
Foto bersama para peserta pertemuan.
Pada tanggal 13-17 Mei 2024, diadakan pertemuan para Saudara Bruder tingkat Konferensi (SAAOC) di Singapura. Para Saudara Bruder dari sejumlah entitas di Asia Selatan, Asia Tenggara, Australia, serta Oceania berkumpul dan saling berbagi pengalaman dan refleksi perihal hidup sebagai Fransiskan. Sdr. Nasarius Trimuryanto, OFM, salah satu utusan dari Provinsi St. Michael Malaikat Agung, Indonesia berkenan membagikan pengalamannya dalam mengikuti pertemuan tersebut.
Hari Pertama: Departure
Pada hari Senin dini hari (13/05/2024), sesuai kesepakatan, kami para Saudara Bruder dari dua Provinsi OFM: St. Mikael Malaikat Agung, Indonesia dan Fransiskus Duta Damai, Papua, memulai perjalanan menuju Singapura guna mengikuti The First Lay Brother Meeting tingkat Konferensi Asia Selatan, Asia Tenggara, Australia, dan Oceania (SAAOC). Menumpang Grab Car dan taksi Blue Bird kami berenam, yakni Sdr. Tanto, Sdr. Roberto, Sdr. Trimur, Sdr. Elias Logo, Sdr. Agustinus Adil, dan Sdr. Markus Meran menuju Bandara Soekarno Hatta. Tiba cukup awal di Bandara, kami memiliki waktu cukup untuk urusan check in dan imigrasi.
Tepat pukul 10.55 WIB pesawat yang kami tumpangi lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Changi di Singapura. Turbulence ringan menggoyang pesawat selama perjalanan. Setelah terbang selama satu setengah jam, pesawat mendarat di Bandara Changi di Singapura. Antusiasme tampak pada wajah rombongan. Beberapa di antara kami telah mengunjungi Singapura sebelumnya. Beberapa lainnya baru pertama kali . Kesempatan berfoto di salah satu bandara terbaik di dunia ini tidak dilewatkan.
Jantung berdebar ketika berhadapan dengan pihak imigrasi, terutama Sdr. Markus Meran dari Papua. Kesalahan input data perjalanan membuatnya harus memberikan “klarifikasi” kepada pihak imigrasi. Kami berlima setia menunggu sampai semua urusan selesai. Kelegaan terpancar pada wajah Sdr. Markus ketika semua urusan imigrasi selesai. Kelegaan itu menjadi sukacita ketika menjumpai Sdr. Titus dan Sdr. Vernon Chua yang telah menanti kedatangan kami di bandara. Canda tawa yang sempat terputus karena peristiwa imigrasi mulai terjalin kembali.
Hujan deras menyapa ketika kami meninggalkan Bandara Changi. Firasat bertanya, “apakah ini berarti kami membawa berkah bagi pertemuan pertama para saudara Bruder tingkat Konferensi ini?” Heaven knows! Mode bicara Bahasa Inggris perlahan-lahan diaktifkan. Walau tentu saja jatuh-bangun. Menggunakan mobil ukuran cukup besar kami berenam diantar ke tempat pertemuan, yaitu Rumah Retret La Salle House, 490 East Coast Road. Sepanjang perjalanan kami menikmati city view. Setelah menyantap hidangan makan siang yang cukup enak, kami mengistirahatkan saudara keledai sejenak sebelum acara pembukaan pada sore hari.
Tepat pukul 17.00 waktu Singapura, acara pembukaan diadakan. Sebanyak 15 orang peserta dan beberapa anggota panitia berkumpul di Kapel Rumah Retret. Sebagai tuan rumah, Sdr. Vernon Chua, Saudara Bruder dari Kustodi St. Anthony, Singapore-Malaysia-Brunei, memulai acara dengan sambutan dan pengarahan. Dalam sambutannya, Sdr. Vernon menyoroti keputusan Kapitel Umum Ordo 2021 yang memutuskan setiap konferensi dan entitas di dalam Ordo didorong untuk mengadakan pertemuan para Saudara Bruder. Pertemuan ini merupakan tahap persiapan bagi pertemuan internasional para Saudara Bruder yang dijadwalkan akan diadakan pada bulan Mei 2025.
Setelah sesi “welcoming and orientation” dari Sdr. Vernon, pertemuan para Bruder tingkat Konferensi ini secara resmi dibuka oleh Sdr. Derrick Yap, Kustos Kustodi St. Anthony sekaligus Presiden SAAOC, dalam perayaan Ekaristi. Meskipun baru berjumpa, suasana persaudaraan mulai terjalin di antara kami. Setelah perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan makan malam bersama. Keterbatasan bahasa dalam komunikasi tidak menyurutkan antusiasme para saudara untuk bercengkrama dan saling menyapa.
Setelah makan bersama, para Saudara Dina Singapura mengajak kami rekreasi bersama di tepi pantai. Acara rekreasinya sederhana: kami berjalan kaki menuju pantai, duduk menikmati udara pantai, memandang padatnya langit Singapura oleh lalu lintas pesawat, serta saling berbagi cerita. Meskipun kami berbicara dalam bahasa yang berbeda, tetapi “bahasa cinta” mampu mengungkapkan rasa persaudaraan. Dalam perjalanan pulang ke rumah retret, kami melewati jalanan yang bersih, melalui pertokoan, dan singgah di suatu convenient store untuk membeli keperluan pribadi. Rekreasi sederhana dengan berjalan kaki ini mengingatkan kami semua akan identitas sebagai Saudara Dina yang selalu berjalan bersama, bercakap-cakap sepanjang perjalanan, mengasah kecakapan komunikasi dan men-sharing-kan pengalaman hidup bersama.

Rekreasi bersama menjadi kesempatan mempererat persaudaraan. Perbedaan bahasa tidak lagi menjadi kendala. Sharing pengalaman panggilan juga melibatkan “bahasa kasih”.
Hari Kedua: Contemplatives Formed for Pastoral Ministry in a Fractured World
Rangkaian pertemuan para Saudara Bruder ini mengacu pada keputusan Kapitel Umum Ordo 2021 yang mendorong semua saudara untuk mempertimbangkan cara-cara baru dalam “membuka jalan kepada kontemplasi, formasi, dan inisiatif pastoral dan evangelisasi.” Oleh karena itu, pertemuan para saudara Bruder tingkat entitas, konferensi, maupun internasional memiliki satu tujuan, yakni menyajikan kepada seluruh Ordo “cara-cara baru dalam mengekspresikan kharisma Fransiskan kita.” Selama pertemuan, melalui dinamika dialog dan kontemplasi, para saudara bertekad untuk menghasilkan buah-buah positif berdasarkan amanat Kapitel Umum 2021 serta mempersiapkan diri untuk konferensi internasional para Saudara Bruder yang akan datang.
Pertemuan ini mengikuti pola Kapitel Umum Ordo yang menekankan dialog dan sharing pengalaman hidup serta berfokus pada tiga topik, yaitu panggilan sebagai manusia kontemplatif, formasi Saudara Dina untuk karya misi, dan sumbangan kharisma Saudara Bruder dalam inisiatif pastoral dan evangelisasi. Presentasi pertama dari Sdr. Michael Goh, Fransiskan Singapura, berisi pokok-pokok refleksi dan insipirasi bertolak dari pengalamannya bergabung dalam Persaudaraan Fransiskan dan memilih menjadi Bruder. Pengalamannya masa lalu di mana Bruder dianggap sebagai saudara “kelas dua” mendorongnya untuk merefleksikan formasi para Saudara Dina semestinya menekankan unsur fraternitas dan minoritas. Formasi tidak saja membentuk setiap pribadi dapat melayani dengan baik tetapi juga agar dapat bersaudara dengan baik. Pada hari pertama ini, para saudara diajak berefleksi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 3-4 saudara. Hasil sharing dibagikan dalam pertemuan pleno.
Acara hari pertama ditutup dengan kunjungan ke komunitas induk para Saudara Dina Kustodi St. Anthony. Lokasi komunitas tersebut dalam satu kompleks dengan Gereja St. Mary of the Angels. Para peserta diajak mengelilingi lingkungan komunitas dan gereja. Pada bagian bawah Gereja terdapat Columbarium yang diperuntukkan bagi orang-orang Katolik yang telah meninggal. Pelayanan di Columbarium termasuk salah satu karya penting para Saudara Dina di Kustodi St. Anthony Singapore-Malaysia. Kunjungan diakhiri dengan ibadat sore di kapel komunitas dan makan malam bersama. Makan malam disiapkan dan dimasak oleh para saudara sendiri.
Hari kedua: Forming contemplatives for pastoral ministry in a fractured world
Pertemuan hari kedua diisi oleh presentasi dari Sdr. Charles Bernard, Bruder asal Provinsi St. Thomas, India. Beliau juga adalah Sekretaris Studi dan Formasi tingkat Konferensi SAAOC. Pada paparannya, beliau berbicara tentang formasi awal para saudara, khususnya calon Bruder. Beliau menekankan pentingnya pembinaan yang “menyentuh hati” serta menghantar para formandi untuk mengenali lebih dalam identitas Fransiskan dan cara untuk menghayatinya. Kharisma fraternity mengarahkan para saudara pada posisi penting nilai persaudaraan, ikatan pada Persaudaraan atau Ordo daripada sekedar pelayanan yang hebat. Oleh karena itu, pembekalan untuk para formator merupakan hal yang sangat penting agar mereka dapat mendampingi dan membimbing para saudara dalam masa formasi dan menginternalisasi nilai-nilai kharisma Fransiskan.

Bukan sekadar acara makan-makan tetapi menjadi kesempatan mempererat ikatan persaudaraan.
Meskipun entitas-entitas persaudaraan yang tercakup dalam SAAOC memiliki situasi dan konteks yang berbeda, namun kenyataan tersebut juga menggambarkan luas dan dalamnya kesempatan para Bruder untuk memberi sumbangsih pada entitas mereka masing-masing. Sdr. Charles mengajak para peserta dalam mendefinisikan kembali identitas sebagai “saudara” dan “Bruder,” merenungkan panggilan tersebut khas dengan sungguh sekaligus menawarkan pesan khusus pula bagi Persaudaraan secara umum. Ia mengajak para saudara Bruder untuk menyadari bahwa panggilan mereka juga merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup dan kekudusan Gereja.
Hari ketiga: Pastoral ministry and evangelisation in a fractured world
Pada hari ketiga, Sdr. David Leary dari Provinsi The Holy Spirit, Australia, moderator pertemuan ini, menyampaikan materi terkait interaksi antara dimensi emosional dan spiritual setiap saudara Bruder. Pengolahan dimensi emosional dan spiritual para saudara Bruder akan membantu merkea untuk terbuka kepada “yang lain”, yaitu orang-orang yang dijumpai dalam pelayanan. Perjumpaan dengan “yang lain” menuntut para Bruder untuk kembali ke dalam diri sendiri dan semakin mengenal diri sendiri. Dalam perjumpaan dengan “yang lain” tersebut para Bruder perlu mendengarkan dengan hati serta membangun komitmen dalam pelayanan untuk membebaskan orang lain dari ketertindasannya. Maka kiranya perlu mempertajam sensitivitas indera dalam memahami situasi yang terjadi di sekitar serta melihat dan membantu orang-orang yang terbelenggu pada kesulitan-kesulitan mereka. Perjumpaan para saudara, baik Bruder maupun Imam, kiranya perlu menjadi pertemuan yang membebaskan dan menyentuh hati “yang lain”.
Setelah presentasi, para peserta diajak untuk latihan brainstorming. Latihan tersebut berfokus pada pokok-pokok penting pelayanan pastoral dan evangelisasi para Bruder dalam konteks kehidupan persaudaraan. Beberapa pokok penting yang diangkat adalah: mengakui dengan rendah hati pekerjaan yang dijalankan, menjalaninya dengan sukacita, bersiap untuk menceritakan kisah tersebut sehingga kehidupan para Bruder dapat dipahami dan dihargai, memiliki lebih banyak pengalaman mendengarkan, saling berbagi secara terbuka guna memperdalam pemahaman tentang kehidupan bersama, merenungkan inti pilihan untuk menjadi Saudara Dina, serta refleksi kritis perihal menjalani hidup sebagai Saudara Dina.

Senyum sukacita dalam perjumpaan mesti diabadikan dalam foto bersama.
Pada hari ketiga ini kami diberi kesempatan mengunjungi komunitas Greccio di Bukit Batok. Komunitas Greccio merupakan salah satu komunitas Fransiskan Singapura tempat para Saudara Muda menjalankan masa formasi awal. Dalam kunjungan ke komunitas tersebut, kami diajak berdoa ofisi yang dirangkai dengan ibadat cahaya. Pada kesempatan itu, setiap saudara menyalakan satu lilin yang sudah disiapkan oleh para Saudara Muda Singapura. Setelah ibadat, kami diajak untuk makan malam bersama, menikmati kebersamaan dengan para Saudara Muda dan masakan lezat racikan Sdr. Marvin Voo, seorang Saudara Muda yang menjalani masa fraternal exposure di Indonesia beberapa bulan lalu.
Hari keempat: Go and make disciples
Sdr David Leary merangkum diskusi dan refleksi para saudara Bruder selama pertemuan dalam beberapa poin, sebagai berikut:
- Pentingnya keseimbangan dalam hal pelayanan pastoral dan kehidupan persaudaraan yang mendukung. Keterlibatan berlebihan dalam pelayanan dapat mengisolasi para saudara dari Persaudaraan.
- Pendampingan formatif para calon Bruder yang lebih baikdengan menekankan kharisma Fransiskan dari pada sekedar kemampuan profesional saja. Selain itu, persiapan formator untuk mendampingi para saudara, baik calon Bruder maupun calon Imam, perlu diperhatikan dengan serius.
- Perlu lebih banyak diskusi dan dialog tentang peran Saudara Bruder dalam Persaudaraan sehingga menarik minat orang-orang muda untuk menjadi Fransiskan Bruder.
- Kata “saudara” merupakan pilihan paling tepat dalam memanggil sesama Saudara Dina, baik yang berprofesi sebagai Imam maupun Bruder.
- Memberi perhatian lebih pada kefransiskanan dan persaudaraandari pada tahbisan saja sehingga memberi ruang yang sama baik saudara Bruder dan Imam dalam berkontribusi bagi Persaudaraan.
- Pentingnya berbagi cerita dan pengalaman di antara para Saudara Bruder, baik pengalaman menggembirakan maupun mengecewakan, sehingga akan memperkaya panggilan masing-masing saudara. Perlu kesempatan lebih banyak untuk saling mendengar dan bercerita satu sama lain.
- Pentingnya mendengarkan dengan hati, menemani saudara lain dengan hati, dan menciptakan ruang yang aman bagi saudara lain dan orang lain untuk berbicara dengan kita.
Acara hari terakhir ditutup dengan pemilihan utusan untuk Pertemuan Para Bruder Internasional pada tahun 2025. Sebelum pemilihan, Sdr. Derrick Yap menyampaikan surat dari Minister General untuk para peserta pertemuan. Pada suratnya tersebut Minister General mengungkapkan kegembiraannya atas terselenggaranya pertemuan para Bruder SAAOC, yang memang telah diharapkan oleh Kapitel Umum 2021. Menurut Minister General, pengalaman serta suara para Bruder di SAAOC penting, baik bagi Konferensi maupun bagi seluruh Ordo.
Minister General mendukung ekspresi atas panggilan yang diterima oleh para Saudara Dina, entah sebagai Saudara Bruder maupun Saudara Imam. Minister menekankan kembali desakan dari Kapitel Umum agar setiap Saudara Dina memperdalam pemahaman identitasnya, terutama terkait kedinaan atau minoritas. Minister General menekankan sikap rendah hati yang menjadi ciri hidup Saudara Dina dalam karya dan sumbangannya bagi Gereja dan dunia. Minister General mengingatkan hal ini dengan mengutip perkataan Santo Fransiskus, “Semua saudara harus berusaha untuk menepati kerendahan dan kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus…dan mereka harus bersukacita ketika hidup di antara orang-orang yang tidak terpandang dan hina, di antara orang miskin dan lemah, orang sakit dan penderita kusta, dan di antara para pengemis di tepi jalan” (AngBul IX, 1-2).
Sementara itu, pemilihan utusan untuk Pertemuan Saudara Bruder Internasional pada 2025 menghasilkan empat utusan sebagai berikut:
- Sdr David Leary, OFM(Provinsi Holy Spirit, Australia -New Zealand)
- Bernard Shaw, OFM(Provinsi St. Thomas, India)
- Titus Angga Restuaji, OFM(Provinsi St. Mikael Malaikat Agung, Indonesia)
- Vernon Chua, OFM(Kustodi St. Anthony, Malaysia-Singapura)
Seluruh kegiatan pertemuan Saudara Bruder ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Sdr. Derrick Yap. Misa diawali dengan lagu berbahasa Indonesia “Dengan Gembira Bersama melangkah” yang memberi makna bahwa saudara di manapun diutus harus membawa sukacita dan kegembiraan yang berasal dari Tuhan. Selesai perayaan Ekaristi, seluruh peserta menuju ruang makan untuk makan siang bersama dan selanjutnya meninggalkan Rumah Retret La Salle Singapura untuk kembali ke entitas masing-masing dalam semangat dan sukacita persaudaraan.
Kontributor: Sdr. Nazarius Trimuryanto OFM
Ed.: Sdr. Titus OFM & Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar