Terima Kasih Sdr Peter Aman (Catatan Sdr Frumen Gions OFM)

15 Desember 2020. Sdr Peter Aman pergi. Untuk selamanya. Dijemput saudari maut badani. Ke tempat tak seorang pun dapat mengambilnya kembali. Berat untuk bisa rela. Dalam iman kita memang percaya: kelak kita akan berjumpa lagi. Tetapi entahlah. Sore hari itu sedih meliputi. Air mata berlinangan. Butuh waktu untuk menerima kenyataan. Dua tiga kali  bolak balik ke kapel. Menyampaikan doa. Dengan protes. Dengan pasrah. Juga dengan teriak dan rindu: Tuhan, anugerahkanlah istirahat abadi kepada Sdr Peter. Sesekali Sdr Igno Ngari ke kamar saya menemani dan memahami peristiwa ini.

16 Desember 2020 kami merayakan misa requiem untuk keselamatan jiwa Sdr Peter. Hadir dalam ekaristi arwah ini: Sdr Igno, Sdr David, Sdr Ophin, dan Rm Meki (Projo Keuskupan Jayapura) dan saya sendiri. Masing-masing kami memberikan kesaksian tentang beliau. Sdr Igno Ngari menyebutnya sebagai pribadi yang mencintai Gereja dan yang mengartikulasikan kepedulian pada perawatan lingkungan hidup sebagai suatu gerakan iman di NTT dan Manggarai khususnya. Sdr Ophin bercerita tentang konsistensi, komitmen dan cinta Sdr Peter untuk komunitas. Populer istilah Sdr Peter saat bersama di Rumah formasi Padua, “Jangan korupsi waktu komunitas”. Sejauh saya ingat. Berkat Sdr Peter dan tentu saja didukung oleh keterlibatan sejumlah saudara dina lainnya sejak tahun 2000-an, corak hidup fransiskan dapat dikenal banyak orang (dan pemerintah lokal Manggarai) melalui gerakan pertanian lestari dan pembentukan kelompok-kelompok tani, ekopastoral di Pagal, dan gerakan masyarakat menolak aneka bentuk pertambangan.

Kehilangan itu berasa sekali di hari-hari awal setelah kepergiannya ke keabadian. Yang tinggal tetap adalah kenangan, kisah dan pengalaman hidup bersama dan tentang Sdr Peter. Saya teringat di tahun 1995, dia ke Seminari Pius XII Kisol melakukan promosi panggilan. Secara jenaka dan memikat, Sdr Peter menyajikan St Fransiskus Assisi dan kekayaan hidup rohaninya. Banyak dari antara kami kemudian lalu makin mantap dan memilih fransiskan.

Teringat sejumlah kelakar ketika berjumpa pada pertemuan rabuan atau saat hari gardianat sepanjang 2012-2017. Cerita-cerita mengalir. Spontan. Ceria. Dalam. Mengundang tawa. Teringat lagi refleksi tentang macam-macam tema: persaudaraan, solidaritas, cinta ibu bumi, sembah bakti, kepekaan, kepedulian sosial, peran Gereja dalam menghidupkan JPIC, ….Teringat lagi tindakan cacah sampah usai makan. Tentang pembagian sampah organik dan non organik. Tentang kursus JPIC dan turnamen JPIC cup antar rumah formasi. Tentang cerita-cerita perihal situasi politik, lokal dan nasional. Sdr Peter memang pandai menyajikan cerita secara menarik. Juga penuh inovasi dalam melakukan sesuatu.

Di antara cerita-cerita itu, Sdr Peter menyajikan juga keutamaan-keutamaan para saudara. Disebutkannya tentang Pater Flori yang tiap kali berkotbah tak pernah lebih lama dari 2 menit. Tentang Pater Cletus Groenen yang penuh sikap devosional mendaraskan doa Rosario. Tentang Pater Suryo dan Pater Tarjo yang tekun belajar dan menggunakan bahasa Manggarai untuk pewartaan. Tentang Pater Yustinus Semiun yang populer dengan “metode baru” pengumpulan kolekte umat. Tentang Pater Eddy Kristiyanto yang membuat heboh anak-anak rantau Manggarai di tahun 1984/1985 lantaran tulisannya di HIDUP perihal sebutan “pastor sentris”. Dan banyak lagi….

Rasanya tak berlebihan pula untuk menyebut Sdr Peter Aman sebagai seorang “tokoh”. Ketokohannya dikokohkan oleh concern beliau pada soal relasi iman dan praksisnya dalam pergumulan hidup sehari-hari. Sdr Peter meyakini bahwa iman Kristiani – kalau diterima dan dihayati secara sejati – dapat menjadi motivasi dasariah dan bahkan mendorong para pemeluknya dari dalam untuk bersama-sama dengan orang lainnya ikut serta dalam gerakan kasih dan perubahan ke arah yang lebih manusiawi. Mutu iman Gereja ditentukan – antara lain – oleh ekspresi dan perwujudannya dalam hidup di dunia ini. Dalam salah satu tulisannya dia berpandangan: Gereja Katolik adalah Gereja Yesus Kristus dan bukan Gereja Pilatus- Kaisar.

Tema seputar iman dan relevansinya ini telah ditulis oleh Sdr Peter dalam tesis lisensiat dan doktoralnya. Adapun tesis lisensiatnya berkaitan dengan misi Gereja dalam hubungan dengan masalah-masalah sosial dengan referensi khusus pada dokumen Sollicitudo rei socialis dari St Yohanes Paulus 2. Dalam disertasi doktoralnya dia menulis inti Gereja sebagai “komunitas moral” dan peran yang mesti dimainkan oleh Gereja dalam mempromosikan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

 

Satu lagi. Tuang Peter Aman adalah juga budayawan Manggarai. Predikat ini lahir dari kecintaan beliau pada Manggarai, tanahnya, budayanya, lingkungannya, sistem nilai dan religiositas masyarakatnya. Bahwa dia dengan fasih sekali berbicara dalam bahasa Manggarai  itu tak sekadar karena dia lahir dan besar di Manggarai. Lebih dari itu, dia percaya dan menghayati: kebudayaan yang dianut masyarakat adalah locus theologicus bagi bertumbuh dan berkembangnya nilai-nilai Injil. Sdr Peter ini mengenal dengan baik sejumlah go’et (ungkapan-ungkapan khas Manggarai dan umumnya memiliki fungsi pedagogis, yakni dipakai sebagai ajakan untuk membentuk atau mendidik). Sdr Peter menggunakan bahasa ini saat berkotbah atau saat mengisi beberapa acara adat.

Sdr Peter tak peduli dengan klasifikasi budaya tinggi atau rendah, primitif atau maju, kolot atau modern, miskin atau kaya, …dst. Klasifikasi seperti itu mungkin perlu tetapi jelas kurang dan bahkan tidak injili. Dan pasti bertentangan dengan spirit fransiskan, setidaknya kalau kita ingat AngTBul 16 dan Kidung Saudara Matahari. Klasifikasi seperti itu dapat menumbuhkan semacam mental kolonial dan perasaan imperialis-superior. Dan persis mental seperti itu menghalangi kita melihat keindahan dan menemukan kebenaran yang Tuhan tampilkan dalam aneka budaya dan pengalaman sosial kultural. Kita tak bisa dan tak pantas mencegah Tuhan berkarya di tempat-tempat lain dan dalam budaya-budaya lainnya. Sdr Peter menerima dan menghayati budaya Manggarai dengan perspektif fransiskan. Dan karena itu menemukan dalam budaya tersebut peluang penuh rahmat untuk menyajikan warta gembira Kristus.

Terima kasih dan selamat jalan Tuang Peter.

Desember, Roma-Italy

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *