Merajut Persaudaraan Melalui Bahasa Isyarat

Jumat (21\05\2021), Para Saudara Dina di Gardianat Greccio, Biara St. Bonaventuara, Yogyakarta mengadakan program belajar bahasa isyarat. Program ini diadakan sebagaimana yang telah direncanakan dalam roadmap Gardianat Greccio, Yogyakarta. Kegiatan ini dimulai Pukul 16.00 WIB yang dihadiri oleh semua saudara di Komunitas Biara St. Bonaventura. Pemberi materinya adalah Ibu Carla, guru bahasa isyarat bagi ABK dan anak didiknya sendiri, Arum yang berkebutuhan khusus (tunarunggu).

“Tujuan dari belajar bahasa isyarat ini adalah agar nantinya para saudara dapat melayani orang-orang  berkebutuhan khusus di manapun ditugaskan. Para saudara menyadari bahwa pelayanan sebagai seorang Fransiskan ditujukan kepada semua orang. Oleh karena itu, melalui program ini diharapkan agar para saudara mampu merangkul orang-orang yang berkebutuhan khusus dalam karya-karya selanjutnya”, ucap Sdr. Gardian, Br. Siprianus Sina, OFM dalam sambutan pada kegiatan tersebut.

Sebagai peendahuluan, Ibu Carla dan Arum menunjukkan kepada para saudara dasar-dasar belajar bahasa isyarat melalui abjad. Para saudara mengikuti arahan dan petunjuk dari pemateri dengan baik. “Agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat memahami maksud kita, dibutuhkan keterampilan membentuk abjad dengan tangan sebagai pengganti komunikasi lisan dengan ucapan kata-kata. Selain itu, perlu pula disertakan mimik dan pelafalan yang jelas, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir di antara kedua belah pihak”, kata Ibu Carla.

Singkat cerita, para saudara kelihatan begitu antusias mengikuti dan mendalami bahasa isyarat ini. Selain belajar abjad, Ibu Carla dan Arum juga mengajarkan kepada kami, cara untuk mendeskripsikan suatu hal, kondisi, serta ragam ucapan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Para saudara diajarkan cara untuk memperkenalkan diri, mengangka, menyebut nama hari, bulan, nama hewan, buah, warna, ucapan salam, ragam cakapan setiap hari, mendaraskan doa (Bapa Kami dan Salam Maria), nama-nama kota di Indonesia, serta bernyanyi menggunakan bahasa isyarat.

Selanjutnya, Ibu Carla berkata,  “Bahasa isyarat yang saya ajarkan dulu berbeda dengan bahasa isyarat yang digunakan sekarang oleh ABK. Oleh karena itu, saya mengajak Arum ke sini agar kita dapat mengikuti dan menyesuaikan bahasa ABK pada zaman sekarang dengan perkembangan yang ada saat ini dan tidak keliru dan salah menafsirkan.” Guru anak-anak berkebutuhan khusus ini juga mengatakan bahwa “bahasa isyarat akan lebih mudah dipahami dan diingat jika diungkapkan melalui nyanyian. Para pemula dapat memulainya dengan menyanyikan lagu yang sederhana seperti lagu anak-anak.” Setelah mengucapkan itu, para saudara pun mulai melantunkan beberapa lagu anak-anak sambil menggerakan tangan, mimik, serta ekspresi wajah yang jelas sesuai dengan setiap ucapan kata dalam lagu-lagu tersebut. Para saudara kelihatan begitu antusias dan sedikit mulai memahami penggunaan bahasa isyarat.

Akhirnya, untuk menutup kegiatan ini, Sdr. Gardian kembali mengambil alih dengan mengucapkan serangkaian terima kasih kepada Ibu Carla dan Arum. Tak lupa pula Ibu Carla berpesan “jika ingin memperoleh hasil maksimal dalam belajar bahasa isyarat ini, kita harus mengatur pertemuan lanjutan, misalnya, seminggu sekali kita belajar bersama, denga tujuan agar apa yang telah kita pelajari bersama ini tidak mudah hilang atau dilupakan melainkan tetap diingat terus. Sekali pertemuan, itu tidak akan efektif dan efisien, sebab, kita cenderung untuk lupa. Sekurang-kurangnya, pembelajaran kita adakan sekali seminggu.” Kegiatan sore ini berahkir pada pukul 17.30 WIB. Sebagai penutup rangkaian kegiatan ini, kepada Ibu Carla dan Arum, mewakili Gardianat, Br. Sipri OFM kemudian menyerahkan bingkisan sebagai tanda terimakasih. Kegiatan sore ini ditutup dengan foto bersama. Pace e bene. ***

Kornelius Jorfaeldi Dadi Mema (Postulan Yogyakarta)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *