Sehat ala Fransiskan

YOGYAKARTA, PAPRINGAN – Segenap anggota Komunitas Biara Santo Bonaventura Yogyakarta merayakan Hari Gardianat dengan mengadakan kegiatan pendalaman materi tentang kesehatan yang dibawakan oleh Sdr. Bambang, OFM yang bertugas sebagai dokter di RSUD Santo Yosep Boro. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Jumat (24/09/2021), bertempat di aula rekreasi Biara St. Bonaventura, Yogyakarta.

Sebelum kegiatan tersebut dimulai, segenap anggota Komunitas Biara St. Bonaventura (Bitora) mengadakan ibadat dan dilanjutkan dengan misa bersama yang dipimipin oleh Sdr. Wolfan Apriliano, OFM. Selanjutnya, anggota komunitas Bitora diarahkan ke dalam pendalaman materi yang dipandu oleh Sdr. Sipri, OFM sebagai moderator kegiatan dengan Sdr. Bambang, OFM sebagai pemateri.

“Sehat itu bukan sekedar tidak sakit” ungkap Sdr. Bambang dalam kalimat pembukanya untuk memulai kegiatan pendalaman materi ini. Beliau menjelaskan bahwa sehat adalah suatu kondisi sempurna seorang manusia, baik fisik maupun mental. Oleh karena itu, dalam kehidupan setiap manusia, kondisi sehat itu sendiri sangat didambakan oleh setiap orang.

Dalam kaitannya dengan pola kehidupan para Fransiskan, beliau juga menjelaskan bagaimana arti sehat menurut spiritualitas Fransiskan. Sebelumnya, ia menjelaskan bagaimana kehidupan Fransiskan sering disalahartikan beberapa orang, bahwa hidup miskin itu sendiri memiliki kaitan yang erat dengan kata jorok, kotor, dan malas.

“Kemiskinan yang sehat menurut spiritualitas Fransiskan adalah membangun keharmonisan, keseimbangan, dan keselarasan dengan kehendak Allah sendiri” ungkap Sdr. Bambang. Dengan demikian, pola pikir masyarakat tentang cara hidup miskin seorang Fransiskan yang diidentikan dengan jorok, kotor, dan malas sebenarnya menyimpang dari pandangan spiritualitas Fransiskan itu sendiri. Jadi, “sesungguhnya pola hidup miskin itu diabdikan pada doa dan kebaktian yang suci”, lanjut beliau.

Sehat Menurut Kitab Suci

Merujuk pada kisah penciptaan, “kondisi sehat dapat dilihat pada situasi di taman Eden, saat di mana semua yang diciptakan dalam keadaan baik adanya”, jelas beliau lebih lanjut. “Sakit itu anugerah. Jadi, para saudara jangan merasa resah, putus asa, mengeluh, dan meggerutu, melainkan menerima saudari sakit itu dengan penuh kegembiraan. Sebab, ketika kita sakit, tubuh mencoba memberi kita peringatan bahwa ada yang tidak beres dalam diri kita. Kemudian, dengan sakit pula, kita dilatih untuk semakin kuat, tabah, dan sabar dalam sukacita untuk menghadapi anugerah sakit dari saudara badan kita ini”, tutur Sdr. Bambang pada akhir pendalaman materi ini. Tidak hanya sampai di situ, kebersamaan Sdr. Bambang dengan segenap anggota komunitas Bitora kemudian berlanjut dengan makan malam serta rekreasi di aula Bitora.

Ada begitu banyak pengetahuan yang kami dapatkan dari kegiatan ini. Misalnya, dimulai dari bagaimana sehat itu yang sesungguhnya, dan bagaimana kami dapat menjaga kesehatan itu dengan baik. Kesehatan tidak semata-mata diartikan sebagai kesehatan fisik, namun merupakan suatu keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental. Selain itu, kami juga diajak untuk bersikap lebih peka lagi terhadap kelestarian lingkungan sekitar, agar nantinya dapat dinikmati juga oleh generasi selanjutnya.

Walaupun kegiatan ini dilaksanakan di tengah wabah virus corona, tetapi tidak menyurutkan semangat dari semua anggota komunitas Bitora untuk lebih waspada agar terhidar dari ancaman wabah Virus Corona. Pertemuan Gardianat ini juga merupakan pertemuan Gardianat pertama yang dihadir oleh keduabelas Postulan OFM angkatan 2021/2022. Pace e bene.

Sdr. Valentino Elvis Halyo (Postulan Yogyakarta)

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *