuk mengalami suasa persaudaraan. Kadang memang ada rasa bosan, atau merasa seperti menjadi postulan, karena harus belajar segalanya dari awal (bahasa, cara berdoa, dsb). Tapi kemudian saya berpikir, bukankah memang itu yang harus dilakukan sebagai fransiskan? Saudara-saudara perdana bersama Fransiskus menamakan diri para pentobat dari Asissi. Bertobat berarti mau terus menerus memperbaiki diri, menata diri, dan saya kira itulah hakikat hidup sebagai fransiskan… senantiasa mau belajar, belajar apa saja, dimana saja, dan kapan saja terus belajar. Kata-kata pemazmur yang setiap pagi didoakan dalam pembukaan ibadat harian sungguh meneguhkan… “Ascoltate oggi la sua voce: Non indurite il cuore, come a Meriba, come nel giorno di Massa nel deserto, dove mi tentarono i vostri padri: mi misero alla prova pur avendo visto le mie opere.” ( Mzm 95 : 8 )

Pada saat seperti ini memang perlulah menyemangati diri sendiri, karena agak segan rasanya “mengganggu” para saudara di Roma yang juga mungkin bergulat dengan “belajar” itu. Tetapi satu dua kali “peneguhan” saya dapat dari para saudara di Roma, ketika mereka mau berbagi cerita dengan saya, ketika saya mengunjungi mereka, atau lewat media jejaring sosial, e-mail, BBM (dari Sdr. Agung) atau bahkan telpon (seperti yang pernah saya alami, betapa gembiranya saya menerima telpon dari “il capo” Sdr. Iron dari Roma menanyakan kabar saya. Sdr. Iron memang secara aklamasi diangkat sebagai “guardian” komunitas diaspora di Italia, saya tak tahu apakah ini sudah dilaporkan ke propinsi atau belum, hehehe.. namun lepas dari semua itu saya sungguh berterima kasih dan bersyukur atas pengalaman persaudaraan yang boleh saya alami bersama para saudara di Roma… Saluto Fratelli!!!)

RIP P. Giovanni Bastittelli OFM

RIP P. Giovanni Bastittelli OFM

In Memoriam Padre Giovanni Batistelli
Salah seorang saudara yang juga menjadi anggota komunitas di Biara San Fortunato, yang belum saya sebut adalah Padre Giovanni Battistelli. Beliau adalah mantan kustos tanah suci, yang menghabiskan masa “pensiun” nya di Biara San Fortunato. Kamar Padre Giovanni persis di sebelah kamar saya, sehingga kadang saya menolongnya untuk beberapa hal. Seperti misalnya meneteskan obat mata untuknya setiap pagi. Usianya 78 tahun, tapi masih tegap berjalan dan turun-naik tangga. Kadang setelah jam snack sore, saya melihatnya menuju “Palestra” untuk sedikit melakukan gerak badan.

Hari itu 20 okt 2011, ketika bangun pagi saya tak mendengar alarm RadioItalia dari kamar sebelah (biasanya saya selalu terbangun juga mendengar alarm Padre Giovanni), waktu di kapel saya juga tak melihatnya duduk di tempat biasa untuk ibadat pagi dan misa. Waktu sarapan barulah diketahui bahwa beliau sakit, tak mampu bangun dari tempat tidur. Baru hari itu dia kelihatan lemah dan tak berdaya, begitu kata beberapa saudara yang sudah lama bersama-sama beliau. Beberapa postulant mengantarkan makanan untuk sarapan dan juga makan siang. Padre Rafaello sang guardian juga menengok ke kamar setelah sarapan, sekaligus hendak membawanya ke rumah sakit. Namun Padre Giovanni mengatakan besok saja. Setelah makan siang seorang saudara mengambil piring dan alat makan lain yang sudah selesai digunakan dari kamar beliau. Beliau masih mengucapkan terima kasih kepada saudara yang menolongnya. Kemudian kira-kira jam tiga sore, saya mendengar alarm jam Padre Giovanni berbunyi… semenit, dua menit, tiga menit, sudah berbunyi hampir sepuluh menit tak berhenti… saya khawatir…lalu keluar dari kamar dan mengetuk kamar padre Giovanni tapi tak ada jawaban. Maka saya segera memanggil Guardian. Padre Rafaello langsung membuka kamar padre Giovanni yang ternyata tak dikunci, dan menemukan Padre Giovanni sudah berpulang. Kira-kira 15 menit setelah kami mengatahui bahwa Padre Giovanni telah wafat, Padre Pierbattista Pizzaballa (Kustos Tanah Suci) datang ke Biara San Fortunato bersama dengan mantan kustos yang lain padre Carlo Cecchitelli, kunjungan mereka memang terjadwal karena ada upacara pembukaan tahun postulat. Dan waktu itu juga dipilih Padre Giovanni untuk meninggalkan kami… selamat jalan Padre Giovanni… doakan kami yang masih berziarah di dunia ini…

Jalan-jalan?? Andiamo!!!
Ini adalah salah satu hal yang ikut menyemangati perjalanan misi saya. Jalan-jalan… hehe.. kemana saja kalau ada kesempatan saya selalu ikut acara ini. Entah bersama para postulan, bersama para saudara atau sendiri. (Tapi kebanyakan bersama para postulan). Mulai dari jalan-jalan yang dekat (mengelilingi desa Montefalco, ke susteran claris, misa di paroki) sampai ke luar Montefalco. Beberapa kali saya mengunjungi Asissi, menyusuri lorong-lorong kota ini dari Santa Maria degli Angeli, sampai ke Basilika Santo Fransiskus, juga ke Basilika Santa Clara. Pada waktu peringatan 25 tahun doa bersama lintas agama di Asissi saya ikut datang juga bersama para postulan, meskipun hanya ikut dari halaman basilika Santa Maria degli Angeli. Di kesempatan lain saya juga berkesempatan mengunjugi Spoleto, Perugia, dan La Verna. Yang terakhir saya sebut merupakan tempat yang cukup berkesan untuk saya. Saya sempat tiga hari menginap di tempat ini, tepat pada perayaan stigmata Santo Fransiskus. Sebuah perayaan meriah yang dihadiri juga oleh Minister General, dan secara mengejutkan saya bertemu sdr. Paskalis di tempat ini. Rupanya sudah menjadi acara rutin bagi minister general dan diskretorium untuk hadir pada perayaan ini. Sementara saya sebenarnya hanya ikut mengantar para novis baru yang akan menjalani masa novisiat mereka di La verna, tepat setelah hari raya stigmata Santo Fransiskus. Sebuah perjumpaan berahmat di saat yang tepat… syukur kepada Yang empunya hikmat!!!

Jubah St. Fransiskus yang masih tersimpan di salah satu bagian Gereja La Verna.

Jubah St. Fransiskus yang masih tersimpan di salah satu bagian Gereja La Verna.

Di Depan Basilika Santa Maria Degli Angeli - Assisi

Di Depan Basilika Santa Maria Degli Angeli - Assisi

Pengurusan Visa Israel
Selama tinggal di Montefalco, saya juga harus mengurus visa untuk tinggal di Israel. Kedutaan Israel di Roma menjadi pintu masuk bagi saya untuk mengurus visa. Direkomendasi oleh pihak sekretariat kustodi, dan dibantu oleh pater delegatus di Roma dan beberapa saudara akhirnya saya bisa mendapatkan visa. Namun bukan hal yang mudah juga mendapatkan visa itu. Ada persoalan karena masa berlaku paspor saya akan habis pada 2013 mendatang. Maka, tidak mungkin mendapat visa tinggal untuk satu tahun. Rupanya bukan hanya belajar beradaptasi dan berbahasa yang memakai proses “deg-degan”. Proses pengurusan visa ini juga. Setelah saya mendapatkan “invitation letter” dari Custos Terra Santa, saya segera mengisi formulir yang telah disediakan lalu harus mengajukannya ke kedutaan Israel, disertai pass foto dan beberapa dokumen lain. Ditemani oleh Sdr. Alessandro (beliau adalah staff delegazione di Terra Santa Roma, juga pernah bersama sdr. Purnomo belajar di tempat yang sama) saya menuju kedutaan Israel di Roma. Sesampainya di kedutaan, petugas keamanan tak membiarkan saya masuk. Saya menyerahkan semua dokumen itu kepada petugas kemanan lalu saya diperintahkan untuk menunggu di pinggir jalan masuk (dia menunjuk satu tempat di pinggir jalan supaya saya menunggu di tempat itu dan tidak di tempat lain, belakangan saya baru tahu kalau tempat yang ditunjuk adalah tempat yang terpantau oleh kamera cctv). Saya menunggu hampir satu jam tanpa pemberitahuan apapun. Setelah hampir satu jam Padre Alessandro memberanikan diri bertanya lewat aiphone di pintu gerbang kedutaan, dan sang petugas dengan santai menjawab, “Ow.. your documents are ok, please come back here one week after the day to take your visa” Saya dan Padre Alessandro melongo sambil dalam hati ngedumel, “klo udah tau harus balik minggu depan, ngapain juga gw di suruh nunggu satu jam???” hadeh…

Namun ya memang begitu proses yang harus dilalui. Setiap orang mengalami pengalaman yang berbeda. Petugas keamanan atau imigrasi pemerintah Israel memang tak mudah ditebak. Satu kali mungkin kita dapat dengan mudah masuk, namun lain kali kita harus mengalami pemeriksaan yang berbelit-belit, dan bahkan terancam tidak dapat visa. Saya jadi ingat kenapa Musa tidak masuk ke tanah terjanji. Mungkin karena visa-nya gak keluar-keluar… hehehehe…

Berangkat ke Tanah Terjanji
Meski kurang lebih hanya lima bulan berada di Biara Sanfortunato, rupanya bukan hal yang mudah juga meninggalkan komunitas ini. Persaudaraan dan keakraban yang telah terjalin harus diuji oleh jarak dan waktu. Saya mohon pamit pada Guardian dan semua anggota rumah, saya tinggalkan Montefalco menuju Roma. Di Roma sudah disiapkan acara pemberangkatan saya ke Israel. Sdr. Frumens, dan sdr lain di Roma menyiapkan makan siang bersama. 15 Desember 2011 saya menuju Tel Aviv dengan pesawat ISRAIR (Maskapai penerbangan Israel). Rupanya belum puas “ngerjain” saya di kedutaan, mereka merepotkan saya lagi dengan berbagai macam pertanyaan (untuk alasan keamanan menurut mereka) dan urusan bongkar-membongkar bagasi. Menurut informasi dari sekretariat kustodi di Yerusalem, akan ada seorang yang menjemput saya di Tel Aviv. Saya sendiri juga tak bertanya siapa yang menjemput saya di Ben Gurion nanti. Tapi rupanya ini jadi soal. Petugas keamanan maskapai penerbangan tak membiarkan saya masuk pesawat sebelum mereka bisa memastikan bahwa saya benar-benar akan di jemput nanti. Mereka sendiri kemudian menelpon sekretariat kustodi di Yerusalem untuk memastikan itu… hadeh… Memang ini bukan pengalaman yang pertama kali saya diperlakukan seperti ini, saya juga sudah siap, namun tetap melelahkan juga rasanya.

Setelah urusan “tetek bengek” itu selesai, saya akhirnya melangkah menuju ruang tunggu. Rupanya bukan hanya penerbangan di Indonesia saja yang suka dengan kata “delay”, Di Fiumincino saya mengalaminya juga. Penerbangan saya ditunda hampir dua jam, entah karena alasan apa saya juga tak mau tahu. Dan, setelah melewati pemeriksaan dengan berbagai macam pertanyaan, lalu acara bongkar-membongkar bagasi untuk pemeriksaan, serta sambutan dari speaker bandara yang mengharuskan saya menunggu hampir dua jam, akhirnya saya bisa naik pesawat dan tiba di Bandara Ben Gurion dengan selamat. Perjalanan yang melelahkan! Tapi tentu tak perlu dibandingkan dengan perjalanan Bangsa Israel menuju tanah harapan bertahun-tahun. Pengalaman saya ini belum ada apa-apanya.

Yerusalem… Yerusalem…
Tiba di Ben Gurion dengan rasa lelah, namun bukan hanya saya saja yang lelah rupanya, Ahmad supir taksi yang ditugaskan untuk menjemput saya juga. Semua penerbangan dari Italia mengalami keterlambatan, demikian keluhnya. Tapi syukurlah abuna (panggilan untuk imam dalam bahasa Arab) sampai dengan selamat. Dari Ben Gurion – Tel Aviv, saya menuju Yerusalem. Tiba di Biara San Salvatore – Jerusalem, tepat menjelang makan malam, disambut Abuna Ammar (ekonom biara San Salvatore), dan beberapa saudara lain (para frater filosofan yang sedang studi di Yerusalem, beberapa dari mereka saya kenal waktu mereka pernah berkunjung ke Italia). Rasa lelah sedikit terobati dengan sambutan mereka, senang rasanya bertemu dengan para saudara yang meski baru bertemu tapi akrab penuh suasana persaudaraan. Sekitar satu bulan saya tinggal di komunitas ini, Biara San Salvatore – Jerusalem.

Acara natal bersama di Biara San Salvatore

Acara natal bersama di Biara San Salvatore

Sebagian besar penghuni komunitas ini adalah para frater yang sedang studi filsafat dan teologi, kemudian beberapa saudara yang bekerja di komisi-komisi kustodi, anggota kuria kustodi, dan saudara-saudara lanjut usia. Biara San Salvatore terletak di Saint Francis Street no. 1, Christian Quarter, Old City Jerusalem. Tidak terlalu sulit mencari tempat ini karena kalau kita masuk ke kota lama Jerusalem melalui “New Gate” (salah satu dari tujuh gerbang yang menjadi pintu masuk kota Yerusalem lama) kita akan segera menemukan gerbang masuknya. Biara ini telah menjadi pusat Kustodi sejak 1551, sebelumnya pusat kustodi berada di Bukit Sion (dimana terdapat Cenaculum – ruang perjamuan terakhir). Biara San Salvator amat luas, sampai-sampai pada hari-hari pertama tinggal di tempat ini, untuk ke ruang makan saja harus pake nyasar segala, ini bukan lebay! Dari kamar saya misalnya, untuk menuju ruang makan harus melewati koridor-koridor yang bercabang. Kalau bingung mau belok kiri atau kanan, saya tunggu saja saudara yang lewat dan akan menuju kamar makan… hehehe…sekalian bertegur sapa. Namun dalam dua tiga hari keadaan ini dapat teratasi karena sudah mulai “hafal jalan”.

Kota Yerusalem

Kota Yerusalem

Dibalik tembok kota Yerusalem lama inilah Biara San Salvatore

Dibalik tembok kota Yerusalem lama inilah Biara San Salvatore

Kira-kira satu bulan saya tinggal di komunitas ini. Hari-hari di komunitas ini saya isi dengan orientasi tempat. Mengunjungi kembali beberapa tempat yang sudah pernah saya kunjungi di Yerusalem dan sekitarnya, dengan mengikuti beberapa ibadat di tempat tersebut. Misalnya di Holy Sepulchure (Basilika Makam Suci) ada ibadat setiap jam empat sore, dan jalan salib setiap jumat jam tiga sore bersama para peziarah. Atau mengunjungi All Nations Church-Gethsemani, Gereja Dominus Flevit, Berkunjung ke Mount Sion, dan lain-lain. Semua kunjungan itu saya lakukan bersama beberapa frater atau kadang sendiri. Benar-benar orientasi… sambil mengenal para saudara yang menjaga tempat-tempat suci tersebut.

Yang sempat terekam dari Bethlehem (saya, Sdr. Tarjo, Sdr. Robby)

Yang sempat terekam dari Bethlehem (saya, Sdr. Tarjo, Sdr. Robby)

Sebelum Hari Raya Natal, Sdr. Robby mengabarkan kepada saya bahwa ada rombongan dari Indonesia yang akan merayakan natal di Yerusalem. Lalu saya tanyakan apakah saya boleh ikut bergabung, beliau dengan senang hati menerima saya (Sdr. Duma ada dalam rombongan Sdr. Robby). Maka akhirnya selama beberapa hari saya juga ikut dalam rombongan Sdr. Robby (sempat bertemu Sdr. Tarjo di Bethlehem) dan merayakan natal di Kapel Notre Dame – Jerusalem (kedutaan Vatikan untuk Israel, yang letaknya persis di seberang Biara San Salvatore). Ada sekitar lima rombongan dari Indonesia yang merayakan perayaan ekaristi natal di tempat ini, semua rombongan dari Christour. Perayaan ekaristi berlangsung meriah, dan bagi saya perayaan ekaristi ini adalah perayaan ekaristi dalam bahasa indonesia yang pertama setelah sekitar satu semester tak pernah misa dengan Bahasa Indonesia… syukur kepada Allah… Setelah misa selesai, kami bersalam-salaman mengucapkan selamat natal. Saya dan rombongan berpisah malam itu juga, saya kembali ke Biara dan Sdr. Robby dan rombongan kembali ke hotel (esoknya mereka keluar dari Israel).

Perjalanan pulang dengan jalan kaki sekitar lima menit dari Notre Dame ke Biara, bagi saya adalah perjalanan yang luar biasa malam itu. Saya menuliskannya dalam catatan sederhana berikut ini :

Kepada hening malam itu kusampaikan salamku…
Kepada tetes – tetes air malam itu kusampaikan rinduku…
Kepada jalan sempit, lembab dan becek di Jerusalem Timur kusampaikan anganku…
Gelap malam berhias lampu kelap-kelip, dan nyanyian Holy Night dari speaker kota mengantarku sepulang misa…
Hanya lagu itu yang terdengar, bersama langkahku menghindari genangan becek air hujan yang masih belum berhenti benar.
Sendiri lagi… ya sendiri lagi… tapi natal sejatinya adalah kesendirian…
Hanya seorang bayi kecil dibungkus lampin tidur bersama ibu dan ayahNya.
Baru beberapa saat kemudian datang para gembala yang tak berisik,
menjenguk saja dan sudah tersenyum bahagia.
Kepada hening malam itu kusampaikan salamku…
Kepada tetes – tetes air malam itu kusampaikan rinduku…
Kepada jalan sempit, lembab dan becek di Jerusalem Timur kusampaikan anganku…
(Jerusalem, 25 Desember 2011)

Perayaan tahun baru juga saya rayakan di San Salvatore bersama para frater dan anggota komunitas. Makan malam menjelang tahun baru menjadi acara yang meriah. Selain menu yang spesial, diakhir acara makan malam Pater Kustos membagikan sebuah kartu bergambar kanak-kanak Yesus kepada setiap saudara yang ikut hadir dalam makan malam itu. Dan, di balik kartu itu tertulis nama santo yang akan menjadi pelindung kita selama satu tahun yang akan datang dengan keutamaan yang harus dipraktikkan (serta ayat kitab suci pendukung) dan nama seorang saudara yang telah meninggal untuk kita doakan dalam tiap kesempatan. Ketika nama saya dipanggil oleh Guardian (Padre Artemio, yang juga adalah vikaris kustos), pater Kustos memberi sebuah kartu yang sekilas sudah ia baca sambil tersenyum kepada saya, saya tahu arti senyum tersebut karena saya mendapat sebuah kartu bertuliskan Santo Dominico Savio (saudara-saudari tahulah siapa santo ini…) dan keutamaan yang perlu dipraktikan adalah “Gioia”… kegembiraan sejati… hahahaha… dan tertulis di bagian bawah kutipan kitab suci dari Sir 30: 22, “la gioia del cuore e la vita per l’uomo , l’allegria di un uomo e lunga vita”. Saya ikut tersenyum, sambil menggumam dalam hati, memang bukan hal yang mudah untuk bergembira pada masa-masa awal menjalankan misi seperti ini… sebuah penyemangat yang tepat! Sementara pada bagian bawah kartu masih tertulis P. Maurice Dignard OFM, seorang saudara yang telah meninggal yang harus saya doakan. (Belakangan saya tahu kalau saudara ini meninggal di Nazareth, di komunitas tempat saya tinggal sekarang… dan saya tersenyum lagi…)

Sudah tak ada tempat di Bethlehem…
Begitu kira-kira pater kustos menyampaikan kepada saya berhubung dengan penempatan saya di Kustodi. Karena saya datang “terlambat” maka tempat di Bethlehem (penugasan pertama saya) sudah di tempati saudara lain. Lalu saya harus tinggal dimana? Setelah saya berbagi cerita mengenai apa yang dapat saya kerjakan, segala sesuatu yang saya miliki (bakat dan kemampuan), dan sebagainya, pater kustos menawarkan kepada saya, bagaimana kalau Nazareth? Dan saya mengatakan, saya siap! Setelah dibicarakan dalam rapat definitor, dibuatlah surat obedienza untuk saya, di sana tertulis Fra. Jordan Sesar Melanius OFM, si recherà al convento dell’Annunziata (Nazareth), Addeto alla santuario e Assistente spirituale dei pellegrini. Dan berangkatlah saya menuju Nazareth.

Nazareth
Nazaret terletak di antara celah selatan di Pegunungan Lebanon, di kaki bukit yang terjal, sekitar 23 kilometer dari Danau Galilea dan sekitar 6 km barat Gunung Tabor. Kota yang sekarang terletak lebih rendah di kaki bukit di banding zaman kuno. Dahulu kota ini adalah jalan utama untuk lalu lintas antara Mesir dan Asia, lewat kaki Tabor ke arah utara menuju Damaskus. Kota ini memiliki populasi sekitar 60.000. jiwa, menurut sensus terakhir dari Pemerintah Israel (Januari 2012), Kota Nasareth memiliki populasi penduduk Kristen terbanyak di seluruh Israel. Selain umat Latin (Katolik Roma) terdapat juga Jemaat Ortodoks Yunani, Melkit, Maronit, Anglikan, Koptik, Armenia, Baptis, dll. Mayoritas penduduk Nazaret adalah Arab Israel, sekitar 35-40% adalah Kristen dan sisanya Muslim. Kata Nazareth berasal dari kata “Nezer” yang dalam Bahasa Ibrani berarti kuntum bunga. Karena wilayah Nazareth adalah wilayah perbukitan yang banyak tumbuh kuntum-kuntum bunga terlebih pada musim semi. Nasareth masa kini terletak di dataran tinggi sebagai kota terbesar di Galilea Selatan. Setelah perang kemerdekaan Israel 1948, Pemerintah Israel membuat sebuah kota baru sejak 1950-an yang disebut Náẓərat ʿIllit (נצרת עילית /”Nazareth Atas”) dan mengisinya dengan Komunitas Yahudi. Sementara Nasareth lama terletak di pusat kota masa kini, di tempat berdirinya Basilika Kabar Baik, Gereja St. Yosef, Terra Santa College (Sekolah dari TK sampai SMA) dan Biara OFM (Para fransiskan sudah hadir di tempat ini sejak 1620). Di tempat inilah saya tinggal.

Candleligth Procession dari Piazza basilika setiap sabtu malam

Candlelight Procession dari Piazza basilika setiap sabtu malam

Berbagai macam aktivitas di tempat ini adalah sebagai berikut:
– Ada 2 Santuary (Basilika Kabar Sukacita dan Gereja Santo Yosep) yang selalu ramai didatangi peziarah dan para fransiskan melayani pengakuan dosa, perayaan ekaristi, pelayanan liturgi lain dan pemandu bagi para peziarah. (Pelayanan bagi para peziarah setiap minggu ; Selasa, 20.30  Rosario Nazareth; Kamis, 20.30  Adorasi; Sabtu, 20.30  Candleligth Procession).
– Sebuah paroki yang dilayani oleh tiga orang fransiskan sebagai pastor paroki.
– Sebuah sekolah (Terra Santa College) dengan jumlah sekitar 800-an siswa.
– “Casa Nova” sebuah penginapan untuk para peziarah.

Di komunitas Convento della SS.ma Annunziata ini kini ada 13 orang saudara dari berbagai macam negara. Guardian (P. Ricardo Bustos) dan seorang imam lain dari Argentina, tiga saudara yang mengelola paroki dan sekolah berasal dari Libanon, dan Arab Palestina, dua saudara dari Kroatia, dua saudara dari Italia, satu sdr dari Meksiko (P. Gonzalo beliau mengenal Sdr. Martin Sardi waktu berada di Antonianum, ehem..), satu saudara dari Bosnia (tapi masuk dari propinsi Australia) dan saya dari Indonesia.

Lalu apa tugas saya? Seperti para saudara lain, yang rutin adalah pengakuan dosa dan Sacrestano (Koster), ada jadwal untuk hal ini. Lalu yang lain adalah pendampingan rohani terhadap sebuah kelompok voluntir yang ikut membantu para fransiskan menjalankas tugas “menjaga” sanctuary di Nazareth. Kelompok ini bernama Shallom Community (dari Brasil). Dalam satu minggu ada beberapa kali pertemuan untuk berdoa bersama, sharing KS, latihan musik (untuk pelayanan liturgi) dan rekreasi bersama). Sementara yang lain tergantung permintaan. Kadang ada kelompok peziarah dari Italy atau kelompok peziarah berbahasa Inggris hendak mengadakan misa, atau guiding singkat mengenai Nazareth, saya membantu. Atau juga guiding kelompok peziarah dari Indonesia.

Bersama sebagian dari Komunitas Shallom

Bersama sebagian dari Komunitas Shallom

Kota Nazareth Lama dan Basilika Kabar Sukacita

Kota Nazareth Lama dan Basilika Kabar Sukacita

Secara keseluruhan saya cukup menikmati hidup dan tinggal di Nazareth. Dengan segala macam aktivitas yang ada hampir tak ada waktu senggang. Waktu senggang yang ada biasanya saya manfaatkan untuk menterjemahkan teks-teks misa ke dalam bahasa Indonesia, atau juga membaca berbagai macam informasi mengenai Tanah Suci, olah raga (bersama komunitas Shallom) atau juga kadang saya berjalan – jalan di sekitar kompleks biara, berbincang-bincang dengan penduduk setempat. Mereka sangat terbuka dan senang kalau ada banyak fransiskan yang berkarya di tempat ini. Karena rupanya para fransiskan yang sudah hadir disini sejak 1620 itu bukan tidak hanya bicara soal cinta kasih, tapi mereka mewujudkan cinta kasih itu. Mereka tidak hanya berkhotbah tentang cinta kasih, tapi mereka melakukan juga cinta kasih itu, khususnya bagi umat di sini (Arab-Kristen). Para fransiskan ikut membantu membangun perumahan yang layak bagi mereka, membantu memberikan pendidikan yang murah namun bermutu, membantu memberikan modal usaha, dan sebagainya. Singkatnya, kehadiran para fransiskan sangat berarti bagi mereka. Bukan hanya memelihara dan merawat gereja/tempat suci sebagai bangunan bersejarah, namun merawat juga batu-batu iman yang hidup, di tempat dimana kekristenan berasal… di tempat dimana sang sabda menjadi manusia… di Nazareth.

Pada Minggu Palma, 2012
Melanius Sesar Jordan OFM
Convento della SS. ma Annunziata
P.O.B. 23 16100 Nazareth-ISRAEL
Mail : melanisme@yahoo.com
Cell : +972543264983
Tel : +972. 04 / 657.25.01 (convent)
“HIC VERBUM CARO FACTUM EST, ET HABITAVIT IN NOBIS”

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *