Refleksi Atas Spiritualitas Fransiskan

Spiritualitas Fransiskan

Refleksi ini merupakan adaptasi dari presentasi Sdr. Neil O’Connell, OFM pada 3 Oktober 2009, di pastoran gereja St. Yosep dari Keluarga Kudus di Harlem, di mana ia tinggal. Sdr. Neil membagikan pemahamannya atas konsep spiritualitas Fransiskan kepada umat paroki setempat.

Sebuah ajakan dari seorang pastor paroki di paroki tempat saya tinggal, yaitu ajakan untuk berbicara tentang spiritualitas Fransiskan kepada umat paroki setempat, telah menggugah saya untuk merefleksikan kembali spiritualitas Fransiskan, setelah saya hidup sebagai seorang Fransiskan yang telah berkaul kekal selama 51 tahun; spiritualitas yang telah saya janjikan secara publik untuk saya hidupi dengan sungguh.

Karena saya sendiri telah berkarya selama 38 tahun di pertuguran tinggi, maka saya perlu menyebutkan pula referensi atau sumber-sumber bacaan dalam tulisan say aini, sebagaimana saya biasa menuntutnya pada para mahasiswa saya. Selain dari refleksi saya pribadi, saya juga mengambil beberapa inspirasi dari Fransiskus, Klara, Bonaventura, Duns Scotus, pengalaman luar biasa dari ayah saya sendiri yang tumbuh di wilayah Paroki St. Patrick, Buffalo, New York; kesaksian-kesaksian mulai dari Uskup Timon, Sdr. Boniface Hunley, OFM, guruku di SMA; magister Novisiat Sdr. Peter Sheridan, OFM dan Michael Himes, saudara dari Kenneth Himes, OFM.

Respon Spontan

Spiritualitas Fransiskan bukanlah sebuah spiritualitas yang dapat dijelaskan dengan gamblang, terstruktur, sebagaimana spiritualitas-spiritualitas lain yang terbentuk pada awal Reformasi Katolik pada abad ke 16. Spiritualitas Fransiskus merupakan sebuah respon spontan terhadap rahmat Allah dan wahyu personal yang diterima Fransiskus. Ia  merupakan sebuah proses yang terus Fransiskus hidupi hingga akhir hayatnya.

Pada tahun 2009, para Fransiskan tengah merayakan peringatan persetujuan dari Paus atas draft awal dari cara hidup para Saudara Dina, yang akhirnya diformulasikan oleh Fransiskus, di bawah tekanan dari Paus, untuk kemudian disebut dan diterima sebagai Anggaran Dasar dengan Bulla tahun 1223. Bahkan Anggaran Dasar tersebut bersifat sangat minimal dan, dengan demikian, menjadi sumber intepretasi yang beraneka ragam dari berbagai keluarga Fransiskan. Para Fransiskan, entah secara individual maupun kelompok, akan terus menjadi “perantau dan orang asing” di jalan peziarahan spiritualitas Fransiskan yang terus berkembang. Dengan mengatakan demikian, sisi Jerman dari diri saya justru melanggar pola spiritualitas Fransiskan ini dengan mengetengahkan kepada anda sekalian pandangan personal terstruktur tentang spiritualitas Fransiskan yang selalu berkembang dan berubah ini.

Inti dari spiritualitas Fransiskan adalah kesatuan Allah, yang seluruhnya adalah kasih dan kebaikan. Kasih yang tak terbatas dan penuh kebaikan, pada dirinya sendiri, tidak dapat menahan luapan kasih yang tumpah ruah. Meskipun Fransiskus sendiri memiliki hubungan yang problematis dengan ayahnya sendiri, namun ia melihat Allah sebagai Bapa yang seluruhnya adalah kasih dan kebaikan, yang mengalir kuat kepada Allah Sang Putera, dan Roh Kudus.

Spiritualitas kita memiliki banyak variasi tema yang kuat; tema-tema tersebut menekankan pentingnya inkarnasi, komunitas, damai dan keselarasan antara kontemplasi dan aksi.

Fokus pada inkarnasi

Dari diskusi ini dapat kita lihat bahwa spiritualitas Fransiskan bersifat sangat inkarnasional. Kasih trinitaris yang meluap-luap sepanjang masa mewujud dalam diri Putera Allah yang mengejawantahkan diri dalam tubuh manusia. Dosa manusia bukanlah sebuah “dosa yang membahagiakan” yang menyebabkan inkarnasi terjadi, namun sebuah penyakit yang mematikan yang mengharuskan adanya sebuah peristiwa Paskah yang mengandaikan adanya inkarnasi untuk memperbaiki dan mengembalikan kemanusiaan pada rahmat awali, yang selalu mampu mengalahkan dosa awal. Kebangkitan sebagai bagian dari peristiwa inkarnasi merupakan meterai yang menjamin keabadian dari peristiwa inkarnasi. Baptisan membaptis juga semua ciptaan.

Spiritualitas Fransiskan bersifat Pentekostal. Fransiskus dan para pengikut pertama selalu mengalami tergerakkan dan dterinspirasi. Menghadapi larangan dari Gereja yang tidak mengizinkan Anggaran Dasar baru bagi hidup religius, Fransiskus meyakinkan bahwa cara hidupnya dterinspirasi oleh Allah sendiri, dan ia pun mampu meyakinkan Gereja. Fransiskus menyerukan bahwa Minister General dari Ordo-nya adalah Roh Kudus sendiri. Maka tidak heran bahwa relasi dengan Roh Kudus dan Maria memainkan peranan yang penting dalam Pentekostalisme Fransiskan dan membawa spiritualitas Fransiskan melampaui batas-batas yang barangkali tak mungkin dilakukan orang lain, karena bagi Roh Kudus segala sesuatunya adalah mungkin.

Memilih “Kita” dari pada “Saya”

Spiritualitas Fransiskan bersifat komunal, menekankan pada “kita” daripada “saya”. Meskipun setiap manusia merupakan suatu spesies yang berbeda dan terpisah, setiap manusia tumbuh dan berkembang di dalam suatu komunitas. Komunalisme Fransiskan pengertian yang cukup menenangkan, yaitu bahwa kita dapat memilih teman-teman kita, namun kita tidak dapat memilih saudara ataupun saudari kita. Dalam konteks masyarakat yang lebih luas, komunalisme Fransiskan mendemokratisasi aristokrasi dan mengubah semua orang menjadi tuan dan nyonya, mengganti tatanan kelas yang bersifat peperangan atau persaingan dengan tatanan kelas yang kooperatif atau Kerjasama. Komunalisme Fransiskan selalu ada untuk yang lain.

Spiritualitas Fransiskan itu merendah, rendah hati, miskin. Spiritualitas Fransiskan mengakui bahwa segala sesuatunya adalah anugerah dari Allah tritunggal, termasuk talenta dan kemampuan-kemampuan kita. Karena para Fransiskan tidak memiliki sesuatu pun, maka mereka justru tampak mengenakan kebesaran dengan baik. Dan mereka adalah pelayan-pelayan ciptaan yang sejati dan setia, yang selalu menegaskan bahwa “hingga saat ini, kita belum berbuat apa-apa”.

Spiritualitas Fransiskan bersifat praktis. Tidak berpuasa melebihi apa yang Gereja tuntut dari kita semua. Makan apa yang dihidangkan, berkotbah tanpa kata-kata dan memberi makan 100 orang perempuan tak beruntung sebelum tengah hari.

Spiritualitas Kebijaksanaan

Spiritualitas Fransiskan itu sangat bijak, berjalan beriringan dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah pengetahuan yang terbungkus dengan cinta intuitif yang bermandikan cahaya ilahi. Maka, pendidikan Fransiskan mempromosikan proses pembelajaran dengan perasaan dan membagikan kekayaan kebijaksanaan kepada orang miskin dan orang yang terasingkan.

Spiritualitas Fransiskan itu penuh damai. Namun, spiritualitas Fransiskan selalu mendorong perdamaian yang aktif dan selalu bergerak keluar. Mentransformasi kekerasan di dunia dengan perdamaian dan rekonsiliasi.

Inilah, para saudara, refleksi pribadi saya. Dan pada kenyataanya, satu hal paling menonjol dari spiritualitas Fransiskan adalah bahwa spiritualitas ini berwarna-warni coraknya. Sebagaimana pula berwarna-warni pula para pria dan wanita yang saat ini tengah menghidupinya.

Sdr. Neil, mantan presiden St. Bonaventure University. Sekarang bekerja sebagai staf di Catholic campus minister di Manhattan Community College and Herbert H. Lehman College di Bronx, di mana ia juga adalah seorang asisten profesor di bidang sejarah.

(Terjemahan oleh Sdr. Titus, OFM)

Post navigation