Tanjung Pinang, OFM—Kemacetan segera mengepung mobil yang kami tumpangi tatkala memasuki ruas jalan tol Kemayoran―Bandara Soekarno-Hatta. Aplikasi Google Map maupun Waze menunjukkan kemacetan parah lebih dari sepuluh kilometer. Berjibaku bersama kendaraan lain, mobil yang kami tumpangi bergerak perlahan-lahan menuju Bandara. Pada hari Jumat, 10 Maret 2023, bersama dengan Minister Provinsi, saya mengantar Sdr. Robertus Agung Suryanto, OFM dan Sdr. Yohanes Sevi Dohut, OFM menuju pulau Bintan. Keduanya akan menjalankan misi baru OFM Indonesia di pulau Bintan. Secara administrasi gerejawi, wilayah pulau Bintan merupakan bagian dari Keuskupan Pangkal Pinang. Turut serta dalam rombongan pengantar Sdr. Satur dan Mas Sugeng sebagai driver namun keduanya mengantar sampai di Bandara saja.

Berpose bersama setelah proses check in di Bandara Soetta
Mendapat jadwal keberangkatan pada pukul 14.00 WIB, kami beruntung meninggalkan Biara Fransiskus, lebih awal, pada pukul 11.00 WIB sehingga tiba di bandara pukul 13.00 WIB. Proses check in dilakukan tanpa terburu-buru walaupun kemudian waktu keberangkatan menjadi ngaret, pukul 15.00 WIB. Selama satu jam kami berada dalam pesawat, menunggu pilot menggerakkan burung besi itu.
Sambutan Hangat di Batam Centre
Menumpangi maskapai Batik Air, kami tiba di Bandara Hang Nadim, Batam, sekitar pukul 16.30. Rute perjalanan yang kami tempuh adalah Jakarta-Batam-Bintan. Keluar dari pintu bandara, kami sudah ditunggu oleh Suster Yudith, FSE. Berdesak-desakan bersama bagasi dalam satu mobil, kami meluncur menuju Batam Center. Di Batam, kami menumpang selama satu malam di komunitas Susteran FSE, Batam Center. Para suster yang mendiami komunitas tersebut menjalankan pelayanan di Rumah Sakit St. Elisabeth, Batam Center.
Kedatangan kami, khususnya Sdr. Agung dan Sdr. Johni disambut hangat dengan tarian Tor-Tor. Ada sukacita terpancar dalam penyambutan. Sukacita itu bukan tanpa alasan. kehadiran para Saudara Dina di Bintan, tetangga pulau Batam, menjadi anugerah tersendiri bagi para suster FSE. Kehadiran para Saudara Dina diharapkan membawa “rejeki rohani” bagi para saudari-saudari Fransiskan yang telah hadir lebih dahulu di Batam. Penyambutan bernuansa budaya Batak itu berlanjut dengan Ibadat Sore bersama di Kapela Biara.
Pada malam hari, Mgr. Sunarko, OFM menyambangi susteran FSE dan berjumpa dengan kami. Setelah menikmati suguhan khas Batam, kami diajak menikmati pemandangan kota Batam dalam balutan cahaya lampu di malam hari. Kami berhenti di Gereja St. Petrus, paroki Lubuk Baja, tempat Mgr. Sunarko menginap sekaligus berjumpa dengan Rm. Jati, Vikep Dekenat Utara Keuskupan Pangkal Pinang.

Mengunjungi Gereja St. Fransiskus Assisi, Kabil sebelum bertolak menuju Bintan.
Menuju Pulau Segantang lada
Sabtu, 11 Maret, 2023, setelah berkeliling ke beberapa tempat di kota Batam, seperti jembatan Barelang, pada siang hari kami bertolak dari Dermaga Punggur menuju Pulau Bintan, tepatnya Tanjung Pinang, menggunakan kapal ferry. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 15 menit. Mgr. Sunarko turut bersama kami. Goncangan ritmis kapal membelah gulungan-gulungan kecil ombak laut lepas tidak menyurutkan antusiasme kami untuk berbagi cerita dalam kapal. Bagi Mgr. Sunarko, perjumpaan ini menjadi semacam nostalgia dan reuni persaudaraan. Sepanjang perjalanan, percakapan di antara kami terus bersambung tak putus.

Pemandangan dalam perjalanan dari Dermaga Punggur, Batam menuju Dermaga Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang. Pulau-pulau kecil bertaburan seperti butiran-butiran lada
Mendarat di dermaga Sri Bintan Pura, Pastor paroki Hati Santa Maria Tak Bernoda (HSMTB), Rm. Prambodo sudah menunggu kedatangan kami. Sejak dari Dermaga Punggur, Sdr. Johny tak henti-hentinya merekam momen perjalanan menggunakan kamera smartphone: mulai dari kapal, dermaga, dan suasana perjalanan. Dokumentasi pribadi sebagai perintis karya di Bintan rupanya diperlukan. Kelak, ketika ada yang meragukan cerita sebagai perintis di Kijang, bukti audio dan visual tinggal disodorkan.
Gedung pastoran dan Gereja HSMTB berada di Tanjung Pinang, dekat dermaga Sri Bintan Pura. Butuh waktu 7-10 menit saja menggunakan kendaraan bermotor. Gedung gereja HSMTB dibangun pada tahun 1932 sebagai bagian dari dari stasi Kepulauan Riau. Pada awal tahun 1939, stasi Tanjung Pinang didirikan dengan wilayah pelayanan mencakup Bintan dan pulau-pulau di Kepulauan Riau bagian timur. Pada tahun 1961, stasi Tanjung Pinang menjadi Paroki HSMTB. Saat itu, jumlah umatnya sebanyak 1.131 jiwa. Seiring berjalannya waktu, dari Gereja ini, berkembang banyak komunitas Kristiani di wilayah Kepulauan Riau. Pada tahun 2022 lalu, umat katolik di pulau Bintan merayakan 90 tahun berdirinya Gereja HSMTB. Jumlah umat bertambah banyak, mencapai lebih dari 6.000 jiwa.

Sesaat setelah tiba di Dermaga Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang
Sejenak beristirahat, pada malam hari, Rm. Pram mengajak kami untuk menikmati pemandangan kota Tanjung Pinang di malam hari. Tanjung Pinang adalah ibukota provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Memisahkan diri dari Provinsi Riau pada tahun 2002, Kepri menjadikan Tanjung Pinang sebagai ibukota provinsi. Gedung-gedung pemerintahannya terletak secara khusus dalam satu Kawasan di Dompak, pulau kecil yang dihubungkan dengan jembatan dengan Tanjung Pinang. Berbeda dengan wilayah provinsi di Indonesia pada umumnya, wilayah provinsi Kepri sebagian besar terdiri dari air laut. Para penduduk terserak di pulau-pulau kecil. Topografi demikian membuat Kepri mendapat julukan sebagai Kepulauan Segantang Lada. Pada peta, pulau-pulau kecil itu nyaris seperti biji lada yang diserakkan di atas air, antara pulau Sumatra, Kalimantan, dan semenanjung Malaysia.

Tampak depan Gereja St. Cosmas dan Damianus, Kijang
Demikian juga, reksa pastoral yang dijalankan mesti menjangkau pulau-pulau kecil. Paroki HSMTB tidak hanya mencakup pulau Bintan tetapi juga sejumlah pulau kecil di sekitarnya, termasuk wilayah terluar Indonesia, yakni Kepulauan Natuna. Berbeda dari Jakarta, gemerlap lampu di Tanjung Pinang hanya terbatas pada pertokoan dan warung makanan yang ada di wilayah perkotaan dan pada gedung-gedung pemerintahan. Tak banyak yang kami nikmati dalam perjalanan berkeliling tersebut selain aktivitas warga di antara pertokoan dan pusat kuliner.
Tuak Curu agu Manuk Kapu di Gereja Kijang
Kami mengawali hari Minggu (12/03/2023) dengan misa di Gereja Kristus Raja, Batu Kucing. Misa dipimpin oleh Mgr. Sunarko serta didampingi oleh para imam. Seiring berkembangnya waktu, Gereja HSMTB tidak dimungkinkan lagi menjadi gereja paroki. Jumlah umat yang semakin banyak mendorong Paroki untuk mendirikan gedung gereja baru yang dinamakan dengan Gereja Kristus Raja.

Berpose bersama setelah Misa di Gereja Kristus Raja, Batu Kucing.
Pada misa tersebut, Rm. Prambodo memperkenalkan kepada segenap umat yang hadir Sdr. Jhony dan Sdr. Agung sebagai Fransiskan yang akan bertugas di wilayah calon paroki Kijang. Kabar mengenai kedatangan para Fransiskan yang akan berkarya di Kijang telah lama didengar oleh umat. Kabar tersebut mendapatkan kepastian melalui perkenalan Sdr. Johni dan Sdr. Agung di hadapan umat.

Penerimaan rombongan dengan adat dan tradisi Manggarai oleh komunitas Manggarai diaspora di Bintan
Menjelang matahari terbenam, kami berangkat menuju Kijang. Kijang berada di sisi timur pulau Bintan. Butuh waktu sekitar 30-45 menit dari Tanjung Pinang menuju Kijang. Suatu kejutan yang menggembirakan, umat Kijang telah menyiapkan sambutan bagi kami, khususnya bagi duo perintis. Kami diterima secara adat Manggarai dengan tuak curu agu manuk kapu (tuak dan ayam) sebagai simbol penerimaan.

Sdr. Johny membalas curu agu kapu dari umat Bintan. Tuak dan ayam sudah pasti disantap Sdr. Johny setelah misa.
Sdr. Jhony didapuk sebagai juru bicara membalas sapaan selamat datang. Sambutan ini sekaligus memberi gambaran bahwa sebagian umat yang akan dilayani adalah orang-orang Manggarai diaspora. Bukan hanya dari Manggarai, sejumlah umat juga merupakan diaspora dari beberapa tempat di Flores, Sumatera Utara, serta keturunan Tionghoa.
Upacara penyambutan dilanjutkan dengan misa. Misa berjalan khidmat, diiringi koor dari umat sendiri. Pada akhir misa, dalam sambutannya, Mgr. Narko menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih atas tanggapan positif para Fransiskan untuk hadir di wilayah Keuskupan Pangkal Pinang. Beliau berharap agar kehadiran para Fransiskan turut serta memperkaya kehidupan menggereja di wilayah penggembalaannya, khususnya melalui kekayaan spiritualitasnya. “Kehadiran para Fransiskan di Keuskupan Pangkal Pinang sebenarnya telah diputuskan pada Kapitel tahun 2019,” ungkap Minister Provinsi dalam sambutannya. “Namun, pandemi Covid-19 telah menghambat proses untuk masuk (dan berkarya) sehingga baru dapat terealisasi pada saat ini,” lanjut beliau.

Mgr. Sunarko sedang menyampaikan homili dalam misa.
Setelah ekaristi, perayaan dilanjutkan di halaman gereja bersama umat. Perayaan ini menjadi semacam “pesta umat”. Konsumsi seluruhnya disediakan oleh masing-masing stasi dan wilayah guna dinikmati secara bersama-sama. Acara menjadi semakin semarak dengan hentakan musik, baik modern maupun musik tradisional. Sdr. Agung berbaur dalam kerumunan menikmati hentakan musik. Mulai dari tarian Ja’i, goyangan dangdut, tarian Gawi, sampai lagu remix kekinian, semua gerakan dilibas.
Pastoral Sabuk Perbatasan
Misa penerimaan di Kijang menandai secara resmi kehadiran para Fransiskan di Keuskupan Pangkal Pinang. Sebelumnya, beberapa Fransiskan seperti Sdr. Bimo Prakoso, OFM, Sdr. Martin Kowe, OFM, maupun Sdr. Goklian, OFM dari Provinsi Duta Damai, Papua, pernah membantu pelayanan di pulau Bintan. Namun, Sdr. Agung dan Sdr. Jhony yang secara resmi diutus sebagai duo perintis kehadiran para Fransiskan di wilayah Bintan.
Sejumlah tugas menanti untuk dijalankan. Saat ini, Kijang berstatus stasi yang akan dipersiapkan menjadi paroki. Dalam perencanaan, dari Rahim paroki HSMTB akan dimekarkan dua paroki baru. Stasi St. Yohanes Don Bosco, Tanjung Uban, dan Stasi St. Cosmas dan Damianus, Kijang akan menjadi dua paroki baru. Paroki Kijang akan membawahi 5 stasi yang lain yaitu, Galang Batang, Kawal, Tanjung Kapur, Malang Rapat, dan Teluk Dalam.

Berfoto bersama umat di Stasi Malang Rapat di depan gedung kapela stasi yang sederhana. Stasi ini akan menjadi bagian dari Paroki Kijang.
Stasi Tanjung Uban akan diresmikan sebagai paroki di bulan Juni 2023. Kehadiran duo perintis Fransiskan membantu membidani kelahiran paroki Kijang. Sejumlah hal mesti dipersiapkan, seperti urusan administrasi, orientasi wilayah pastoral, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk sementara waktu, keduanya bertempat tinggal di pastoran paroki HSMTB untuk mempelajari administrasi paroki serta hal-hal lain yang dibutuhkan untuk paroki yang baru nanti.
Tugas lain yang menanti adalah memelihara iman umat. “Di sini banyak orang Katolik, tapi lebih banyak lagi yang bermental Napas (Natal-Paskah),” jelas Rm Pram ketika mengantar kami dalam perjalanan mengunjungi stasi-stasi yang lain pada hari berikutnya (13/03/2024). Rm. Pram juga bercerita tentang persoalah human trafficking yang masih dialami oleh Gereja lokal sampai saat ini. Bersama Mgr. Sunarko kami mengunjungi sejumlah stasi yang akan menjadi bagian dari pariki Kijang. Beberapa stasi sedang membangun gedung kapela. Tampaknya ini juga menjadi tugas yang akan dihadapi duo perintis bersama dengan umat.

Mengunjungi kapela “st. asbestus” di stasi Galang Batang. Umat stasi Galang Batang sedang membangun kapela sehingga untuk sementara, kegiatan peribadatan dilakukan dalam kapela sementara ini.
Kehadiran duo Fransiskan di Kijang semakin menegaskan corak pastoral para Fransiskan yang bergerak ke wilayah-wilayah pinggiran, sebagaimana diutarakan dalam Kapitel Provinsi tahun 2016. Kali ini, wilayah pinggiran yang dimaksud adalah perbatasan negara (Indonesia-Singapura-Malaysia). Jika diamati, ada 4 pelayanan pastoral para Fransiskan di wilayah perbatasan Indonesia (Bintan, Badau, Nangakantuk, dan Atambua). Ini menjadi suatu pastoral sabuk perbatasan sekaligus menjadi pengejawantahan pastoral kebangsaan ala Fransiskan.
Pada hari selasa (14/03/2023), saya dan Minister kembali ke Jakarta. Berbeda dari rute kedatangan, kami kembali ke Jakarta melalui jalan lain. Kami bertolak dari Bandara Raja Ali haji Fisabilillah, Bintan, langsung menuju Jakarta. Perjalanan mengantar duo perintis menjadi berkesan karena antusiasme dankeramahan umat dalam menyambut kehadiran duo perintis serta pesona seafood dan kedai kopi yang sangat meggugah selera kuliner.
Kontributor: Sdr. Rio, OFM

Tinggalkan Komentar