Santa Klara Dari Assisi Mengajar Tentang Formasi

Santa Klara Dari Assisi
Mengajar Tentang Formasi[1]

Oleh : Marie Beha, 0. S.C., PH.D.[2]

diterjemahkan oleh : Sdr. Alfons Suhardi OFM

Santa Klara Assisi dan para saudarinya.

Santa Klara Assisi dan para saudarinya.

Apakah kamu pernah dengan sungguh-sungguh memikirkan untuk mendirikan sebuah ordo atau kongregasi religius? Kebanyakan di antara kita pastilah dapat memberikan jawaban segera: tidak. Hal itu sebuah ide yang belum pernah kita pertimbangkan secara seri­us: “Itu bukanlah panggilanku,” jawaban kita dengan tenang. De­mikian juga, kemungkinan besar, kebanyakan kita tidak pernah berpikir untuk menjadi bagian dari kelompok pendiri. Pada puncak semangat adventurir kita, paling-paling beberapa dari kita telah membuka sebuah rumah baru, mendirikan sebuah fondasi, mem­buka sebuah misi. Itu sudah sangat mencukupi.

Kendati demikian dalam arti tertentu setiap religius terpanggil un­tuk menjadi seorang pendiri. Bilamana sebuah kelompok orang, yang berteguh hati untuk menjalani kehidupan bersama, datang berkumpul untuk pertama kalinya, mereka ini sedang mendirikan sebuah comunitas yang baru. Bila seseorang memasuki sebuah kelompok yang sudah mapan, hasilnya ialah munculnya sepe­rang­kat baru hubungan-hubungan inter personal dan dengan demikian muncul sebuah komunitas yang baru.

Proses mendirikan ini, pembentukan sebuah komunitas, selalu ter­jadi. Hal ini merupakan sebuah dinamika sehari-hari, sedemikian biasa sehingga kita tidak memberikan banyak perhatian – kecuali bila kita mengalami kesulitan-kesulitan. Lalu kita mungkin lari ke­pada para “ahli” untuk mengadakan sebuah workshop, sebuah bu­ku baru, kaset terbaru, dengan harapan dapat menemukan sebu­ah mukjijat.

Berdasarkan pengalaman saya, teori sangat jarang memenuhi harap­an-harapan ataupun kebutuhan-kebutuhan kita. Kerja keras membentuk komunitas kita tetap harus kita lakukan. Itulah yang telah menjadi tantangan semua mereka yang telah memulai ordo-ordo tau kongregasi-kongregasi kita. Pada tingkat yang jauh lebih kecil, itulah tantangan tiap orang dari kita, ketika kita mulai lagi sekarng ini untuk dididik ataupun dibentuk dalam sebuah komu­ni­tas pendidikan. Itu pun kebenaran hidup kita masing-masing: kita mengembangkan diri sebagai individu bila kita berkumpul bersama untuk membangun komunitas, dan komunitas yang kita bentuk itu menjadi unsur formatif bagi kita. Proses itu merupakan sebuah lingkaran perkembangan yang terus menerus bagaikan sebuah spi­ral (per), baik yang bersifata personal maupun sosial; kita berkem­bang bersama, atau kita tidak berkembang sama sekali.

Setiap orang dari kita menginginkan formasi semacam itu dalam ko­munitas – suatu kerinduan yang diungkapkan dalam harapan in­sani untuk berkembang secara menyeluruh, terintegrasi dan ke­sa­tuan. Namun proses itu mahal juga; harganya muncul dalam semua tenaga dan usaha untuk mengisolasi dan menyingkirkan hal-hal yang menjadi ancaman perpecahan/disintegrasi pribadi dan bersa­ma. Setiap pribadi menderita perpecahan internal: daging bernafsu melawan roh, dan roh memberontak melawan peng­ungkapan nyata sehari-hari. Komunitas-komunitas tercabik-cabik karena perselisih­an-perselisihan bilamana emosi melibas kebenar­an, bilamana pen­dapat-pendapat yang bertentangan mengeras menjadi sikap mem­per­tahankan diri. Maka pilihan pun diambil, dan perpecahan pun muncul mengikutinya. Keluarga-keluarga inti ter­be­lah; hidup berte­tangga terpecah; ras-ras saling menghancurkan; bangsa-bangsa pun saling berperang. Kita mengenal seluruh litani kesengsaraan dan ketakutan yang membesar. Akankah kita mene­mukan jalan pu­lang kembali ke rumah?

Hati kita memberi jawaban: hanya bila kita kembali bersama-sama bersatu, mengijinkan daya dorong menuju ke kesatuan dan persa­tuan, mendorong atau menarik kita masuk ke dalam realitas ko­munitas yang formatif. Jawaban ini memunculkan dua pertanyaan fundamental: bagaimana setiap individu membentuk diri dalam sebuah komunitas yang sedang berkembang? Bagaimana komuni­tas itu dibangun oleh individu-individu yang berkumpul bersama-sama dalam semua keberbedaan mereka yang cemerlang?

Saya ingin menunjukkan beberapa cara bagaimana formasi Komu­nitas terjadi, dengan menggunakan prinsip-prinsip dan contoh-contoh dari ceritera perihal Klara dari Asisi dan komunitas kontem­platif yang dia dirikan. Saya memilih contoh ini karena saya yakin bahwa komunitas kontemplatif melayani Gereja yang lebih luas de­ngan mempersembahkan sebuah mikrokosmos yang kuat dari “apa” dan “bagaimana”, dari pribadi-pribadi yang datang berkumpul da­lam komunitas formatif. Saya juga ingin menggaris-bawahi penting­nya komunitas dalam karisma Klara, di mana komunitas ini berdiri mendampingi devosi dia yang sangat terkenal kepada Nyonya Kemis­kin­an (Lady Poverty) dan praktek doa kontemplatifnya yang penuh ka­sih.

——————————

[1]  Dalam artikel ini, kata “formation” ini akan muncul banyak kali bersama dengan kata sifatnya: formative. Biasanya kata ini diterjemahkan dengan “pendidikan” (yang cenderung formal, baku, pengajaran, kaku), tetapi sebenarnya jauh lebih luas dari itu, seperti pembentukan diri, yang jauh lebih luwes dan kaya. Memang unsur ‘pendidikan’ selalu ada. Dalam kaitan dengan itu, maka akan sering muncul istilah: formative community dan community formation. Karena itu dalam terjemahan ini, saya pilih terjemahan berikut: formasi untuk formation dan formatif untuk formative. Maka akan muncul: komunitas formatif (formative community): ‘sebuah komunitas tempat orang atau yang memberi kesempatan orang mendidik atau membentuk diri pribadi’ dan formasi komunitas (community formation): ‘gaya atau bentuk pendidikan dan/atau pembentukan diri yang terjadi atau yang dimungkinkan oleh komunitas’, dapat juga berarti ‘gaya/cara bagaimana komunitas itu membentuk/membangun diri’, tentu saja dengan perantaraan para anggotanya. (Penerjemah)

[2] Suster Marie Beha, OSC., Ph. D., mantan Abdis dan Pembimbing Pendidikan, sekarang seorang anggota Dewan dari sebuah Biara Klaris.

FORMASI TAHAP AWAL

FORMASI TAHAP AWAL

Formasi pertama bagi komunitas terjadi di dalam keluarga inti, di mana orang tua dan anak-anak kandungnya berkembang sebagai pribadi-pribadi, berkumpul bersama dalam sebuah proses perkem­bangan timbal balik yang bergulir menuju integrasi yang selalu lebih besar. Bila salah seorang anggota keluarga itu berkembang, maka semua anggota pun berkembang; biae keluarga menjadi lebih dipersatukan, maka setiap anggotanya diperkaya. Itulah perganda­an yang diakibatkan oleh proses pemersatuan dalam sebuah komu­nitas. Hal itu paralel dengan kekuatan pemecah belah dalam sebu­ah keolompok, di mana anggota-anggotanya tidak menyatu bersa­ma; dalam kelompok semacam itu, maka setiap orang menderita kerugian.

Orang tidak dapat mengelak dari hukum pertama formasi komuni­tas ini: kita berkembang bersama; kita terpecah-belah bersama. Ki­ta menyaksikan hal ini dalam perpecahan yang menyedihkan dari sebuah keluarga: anggota-anggotanya pun terburai dan tidak ber­da­ya. Tetapi kita pun merayakan, bilamana sebuah keluarga berkem­bang, karena seorang anggotanya telah mencapai tahap mampu me­menuhi suatu kebutuhan yang lebih besar.

Klara dari Asisi dapat diambil sebagai contoh bagi beberapa dari di­namika-dinamika tersebut. Dalam keluarganya, dia belajar polah-pola tingkah laku dasar yang dipandang diterima dalam ukuran-ukuran kesantunan jaman itu. Dalam konteks inilah, dia mulai menjalin relasi dengan orang-orang lain dan dunia yang lebih luas di sekitarnya. Sosialisasi dasar semacam itu merupakan salah satu fungsi yang diharapkan dari formasi awal dalam keluarga.

Keluarga Klara termasuk kalangan bangsawan; sejak dini dia bela­jar perihal apa makna dan bagaimana menyerap nilai-nilai kelas so­sialnya itu ke dalam konsep siapa dirinya sendiri, sekaligus juga ke dalam konsep relasi-relasi interpersonalnya. Jangan heran bila St. Fransiskus memanggil dia “Lady (Nyonya) Klara”[3].

Dalam keluarga besarnya, Klara mulai menjalin hubungan dengan banyak orang dari berbagai macam jenis. Itu merupakan penga­lam­an yang tak ternilai bagi seseorang yang kemudian akan dipanggil untuk membentuk komunitas dengan pribadi-pribadi yang begitu beraneka ragam, yang terpikat pada cita-cita Fransiskan.

Keluarga juga memberikan dasar bagi pelajaran-pelajaran pertama­nya dalam disiplin keagamaan dengan memberikan contoh-contoh nilai yang dia jadikan miliknya sendiri. Ibu Klara adalah seorang yang saleh luar biasa, yang mengungkapkan kesalehannya itu de­ngan mengambil resiko mengadakan ziarah yang jauh-jauh. Tidak mengherankan bahwa puterinya yang sulung kemudian dapat men­dekap resiko mendirikan pola hidup religius yang tidak biasa. De­mikian juga, di dalam keluarganya dia belajar memiliki perasaan yang peka akan loyalitas terhadap Gereja, dan hal ini diungkapkan­nya dalam keta­atannya kepada Sri Paus, bahkan sewaktu dia mem­protes keputus­annya.

Bagi Klara, keluarga juga merupakan sebuah sumber formasi me­nentang budaya-budaya, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya abad XIII di Asisi. Ibu Klara mengijinkan, dan kiranya juga mendorong, puterinya member kepada orang-orang miskin, bahkan mengijinkan dia mengirimkan memilih sendiri bagian-bagian dari hidangan makanannya untuk diberikan kepada mereka yang kurang beruntung. Keberpihakan realistis pada orang misikin semacam itu tidaklah pernah gampang dan disukai orang.

Yang lebih penting lagi, keluarga memberikan pola yang kemudian menjadi teramat sangat penting bagi relasi Klara kemudian: dia be­lajar apa maknanya sebagai seorang saudari bagi yang lain, sebuah model yang akan dipergunakan untuk menerangkan dan menyusun relasi timbal balik dalam komunitas yang akan dia bangun. Kiranya bukanlah suatu kebetulan bahwa saudari kandungnya, Catharina dan Beatrix, keduanya bergabung padanya dalam membangun ko­munitas di San Damiano; demikian juga ibunya dan beberapa anggota dari keluarga besarnya.

Merupakan kegeniusan kedua Klara dan Fransiskus, bahwa mereka mengambil paradigma sederhana setiap hari perihal relasi sauda­ra/saudari dan membuatnya inti pusat visi komunitas religiusnya. Dia tidak sekedar melanjutkan model hidup religius hirarkis yang laku waktu itu. Kedua pendiri itu menyebut semua orang – bahkan mereka yang memegang pimpinan – berhubunngan satu dengan yang lain sebagai saudara dan saudari sekandung.

Apa artinya menjadi sebagai seorang saudari atau saudara kan­dung? Pertama-tama, itu merupakan pengalaman dasariah akan re­lasi timbal balik: bila saya adalah saudarimu, maka engkau adalah saudariku. Kami mengalami cara yang sama menjadi-satu-sama-lain dan dengan demikian berhubungan satu sama lain secara setara. Orang tidak bisa melarikan diri dari relasi saling keteri­katan. Bukanlah dimaksudkan bahwa hubungan hubungan kami menjadi membeku dalam bentuk-bentuk yang kaku. Sebaliknya, re­lasi antar saudara-saudara kandung adalah penuh dinamika, selalu baru, dan karena itu harus diperbaharui dalam semua perubahan suasana kehidupan sehari-hari.

Saudari-saudari biologis mengalami orang tua yang sama; mereka memiliki hal-hal yang sama hanya karena dilahirkan. Sangat mung­kin mereka mengalami standard dan cara hidup yang sama; dengan kata lain, mereka bersama mempunyai suatu kehidupan yang seru­pa. Pada saat yang sama, setiap saudari adalah unik, dan dia bela­jar mengenal sesuatu dari bakatnya yang khusus, justru dengan mengamati betapa bedanya dia dengan saudari-saudara sekan­dungnya. Berbahagialah orang yang konsep dirinya dibentuk mela­lui apresiasi pada kehidupan bersama dalam keluarganya.

[3] Perkataan “Lady” tidak mudah di-Indonesiakan. “Lady” merupakan sebuah kata sapaan/gelar kehormatan bagi bangsawan, yang menunjukkan mutu pribadinya dan sikap orang terhadapnya; dan kata ini masih dipergunakan sampai sekarang. Tidak setiap orang dapat begitu saja disapa dengan kata ‘lady’. Kata ‘nona’ (belum menikah), ‘nyonya’ (sudah menikah) ataupun ‘ibu’ (sapaan untuk setiap wanita) tidak menunjukkan kebernasan isi kata ‘lady’, terlalu miskin dan kosong; tidak ada istimewanya. Dalam kosa kata Fransiskan Indonesia, biasanya diterjemahkan dengan “Nyonya Kemiskinan”. Saya ikuti saja kebiasaan itu. Tapi bila dikenakan pada Klara, saya memakai Ibu Klara. (Penerjemah)

OTORITAS KOMUNITAS

OTORITAS KOMUNITAS

Keluarga inti juga memberikan pengalaman-pengalaman pertama seseorang atas otoritas – terjadi sangat segera – yakni otoritas orang tua. Di sini relasi itu tidaklah timbal balik sepadan: saya tidak berhubungan dengan seseorang pemegang otoritas sama dengan ca­ra dia berhubungan dengan saya. Pengalaman pertama Klara atas relasi yang sedemikian itu, tentulah sangat positif, karena kemu­di­an dia mampu mengemban peran otoritas tanpa harus menjadi oto­riter. Dia akan mengundang semua suster-susternya bertanggung­jawab di dalam komunitas. Dalam hal ini, sangatlah mungkin bah­wa dia mengambil ibunya sebagai contoh. Ortulana, sebagaimana telah kita lihat, adalah seorang sosok yang kuat; di sekitarnya di­kumpulkannya sekelompok kerabat dan teman-teman untuk saling meneguhkan dan mendukung di dalam doa dan pekerjaan-peker­ja­an baik. Hal itu merupakan semacam komunitas awam yang telah mengilhami perjuangan Klara dalam formasi komunitas religius.

Sebaliknya, peran ayahnya yang sudah tidak ada, tidak membe­ri­kan peran contoh. Apakah sang ayah ini berada jauh sedang berpe­rang, atau apakah sudah meninggal dunia? Kita tidak tahu; kita hanya dapat mencatata ketidak-berdaaannya dan menerka-nerka dalam hal apa absensi sang ayah ini telah mempengaruhi Klara, dengan menyaksikan, antara lain misalnya, kenyataan bahwa Klara sangat sering mengacu pada Fransiskus sebagai “Bapa Fransiskus.”

Ceritera perihal Klara ini menunjukan bahwa seorang pribadi itu dibentuk bagi komunitas dengan jalan dibentuk di dalam komu­ni­tas. Proses itu dimulai dalam keluarga asal kita, dan kita selalu membentuk diri dengan contoh keluarga – kadang-kadang memba­ngunnya pada dasar yang diberikan, dan di lain kesempatan de­ngan jalan menolaknya. Bagaimana pun juga, kita kembali ke per­mulaan ini, sambil berulang-ulang menemukan “bagaimana” dan “mengapa” dari pengalaman-pengalaman kita masa kini dalam ko­munitas formatif sekarang ini.

Mengingat-ingat dan menceriterakan kembali kenangan-kenangan keluarga masa lalu sungguh memberikan inspirasi. Beberapa dari pengalaman-pengalaman formatif yang pertama dapat diceriterakan dalam lingkup sebuah komunitas dan akan bermakna; kenangan seseorang dapat saja menyulut ingatan pada yang lain. Sharing se­macam itu dapat juga berguna untuk meningkatkan saling pe­ngertian di dalam komunitas. Bila kita mendengar bagaimana orang lain telah dibentuk oleh masa lalunya, kita pun mampu lebih baik menghargai respons-respons mereka dan mereka juga bisa meng­hargai respons-respons kita!

Kesaksian-kesaksian yang diberikan selama proses kanonisasi Kla­ra memperlihatkan bahwa kenangan-kenangan semacam itu pasti­lah telah terjadi di dalam komunitas yang dia dirikan di San Dami­ano. Kalau tidak, bagaimana para Suster dapat mengetahui perihal ‘ramalan’ yang telah dibuat oleh ibunya Klara sebelum dia lahir? “Ibu Klara berceritera kepada Suster-suster bagaimana ibunya, keti­ka dia mengandungnya, pergi ke gereja. Sementara dia berdiri di de­pan salib dan berdoa dengan sungguh kepada Tuhan mohon untuk menolong dan melindunginya selama proses melahirkan yang ber­bahaya itu, dia mendengar suatu suara yang berkata kepadanya: ‘Kamu akan melahirkan seberkas cahaya yang akan bersinar terang benderang di dunia’”. (Process 3:28). Ceritera itu selalu dicerite­ra­kan kembali selama bertahun-tahun supaya diingat kembali seka­rang ini dalam bentuknya seperti yang ada sekarang ini. Demikian juga kenang-kenangan kita membentuk (atau merusak) kita. Kita memilih untuk menyampaikan yang paling penting dari semua ke­nangan itu, ketika kita berceritera perihal ceritera hidup kita.

PILIHAN-PILIHAN FORMATIF DALAM KOMUNITAS

PILIHAN-PILIHAN FORMATIF DALAM KOMUNITAS

Formasi awal dalam komunitas keluarga meresap sedemikian dalam sehingga kebanyakan berada dibawah sadar dan hampir tidak dike­nal kembali. Kita tidak mempersoalkan lagi kebenarannya sampai kita bersinggungan dengan dunia yang lebih luas dan memaksa kita untuk memahami pendapat-pendapat dan pilihan-pilihan lain. Pada waktu itulah kita harus memilih. Setelah periode mempertanyakan­nya yang tidak nyaman, kita bisa meneguhkan kembali pandangan yang berasal dari keluarga kita. Baru pada saat itulah pandangan itu menjadi milik kita sendiri. Atau kita bisa juga menolak nilai-nilai yang berasal dari keluarga, dan memilih tata nilai yang berbeda. Ke­banyakan pemilihan nilai-nilai yang kita peroleh dari keluarga itu, merupakan tindakan seorang yang dewasa – yang dapat terjadi pada saat umur berapa pun.

Kita dapat menyaksikan proses yang sama dalam Klara, ketika dia merespon upaya-upaya pihak keluarga untuk menyediakan baginya seorang suami yang tepat. Harapan-harapan sanak saudaranya – dan adat istiadat waktu itu – adalah bahwa seorang gadis muda yang cantik melakukan bagiannya untuk menambah harta keka­ya­an keluarganya dengan jalan mengikat pernikahan yang mengun­tungkan. Sungguh merupakan harapan bahwa Klara pun berbuat tepat seperti itu, dan tidak “ada alasan” untuk menolaknya. Apa yang dia tunggu-tunggu? Pada usianya yang ke 18, dia sudah me­nunda pernikahannya terlalu lama. Tetapi, Klara masih tetap meno­lak; ada sesuatu hal lain yang berkecamuk dalam hatinya.

Kemudian Klara mendengar perihal Fransiskus. Setiap orang di Asi­si mengetahui penolakannya yang dramatis atas segala bentuk wa­risan dari ayahnya[4], kepergiannya untuk hidup sebagai orang mis­kin dan bekerja untuk merehab kapel San Damiano yang runtuh. Klara mengirim derma untuknya. Itulah permulaan pertukaran tim­bal balik yang akan memperkaya kedua mereka itu – dan semua orang dalam sejarah.

Klara pergi untuk mendengarkan Fransiskus berkhotbah, dan Fran­siskus pergi ke rumah Offreducio untuk berbicara dengan Klara. Apa yang dia dengar begitu berbeda dengan pendapat-pendapat yang berlaku pada waktu itu: dari Fransiskus Klara belajar bagai­mana kekayaan dan kedudukan dapat diganti dengan kesederhana­an dan kerendahan-hati, bagaimana derma yang diberikan kepada orang miskin dapat diubah menjadi hidup yang dipersembahkan pada Nyonya Kemiskinan.

Pilihan ada di tangan Klara. Pilihan pun telah dia ambil, dengan te­guh dan penuh keberanian. Klara mengikatkan dirinya kepada Tu­han sebagai Fransiskan wanita pertama. Semua pilihan-pilihan hi­dupnya yang berikut diringkaskan pada pilihan pertamanya itu. Kita pun dapat mengalami sebuah relasi yang membentuk kita sede­mikian dalamnya sehingga kita tidak lagi menjadi sama seperti sebelumnya. Atau kata-kata dan contoh dari seorang tokoh pem­bimbing dapat mengubah arah dari hidup kita. Kita tidak pernah dapat mendahului komunitas formasi bersama; kita hanya dapat meresponnya dengan hati yang siap terbuka.

Keputusan Klara untuk bergabung dalam komunitas Fransiskan itu hanyalah permulaan. Fransiskus dan Saudara-saudaranya meneri­ma Klara pada Hari Minggu Palma 1212, memberikan kepadanya jubah sederhana, dan membawanya ke biara Benediktin yang terde­kat demi keamanan. Perlawanan dari pihak keluarga akan menguji pilihannya itu, tetapi pada akhirnya hal itu justru akan memper­ku­atnya. Proses meninggalkan sesuatu demi memulai sesuatu, demi tumbuh menjadi lebih kuat dalam komitmen seseorang kendati per­lawanan, merupakan bagian dari kebanyakan ceritera perihal pang­gilan. Itulah jalan kita memasuki sebuah komunitas yang baru dan merupakan permulaan mengalami kekuatan formatifnya.

Komunitas yang dipilih Klara adalah komunitas Fransiskus dan pa­ra pengikutnya yang pertama. Suster-suster Benediktines dengan siapa dia memulai hidup religiusnya tidak dapat memberikan for­ma­si yang dia perlukan; dia harus bergerak terus. Menemukan bah­wa grup tertentu ini ya atau tidak “tepat untuk saya” adalah bagian yang penting dari formasi dalam komunitas. Pertanyaan “Kepada apakah saya dipanggil?” harus dijawab dalam sebuah komunitas yang khusus tertentu. Dalam formasi tahap awal, yang diperlukan adalah kebebasan dan keterbukaan, saling menilik dan menentu­kan (discernment) pada kedua belah pihak, individu dan komunitas. Kemudian, pertanyaan yang sama perihal komunitas yang tepat ha­rus ditimbulkan kembali, tetapi kali ini bukan pertanyaan yang ter­buka; pertanyaan itu harus ditanyakan pada latar belakang berupa tahap/tingkat manapun dari jawaban komitmen yang telah dia am­bil. Dan tahap itu harus berkembang sejalan dengan pilihan-pilihan yang diambil dan konsekwensi-konsekwensi yang telah dihayati. Mi­salnya, seorang postulan biasanya dalam beberapa minggu mem­pu­nyai tingkat komitmen yang sangat rendah; untuk memulai tahap novisiat diperlukan komitmen lebih dan lebih-lebih lagi untuk profesi. Kita melihat proses formatif ini dalam kejelasan yang sema­kin nampak tumbuh dalam pilihan hidup Klara.

[4] “Patrimony” tidak hanya berarti warisan dalam bentuk harta benda, melainkan juga nama, keluarga, keturunan dan semua yang ada sangkut-pautnya dengan itu.

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *