PARA DIAKON FRANSISKAN BELAJAR DARI GURU KEDINAAN

Para diakon tertahbis bersama uskup pentahbis, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM

Di tengah situasi pandemi Covid-19, Ordo Saudara Dina Provinsi St. Mikael Malaikat Agung, Indonesia mendapat berkat dengan ditahbiskannya keempat frater menjadi diakon. Keempat frater yang ditahbiskan menjadi diakon adalah Diakon Fransiskus Sulaiman Ottor, OFM, Diakon Eduard Salvatore da Silva, OFM, Diakon Yanuarius Kanmese, OFM, dan Diakon Marciano Almeida Soares, OFM. Keempatnya ditahbiskan oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, Uskup keuskupan Bogor di Novisiat Transitus, Depok pada hari Jumat kemarin (10/07/2020).

Berbeda dari biasanya, lantaran wabah virus corona yang belum berakhir, upacara tahbisan dilakukan dalam lingkup terbatas. Tahbisan hanya disaksikan oleh kalangan internal Fransiskan dalam jumlah yang terbatas. Meskipun demikian, upacara tahbisan ditayangkan secara streaming melalui akun youtube OFM Indonesia bekerja sama dengan Komsos Paroki St. Paulus, Depok sehingga dapat disaksikan oleh umat pada umumnya. Selama perayaan berlangsung, protokol pencegahan Covid-19 diterapkan sebisa mungkin melalui pengenaan masker, menghindari jabatan tangan dan berupaya menjaga jarak.

Dalam sambutan setelah upacara tahbisan, Diakon Marciano menyampaikan ucapan terima kasih secara khusus kepada para “guru kedinaan” yang telah memotivasi dan senantiasa mengingatkan akan aspek penting dalam perjalanan panggilan sebagai Fransiskan. Kehadiran para “guru kedinaan” dinilai menjadi teladan bagi hidup panggilan mereka. Siapakah “guru kedinaan” yang dimaksud? Diakon asal Timor Leste tersebut secara tegas menyebutkan “guru kedinaan” adalah para pasien Rumah Singgah St. Antonius Padua dan masyarakat sederhana yang tinggal di seputaran rel sekitar Stasiun Senen-jatinegara.

Rumah Singgah St. Antonius Padua yang terletak di Tanah Tinggi, Galur, Jakarta Pusat memang memiliki posisi istimewa dalam formasi para Saudara Muda—sebutan untuk para frater Fransiskan. Karya sosial-karitatif yang secara khusus menangani para tuna wisma dan gelandangan tersebut dikoodinir oleh para Saudara Muda. Berbagai kegiatan diselenggarakan oleh para Saudara Muda di Rumah Singgah, mulai dari menampung para tuna wisma, memberi perawatan secara gratis, sampai pada bakti sosial terhadap masyarakat sederhana di pinggir rel kereta api. Melalui pelayanan seperti itu, para Saudara Muda menghidupi dengan lebih nyata spirit kedinaan dan kepedulian terhadap orang-orang kecil secara kontekstual sebagaimana telah ditunjukkan oleh St. Fransiskus Assisi. Santo Fransiskus Assisi pada masa-masa awal pertobatannya tinggal bersama orang-orang kusta yang dijauhi oleh masyarakat umum di kota Assisi. Lebih dari itu, Sang Santo juga memilih untuk menghidupi kemiskinan Injili: kemiskinan yang terinspirasi oleh tindakan kasih Allah yang mengosongkan diri dalam diri Putera-Nya, Yesus Kristus.

Ungkapan kedinaan atau kerendahan hati yang disampaikan oleh Diakon Marciano selaras dengan pesan yang disampaikan oleh Mgr. Paskalis dalam homilinya. “Semua tugas [dalam mewartakan sabda dan menghidupinya] dilaksanakan dalam semangat rendah hati dan persaudaraan”, ungkap Uskup Bogor. Pada akhir homilinya, beliau menekankan, “Gereja kita membutuhkan pelayan-pelayan yang rendah hati.”

Pesan Uskup Bogor tentang kedinaan atau kerendahan hati senada dengan Pesan Paus Fransiskus pada perayaan delapan abad para martir pertama Fransiskan dan masuknya Fernando—nama asli St. Antonius Padua— ke dalam Ordo Saudara Dina. Kepada para Saudara Dina Konventual, Paus Fransiskus berpesan agar para Fransiskan memiliki suatu kegelisahan rohani yang mendorong mereka—seperti St. Antonius Padua—untuk berkelana menyusuri jalan-jalan di dunia sambil memberikan kesaksian akan cinta Tuhan melalui kata-kata dan perbuatan, berbelarasa terhadap mereka yang mengalami kesulitan, orang-orang miskin, melalui upaya menegakkan keadilan dan perdamaian.

Pada akhir upacara tahbisan, melalui Minister Provinsi, Pater Mikael Peruhe, OFM para diakon diutus ke tempat tugas baru. Diakon Eduard Salvatore da Silva, OFM menjalani masa diakonat di paroki St. Paskalis Cempaka Putih, Diakon Yanuarius Kanmese, OFM diutus menjalani diakonat di paroki Kramat dan Panti Asuhan Vincentius Putera, Diakon Marciano menjalani masa diakonat di Novisiat Transitus dan Paroki St. Paulus, Depok,  dan Diakon Fransiskus Sulaiman diutus menjalani masa diakonat di Paroki St. Petrus, Cianjur.

Sdr. Rio OFM.

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *