Memasuki Pekan Suci, Sdr. Andre Atawolo OFM menghadirkan suatu refleksi kreatif perihal peristiwa jalan salib. Beliau mengulas dan merefleksikan sejumlah tokoh yang bukan merupakan bagian dari 12 Rasul tetapi berada dalam pusaran peristiwa sengsara Tuhan Yesus. Baca selengkapnya!
Jalan salib Yesus adalah jalan kemuridan. Kita berjalan di jalan salib itu dengan keyakinan bahwa kita akan tiba pada sukacita Paskah. Di seputar peristiwa salib Yesus, Injil menampilkan model kemuridan yang tersembunyi pada figur yang bukan dari Kelompok Dua Belas.
Pemilik Keledai. Perikop Lukas 19: 33-34 menampilkan figur pemilik keledai. Ketika para murid diminta Yesus melepaskan keledainya, pemilik keledai itu tidak protes. Entah siapa pemilik keledai itu, tetapi terkesan orang yang tulus hati. Dalam diam ia menyediakan apa yang diperlukan Tuhan.
Tuhan memerlukan sesuatu dari Anda, bahkan Anda sendiri. Tuhan memerlukan apa dari saya? Kita merasa sudah melakukan banyak peran, tetapi Tuhan meminta kita melakukan peran yang Ia perlukan. Apakah kita mau melepaskan sesuatu demi keperluan Tuhan?
Teladan kemuridan dari pemilik keledai ialah sikap taat. Sikap taat mengandung simplisitas, tidak membentengi diri dengan banyak kriteria, dan siap memainkan peran esensial di saat sulit. Orang yang taat menempatkan sesama sebagai pusat, bukan dirinya sendiri.
Si Anu. Dalam perikop Matius 26: 18 figur ini disebut oleh Yesus. Tidak disebut namanya. Terkesan seperti figuran, agak tersembunyi, tetapi perannya penting. Tanpa dia perjamuan kudus tidak terlaksana. Ia tidak terkenal, tetapi perannya tercatat dalam buku ilahi.
Si Anu dilukiskan sebagai orang yang membawa kendi berisi air (Lukas 22: 10). Kendi hanya benda biasa. Ia tentu bukan ahli Taurat yang membawa Kitab Taurat di tangan. Kendi mengingatkan kita bahwa manusia itu tanah liat yang bergantung pada tangan Tuhan.
Kita ingat akan figur anak kecil yang hanya membawa lima roti jelai dan dua ikan (Yohanes 6: 9), tampak tidak berarti, tetapi justru dari dia Yesus memberi makan lima ribu orang.
Si Anu orang biasa, bukan orang panggung, kiranya bukan orang terpelajar. Dalam hening ia melaksanakan pesan Yesus. Ini kontras dengan sikap manusia sekarang yang lebih suka mencari panggung daripada berperan di balik layar. Si Anu tidak suka pamer.
Malkhus. Malkhus hamba imam besar yang telinganya dipotong Petrus (Yohanes 18: 10). Kasihan hamba ini, ia ikut dalam rombongan, mungkin hanya terpaksa ikut, tapi malah menjadi korban nafsu pendek Petrus. Telinganya putus oleh pedang Simon Petrus.
Kita suka atau lebih mudah masuk dalam rombongan, karena nyaman. Namun kita mungkin salah tempat, hanya kumpul, ikut terdesak suatu sistem. Malkhus tampaknya belum punya keputusan iman: mau ikut Yesus atau sekedar menonton, terlibat atau observator (pengamat).
Dari Malkhus kita tahu bahwa Yesus benar-benar pengampun. Saat diserang pun Ia masih sempat membuat mukjizat menyembuhkan telinga Malkhus. Yesus adalah Kasih.
Injil tidak mengisahkan lebih lanjut tentang Malkhus setelah telinganya sembuh, namun pasti ia tahu bahwa ia sembuh secara ajaib oleh Yesus yang dihukum mati tanpa salah.
Kalau semangat keterlibatan kita dalam Gereja masih di level penonton saja, Paskah ini menjadi saat untuk terlibat secara nyata. Kalau kita berpihak pada Yesus, Ia pasti membela kita. Kalau di komunitas kita masih seperti pengamat, sekarang saatnya menjadi pelaku.
Penjahat yang bertobat. Ada dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Mengapa dicap penjahat? Mungkin karena berada di lingkungan yang buruk, terdesak kuasa politik, atau terlahir dalam lingkaran kejahatan. Mereka terancam hukuman mati, mati di salib.
Tidak ada banyak waktu lagi bagi keduanya untuk memperbaiki nasibnya. Salah satunya malah masih sempat menghujat Yesus (Lukas 23: 39). Sebaliknya penjahat yang lain menegur temannya itu, karena ia akui bahwa sebenarnya Yesus memang tidak bersalah.
Di saat akhir ini penjahat itu pun meminta Yesus agar mengingatnya dalam Kerajaan-Nya kelak. Doa penjahat ini mengingatkan bahwa hidup tidak selesai di dunia. Kita juga perlu memikirkan dunia akhirat. Itulah prinsip dasar Pengharapan sebagai suatu Kebajikan Kristiani.
Doa penjahat ini dalam waktu sesaat dikabulkan Yesus: “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus.” Figur penjahat ini membantu kita menyadari daya kasih Yesus yang melampaui dosa. Dalam kasih pengharapan tidak mengecewakan.
Mari kita mohon karunia kerendahan hati agar kita dimampukan untuk berjalan mengikuti Yesus. Dalam Dia ziarah hidup kita sampai pada kebangkitan. Perlu diingat: rahmat kebangkitan berbuah kalau kita mau menjadi saksi kebangkitan dalam keluarga dan komunitas.
Kontributor: Sdr. Andre Atawolo OFM
Ed.: Sdr. Rio OFM

Terima kasih Pater, …