Tiba-Tiba

     sumber foto: www.kompasiana.com/image

Salah satu yang mencolok di beberapa komunitas kita pada masa pandemi ini adalah banyaknya yang “tiba-tiba”. Sebut saja, tiba-tiba ada yang kirim makanan dan buah-buahan, tiba-tiba ada yang sumbang beras, tiba-tiba ada donatur yang transfer, tiba-tiba datang sejumlah vitamin, dan lain sebagainya. Juga ada bentuk “tiba-tiba” yang lain, misalnya tiba-tiba 8 saudara dinyatakan terpapar covid, tiba-tiba pohon beringin di Novisiat Transitus tumbang, tiba-tiba rumah postulat di Pagal sudah dirubuhkan, tiba-tiba pembangunan ruang kelas di Depok sudah dimulai, dan lain sebagainya. Tentu saja, sesuatu yang “tiba-tiba” selalu memunculkan tanda tanya siapa dan mengapa.

Baru-baru ini, di website Provinsi “tiba-tiba” muncul tulisan reflektif tentang “tumbangnya pohon beringin kita”, yang arah gagasannya kepada “sense of crisis”. Tumbangnya pohon beringin, raga, ekonomi dimaknai sebagai situasi krisis di mana ada begitu banyak orang sedang mengalami kesulitan. Terhadap mereka yang terdampak krisis akibat pandemi, kita perlu mewujudkan solidaritas kita. Demikianlah pesan akhir dari tulisan itu. Pesan solidaritas sebagai bentuk “sense of crisis” tentulah bukan hal baru. Ada begitu banyak tokoh yang sudah menyerukan hal tersebut, mulai dari tokoh global seperti Paus Fransiskus, tokoh nasional seperti Jokowi, juga beberapa figur sentral dalam Gereja seperti Kardinal, Uskup Bogor, sejumlah provinsial tarekat religius, dan lain sebagainya. Barangkali arah lain dari tulisan yang “tiba-tiba” muncul tersebut adalah bagaimana sikap fransiskan sebagai Ordo di tengah pandemi. Apakah solidaritasnya diungkapkan lewat membentuk “gugus covid fransiskan”, lewat “self-protection and prevention” melalui protokol kesehatan, menghentikan rencana pembangunan rumah Padua?

Pertanyaan yang membutuhkan jawaban tersebut melahirkan “tiba-tiba pula” tanggapan terhadap usulan “sense of crisis” yang dianggap sebagai bentuk partisipasi dalam solidaritas global. Sebab, ketika “sense of crisis” didalami, maka ada dilema di sana di mana ada dua tujuan yang bertentangan satu sama lain hendak dicapai sekaligus. Di satu pihak, kita sebagai fransiskan mendapat begitu banyak solidaritas dari para donatur mulai dari sandang-pangan hingga papan. Misalnya saja, pembangunan rumah Padua akan segera dimulai karena para donatur tetap berpegang pada komitmen untuk memberi donasi. Mereka bersolider dengan kita yang adalah saudara dina. Atas kemurahan mereka tentu kita perlu mengucap syukur dan terima kasih. Sebab, kita tinggal “terima dan pakai”. Tidak perlu lagi banyak diskusi dan dialog. Di lain pihak, atas nama identitas dan spiritualitas kita sebagai saudara dina, kita juga dipanggil untuk bersolider dengan mereka yang mengalami begitu banyak kesulitan akibat pandemi. Kita perlu memperlihatkan secara terang-terangan ke hadapan publik bahwa kita memiliki “sense of crisis” dalam bentuk “tunda dulu semua bentuk pembangunan”. Paling tidak, misalnya, rumah Padua yang masih sangat layak huni ditunda dulu pembangunannya. Lantas, kita mau pilih yang mana?

Menghadapi dilema biasanya diperlukan sikap bijak, empati, dan kreativitas. Bijak berarti kemampuan mengambil keputusan berdasarkan hal yang prinsipil dan menjawab kebutuhan dasar. Empati berarti kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Sedangkan kreativitas berarti kemampuan untuk menemukan jalan alternatif tanpa harus merugikan pihak lain. Saya kira, pilihan melaksanakan “agenda pembangun rumah” tetap berjalan karena kita menghormati jerih payah donatur yang bermurah hati dan bersolider dengan kita sudah tepat. Selain itu, pilihan tersebut tidak pula dimengerti sebagai negasi terhadap “sense of crisis”. Sebab, tidak salah ada orang yang bersolider dengan kita. Kita beryukur bahwa masih ada orang peduli pada saudara dina dengan sukarela dan tanpa paksaan di tengah kesusahan akibat pandemi ini. Itulah wujud “sense of crisis”.

 

Sdr. Tauchen H. Girsang OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *