Ziarek Persaudaraan

Hari demi hari, bulan demi bulan, kami senantiasa disibukkan dengan berbagai macam kegiatan di Komunitas BITORA. Entah itu kegiatan pribadi maupun komunitas, terhitung sejak bangun pagi sampai malam tiba.  Kendati jiwa dan badan terasa lelah, tetapi kami tetap meluangkan sedikit waktu untuk ziarah sembari rekreasi alias ZiaRek bersama. Secara etimologi, kata rekreasi berasal dari dua kata yaitu “Re” dan “Kreasi”. “Re” berarti kembali, dan “Kreasi” berarti ciptaan. Maka, rekreasi berarti menciptakan kembali. Jadi, tujuan dari kegiatan kami pada hari ini ialah membangun atau menciptakan kembali relasi yang utuh dan seimbang dengan diri sendiri, sesama, alam ciptaan, dan Tuhan.

Hari ini, 5 April 2021, kami Para Saudara Postulan Yogyakarta bersama Sdr. Sipri OFM, dan Sdr. Juan OFM mengadakan ZiaRek Bersama ke Candi Hati Kudus Ganjuran dan Gua Maria Jatini Ningsih, Klepu. Tepat pukul 10:15, kami berangkat dari komunitas Biara Santo Bonaventura menuju Gereja Hati Kudus Ganjuran. Transportasi yang kami gunakan adalah 1 mobil dan 3 sepeda motor. Kelompok 1 menggunakan mobil Avanza, yang merupakan mobil komunitas yang disupiri Sdr. Juan OFM dan kelompok 2, yang terdiri dari 6 Saudara Postulant yang mana, 3 di antaranya telah memiliki SIM motor yang masih aktif atau berlaku.

Pukul 12.30, kami tiba di Gereja dan Candi Hati Kudus Ganjuran. Ketika sampai di gerbang Gereja tersebut, sejenak saya berpikir, sekaligus mengagumi ciptaan Tuhan dengan bergumam dalam hati “Oh sungguh, betapa indahnya ciptaan-Mu Tuhan”. Jujur bahwa sebagian besar dari kami berasal dari Flores (Manggarai, Ende, Lembata, Kupang, dan Bajawa), yang nota bene, baru pertama kali mengunjungi Gereja dan Candi ini. Memang diakui juga bahwa ada beberapa Saudara di antara kami yang berasal dari Jawa, sudah pernah datang berdoa di tempat ini sehingga tempat ini tidak asing lagi bagi mereka. Lalu, apa saja yang kami lakukan di tempat ini?

Hal pertama yang kami lakukan adalah masuk dan berdoa di dalam gereja. Setelah itu, kami menikmati indahnya arsitektur gereja tersebut, dan akhirnya mengabadikan moment kebersamaan kami dengan foto bersama di dalam gereja itu.

Setelah itu, kami beranjak ke Candi Hati Kudus Ganjuran yang tidak begitu jauh letaknya dari Gereja itu. Hal yang kami lakukan adalah berdoa, berdoa, dan berdoa lagi. Selanjutnya, kami menuju ke air sendang Ganjuran yang tidak jauh dari Candi tersebut untuk membasuh kaki, tangan, muka, rambut dan kepala. Dan tak kalah serunya lagi adalah acara foto-foto, entah foto secara pribadi, kelompok kecil maupun secara bersama-sama. Ada juga yang sempat mengunjungi kantin yang di dalamnya terdapat berbagai macam perlengkapan rohani, minuman, snack, dan juga obat-obatan herbal seperti daun kelor, temulawak, susu murni, dan lain-lain.

Setelah itu, acara selanjutnya adalah kami beristirahat sejenak di pendopo Gereja. Selama beristirahat, kami mengadakan santap siang bersama yang telah disediakan oleh saudara kami yang memiliki keterampilan dalam hal masak-masakkan yaitu Sdr. Frans yang berasal dari Lembata. Menu makan siang kami bisa dikatakan standar dan sederhana yaitu nasi putih, capcai, opor ayam, oseng tempe, krupuk, dan pisang. Memang, kelihatannya sederhana tetapi kami sangat menikmatinya dengan penuh sukacita yang tak terkatakan karena diwarani oleh rasa persauadaraan dan kekeluargaan yang sungguh mendalam di antara kami.

Setelah menikmati santap siang bersama, dan kami semua sudah merasa dikuatkan dengan menu makanan yang telah disediakan, kami kemudian bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ZiaRek kami ke Gua Maria Jati Ningsih, Klepu. Kini komposisi personil di dalam mobil dan motor mulai berubah. Ada apa gerangan? Oh…ternyata, ada yang merasa kurang nyaman mengendarai mobil alias mabuk kepaya sehingga berganti posisi untuk mengendarai sepeda motor. Iya, maklumlah, kondisi tubuh dan kesehatan masing-masing pribadi berbeda satu dengan yang lainnya.

Perlu diakui bahwa kondisi jalan ke Gua Maria Jati Ningsih memang berliku -liku, tetapi kami sungguh menikmatinya karena disegarkan oleh keindahan alam ciptaan Tuhan seperti hamparan sawah nan hijau, hembusan angin yang sepoi-sepoi membelai sekujur tubuh kami, aluanan suara kicauan burung-burung, dan masih banyak lagi keindahan ciptaan Tuhan lainnya yang sampai-sampai membuat mata kami tak dapat berhenti untuk berkedip dan detakan jantung berdebar-debar. Sementara itu juga, dari kejauhan, kami melihat para petani dengan giatnya bekerja di sawah sembari ditemani burung bangau yang asyik mengais makanan di hamparan padi nan hijau itu.

Tak terasa, akhirnya kami tiba juga di Gua Maria Jatiningsih, Klepu. Gua Maria Jatiningsih merupakan sebuah tempat yang begitu indah dan sakral karena menjadi salah satu tempat ziarah rohani bagi semua orang dari berbagai daerah. Banyak juga para peziarah yang berdoa di tempat ini, merasa bahwa setiap keinginan, harapan, dan permohonan mereka dikabulkan berkat pertolongan doa Bunda Maria. Tidak hanya itu, banyak peziarah juga merasa adanya ketenangan dan kenyaman batin setelah berdoa di tempat ini. Selain patung Bunda Maria, ada juga patung Tuhan Yesus yang tampak berdiri kokoh kuat dan indah menyambut para peziarah yang datang berdoa di tempat itu.

Kegiatan yang kami lakukan di Gua ini adalah berdoa rosario bersama di bawah kaki Yesus dan Bunda Maria. Setelah berdoa, kami akhirnya mengabadikan moment indah kebersamaan kami sekali lagi dengan berfoto ria bersama dan kemudian berkeliling menikmati suasana pemandangan di sekitar Gua ini. Matahari pun perlahan-perlahan meninggalkan praduanya, seakan-akan memberikan isyarat kepada kami untuk segera kembali ke rumah kami yaitu Biara Santo Bonaventura yang tercinta. Akhirnya, pada pukul 17.00, kami bergegas kembali ke Komunitas dan tiba di BITORA pukul 18.30 dengan selamat.

Sungguh, kegiatan ZiaRek kali ini memampukan kami untuk senatiasa menyadari betapa berharga dan indahnya membangun relasi cinta persaudaraan yang lebih utuh dan seimbang dengan diri sendiri, sesama, alam ciptaan dan Tuhan sendiri yang empuya semuanya itu. Kegiatan ini juga merupakan bentuk ungkapan syukur dan terima kasih kami atas semua yang kami alami dan terima dengan cuma-cuma selama ini, terutama dalam perjalanan hidup dan panggilan kami sebagai seorang Saudara Dina Fransiskan, hari ini, esok, dan kelak.*  Pax et Bonum.

Yohanes Yorgianje Pili (Postulan Yogyakarta)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *