FRANSISKUS, PENDAMAI YANG AKTIF

Fransiskus beristirahat dalam damai pada sore hari, 3 Oktober 1226. Ia layak mendapatkan kedamaian dalam Tuhan. Sebab selama 20 tahun masa pertobatannya, ia benar-benar menghayati seruan Injil Tuhan: “Berbahagialah orang yang membawa damai karena, mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9). Fransiskus selalu berpesan kepada para sahabatnya, agar di mana pun mereka berada, hendaklah menyampaikan salam kepada setiap orang: Pace e bene, bona gente! (Salam sejahtera, hai orang-orang baik!). Bukan hanya kata-kata, Fransiskus juga aktif menjadi pelaku pesan injil tersebut.

Warisannya sedemikian kuat sehingga Paus Fransiskus meneruskan pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI, ikut mengenang Fransiskus menjadi teladan perdamaian dan dialog antar agama. Menerobos sekat-sekat agama dan kekerasan di tengah Perang Salib ke V pada 1219, Fransiskus pergi ke Mesir, menemui Sultan Malik Al Kamil, keponakan Saladin, untuk mengupayakan perdamaian. Sekalipun tidak membuahkan perdamaian saat itu, pertemuan ini mewariskan otoritas yang hidup bagi para Fransiskan untuk menjaga Tanah Suci sampai hari ini.

Juru Damai Ulung

Namun masih ada satu peristiwa lain yang seringkali luput dari perhatian umat Kristiani, yakni Fransiskus mendamaikan Uskup dan Podestas (wali kota) dari Assisi. Peristiwa ini menjadi teladan Fransiskus dalam mengupayakan perdamaian sosial-politik. Enam tahun sejak perjalannya ke wilayah Tanah Suci, kesehatan Fransiskus semakin memburuk. Sebagai seorang yang mencintai perdamaian, pertengkaran kedua sahabatnya itu menambah derita penyakit jasmaninya dengan siksaan batin.

Pertengkaran Uskup dan Walikota Assisi ini adalah cerminan kecil dari konflik yang lebih besar. Sejak Frederick Barbarossa berkuasa pada 1155, kekaisaran Romawi Suci berupaya ke luar dari bayang-bayang kuasa kepausan, di bawah Paus Adrianus IV. Cara pertama ialah Sang Kaisar menyusun suatu Hukum Sipil (Codex Iuris Civilis) yang menolak legitimasi kepausan bagi kekuasaan duniawi. Cara kedua, ia memilih sejumlah walikota sebagai perpanjangan tangan kekuasaannya.

Perebutan kekuasaan bukan lagi terjadi antara Paus dan Kaisar melainkan juga antara Uskup dan Walikota, salah satunya di Assisi. Konflik politik dimulai sekitar Juli 1225, dan sejak itu kedua penguasa kota Assisi tersebut saling berbalas. Uskup mengekskomunikasi walikota. Dan walikota menghalangi aktivitas dan kebijakan Uskup. Keduanya sama-sama terluka batinnya, tetapi pihak yang lebih banyak menderita akibat dari konflik itu adalah warga masyarakat. Sebab walikota Assisi menghambat bahkan membatalkan aktivitas ekonomi dari para pedagang yang membela Uskup. Sedangkan ekskomunikasi Uskup terhadap Walikota dan pendukungnya menjauhkan pelaku ekonomi terlibat dalam kerjasama dengan para pedagang yang membela Uskup. Gangguan rantai pasok barang-barang kebutuhan menyulitkan hidup sehari-hari warga Assisi.

Ketika konflik itu terjadi Fransiskus sedang mengalami komplikasi berat. Ia dirawat di istana keuskupan, dan pernah juga dirawat oleh Klara dan saudari-saudarinya di Biara San Damiano, Assisi. Matanya sudah hampir buta dan lambungnya meradang parah. Belum lagi kelima luka stigmata memperdalam rasa sakit tubuhnya. Jangankan beraktivitas seperti biasa, untuk berjalan saja ia harus dipapah.

Lantaran kepentingan politik, Uskup dan Walikota Assisi bertikai keras; demi Sang Santo, mereka saling berlomba menunjukkan perhatian. Sebab mereka sangat menghormati pribadi Fransiskus, yang selama ini menjadi terang teladan Injil bagi warga Assisi.

Mendengar pertikaian dua otoritas tersebut, Fransiskus tidak sekadar berhenti pada keprihatinan dan berdoa memohon perdamaian. Ia secara aktif mengorganisir para Saudara Dina untuk mempertemukan penguasa rohani dan penguasa sipil tersebut. Semata-mata karena kasih sayang dan hormat pada il poverello, Si Miskin (gelar untuk Fransiskus Assisi), Uskup dan Walikota mau bertemu di alun-alun kota Assisi.

Melalui para saudaranya, Fransiskus menyampaikan pesan kepada kedua sahabatnya agar berdamai demi Tuhan dan dirinya, serta kesejahteraan warga Assisi. Di akhir pesan itu, Fransiskus meminta para Saudara Dina (Fransiskan) menyanyikan Kidung Segenap Ciptaan, yang ia gubah sendiri, dengan menambahkan satu pujian tentang perdamaian. Demikian tambahannya: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena mereka yang mengampuni demi kasih-Mu, dan yang menanggung sakit dan suka-derita. Berbahagialah mereka, yang menanggungnya dengan tenteram, karena oleh Engkau, Yang Maha Luhur, mereka akan dimahkotai.

Bait pujian damai ini menghujam ke sanubari Uskup dan Walikota Assisi. Keindahan seni menyelamatkan dunia Assisi dari kehancuran karena konflik kekuasaan. Seorang pemimpin hendaknya melepas ego kekuasaannya demi kesejahteraan dan perdamaian kota, bahkan kalau itu menimbulkan sakit dan suka-derita. Kerendahan hati memang tidak mudah dihayati, dan menuntut pengorbanan batin, pikiran, dan fisik. Mahkota sejati akan dianugerahkan Tuhan kepada pemimpin yang memilih damai daripada persaingan; pelayanan daripada lagak berkuasa.

Uskup dan Walikota Assisi merasakan penderitaan Fransiskus yang semakin berat karena konflik kekuasaan di antara mereka. Berkat teladan dan cara hidup Sang Santo, serta kata-kata yang tajam dalam Kidung Segenap Ciptaan, mereka akhirnya berdamai. Para warga yang menyaksikan peristiwa membahagiakan itu ikut terharu menyaksikan karya menakjubkan dari Fransiskus dan para Saudara Dina.

Merawat Warisan Tradisi

Satu tahun sesudah peristiwa pendamaian itu, Uskup dan Walikota Assisi menghadiri pemakaman sahabatnya, Fransiskus, Sang Pencinta Damai. Mereka tidak hanya menyaksikan seorang Kudus yang meninggal dalam senyum damai, tetapi merasakan sendiri betapa pentingnya suatu kekuasaan yang memelihara perdamaian dan dialog.

Dan 800 tahun sesudahnya kita merayakan Yubileum “Paskah Fransiskus”, suatu perayaan untuk mengenangkan saat Saudari Kematian menjemput Fransiskus untuk beralih (transitus) dari salib dan derita dunia menuju paskah abadi bersama Tuhan. Lebih dari kenangan, Yubileum ini merupakan ajakan bagi umat Katolik untuk meneladani keutamaan-keutamaan Fransiskus yang memuncak dalam damai dan kebaikan seluruh makhluk.

Pesan dan teladan perdamaian dari Assisi ini semakin relevan dan mendesak di dunia kita, ketika para pemimpin dunia kerap melestarikan perang demi kepentingan sempit negaranya, tanpa mempedulikan korban sipil, khususnya wanita dan anak-anak yang tak bersalah.

Setiap peziarah Yubileum Fransiskus hendaknya tidak berhenti dengan upaya memperoleh indulgensi – yang tentu saja niatan yang baik. Melampui ritual dan kesalehan, para peziarah diajak untuk menjadi pelaku-pelaku damai bagi lingkungan kerja dan sosial sekitar. Kita perlu berkomitmen untuk menyesali “dosa peperangan” yang berakar dari kesombongan dan iri hati; kemudian, mengikis dosa itu dengan melatih kerendahan hati dan pelayanan dalam setiap pekerjaan dan wewenang yang kita emban.

Bagi Gereja Katolik Indonesia misalnya, sejauh mana para uskup dan imam saling bersuara dan bersolider dengan kesulitan lintas keuskupan, khususnya di wilayah keuskupan yang mengalami konflik dan peperangan seperti di Papua. Begitu juga keterlibatan umat non-tertahbis dalam persoalan sosial-politik mesti menjadi keprihatinan pastoral paroki. Tanpa praksis pastoral yang konkret, perayaan Yubileum Fransiskus hanya akan menjadi selebrasi yang segera terlupakan dan tidak mentransformasikan cara hidup Inijili kita.

Sdr. Fery Kurniawan OFM dan Sdr. Effendy Marut OFM

Tinggalkan Komentar