Kesetiaan Fransiskan Kepada Gereja di Zaman Milenial

St. Fransiskus Asisi di hadapan Paus Inoccentius III

 

Catatan Pengantar

Goresan sederhana ini mulanya dipersiapkan untuk bahan sarasehan dengan keluarga besar Fransiskan Yogyakarta (Kekanta). Dalam rangka merayakan pembaharuan janji setia fransiskan kepada Gereja, yang direncanakan dirayakan pada tanggal 19 April 2020, Kekanta meminta saya untuk memberikan masukan singkat dan sederhana terkait kesetiaan fransiskan kepada Gereja di zaman milenial ini. Namun, karena pandemi Covid-19 memaksa kita untuk diam di rumah saja, bahan ini kemudian menjadi bahan sharing dalam hari gardianat di Gardianat Greccio Yogyakarta, pada 24 April 2020. Melalui sharing bersama ini, ada sejumlah masukan penting yang patut memberikan kekayaan dalam bahan yang sudah saya siapkan dan yang kiranya layak juga untuk menjadi sumbangan kecil bagi para pembaca sekalian.

Mengapa dirayakan pada tanggal 16 April?

Setiap tahun, pada bulan April tanggal 16 atau sekitarnya, para Fransiskan, setidaknya Fransiskan di Indonesia, mengadakan pembaruan janji setia kepada Gereja. Dalam Statuta Partikular OFM Indonesia artikel 7 dikatakan bahwa setiap persaudaraan hendaknya memperhatikan dan merayakan devosi-devosi yang secara khusus dianjurkan oleh tradisi ordo. Dalam paragraf 1 nomor 4 dimasukan tentang pembaruan janji setia pada Gereja pada tanggal 16 April.

Penetapan tanggal 16 April sebagai kesempatan membaharui janji setia kepada Gereja boleh dikatakan lahir dari sebuah tradisi (yang sehat), yang menurut anggapan sebagian saudara mengacu pada peristiwa permohonan pengesahan Anggaran Dasar pertama (protoregola) oleh Fransiskus dan pada saudara pertama kepada Paus Inoccentius III. Fonte Francescane (edisi terbaru) menempatkan peristiwa ini sekitar tahun 1209-1210, dengan data yang tidak pasti. Kalau anggapan ini yang dipakai, maka diandaikan bahwa Fransiskus dan persaudaraannya berangkat ke Roma pada saat awal musim semi, yakni sekitar bulan April.

Namun, ada juga yang beranggapan bahwa tanggal itu mengacu pada peristiwa ketika Petrus Cattani dan Bernardo Quintavele bergabung dengan Fransiskus dan bertanya tentang bagaimana mereka harus hidup. Fransiskus spontan mengajak mereka ke Gereja dan membuka Injil untuk menemukan apa yang Tuhan kehendaki mereka perbuat. Peristiwa ini dalam berbagai sumber diberi tanggal yang pasti, yakni tanggal 16 April tahun 1208. Sdr. Vitalis Nonggur, OFM, dalam pertemuan gardianat di Gardianat Greccio Yogyakarta, menyampaikan pandangannya bahwa tanggal ini bisa dijadikan landasan dasar penentuan tanggal pembaharuan janji setia kepada Gereja. Namun, peristiwa perjumpaan dengan Injil ini mesti dibaca sebagai momen “ditemukannya Anggaran Dasar” Fransiskus dan persaudaraannya. Sebagaimana kita ketahui, Fransiskus tidak menginginkan peraturan yang lain bagi persaudaraannya selain Injil Suci, sebagaimana jejaknya dapat kita temukan dalam AngTBul 1, AngBul 1, Wasiat 14. Protoregola yang dimohonkan Fransiskus dan para saudaranya yang pertama kepada Paus Inocentius III pada saat mereka pergi ke Roma juga diyakini berisi kutipan-kutipan dari Injil.

Kiranya dua pendapat di ataslah yang bisa memberikan sedikit “kepuasan intelektual” untuk menjawab pertanyaan mengapa pembaharuan janji setia Fransiskan kepada Gereja dirayakan pada setiap bulan April, khususnya tanggal 16 April. Apapun jawaban atas pertanyaan soal tanggal yang pasti ini tidaklah mengurangi kepastian bahwa Fransiskus dan persaudaraannya benar-benar ingin senantiasa setia kepada Gereja Katolik Roma yang kudus.

Kesetiaan Fransiskus sebagai Landasan Kesetiaan Fransiskan

Terlepas dari kesimpangsiuran terkait data yang pasti yang mendasari pembaruan janji setia kepada Gereja, tidak perlu diragukan bahwa Fransiskus dalam hidupnya amat setia kepada Gereja katolik. Kesetiaan Fransiskus kepada Gereja ini merupakan sumber kesetiaan para Fransiskan di zaman milenial ini.

St. Fransiskus, dalam mimpi Paus Innocentius III, sedang menopang Basilika Lateran yang hampir runtuh

Gereja bagi Fransiskus adalah Bunda Gereja Roma yang kudus, yang di dalamnya terkandung misteri kekudusan, misteri iman, dan menjadi sandaran Fransiskus dan persaudaraannya ketika mengalami saat-saat sulit. Gereja yang konkret bagi Fransiskus adalah hierarki Gereja. Relasi Fransiskus dengan Paus pada zamannya diibaratkan seperti relasi antara anak di hadapan orang tuanya. Paus Inosensius III misalnya “direpotkan” Fransiskus dan para saudaranya karena mereka datang meminta pengesahan atas proyek hidup Injili mereka (1209/10). Paus Honorius III “direpotkan” Fransiskus dan persaudaraannya dengan meminta pengesahan Anggaran Dasar yang definitif (1223). Bagi Paus Honorius III, pengesahan atas Anggaran Dasar Fransiskus dan persaudaraannya ini kiranya sebuah keputusan yang sulit, karena dalam Konsili Lateran IV tahun 1215 sudah ditetapkan bahwa tarekat-tarekat yang baru wajib mengambil salah satu Anggaran Dasar dari ordo-ordo yang sudah ada dalam Gereja. Namun, Anggaran Dasar Fransiskus dan persaudaraannya toh lolos juga, tentu saja dengan garansi persetujuan lisan dari Paus Inosensius III.

Bukan hanya para Paus, Fransiskus juga meminta Gereja menetapkan seorang kardinal pelindung bagi ordonya, yakni kardinal Hugolino, yang kemudian menjadi Paus Gregorius IX dan yang mengkanonisasi Fransiskus menjadi seorang kudus. Kita jangan lupakan juga uskup Assisi, yakni Mgr. Guido, yang telah menerima dan merangkul Fransiskus seperti anaknya, ketika Fransiskus berperkara dengan ayaknya, Pietro Bernardone.

Sejumlah fakta tadi menggambarkan bahwa Fransiskus Assisi merupakan seseorang yang amat setia kepada Gereja. Kita bisa menelusuri jejak kesetiaan Fransiskus tersebut juga dalam sejumlah tulisannya, yang berikut ini ditampilkan diantaranya:

AngTBul II, 12

Tidak seorang pun boleh diterima bila berlawanan dengan tata cara dan ketetapan Gereja Kudus.

AngTBul XVII, 1: Para Pengkhotbah

Tidak seorang saudara pun boleh berkhotbah bertentangan dengan peraturan dan ketentuan Gereja Kudus.

AngBul I, 2

Saudara Fransiskus menjanjikan ketaatan dan hormat kepada Sri Paus Honorius serta para penggantinya yang sah menurut hukum Gereja dan kepada Gereja Roma.

AngBul Pasal III: Ibadat, puasa, dan cara bepergian di dunia

Para rohaniwan hendaknya melakukan ibadat harian menurut tata cara Gereja Roma yang kudus.

AngBul XII, 3-4

Tambahan pula aku mewajibkan kepada para minister demi ketaatan, agar mereka memohon kepada Sri Paus seorang dari antara para kardinal Gereja Roma yang kudus untuk menjadi pembimbing, pelindung dan pengawas persaudaraan ini. Maksudnya, supaya dengan selalu patuh dan tunduk pada kaki Gereja Kudus itu, dan dengan tetap teguh dalam iman katolik, kita menepati kemiskinan, kerendahan serta Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah kita janjikan dengan sebulat hati.

Wasiat Siena

Hendaklah mereka selalu setia dan patuh kepada para pejabat serta semua rohaniwan Bunda Gereja yang kudus.

Petuah Pasal XXVI: Hormat kepada para rohaniwan

Berbahagialah hamba, yang menaruh kepercayaan kepada para rohaniwan, yang hidup tepat menurut peraturan Gereja Roma. Akan tetapi celakalah orang yang meremehkan mereka. Sebab sekalipun mereka itu pendosa, namun tidak seorang pun boleh menghakimi mereka, karena semata-mata Tuhanlah yang mengkhususkan mereka bagi diri-Nya untuk dihakimi.

2 SurRoh 13-14

Kita tahu, bahwa semuanya ini harus kita tepati melebihi segala-galanya, menurut perintah Tuhan dan peraturan-peraturan Bunda Gereja yang kudus. Siapa yang tidak melaksanakan hal itu, hendaknya mengetahui, bahwa dia harus memberikan pertanggungjawaban pada hari pengadilan di hadapan Tuhan kita Yesus Kristus.

Mengapa Fransiskus selalu datang dan mendekat kepada hierarki Gereja? Apa rahasia kesetiaan Fransiskus kepada Gereja? Dari sejumlah karya Fransiskus yang disebutkan di atas dapat dikatakan dengan sederhana dan tegas bahwa: Di dalam Gereja Fransiskus menemukan Yesus Kristus Penyelamat, yang hadir dalam sejarah manusia dan yang menjadi landasan iman umat Kristen. Gereja menghadirkan Kristus itu, baik dalam Sabda dan teristimewa dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi, Fransiskus sungguh meyakini dan mengalami kehadiran nyata Kristus. Fidel Aispura dalam bukunya Il cammino di Francesco d’Assisi berkomentar bahwa bagi Fransiskus hanya dalam Gereja Katolik Roma-lah ditemukan perayaan ekaristi yang benar dan memberi makna (l’eucaristia con senso). Lebih lanjut dia menyatakan: “Tidak bisa seorang menjadi krisiani tanpa Ekaristi dan tidak bisa ada Ekaristi tanpa Gereja”. Dalam Gereja, Fransiskus juga perlahan-lahan menemukan rahasia Salib Kristus. Cinta yang mendalam akan Kristus merupakan sumber kesetiaan Fransiskus kepada Gereja.

Fransiskan Milenial Mewujudkan Kesetiaan kepada Gereja

Kita sedang hidup dalam zaman milenial, dengan berbagai tantangan dan kesulitannya. Gereja juga pada zaman ini sedang dalam krisis. Salah satunya adalah krisis kepercayaan, baik kepada hierarki maupun juga kepada sakramen-sakramen Gereja. Melalui sosial media kita bisa membaca dan mendengar betapa hierarki Gereja, baik Paus, para Uskup, apalagi para Imam banyak dicaci maki dan dibully dengan enaknya, bahkan oleh umatnya sendiri. Bermacam-macam kritik dilontarkan, mulai dari urusan kotbah, soal relasi, soal kebijakan pastoral, soal ketidaktebukaan dalam berbagai kasus, dan khususnya lagi soal kurangnya keteladanan dari para imam. Reaksi atas situasi ini juga beragam: ada yang apatis dengan Gereja, ada yang memutuskan memisahkan diri dari Gereja, ada yang tetap menjadi anggota Gereja, tetapi kerjanya membully dan menghina, dan tentu saja ada juga yang tetap setia pada Gereja.

Kalau saja kita masih mengaku diri sebagai Fransiskan, tentu saja kita memilih untuk tetap setia kepada Gereja. Dengan maksud itulah kita selalu membarui janji setia kita setiap tahun kepada Gereja Roma yang kudus. Pada hemat saya, pilihan kita ini tentu mengandaikan sikap iman yang dewasa. Mengapa? Iman yang dewasa adalah iman yang lahir dari kesadaran pribadi yang mendalam atau dalam bahasa yang lebih keren dikatakan bahwa iman merupakan sebuah opsi fundamental untuk menerima Kristus dan menghidupi ajaran-Nya. Orang yang beriman secara dewasa menemukan keindahan dari pilihan imannya. Keindahan itulah yang membuatnya bertahan dan terus setia, sambil juga melalui hidupnya yang baik dan suci, ia membaharui Gereja dari dalam.

Kesetiaan kepada Gereja didasarkan pada landasannya yang kokoh dalam iman akan Kristus. Kristus itulah yang menjadi pusat dari seluruh iman kristen. Kita tidak beriman kepada Paus sebagai pribadi atau kepada Uskup atau kepada Imam. Kesetiaan kepada Gereja lahir dari kesadaran yang mendalam bahwa Gereja menghadirkan seluruh kepenuhan Kristus, baik Sabda-Nya maupun diri-Nya sendiri.

Santo Paulus menyatakan kepada kita bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. Dalam Gereja Kristus, kita semua adalah anggota dan masing-masing dari kita bertanggung jawab untuk membangun tubuh mistik Kristus, yakni Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Dalam kaitan dengan itu, Fransiskan di zaman milenial ini tentu saja dipanggil juga untuk mewujudkan kesetiaanya kepada Gereja secara kreatif. Kita masing-masing dipanggil untuk mengembangkan karunia dan talenta yang diberikan kepada kita untuk membangun Gereja. Kesetiaan seorang imam Fransiskan misalnya ditunjukkan dalam kesetiaannya memimpin dan merayakan perayaan-perayaan liturgi Gereja, memberikan ajaran iman yang benar, dan terus menerus mendorong umat untuk semakin dekat dengan Kristus, sumber kebijaksanaan dan kesucian. Kesetiaan seorang Bruder Fransiskan yang adalah seorang guru misalnya diupayakannya dengan menghadirkan pembelajaran yang efektif dan menarik buat para pelajar milenial dan sambil juga terus setia dalam doa dan rutinitas hidup komunitas.

Kesetiaan pada Gereja bagi Fransiskan dalam zaman milenial ini, teristimewa juga dengan kesetiaan untuk mendengarkan suara Gereja dan mau terus terlibat bersama dengan keprihatinan yang diserukan oleh Gereja, baik pada tingkat Gereja Universal maupun Gereja Lokal. Dalam tahun-tahun terakhir, Gereja melalui Paus dan Para Uskup terus menerus menyuarakan hal-hal aktual untuk menanggapi situasi hidup dalam masyarakat dunia maupun masyarakat dalam konteks lokal. Gereja zaman ini terus menerus berupaya untuk ambil bagian dan ikut terlibat dalam seluruh pergulatan dan pergolakan manusia zaman ini, meski juga tidak luput dan berbagai macam kesalahan dan kekeliruan yang dibuat oleh orang-orang yang berhimpun di dalamnya (a.l: dalam skandal-skandal dan penyelewengan). Andaikata mereka yang bersuara adalah orang yang berdosa dan hidupnya menyimpang dari nilai Injil, berlakulah apa yang dikatakan: “Lakukanlah apa yang mereka katakan, dan jangan meniru perbuatan mereka.”

 

Catatan Penutup

Kesetiaan Fransiskus kepada Gereja katolik yang dinyatakannya melalui kesetiaan kepada hierarki dan semua ajaran suci Gereja, tidaklah patut diragukan. Sejumlah tulisan Fransiskus menyatakan dengan jelas bukti kesetiaan Fransiskus kepada Gereja. Kita bisa memahami konteks kesetiaan Fransiskus ini di tengah banyaknya kelompok yang menentang Gereja dan hierarki pada zamannya, yang juga lahir dari krisis dan penyelewengan dalam tubuh Gereja sendiri.

Kesetiaan Fransiskus kepada Gereja tentu saja bukan sebuah kesetiaan yang buta, tetapi lebih sebagai sebuah kesetiaan yang kreatif. Fransiskus melalui kesetiaannya tidak tinggal diam. Dalam kesetiaan dan komitmennya pada Injil Kristus, ia telah membaharui hidup Gereja dari dalam. Kesetiaan kreatif itulah yang membuat semangat Fransiskus senantiasa menjadi inspirasi bagi kehidupan kaum beriman hingga pada zaman milenial ini.

Sdr. Rikard Selan, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *