The Spirit of Assisi

assisipic2Pada 27 Oktober 1986, sepuluh tahun sejak terpilih menjadi paus, Beato Yohanes Paulus II mengundang 70 wakil dari agama-agama di dunia untuk datang ke Assisi. Di sana, mereka berdoa bersama, berefleksi dan menumbuhkan komitmen untuk mengupayakan perdamaian dunia. Cita-cita untuk memperkuat dialog antarpemeluk agama lahir di sana. Peristiwa bersejarah itu kemudian dikenal dengan Spirit of Asisi.

Mengapa pertemuan itu diadakan di kota Assisi? Ada alasan khusus di balik itu. Assisi adalah tanah kelahiran Il Poverello, St Fransiskus Asisi, orang kudus yang kerap diidentikkan sebagai ikon perdamaian. Label ini pantas disematkan padanya, karena semasa hidup, ia selalu menekankan perlunya perdamaian, rekonsiliasi dan persaudaraan.

St. Fransiskus adalah juga tokoh yang mampu melintasi batas-batas agama demi menjalin persaudaraan dengan semua orang. Ada sebuah peristiwa penting dalam hidup St Fransiskus: Ketika perang salib sedang berkecamuk antara kaum Kristen dan kaum Muslim, ia dengan ketulusan dan kerendahan hatinya, pergi menemui Sultan Malik al-Khamil di Mesir, yang nota bene adalah musuh gereja masa itu. Fransiskus hadir sambil mengaku diri sebagai orang Kristen.

Tentu ini sebuah tindakan yang sangat berani dan revolusiner, mengingat pada masa itu Gereja anti terhadap kaum Islam. Tetapi, justeru langkah yang ia ambil berhasil menginspirasi banyak pihak, terutama Gereja untuk mulai membuka diri, melepaskan diri dari eksklusivisme. Gereja belajar dari spirit hidup Fransiskus ini, menganggap saudara-saudari dari agama lain sebagai sesama yang perlu dirangkul. Hal ini pula yang kemudian menginspirasi Yohanes Paulus II memilih kota Asisi sebagai tempat perjumpaan dengan para pemuka agama lain.

Pada kesempatan perayaan Spirit of Assisi yang ke-20 pada 2006, Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa meski dunia mengalami perubahan, namun dunia tetap membutuhkan upaya-upaya untuk mencari cara membangun perdamaian. Ia mencatat bahwa milenium ketiga ini telah dibuka dengan serangkaian peristiwa teror dan kekerasan yang tak memperlihatkan tanda-tanda akan berakhir.

Paus mensinyalir kesan bahwa kadang-kadang agama mengkompori bahkan menyulut pelbagai konflik daripada bekerja untuk menyelesaikannya. Lantas, ia mengingatkan perlunya kedewasaan dalam beragama karena ketika rasa keagamaan mencapai kedewasaan, maka dalam diri orang beriman tumbuh persepsi bahwa iman kepada Allah sudah seharusnya menyemangati hubungan-hubungan persaudaraan di antara umat manusia.

Harapan bagi Agama

Tahun ini, Gereja akan memperingati 25 tahun lahirnya The Spirit of Assisi itu. Paus Benediktus XVI akan kembali mengundang para pemuka agama berkumpul di Assisi pada 27 Oktober 2011. Komitmen nyata pada perdamaian dianggap tetap relevan di tengah situasi dunia saat ini.

Agama-agama diharapkan agar tidak hanya menumbuhkan persekutuan dan dialog antarpemeluknya sendiri, tetapi juga bergerak keluar untuk merangkul semua orang entah mereka yang beriman atau tidak. Bahkan lebih dari itu, agama-agama ditantang untuk juga peduli pada alam ciptaan. Tantangan itu muncul karena dalam berbagai bentuk, kekerasan juga sudah melanda alam ciptaan.
Munculnya kesadaran yang terus berkembang pada semua tradisi keagamaan perihal bentuk relasi yang saling menghormati dan damai harus tetap dipertahankan.

Semangat sejati dari peristiwa Spirit of Assisi mengingatkan kita untuk terlibat aktif dalam memajukan perdamaian. Kerja sama dalam menghadapi ancaman-ancaman terhadap perdamaian dan terhadap alam lingkungan dalam dunia kita saat ini menjadi makin mendesak. Akhirnya, kita perlu sadar bahwa kita berdialog bukan hanya karena tuntutan situasi, tetapi lahir dari kesadaran bahwa kita semua adalah saudara. Itulah gema dari The Spirit of Assisi.

oleh: Ryan Dagur, OFM
Dimuat di Majalah Hidup No. 28, Tanggal 10 Juli 2011

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *