Acara Bina Lanjut Fransiskan: “Mengikuti Kristus Seturut Contoh Santo Fransiskus”

Pada  Jumat (16/04/21), Komunitas Biara St. Bonaventura Yogyakarta melaksanakan kegiatan Animasi Gardianat. Bertempat di Aula Biara santo Bonaventura, kegiatan ini dihadiri para Saudara Tua, Saudara Muda, dan para Postulan. Kegiatan animasi ini sangat membantu para saudara dalam mendalami Dokumen Ordo Saudara-Saudara Dina serta menemukan implementasinya bagi kehidupan membiara di zaman ini. Sebagai pemateri kegiatan ini, Pater Tauchen Girsang, OFM membagikan pemahamannya mengenai dokumen “You have been called to freedom” yang dikeluarkan oleh mantan Minister General, Sdr. Jose Carballo, OFM.

Kegiatan Animasi Gardianat ini semakin menarik karena para saudara juga diberi kesempatan untuk berdiskusi. Diskusi ini membantu para peserta untuk lebih mendalami materi, sehingga materi yang diberikan tidak mudah dilupakan. Sebaliknya, para peserta dibantu untuk menyadari relevansi dokumen tersebut di zaman ini. Para saudara terlihat sangat antusias dalam berdiskusi dan membagikan pengalaman mereka. Dari setiap pengalaman yang dibagikan para peserta, tampak adanya kesadaran akan pentingnya masa formasi awal dan formasi berkelanjutan (on going formation). Dalam masa inilah, para saudara dibentuk menjadi seorang Fransiskan sejati yang mampu menghidupi semangat injili dalam kehidupannya sehari-hari.

Dokumen “You have been called to freedom” menjadi sarana untuk menjawab permintaan perlunya suatu pedagogi khas Fransiskan. Kekhasan dari cara hidup Para Fransiskan ialah mengikuti Kristus seturut teladan Bapa kita St. Fransiskus Assisi. Cara hidup tersebut disadari sebagai benih Kerajaan Allah, sekaligus mengajak Para Saudara Fransiskan untuk melakukan penginjilan ke seluruh dunia. Hal itu diperkuat dengan pandangan bahwa seluruh dunia adalah biara kita. Cara hidup seperti ini menunjukkan bahwa kharisma Para Fransiskan harus selalu tampak di manapun kita berada.  Kharisma itu dibina mulai dari awal formasi hingga akhir hidup.

Bina lanjut bersifat dinamis, dan menuntut persaudaraan kita untuk senantiasa mengikuti perkembangan zaman. Dalam Bina lanjut ini, terjadi juga proses perkembangan kharisma seorang fransiskan. Melalui proses itu, secara bebas para saudara didorong untuk berkembang dan berjumpa dengan misteri Allah dalam kerajaan-Nya. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan pertama-tama ialah bahwa dalam mengikuti perkembangan zaman, seorang Fransiskan dituntut untuk menjadi seorang Fransiskan yang baik. Kekhasan dari proses menjadi fransiskan yang baik lebih ditekankan pada aspek perkembangan bersama. Perkembangan itu harus terwujud dalam hidup persaudaraan sehari-hari. Semua itu juga diharapkan bisa terwujud sampai pada tahap integrasi dengan persaudaraan semesta, sebab persaudaraan Fransiskan menjadi tanda kehadiran kerajaan Allah bagi seluruh makhluk di muka bumi ini.

Proses Bina lanjut ini menuntut para saudara untuk mampu mengenal dan menampakkan kharisma  kefransiskanannya secara baik dan benar di era digital saat ini. Dalam rangka itu ada tiga istilah yang patut diperhatikan, yaitu “pemulung makna”, “tenda terbuka”, dan “discernment”. Istilah-istilah ini menggambarkan kehidupan ideal seorang Fransiskan. “Pemulung makna” berarti para saudara diharapkan mampu menemukan makna dari setiap kegiatan yang dilakukan. Ungkapan “tenda terbuka” bermakna bahwa persaudaraan ini terbuka bagi siapapun, karena semua itu dilandasi atas belas-kasih kepada sesama. Keterbukaan terhadap perkembangan zaman juga coba dilakukan. Keterbukaan itu hendaknya dilakukan dalam sebuah bingkai discernment. Sikap menimbang-nimbangan ini sangat diperlukan agar setiap tindakan dan keputusan yang diambil sesuai dengan kehendak Allah. Sebab, pembina utama dalam proses bina lanjut ini ialah Roh Kudus. Perwujudan nyata dari Roh Kudus itu terjadi melalui doa. Doa diyakini menjadi pusat dari kehidupan persaudaraan dalam berbagai aspek, sebab doa menjadi sarana untuk mendengarkan kehendak Allah.

Akhirnya, pesan akhir Minister General dalam dokumen ini, dalam konteks persaudaraan digital dewasa ini, ialah model persaudaraan yang kolaboratif. Model persaudaraan ini hendaknya dijiwai dalam sebuah persaudaraan jejaring. Artinya, dalam hidup maupun karya, setiap saudara hendaknya dijiwai oleh semangat bekerja sama, dan bukannya bekerja sendiri-sendiri. Dengan demikian, hidup dan karya yang kita jalani merupakan suatu gerak bersama dan bukan gerak individu. *

 

Stefanus Kristian Tri Nugroho (Postulan Yogyakarta)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *