Harapan Umat Untuk Para Frater (Refleksi atas Triduum yang Unik)

Menuju profesi meriah pada Agustus mendatang, kesembilan saudara muda pasca Tahun Orientasi Pastoral (TOP) mengikuti beberapa rangkaian persiapan. Pada paruh pertama bulan Januari ini (Jumat-Minggu, 9-11/1/2026), mereka mengikuti Triduum yang digelar di Biara Carceri, Sindanglaya, Bogor. Secara sederhana, Triduum berarti kesempatan khusus selama tiga hari berturut-turut untuk berdoa, berdevosi, atau mengadakan latihan rohani, dalam rangka mempersiapkan diri atau komunitas untuk suatu pesta atau perayaan liturgi penting tertentu. Dalam arti ini, Triduum ini merupakan momentum khusus bagi kesembilan saudara untuk berdoa, berefleksi, bahkan berprofleksi dalam rangka mematangkan pilihan untuk melaju ke tahap profesi meriah. Menariknya, Bruder Trimur OFM, selaku fasilitator Triduum, juga memanfaatkan kesempatan ini untuk menggelar dialog antara kesembilan saudara dengan beberapa kelompok umat.

Menuju Biara Carceri

Pada hari Kamis (8/1/), tepat pukul 11.20 WIB, rombongan Triduum meninggalkan Biara St. Fransiskus Asissi, Kramat, Jakarta. Bruder Trimur OFM mengantar para saudara menuju Biara Carceri. Dalam perjalanan, seluruh penumpang menikmati liukan lincah badan mobil di antara kepadatan jalan Jakarta. Tampak semuanya bersemangat lantaran merasakan mobil yang melaju kencang laksana sedang menaklukkan jalur pacu. Sebetulnya ini bukanlah suatu semangat biasa. Apa yang secara mendalam membuat kesembilan saudara bersemangat, yakni karena makna perjalan ini bagi mereka. Mereka sedang bergerak menuju ke puncak. Biara Carceri terletak di puncak. Di dalam Injil, peristiwa transfigurasi Yesus Kristus persis terjadi di atas puncak Tabor (Bdk. Mrk. 9:2-13). Berkaca pada pengalaman para murid, tampaknya bagi kesembilan saudara, ini merupakan perjalanan menuju puncak Tabor. Kalau begitu apa yang menanti mereka di sana?

Triduum yang Unik

Triduum digelar sejak Jumat pagi sampai Minggu malam. Selama Triduum berlangsung, Bruder Trimur mendampingi kesembilan peserta dengan metode yang unik. Keunikan metode tersebut tampak dalam dua hal yang mencolok. Pertama, tanpa ruangan. Bruder Trimur membebaskan para peserta dari kesan Triduum yang harus digelar di dalam ruangan pertemuan tertutup yang sudah ditentukan. Selama Triduum, Bruder Trimur mengajak para peserta untuk menggelar pertemuan di ruangan yang lebih terbuka, dan bahkan berpindah-pindah tempat. Terjadilah. Mula-mula mereka berkumpul di kebun sayur. Setelahnya berpindah ke kedai kopi. Keesokkan harinya melipir ke kebun bunga. Lalu, pada kesempatan berikutnya masuk ke dalam rumah-rumah umat. Kedua, perjumpaan langsung. Selama Triduum, Ketimbang bermonolog, Bruder Trimur lebih banyak membiarkan para saudara berdialog langsung dengan umat. Dalam tiga hari itu, para peserta berjumpa dengan beberapa kelompok umat sekaligus. Dalam tiap perjumpaan, Bruder Trimur hanya memberikan sedikit pengantar. Setelahnya ia membuka ruang yang lebar bagi peserta untuk berbagi cerita dengan kelompok-kelompok umat tersebut. Menariknya, dalam dialog tersebut, umat juga menyampaikan harapan mendalam mereka terhadap kesembilan saudara. Menurut Bruder Trimur, kedua metode ini merupakan ungkapan nyata dari spiritualitas memandang, mendengarkan, dan bergerak. Jiwa permenungan yang diusung Bruder Trimur selama Triduum ini.

 

 

 

 

 

 

Harapan Umat untuk Para Frater

Selama dialog, umat memperkaya kesembilan saudara dengan aneka macam perspektif. Pengalaman umat membina hubungan rumah tangga memberi sinyal kepada mereka bahwa setiap panggilan hidup tidak kebal risiko. “Hidup berumah tangga juga ada bosannya, (Fra) Ter. Ya bosan juga melihat satu wanita yang itu-itu saja selama 25 tahun, ya kan?”, ucap salah satu umat berkelakar. “Ya, semua panggilan hidup ada risikonya. Yang terpenting kita punya komitmen yang kuat”, sambung umat yang lain meneguhkan. Menurut umat, komitmen yang kuat pada panggilan hidup biasanya akan tampak dalam keseharian. Dalam pengamatan mereka, pada para gembala umat, komitmen itu paling nyata tercermin pada karya pelayanannya.

Maka, berkaca pada pengalaman mereka sendiri mengalami pelayanan para Fransiskan khususnya, berikut ini 10 poin harapan mereka kepada kesembilan saudara jika kelak terpanggil menjadi gembala umat. Pertama, menjadi pemimpin yang dapat menghargai para bawahannya. Kedua, menjadi gembala umat yang benar-benar hadir, melayani, dan merangkul semua kalangan. Ketiga, memiliki kepekaan yang tajam terhadap situasi dan kebutuhan umat. Keempat, menjadi gembala yang tidak hanya dekat dan bahkan bisa disetir kalangan tertentu. Kelima, mampu memandang setiap orang sebagai guru rohani yang mendewasakan iman. Keenam, memiliki jiwa yang hebat, yang ditandai dengan selalu mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingannya sendiri. Ketujuh, pribadi yang rajin, antusias, dan kreatif. Kedelapan, membangun gedung gereja yang sesuai dengan corak dan kemampuan umat. Sebab gedung gereja merupakan gambaran nyata dari persekutuan umat. Kesembilan, menjadi gembala yang bersahaja dan berpenampilan sederhana. Kesepuluh, penampilan boleh sederhana tapi otaknya jangan ikut sederhana.

Bagaimana pun, poin-poin ini baru mengatakan sedikit dari banyaknya kualitas yang dirindukan kelompok-kelompok umat ini pada para gembala mereka. Tak dapat diartikan secara lain, kecuali bahwa harapan-harapan ini mesti dianggap sebagai ungkapan cinta umat kepada para gembalanya. Maka kini, tugas para kesembilan saudara adalah mempersiapkan diri dengan penuh sukacita untuk menakhlukan kualitas-kualitas tersebut.

Bagaimana, Lanjut?

Pada Minggu malam (11/1), tepat pukul 21.06 WIB rombongan meninggalkan Biara Carceri. Kesembilan saudara diantar kembali ke Jakarta. Di dalam Injil, usai peristiwa transfigurasi, para murid pun lekas turun dari puncak Tabor. Serupa dengan pengalaman para murid, bagi kesembilan saudara kembali ke Jakarta merupakan pengalaman turun dari pucak Tabor. Lantas, di sini dapat dipikirkan apa yang menjadi tugas kesembilan saudara selanjutnya. Tugas paling relevan bagi mereka selanjutnya yakni merenungkan pertanyaan kecil dan ringkas ini, “bagaimana, lanjut?”. Sebab sebelum menjadi seperti para murid yang begitu turun dari gunung Tabor langsung menyaksikan hal-hal yang lebih besar bersama Sang Guru, kesembilan saudara ini perlu memantapkan diri terlebih dahulu, bukan?

 

Sdr. Tian Gunardo OFM

Tinggalkan Komentar