Santa Klara Assisi dan Corak Feminin Kepemimpinan Fransiskan

Dewasa ini, pola kepemimpinan dalam struktur masyarakat dari yang berskala besar sampai kecil, atau dari negara sampai RT/RW cenderung mengikuti model hirarkis dan paternalistis. Meskipun semangat demokrasi sudah menjamur di mana-mana, tetap saja melekat kuat sisa-sisa model kepemimpinan yang mengedepankan corak “top-down” atau atasan yang menentukan. Dengan karakteristik dunia modern yang menjunjung tinggi nilai efektivitas dan efisiensi kerja, kompetisi serta pencapaian tujuan secara cepat, model seperti itu seakan-akan didukung keberadaannya. Kepemimpinan semacam ini adalah kepemimpinan berwajah “maskulin”. Bahkan, Gereja dan beberapa tarekat religius entah pria dan wanita, mungkin saja tanpa disadari, masuk dalam model kepemimpinan bercorak maskulin.

Karakter kepemimpinan yang maskulin sebenarnya memiliki nilai positif. Ada nilai ketegasan, taktis dalam bertindak, dan tidak berbelit-belit. Tinggal melaksanakan apa yang diperintahkan, semuanya akan beres. Akan tetapi, kalau tidak hati-hati dalam mengelolanya, justru yang akan muncul adalah kepemimpinan yang otoriter. Kepemimpinan ini akan menciptakan ketergantungan antara pihak yang dipimpin terhadap pihak yang memimpin. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, perlahan-lahan kehendak dan inisiatif dari pihak yang dipimpin untuk melakukan perombakan atau pembaruan menjadi mandul. Akan turut mati pula sikap untuk menilai secara kritis keputusan pemimpin. Lebih parah lagi, bisa lahir prinsip seperti ini: “kalau mau selamat, terima saja keputusan pemimpin”. Dalam model ini, para pemimpin berdiri sebagai kelompok elite yang tentunya berpotensi memperlebar jarak antara pemimpin dan anggota. Komunikasi timbal balik yang sehat dan proses saling mengoreksi akan sulit terjadi. Pimpinan akan tampil sebagai orang yang harus disenangi atau ditakuti. Hal ini jelas merintangi tumbuhnya keutamaan kejujuran dan rasa saling percaya.

Mengantisipasi adanya ekses negatif dari kepemimpinan bercorak maskulin tidak berarti harus menyingkirkan model kepemimpinan tersebut. Ekses negatif muncul karena ada ketidakseimbangan dalam model kepemimpinan tersebut. Maka, yang harus dilakukan pertama-tama adalah bagaimana mencari sisi yang dapat menyeimbangkannya. Jika kepemimpinan lebih berat pada corak maskulin, maka penyeimbangnya adalah kepemipinan bercorak  feminin. Lalu, bagaimana gambaran kepemimpinan bercorak feminin tersebut?

Sebenarnya, ada banyak yang bisa diungkap dari model kepemimpinan feminin. Tetapi karena konteks yang dibicarakan di sini terkait dengan spiritualitas Fransiskan, maka baik kalau kita melihat sosok pemimpin wanita yang amat bepengaruh dalam dunia Fransiskan, yaitu Klara Assisi. Klara memilih sebuah model kepemimpinan yang dalam praktiknya lebih mengedepankan segi partisipatif dan egalitarian. Klara adalah seorang inovator yang menciptakan model kepemimpinan yang baru dalam hidup religius. Kebaruannya terletak pada caranya memimpin yang tidak berdiri sebagai sosok tunggal yang amat “menentukan” anggota lainnya, tetapi sosok yang memimpin tanpa menghilangkan dimensi ke-bersama-an dengan anggota lainnya.

Dalam tulisan ini, saya akan mengkaji corak kepemimpinan feminin dari Klara Asisi. Di sini tidak ada maksud untuk mencap kepemimpinan maskulin sebagai kepemimpinan yang keliru. Apa yang menjadi muara tulisan ini adalah menampilkan sisi kepemimpinan yang selama ini terpendam dan mengembalikan sisi itu agar model kepemimpinan selama ini dipraktikkan menjadi lebih seimbang, dinamis, dan integral.

Konsep Otoritas menurut Klara

Model kepemimpinan Fransikan tidak mungkin lepas dari kharisma dasar spiritualitas Fransiskan. Apa karateristik kharisma ini? Tak lain adalah hidup menurut pola Injil suci. Hal ini termuat secara jelas dalam keempat Anggaran Dasar Fransiskan yaitu: Ordo Fransiskan (AD 1223), Ordo St. Klara (AD 1253), Ordo Fransiskan Sekular (1978) dan Ordo Ketiga Regular (1982). Semuanya menandaskan hal yang sama yaitu bahwa aturan atau pola hidup adalah melaksanakan Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus.

Sebagaimana kita tahu, hidup Injili berasal dari pengalaman personal seseorang akan Allah. Pengalaman itu mengalir dari kontemplasi yang tanpa henti akan Yesus Kristus. Tanda nyata sekaligus konsekuensi dari pengalaman tersebut adalah semangat untuk penitensial, yang berarti suatu pertobatan terus-menerus. Selanjutnya, dari situ lahirlah relasi cinta yang mendalam baik cinta akan Allah, Yesus, saudara dan saudarinya maupun seluruh alam ciptaan. Seorang tidak dapat dikatakan sebagai seorang Fransiskan yang tulen jika dia tidak menjadi bagian dari jaringan relasi yang mendalam ini. Mencintai satu sama lain merupakan jantung dari proyek Injili sebagaimana dipahami dan dipraktikkan oleh Fransiskus dan Klara.

Jelaslah bahwa hidup Injili adalah titik tolak kepemimpinan Fransiskan. Dimensi relasional yang berakar dalam cinta adalah pondasinya. Untuk melihat bagaimana beberapa aspek di atas terkait dengan model kepemimpinan Fransiskan yang feminin, pada bagian selanjutnya kita akan mendalami beberapa unsur dalam kepemimpinan Klara : 1) Otoritas yang berakar pada cinta akan Kristus; 2) Keseimbangan antara dimensi kekuatan ( kekuasaan) dan kelemahlembutan; 3) Teladan sebagai ungkapan otoritas; 4) Tiga gambaran otoritas feminim.

Sebuah Otoritas yang Berakar dalam Cinta akan Kristus

Hanya  satu yang menjadi motivasi dan semangat Klara dalam hidupnya yaitu melaksanakan Injil Tuhan Yesus Kristus. Dalam AD Klara 1:1-2, tertulis demikian: “Adapun pola dasar Ordo saudari-saudari miskin sebagaimana yang ditetapkan oleh Santo Fransiskus, adalah sebagai berikut: melaksanakan Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus dengan hidup dalam ketaatan, tanpa milik, dan dalam kemurnian.” Dalam pengalaman hidupnya, kita juga bisa melihat bahwa dari hari dia diterima oleh Fransiskus di Portiuncula (1212) sampai hari kematiannya di San Damiano (1253), tak seorangpun, bahkan paus sekalipun, mampu memisahkannya dari apa yang telah menjadi semangat, motivasi, dan ketetapannya tersebut.

Cinta yang begitu kuat dan mendalam pada Kristus mengisi seluruh hidupnya. Inilah dasar seluruh hidup Klara. Cinta pada Kristus inilah sumber utama otoritasnya sekaligus kekuatan batinnya dalam memimpin saudari-saudari yang lain. Agaknya, ia tidak terlalu menggantungkan diri pada unsur-unsur eksternal di luar Kristus. Menjadikan Kristus sebagai pusat hidupnya berarti mengikuti teladan-Nya dan menyerupai-Nya.

Ada relasi cinta yang mendalam antara Kristus dengan Klara. Namun, relasi ini tidak bersifat eksklusif semata. Cinta akan Kristus merembet pada relasi cinta terhadap saudari-saudarinya. Inilah yang membuat mengapa Klara dalam hidupnya cenderung untuk lebih memperhatikan perkembangan dan kebutuhan orang lain daripada dirinya sendiri. Ini juga berimbas pada bagaimana cara Klara memimpin saudari-saudarinya. Atas dasar relasi cinta, maka apa yang amat diperlukan dalam memimpin bukanlah perintah tetapi pertama-tama adalah teladan. Maka tak mengherankan jika dia enggan untuk memberikan perintah kepada saudari-saudarinya. Dia akan lebih melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri daripada memerintah saudari lain untuk melakukannya. Relasi cinta Klara dengan Kristus diungkapkan secara sangat bagus dalam surat-suratnya kepada Agnes dari Praha. Meskipun ungkapan tersebut harus dilihat dalam seluruh konteks surat, paling tidak ungkapan di bawah ini dapat menggambarkan cinta itu:

Guna memperoleh mempelai dari wangsa yang lebih mulia, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang selalu memelihara keperawanan Anda utuh dan tak bercela. Anda telah terangkul oleh pelukan-Nya (1SurAg 7,10).

Sebagai perawan yang miskin, hendaklah Anda memeluk Kristus yang miskin … dan ikutilah Dia dengan menjadi terhina diantara manusia,dipukul dan wafat tersesak di salib ( 2SurAg 18-20).

Maka Anda sendiri akan merasakan apa yang dirasakan para sahabat (Allah) yaitu dengan menikmati kemanisan tersebunyi yang sejak awal oleh Allah sendiri disimpan bagi para pencinta-Nya. Hendaklah Anda dengan sebulat hati mencintai Dia yang menyerahkan diri-Nya seluruhnya untuk dicintai oleh Anda (3Surag 14-15).

Sungguh berbahagialah orang yang mendapat anugerah menikmati perjamuan kawin itu sehingga dengan sebulat hati melekat pada Dia….Dengan juga memandang kesukaanNya yang tak terkatakan, kekayaannya dan kehormatan abadi. Hendaklah Anda sambil rindu karena kasih dan hasrat hati berseru: Tariklah aku di belakang-Mu,marilah kita cepat-cepat berlari ke bau harum wangi-wangian hai mempelai surgawi. Aku mau berlari dan tidak berhenti sampai Engkau membawaku masuk ke dalam rumah anggur, sampai tangan kirimu memeluk aku menjadi kebahagiaanku dan dengan kecupan mulutMu yang paling membahagiakan, Engkau mencium aku. (4SurAg 9,28-32).

“Merangkul Kristus yang miskin dan mencintai-Nya secara total” merangkum seluruh motivasi hidup Klara. Segenap kekuatan dan perasaannya terserap dalam cinta kepada Kristus. Integrasi dalam cinta inilah yang membuat Klara selalu bernyala-nyala dalam mengabdi dan mengikuti jejak Kristus yang dicintainya. Kecintaan ini begitu menguasainya sepenuhnya. Dan inilah yang menarik para saudarinya untuk mentaatinya dengan cinta yang sama. Dalam AngKla IV:9 ketaatan para saudarinya digambarkan demikian: “…sehingga para saudari terbujuk oleh teladannya (Abdis) lebih taat kepadanya karena kasih, bukan karena takut.

Otoritas yang Seimbang: Kekuatan dan Kelemahlembutan

Dalam berbagai kultur, sering kita jumpai pandangan yang menyatakan bahwa keharmonisan dan keutuhan suatu kehidupan tercipta jika terjadi keseimbangan dan keserasian antara unsur maskulin dan feminin. Dalam kultur Cina, ada konsep Yin dan Yang. Dalam kultur Jawa, ada konsep Lingga dan Yoni. Sementara, konsep yang serupa secara implisit juga ditemukan dalam Kitab Kejadian, khususnya dalam perikop yang mengisahkan penciptaan manusia pertama.

Jean-Francois Godet dalam tulisannya ”Clare, the Woman, as Seen in Her Writing”, memperlihatkan bahwa sebagai citra Allah (bdk. Kej 1:27), manusia dalam dirinya secara intrinsik mengandung unsur maskulin dan feminin. Allah melihat manusia itu, SUNGGUH AMAT baik. Berangkat dari situ, bisa dikatakan bahwa unsur feminitas sebenarnya bukanlah monopoli perempuan semata. Demikian pula, unsur maskulinitas bukanlah monopoli laki-laki. Menjadi sungguh-sungguh manusia yang integral berarti mau menerima dan menghargai keberbedaan dua aspek tersebut, mengaguminya dan menyatukan aspek maskulin dan feminin dalam dirinya sendiri maupun orang lain. Kedua aspek tersebut penting dan perlu bagi mereka yang ingin sungguh-sungguh menjadi manusia sebagai citra Allah.

Persahabatan antara Fransiskus dan Klara merupakan contoh konkret bagaimana aspek yang kurang terpenuhi dalam diri salah seorang pribadi, dipenuhi karena pribadi yang lain. Unsur feminin dalam diri Fransiskus seperti kelembutan, perasaan, kepekaan, dsb, bisa diterima olehnya karena mengenal unsur itu dalam diri Klara. Sebaliknya, Klara mengakui unsur maskulin dalam kodrat keperempuannya, seperti aspek kekuatannya, dengan melihat unsur itu dalam diri Fransiskus. Pengenalan aspek tersembunyi entah maskulin atau feminin dalam diri pribadi lain, membuat pribadi itu semakin integral.

Meskipun bisa dikatakan bahwa melalui Fransiskus, Klara dapat menyadari aspek “kekuatan”, ia toh tetap mengakui kelemahan dan kerapuhan fisiknya (WasKla 27-29; 3SurAg 38-39). Namun, yang menarik di sini, justru hal itu dianggapnya sebagai sumber kekuatan dalam mengabdi Kristus. Apa yang lemah dan rapuh, diubah menjadi kekuatan karena dan dalam Kristus. Di balik aspek feminitasnya, Klara menyimpan suatu kekuatan yang diyakininya berasal dari Kristus yang amat dicintainya. Keyakinan inilah yang selanjutnya mewarnai Klara dalam menjalankan otoritasnya sebagai pemimpin.  Dalam memimpin, Klara menunjukkan keseimbangan antara aspek maskulin dan feminin, atau kekuatan dan kelemahlembutan. Keseimbangan itu terungkap secara implisit dalam AngKla di mana terdapat sejumlah unsur Benediktin dan unsur Fransiskan. Unsur Benediktin bisa jadi adalah tampilan dari aspek maskulin. Tegas dan disiplin. Sementara unsur Fransiskan lebih cenderung menampilkan dimensi relasional. Mungkin hal ini adalah tampilan aspek feminin. Oleh Klara, dua unsur tersebut dipadukan. Sebagai contoh, lihat gambaran mengenai keheningan :“Di kamar orang sakit, para saudari selalu boleh bicara dengan cara yang sopan guna menyenangkan dan melayani mereka yang sakit dan mereka dengan suara lembut dan singkat boleh mengatakan apa yang perlu” (AngKla V:3-4). Selanjutnya, mengenai Klausura, Klara menulis: Ia tidak diperbolehkan keluar biara kalau tidak ada alasan yang berguna, masuk akal, jelas atau yang dapat dibenarkan (AngKla 2:12). Dari dua contoh di atas, jelas bahwa dalam AngKla, Klara tidak terlalu menekankan satu sisi saja. Ia lebih mengedepankan suatu keseimbangan antara norma yang baku dalam Anggaran Dasar dengan fleksibilitas dalam kebebasan Fransiskan.

Keteladanan sebagai Ungkapan Otoritasnya

Gelar abdis bukanlah impian Klara. Pada permulaan ordonya, ia menolak  untuk menerima gelar abdis. Ia ingin ditempatkan di bawah yang lain daripada di atas mereka. Ia ingin menjadi pelayan komunitasnya di mana dia dapat melayani dengan lebih sungguh-sungguh daripada dilayani. Semangat pelayanan Klara ini tercermin pula dalam bagaimana dia memerintahkan sesuatu kepada para saudari yang lain. Perintah yang disampaikannya itu akan dilaksanakannya pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Perintah bukanlah prioritas, tetapi keteladanan dalam melaksanakan perintah itulah yang terpenting. Dengan cara seperti ini, dimensi kesetaraan antara anggota komunitas akan tetap terjaga. Hal ini dibuktikan dalam AngKla bahwa Abdis seharusnya hidup dalam kesamaan dengan saudari-saudarinya, memelihara hidup bersama (bdk. AngKla 4:13). Jika seorang pemimpin adalah hamba seluruh komunitas (AngKla 10:5; WasKla 65-66), maka bagi Klara, prinsip dalam memimpin pertama-tama adalah menjadi teladan bagi orang lain agar mengikutinya (bdk. AngKla 4:9). Prinsip keteladanan ini berakar dalam keteladanan Yesus dalam melayani. Yesus adalah modelnya, sang Hamba yang membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1-15). Yesus sendiri mengatakan: “Yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan….Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. (Luk 22:2728)….”Barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang “ (Mrk  10:44-45).

Keteladanan Klara sebagai pemimpin yang mau menjalankan berbagai hal sebagai yang pertama tampak dalam beberapa tindakan ini: mengakui kesalahannya pada sidang mingguan (bdk AngKla 4:15-16), membasuh kaki saudari-saudarinya, dan menempatkan dirinya di depan para saudarinya di hadapan kaum Sarasen, siap untuk menyerahkan nyawanya sebagai tebusan, sebagaimana diteladankan oleh Yesus. Klara sebagai pemimpin memang selalu berdiri di depan. Hanya saja tujuannya bukan semata-mata demi kepemimpinan, tetapi lebih pada pengabdian. Sebagaimana diamanatkan Yesus, sebagai pemimpin ia berani untuk memberikan nyawa (hidup) bagi saudari-saudarinya.

Tiga Model Gambaran Otoritas Feminim 

Klara menjalankan kepemimpinannya sebagai seorang hamba, dengan tetap mempertahankan keberadaannya sebagai seorang saudari, dan dia memperhatikan saudari-saudarinya sebagai seorang ibu. Juga perlu dicatat bahwa ketiganya merupakan ciri khas spiritualitas kepemimpinan Fransiskan. Sebab, hal itu juga tampak dalam tulisan-tulisan Fransiskus.

Hamba

Klara lebih suka dengan sebutan hamba untuk dirinya (bdk AngKla 1:3; 6:6; 10:4), seperti “Hamba Tuhan”, “Pembantu Allah”, “Hamba Kristus”, “Hamba Wanita-Wanita Miskin” , dan sebagainya. Ketika dia diminta untuk menjalankan peran sebagai Abdis di San Damiano (1216), Klara mengidentifikasikan dirinya dengan gambaran Hamba Yahwe yang menderita sebagai jalan yang dipilihkan oleh Allah untuk menyatakan kekuasaanNya (bdk Yes 42:1-9; 49:1-7; 50:4-11). Dia bersikap sebagai Hamba yang taat, sebagaimana Yesus dalam penderitaannya, mendengarkan panggilan Bapa dalam sanubarinya yang terdalam, dan tetap patuh dan setia dalam Roh dalam tugasnya di komunitasnya dan dalam menanggapi setiap kebutuhan para saudarinya. Pelayanan terhadap saudarinya, dalam berbagai bentuk, mengalir dari prinsip utama hidupnya yaitu mengikuti Dia yang dicintainya, Yesus Kristus.

Saudari

Perannya sebagai abdis tidak serta-merta meninggalkan identitas dan perannya yang pokok yaitu menjadi saudari. Dalam kehidupan sehari-hari, yang lebih tercermin dalam diri Klara sebenarnya adalah diri seorang saudari bagi yang lain, daripada sebagai superior. Dia tetap mempertahankan aspek kesetaraan dengan para saudari lainnya. Sebagai konsekuensinya, dalam banyak hal yang menyangkut kehidupan komunitas, ia tidak pernah berperan sebagai pemimpin yang menentukan segalanya. Tetapi langkah pertama yang ditempuhnya adalah melibatkan dan berkonsultasi dengan saudari yang lain dalam mengambil keputusan. Seperti misalnya termuat dalam berbagai ungkapan ini, “Saya, bersama saudari-saudari saya” (AngKla 6:10) atau “Abdis dan para saudarinya (AngKla 2:9; 4:20; 6:11; 9:5) atau “Abdis dan wakilnya’ (AngKla 5:8) atau “Abdis atau wakilnya bersama dengan penasehat (AngKla 7:5; 8:11; 9:18).

Dalam struktur kepemimpinan yang demikian ini, tercipta pola relasi horisontal satu dengan yang lain. Hal ini lebih memungkinkan terciptanya sebuah iklim yang saling meneguhkan dan mendukung dalam panggilan hidupnya, menumbuhkan sikap hormat satu dengan yang lain. Dan selanjutnya, semuanya itu akan bermuara pada suatu harmoni dan kesatuan dalam komunitas.

Ibu

Selain istilah hamba dan saudari, Klara juga memakai istilah “Ibu”. Baginya, “Ibu” adalah gambaran yang tepat untuk seorang Abdis yang selalu memberi rasa aman, mengasuh dengan penuh pengertian, dan memberi perhatian yang penuh kasih pada anggotanya. Bukan hanya Klara saja yang mengedepankan sosok Ibu sebagai salah satu aspek penting dalam kepemimpinan, tetapi juga Fransiskus sendiri. Kita melihat dalam tulisannya sendiri (Surat kepada Saudara Leo dan Peraturan untuk Pertapaan).

Menjadi ibu dalam diri seorang pemimpin berarti membantu dan mendampingi anggota lainnya untuk berproses menjadi matang dalam kehidupannya baik fisik maupun spiritual. Sebagaimana ibu yang melahirkan anak dengan rasa sakit dan selanjutnya memberi kehidupan terus-menerus kepada anak-anaknya, demikian pula seorang pemimpin menolong anggotanya untuk proses yang serupa. Tekanan utama justru pada kesetiaan untuk mendampingi tahap demi tahap perkembangan dalam proses itu, dari pada hasil akhir.

Kesimpulan

Berbicara mengenai model kepemimpinan Santa Klara yang unik dan kreatif pasti akan sangat menarik, dan akan lebih menarik jika dipraktikkan. Sebenarnya banyak hal yang bisa diangkat dari pribadi Klara sebagai pemimpin dan bagaimana cara dia memimpin. Namun, karena keterbatasan ruang ini, tidak ada salahnya jika beberapa poin penting diungkap kembali. Anggap saja sebagai simpul-simpul pokok yang dapat dijadikan prinsip dasar dalam melihat kepemimpinan Fransiskan yang bercorak feminin.

  • Kepemimpinan Fransiskan sesungguhnya berakar pada bagaimana cara memimpin diri sendiri, khususnya dalam hidup batin atau spiritual. Kepemimpinan diri ini terkait erat dengan relasi cinta yang mendalam dengan Kristus. Supaya tidak lekas mati, cinta ini selanjutnya perlu dipupuk dan dipelihara terus-menerus oleh doa dan kontemplasi mengenai Kristus sebagai hamba (yang menderita) sebagai modelnya. Kepemimpinan diri memerlukan proses olah batin (discermen). Di sini, orang perlu pertama-tama mendengarkan Roh dalam dirinya sendiri dan selanjutnya dalam kelompok (komunitasnya). Kemampuan diri atau kelompok untuk terbuka dan setia pada bimbingan Roh juga perlu diterapkan dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan bersama.
  • Pola dan struktur kepemimpinan yang didasari oleh prinsip kesetaraan (kesamaan) sebagai saudara/i baik antar pimpinan dengan anggota, maupun anggota dengan anggota merupakan konsekuensi langsung dari keberakaran setiap anggota dalam cinta mendalam akan Kristus. Di sini, juga tidak dimungkinkannya penggunaan kekuasaan secara dominan jika mereka terus-menerus – seperti yang diajarkan Klara – mengingat, memeluk, dan mencintai Kristus yang miskin secara total. Dan lebih lagi jika memilih jalan Yesus dengan menempatkan diri sebagai Hamba. Dengan bercermin pada hamba yang menderita, siap memimpin berarti siap untuk melayani dan menyerahkan hidup kita untuk yang lain.
  • Membangun kepemimpinan diri berarti mewujudkan manusia yang utuh dan seimbang. Ia mau mengakui kekuatan dan kelemahan. Juga mau membantu satu sama lain untuk mengembangkan diri dalam kesadaran menuju kepenuhan. Seperti Klara, kita diundang untuk mempergunakan komponen maskulin dan feminin, kekuatan dan kelembutan dalam diri kita.
  • Kepemimpinan diri adalah sumber kepemimpinan setiap saudara atau saudari. Mereka yang bisa memimpin dirinya sendiri, akan bisa memimpin orang lain. Mereka yang sampai pada tahap ini pastilah akan dapat menjadi teladan bagi yang lain. Di sini, kepemimpinan dan keteladanan seakan-akan identik, meskipun sebenarnya berbeda. Dalam konteks hidup religius, sekali lagi, Yesus sang Hamba tetap menjadi model atau teladan utama. Yesus mengatakan: “Sebab aku telah memberi teladan kepada kamu supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yoh 13:15). Penekanan pada unsur keteladanan dalam kepemimpinan secara tidak langsung akan mendorong pihak yang memimpin untuk selalu berproses menjadi baik dalam banyak hal. Dan selanjutnya, ini akan menular dalam setiap anggotanya. Banyak bukti bahwa keteladanan lebih mengena dan berdampak nyata, daripada kata-kata.

Akhirnya, kita dapat mengatakan bahwa Klara adalah seorang pemimpin yang kreatif. Mungkin dia sendiri tidak menyadari kalau kepemimpinannya tersebut memiliki corak yang khas dan baru. Bisa jadi, untuk zaman sekarang beberapa aspek dari kepemimpinan Santa Klara tersebut telah menjadi wacana yang umum. Di mana-mana orang bisa berbicara mengenai keteladanan, keseimbangan dimensi maskulin dan feminin dalam kepemimpinan, pelayanan, dan sebagainya. Pertanyaannya sekarang adalah apakah yang sudah menjadi wacana umum itu telah dipraktikkan? Atau tetap tinggal sebagai kata-kata indah tanpa wujud konkret? Dalam hal ini, kita perlu mencontoh Klara sebab Klara telah membuktikannya dan mempraktikkannya terlebih dahulu.

Sumber Bacaan

Julian. Danielle, “Clare’s Model of Leadership”, dalam The Cord Vol 51, No.4 , 2001.

Godet. Jean-Francois,”Clare, the Woman, as Seen in Her Writing”, Greyfriars Review, 4:3 1990

Groenen.C., Santa Klara Asisi dan Hal – Ihwal Warisan Rohaninya, (Manuskrip) 1992

Roggen.H., Spiritualitas Santa Klara (Manuskrip), 1978

 

 Oleh Sdr. Albertus Purnomo OFM

 

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *