Studi Bersama Empat Gardianat di Jakarta: Merenungkan Kuasa Sejati dalam Kidung Segenap Ciptaan

Jakarta, OFM ― Pada Senin, 19 Mei 2025, bertempat di aula SMA/SMK Fransiskus II, para Saudara Dina di empat Gardianat di Jakarta berkumpul guna mengadakan studi bersama. Studi bersama ini dilakukan untuk mendalami makna Kidung Segenap Ciptaan gubahan St. Fransiskus Assisi. Dipandu oleh Sdr. Ferry Kurniawan OFM, para saudara mendalami secara khusus stanza 10-11 dengan tema “Macam-macam Kuasa: Aktualisasi Kidung Segenap Ciptaan Stanza 10-11.”

Sdr. Ferry sedang menyampaikan materi di hadapan para Saudara Dina yang hadir.

Kegiatan ini diawali dengan Ibadat Sore bersama. Setelah itu, para gardian menyapa para saudara yang hadir seraya membagikan sedikit dinamika kehidupan berkomunitas dan pelayanan para Saudara Dina di gardianat masing-masing. Selanjutnya adalah pemaparan materi oleh Sdr. Ferry. Saudara Dina asal Malang ini menjelaskan bahwa stanza 10-11 dalam Kidung Segenap Ciptaan menampilkan refleksi mendalam perihal kuasa sejati dalam perspektif Fransiskan. Santo Fransiskus tidak memaknai kuasa sebagai dominasi atau kekuasaan struktural, melainkan sebagai kemampuan untuk mengasihi, mengampuni, menanggung penderitaan dengan damai, serta menciptakan rekonsiliasi. Kuasa semacam ini bersumber dari kasih Allah  dan terbuka bagi seluruh ciptaan. Pemahaman ini menjadi semakin relevan ketika ditempatkan dalam konteks sejarah: konflik antara Uskup dan Podestà (Walikota) Assisi yang tidak disikapi Fransiskus dengan konfrontasi, melainkan dengan mempersembahkan kidung ini sebagai seruan damai yang mendalam.

Sesi tanya jawab dan diskusi, Sdr. Eddy Kristiyanto OFM sedang menyampaikan perspektif dan sejumlah pertanyaan.

Bagi para  Fransiskan,  Kidung Segenap Ciptaan bukan sekadar puisi indah, tetapi di dalamnya terdapat seruan untuk secara konkret mewujudkan “kuasa kasih” dalam kehidupan nyata. Aktualisasi kuasa ini tampak dalam cara hidup sederhana, menjadi jembatan rekonsiliasi, merawat ciptaan, dan membawa harapan di tengah dunia yang kerap dilanda konflik sosial, perpecahan, dan kekacauan. Melalui cara hidup demikian, para Fransiskan menghadirkan kekuatan Injil secara nyata dan kontekstual dalam masyarakat.

Dalam kehidupan komunitas, seorang pemimpin Fransiskan dipanggil untuk tidak menyalahgunakan kuasa struktural demi memaksakan kehendaknya. Sebaliknya, ia harus berjalan dalam semangat Injil, memilih jalan kasih dan kerendahan hati, mendengarkan dengan tulus, memberi ruang bagi keragaman suara, dan membangun dialog sebagai wujud konkret menjaga persaudaraan sejati. Pemimpin sejati menurut semangat Fransiskan adalah ia yang melayani, bukan menguasai; ia yang merangkul, bukan mengucilkan; dan ia yang mempersembahkan dirinya demi kesejahteraan bersama, bukan demi kekuasaan pribadi.

Foto bersama setelah studi bersama.

Setelah sesi tanya jawab, acara studi bersama ini ditutup dengan santap malam bersama sebagai simbol perayaan persaudaraan yang hidup. Melalui studi bersama ini, para peserta diingatkan kembali bahwa dalam spiritualitas Fransiskan, “kuasa sejati bukan terletak pada suara yang paling keras, tetapi pada hati yang paling mampu mendengarkan, mengampuni, mewartakan kekudusan, dan merawat persaudaraan.”

Kontributor: Sdr. Alfred Yohanes OFM

Ed.: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar