Satu Langkah pada Jalan Ekumenis dan Dialog Antar Agama

[tab name=”Berita”]

Satu Langkah pada Jalan Ekumenis dan Dialog Antar Agama

Pijak Langkah para Saudara Dina kita di Turki

Pengantar

Sudah satu dekade lebih, kita, sejumlah Saudara Dina, hadir di Istambul (nama lama: Konstantinopel), kendati di sana tidak terdapat umat yang menganut Agama Katolik Roma. Maksud kehadiran kita di sana “hanyalah” sekedar hadir di tengah-tengah umat Muslimin di negara yang menjadi wilayah perdana penyebaran ajaran Yesus Kristus di luar tanah terjanji, Palestina (Israel). Di wilayah yang kemudian berkembang menjadi negara Turki inilah, Rasul St. Palus tanpa mengenal lelah menyebarkan Kabar Gembira Yesus Kristus dan telah menumbuhkan Gereja Perdana yang berkembang (Baca Kisah para Rasul). Bahkan, menurut tradisi, Bunda Maria pun sesudah Yesus naik ke Surga, bermukim di wilayah ini, di kampung Efesus, bersama dengan Yohanes Penginjil. Di sini pula Yohanes menulis Kitab Perjanjan Baru terakhir yang terkenal dengan nama Kitab Wahyu.

Karena betapa pentingnya kedudukan Turki dalam sejarah kekristenan dan juga demi menghayati amanat Bapa Fransiskus untuk hidup sebagai orang Kristen di tengah-tengah umat Muslimin, maka Ordo kita memutuskan untuk mengutus para saudara yang merasa dirinya dipanggil oleh Tuhan, pergi dan hidup di tengah-tengah umat Muslimin di Turki, tepatnya di Istambul, yang juga menjadi kedudukan Patriarkh Gereja Ortodoks Yunani terpenting ke dua di samping Aleksandria di Mesir.

Tahun yang lalu, salah seorang saudara yang telah beberapa tahun tinggal di sana, mengunjungi Provinsi kita dan memperkenalkan proyek rohani ini kepada kita semua. Maka diambil kesepakatan bersama bahwa kita pun akan mengutus dua orang saudara untuk bergabung dalam proyek internasional Ordo kita ini. Kedua Saudara itu, yakni Felyanus Dogon dan Antonius Duma, sekarang sedang mempersiapkan diri belajar di Roma. Kita doakan bersama supaya kesaksian Fransiskan ini mendatangkan buah-buah yang ‘ranum dan nikmat’ bagi masyarakat sekitar, sehingga orang yang melihat kebaikan Tuhan itu lalu memuji Tuhan di surga.

Konferensi Ekumenis dan Antar Iman

Di kota bersejarah Istambul, dari 13 sampai 28 Oktober 2014 diselenggarakanlah Kursus On Going Formation X perihal Dialog Ekumenis dan Antar Iman. Para peserta tahun ini berasal dari berbagai kebangsaan: Spanyol, Italia, Republik Demokratis Kongo, Pakistan, Perancis, Kepulauan Philipina, India dan Zimbabwe. Beberapa dari mereka itu tinggal di negara lain: Maroko, Albania dan Italia. Dari para peserta itu ada seorang peseta istimewa: Sdr. Ketigern Milmine, SSF, Fransiskan yang menjadi anggota Persaudaraan Anglikan. (Lihat ‘Gerakan Fransiskan dalam Gereja Anglikan’ dalam situs ini).

Di samping kegiatan dalam persidangan-persidangan dan studi berkelompok, kegiatan-kegiatan yang paling penting adalah kunjungan selama tiga hari ke Gereja-gereja Kitab Wahyu, ambil bagian dalam acara doa para “Alevi” dan sebagai penutup acara, diselenggarakan doa antar iman bersama dengan sahabat-sahabat kita para Penari Darwish, dalam rangka perjalanan dalam “semangat Asisi”. Kelompok juga diterima dalam audiensi dengan Patriarkh Ekumenis, Bartholomeus I, yang berbicara perihal betapa penting dan gembiranya sewaktu Gereja Ortodoks Yunani mempersiapkan diri menyambut kedatangan Paus Fransiskus. Patriarkh pun berkata: “kami bekerja bersama demi hal yang suci, yakni persekutuan yang penuh antara dua Gereja kita,” dan ditambahkan, “juga para imam dan umat beriman kita harus melaksanakan bagian mereka.”

Bila diperkenankan Tuhan, Inshaallah, pertemuan yang berikut akan diadakan di Spanyol dan Italia pada bulan Oktober 2015.

Sumber: http://www.ofm.org/ofm/?p=8496&lang=en

Catatan tambahan:

  1. ‘Alevi’: Para Alevi menganggap diri menghidupi ajaran mistik dari Mohammad sendiri, al Kuran dan para anggota Keluarganya., Keduabelas Imam dan keturunan mereka. Mereka, karena itu, dianggap sebagai penganut Shi’ah dan sebagian terbesar, sekitarn 25 juta, hidup di Turki. Kelompok-kelompok minoritas tersebar di Bulgaria, Siprus, Yunani Kaukasus, Yunani, Iran dan orang-orang Turki diaspora. Di samping bahasa Arab, bahasa-bahasa asli masing-masing masih dominan juga dalam ritual dan doa-doa mereka. Ibadah mereka pun lebih berlangsung dalam perkumpulan (cemevi) daripada di masjid. Dalam upacara-upacara terdapat unsur musik dan tari, dan baik perempuan maupun laki-laki sama-sama berpartisipasi.

Lihat selanjutnya http://en.wikipedia.org/wiki/Alevism.

  1. Para Penari Darwish: Dalam agama Islam terdapat aliran mistik yang disebut Tasawwuf. Kelompok Tasawwuf ini terdiri atas berbagai Tarikat, yang dapat kita sejajarkan dengan adanya berbagai Ordo dan Kongregasi dalam Gereja Katolik. Yang mereka kejar juga mirip-mirip: kesempurnaan hidup dalam kesatuan antara manusia dan Allah. Ada Tarikat-tarikat Tasawwuf tertentu yang dalam usahanya mencapai kesatuannya dengan Allah, mereka memakai jalan menari berputar-putar diiringi dengan musik khusus. Mereka inilah yang dinamakan para Darwish. Setelah beberapa waktu menari berputar-putar, mereka pun ada yang menjadi ‘trans’, seperti mabuk dalam pertunjukan kuda lumping dalam kebudayaan kita.

(Penyunting: Alfons S. Suhardi, OFM)
[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Suasana Persidangan

Suasana Persidangan

Doa Bersama dengan para Alevi

Doa Bersama dengan para Alevi

Para peserta mengunjungi Sinagoga

Para peserta mengunjungi Sinagoga

Menyaksikan para penari Darwish

Menyaksikan para penari Darwish

Audiensi dengan Patriarch Bartolomeus, Istambul

Audiensi dengan Patriarch Bartolomeus, Istambul`

Mengunjungi Mesjid Haya  Sofia, Istambul

Mengunjungi Mesjid Haya Sofia, Istambul

Kunjungan ke Gereja Ortodoks

Kunjungan ke Gereja Ortodoks

Istambul Asia dan Istambul Eropa, dipisahkan oleh selat Bosporus

Istambul Asia dan Istambul Eropa, dipisahkan oleh selat Bosporus

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *