IG Maria

sumber gambar: https://www.bbc.com/news/technology-57984790

IG: Instagram. Aplikasi yang satu ini sudah tidak asing lagi untuk generasi Z. Ragam cerita, peristiwa, gambar dan pengalaman yang terekam ada di aplikasi ini. Relasi pertemanan dunia maya menjadi mudah karenanya. Bisnis pun dimungkinkannya. Orang terkoneksi. Dunia terhubung. Minimal ada dua kata dan pilihan dalam IG yang memungkinkan orang terhubung satu sama lain: Following dan follower. Yang sering berselancar dan aktif ber-instagram pasti sungguh paham bagaimana berhadapan dengan dua kata itu. Follower merupakan bentuk kata benda dalam Bahasa Inggris yang berarti pengikut. Dalam IG, follower berarti orang yang mengikuti sosial media anda. Sedangkan, following adalah bentuk kata kerja dalam Bahasa Inggris yang berarti mengikuti. Di IG, following berarti pengguna Instagram yang kita ikuti aktivitasnya.

Kita tentu tidak sedang membahas akun dan aplikasi media sosial Santa Maria. Tentu Maria Bunda Yesus tidak punya akun IG atau juga media sosial lainnya. Namun setidaknya, dalam hidupnya, aktivitas Maria menyatakan esensi sesungguhnya dan realitas faktual sebuah jalinan relasi, keterhubungan antarpribadi: mengikuti Yesus. Maria adalah pengikut, follower, dalam arti mengikuti, mengalami, merasakan bagaimana dan berada dalam peristiwa hidup Yesus. Maria melihat dan mengikuti, merasakan dari dekat segala aktivitas Yesus. Bahkan Maria terlibat juga dalam kegiatan pewartaan Yesus. Maria bukan saja mengikuti, tetapi terlibat. Partisipasi Maria bukan dengan memberi jempol like, love, serta tepuk tangan pada aktivitas Yesus. Maria adalah partisipan dalam arti aktif, setia, turut merasakan, dan ada bersama dalam pelbagai peristiwa hidup Yesus. Partisipasi itu setidaknya dapat kita lihat dalam peristiwa-peristiwa berikut (bdk.Dok.KV II, Lumen Gentium 58).

Pertama, peristiwa perkawinan di Kana (Yoh.2:1-11). Yohanes penginjil mengisahkan kehadiran Maria dalam pesta perkawinan di Kana yang di Galilea. Di situ, Maria berdoa, memohon pada Yesus untuk melakukan mujizat. Maria peduli akan kekurangan tuan pesta. Ia tahu apa yang mesti dilakukan ketika berhadapan dengan kekurangan itu. Ia pun mengetahui dan mengenal Yesus. Ia memilih bertindak dengan cara menyampaikan kekurangan tuan pesta kepada Yesus. Maria turut merasakan bagaimana jika orang hidup dalam kekurangan. “Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba” (Yoh.2:3-4). Tindakan aktif lainnya dalam pesta di Kana diungkapkan dalam tindakan Maria yang meminta para pelayan agar melakukan apa yang diperintahkan Yesus. Maria menjembatani Yesus dengan para pelayan. Ia menghubungkan Yang Ilahi dengan manusia. Di situ, dalam hubungan dengan Yesus, Maria menyatakan “kemesraan keibuan dalam kebutuhan jasmani dan juga mendapat tanda kerahimanNya: Yesus mengerjakan tanda pertama dan menguatkan para murid dalam iman akan Dia” (Marialis Cultus (MC), no.18).

Kedua, saat Maria berada di luar rumah ibadat (Mat.12:46-50). Ia mengikuti Yesus, mendengarkan apa yang Dia katakan, melihat bagaimana Roh Kudus bekerja pada diri Yesus. Maria berada di antara orang banyak dan berusaha menemui Yesus. Penginjil Matius melukiskan respon Yesus atas Maria dan saudara-saudara-Nya. “Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku. Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mat.12:49). Maria tahu bahwa mengikuti Yesus berarti juga mengerjakan, melaksanakan firman Allah. Pengikut sekaligus berarti pelaku firman. Orang yang melakukan kehendak Allah adalah saudara dan saudari serta ibu Yesus. Bila Maria ditempatkan dalam konteks ini, sabda Yesus itu sekaligus menyatakan siapa Maria. Sabda Yesus itu berbicara tentang dirinya.

Ketiga, saat Maria berada di bawah Salib Yesus (Yoh.19:25-27). Maria mengikuti perjalanan salib Yesus hingga tiba di bawah kaki Salib Puteranya. Mengikuti (following) Yesus di jalan penderitaan adalah juga konsekuensi dari keikutsertaan Maria ketika mempersembahkan Yesus di kenisah (bdk. Luk.2:22-35). Peristiwa itu merupakan suatu misteri yang menyangkut sejarah keselamatan. “Jadi, suatu misteri keselamatan, yang dalam aneka seginya menunjuk kepada persembahan di kenisah sampai pada peristiwa keselamatan di salib” (MC.20). Ada kesinambungan antara peristiwa Yesus dipersembahkan di kenisah dengan peristiwa di kalvari. Peristiwa Maria berdiri di bawah salib, menyatakan bahwa ia “menderita secara mendalam bersama Putra tunggalnya dan menggabungkan diri dalam kasih keibuan pada wafat pengurbanan-Nya; dan menyetujui wafat anak domba kurban, yang dilahirkannya, dan yang dipersembahkannya kepada Bapa Abadi” (MC.20). Maria mengikuti Yesus dengan turut merasakan penderitaan-Nya, setia bersama Puteranya, dan secara jelas menyatakan kasih keibuannya.

Seluruh perjalanan Maria mengungkapkan kesejatian Maria, tidak hanya sebagai ibu Yesus tetapi juga sebagai pengikut Yesus. Ia menjadi model bagi setiap orang yang percaya dan yang terlibat aktif mengikuti jejak Yesus. IG: Ikutilah Gerak St. Maria. Gerak hidup Maria selalu terarah pada Yesus. Maria mengikuti Yesus sampai akhir, bahkan ketika jalan Yesus itu penuh penderitaan. Penderitaan adalah juga suatu risiko kemuridan. Mengikuti gerak Maria, berjalan bersamanya, akan bermuara dan sampai pada perjumpaan dengan Yesus; per Mariam ad Jesum. Akhirnya, keseluruhan peristiwa hidup Maria dapat diringkaskan dalam kata-katanya sendiri, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

 

Sdr. Martin Kowe, OFM

 

Tinggalkan Komentar