Jakarta, OFM – Senin, 18 Mei 2026, FORKASI Sdr Muda OFM Provinsi St. Michael Malaikat Agung Indonesia bekerja sama dengan Senat Mahasiswa STF Driyarkara, mengadakan nobar (Nonton Bareng) film yang berjudul, Pesta Babi: Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah film dokumenter gubahan Sipri Dale dan Dandy Laksono. Acara nobar ini bertempat di Aula SMA Fransiskus Kampung Ambon dan dimulai pukul 19:00 – selesai, terbuka untuk umum dan semua kalangan.
Kegiatan nobar ini merupakan bentuk dukungan terhadap masyarakat Papua yang beberapa dekade terakhir mengalami berbagai kekerasan, tidak hanya melalui perampasan tanah adat mereka, tetapi juga atas kehadiran militer sebagai “pengaman” proyek strategi nasional (PSN) yang digagas oleh pemerintah pusat. Selain itu, ketidaktahuan akan fakta yang terjadi di tanah Papua, entah itu kekerasan yang dialami oleh masyarakat, model proyek strategis yang dicanangkan pemerintah, serta sejauh mana keterlibatan militer, turut menjadi dorongan kuat yang melatarbelakangi dilaksanakannya nobar ini. Acara ini berlangsung dengan sangat baik dan komunikatif. Ada banyak emosi yang tercurah dan tergambar pada raut wajah partisipan yang turut ambil bagian dalam acara ini. Tidak sedikit orang yang merasa marah kepada negara, aparat militer, serta instansi keagamaan. Tidak sedikit juga yang merasa kasihan, iba, serta menaruh kesedihan atas penderitaan yang dialami oleh masyarakat Papua. Film ini banyak menggugah perasaan, sakit hati dan kesedihan.
Acara nobar ini diawali dengan sambutan dari Sutami Amin (Yayasan Pusaka Bentala Rakyat) sebagai pembicara. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Papua tidak pernah menentukan nasibnya sendiri, baik selama penjajahan Belanda maupun setelah kemerdekaan Indonesia. Kalau kita tilik dalam sejarah Papua, yang berlangsung di sana sebenarnya juga adalah upaya melebarkan sayap kapitalisme. Di sana kekerasan akan selalu terjadi sebab antara keduanya, kapitalisme dan kolonialisme, itu saling bertalian. Film yang segera akan kita saksikan ini sebenarnya mau menjelaskan dan mengingatkan bahwa hari-hari ini kolonialisme masih berlangsung di negara kita dan hal itu dapat kita temukan dalam situasi hidup masyarakat Papua.
Selama 20 tahun terakhir, perjuangan terhadap hak hidup masyarakat Papua berlangsung dalam lingkaran yang dimaksudkan untuk mengubah hak hidup. Yang terlihat dan diberitakan, baik dalam berita televisi, surat kabar, dan media sosial, seolah-olah negara sedang berjuang, tetapi yang terjadi sebenarnya tidak lepas dari kepentingan individu. Dalam hal ini, perjuangan itu sedang dipelintir. Militer tidak demokratis. Mereka membenarkan kekerasan, dengan senjata, mereka seolah-olah membenarkan maksud bahwa dengan melakukan demikian, persoalan tentang Papua ini bisa segera selesai. Ternyata ini salah sebab senjata tidak dapat diajak untuk berdialog.
Sekapur Sirih tentang Papua: Fakta yang Ditampilkan dalam Film Pesta Babi
Ada beberapa fakta menarik tentang masyarakat Papua yang diangkat oleh film Pesta Babi ini. Fakta paling menonjol adalah soal adat istiadat yang dijaga dan dirawat dengan baik, sebab adat adalah bagian dari kehidupan masyarakat Papua. Pertama, kayu berbentuk salib dan berwarna merah. Ini adalah simbol yang menandakan perlawanan dan larangan untuk tidak menyentuh tanah-tanah adat mereka. Kayu berbentuk salib ini tidak ditancapkan di pelataran Gereja, melainkan di kebun-kebun adat yang disakralkan. Hal ini dimaksudkan supaya pemerintah atau proyek strategis yang dicanangkan tidak masuk dan menyentuh tanah-tanah mereka.
Kedua, budaya Pesta Babi. Secara harfiah, Pesta Babi merujuk pada Awon Atatbon, yaitu ritual adat sakral suku Muyu di Papua Selatan yang melibatkan perburuan dan pembagian daging babi hutan antar klan sebagai simbol solidaritas, persaudaraan, dan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam leluhur. Acara ini disiapkan selama 10 tahun. Babi yang disembelih dalam acara ini merupakan hasil ternak sendiri, dan bukan dari pembelian. Babi yang digunakan juga tidak dipelihara atau pun dirawat secara khusus. Setelah diberi tanda, babi-babi yang bersangkutan dilepasliarkan di hutan. Setelah 10 tahun, masyarakat akan mencari babi-babi itu di hutan. Pada prosesinya, daging babi yang sudah dimasak, dimakan dan tidak diberikan secara gratis kepada tamu yang hadir. Tamu harus memberikan uang kepada tuan pesta sebagai bentuk penghargaan kepada tuan rumah atas kerjasamanya menjaga hutan.
Secara konteks, istilah Pesta Babi ini digunakan oleh film dokumenter tersebut sebagai satire politik dan metafora atas kerakusan aliansi oligarki, korporasi, serta elite penguasa. Mereka digambarkan sedang “berpesta pora” membagi keuntungan ekonomi dengan mengeksploitasi kekayaan alam Papua demi kepentingan modal pribadi dan kelompok. Melalui narasi visualnya, film ini mengungkap bagaimana “pesta” investasi berskala raksasa – seperti mega-proyek komoditas tebu, sawit, dan food estate – secara agresif membabat jutaan hektar hutan ulayat di wilayah Merauke dan sekitarnya. Ironisnya, proses perampasan ruang hidup ini memicu praktik kolonialisme modern yang meminggirkan masyarakat adat setempat melalui intimidasi, militerisasi, dan kerusakan ekologis, sehingga penduduk asli Papua justru terasingkan dan menjadi korban di atas tanah mereka sendiri.
Selain fakta adat dan budaya, film ini juga menggambarkan secara gamblang soal kehadiran aparat militer yang diiming-iming sebagai pengaman. Kehadiran aparat militer di tanah papua bisa disebut sebagai sebuah upaya agresi sekaligus juga dalil ancaman bagi warga. Saat ini terdapat 56.000 personel tentara yang ditempatkan di Papua. Ini setara dengan 1 personil menjaga 100 warga sipil. Penolakan kehadiran dan pembukaan markas militer terus dilakukan oleh masyarakat, sebab ini bukan hanya soal keselamatan tetapi juga atas dasar perjuangan untuk menjaga hutan sebagai tanah Ulayat. Kehadiran militer seyogianya mengkhawatirkan masyarakat, sebab masih ada trauma yang kuat di tengah mereka. Ada banyak pengalaman buruk di baliknya.
Menanggapi situasi yang dihadapi oleh masyarakat Papua, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia mendukung upaya masyarakat Papua untuk menolak proyek strategis nasional di tanah Papua dan mengecam keras praktik kekerasan, pembukaan hutan berskala besar untuk tujuan proyek strategis nasional, serta upaya militerisasi di tanah Papua. Seharusnya, negara mengambil sikap untuk lebih aktif lagi mengupayakan kesejahteraan masyarakat Papua. Negara jangan sampai lupa bahwa mereka masih bagian dari NKRI. Apa yang menimpa masyarakat Papua saat ini mengindikasikan ketimpangan perhatian dari pemerintah. Bagaimana tidak, masyarakat Papua dan kekayaan alamnya, semata-mata hanya dilihat sebagai komoditi. Jangan sampai, apa yang terjadi dan menimpa masyarakat Papua saat ini bisa menjadi salah satu bentuk pemusnahan sebuah bangsa dan peradaban di zaman kita.
Apa Kata Mereka
Sehabis pemutaran film, moderator acara memberikan kesempatan kepada para peserta yang hadir untuk memberikan komentar dan curahan hatinya setelah menyaksikan film Pesta Babi. Seorang peserta bernama Lusy mengatakan demikian, segala hal yang menimpa masyarakat Papua sekarang merupakan sebuah bentuk kolonialisme baru yang mengarah ke praktik Genosida. Bagaimana tidak, seperti kita, mereka juga hidup di bawah naungan bendera merah putih, tetapi merah putih tidak menaungi mereka. Masyarakat Papua tentu saja resah dan gelisah, kalau negara ini tidak menghargai kami, alangkah lebih baik bila kami memisahkan diri saja. Selain Lusy, Romo Ferry, OFM juga turut menyatakan keresahannya. Bagi Romo Ferry, meskipun kita tidak sempat menyaksikan dan mengalami langsung kesengsaraan masyarakat Papua, setidaknya kita harus mengupayakan dua hal ini dalam hidup kita, nalar yang sehat dan empati yang jernih. Nalar untuk memastikan dan mengingatkan sesama kita bahwa film ini bukan sebagai upaya provokasi dan empati, tapi sebagai bentuk dukungan dan seruan untuk menumpas ketidakadilan. Film Pesta Babi ini sudah menampilkan sketsa yang sebenarnya untuk kita mengetahui kondisi dan peristiwa sebenarnya yang terjadi di tanah Papua.
Lalu dalam kesempatan wawancara yang dilakukan oleh kontributor, banyak peserta yang hadir sebenarnya ingin menyatakan kejengkelan dan keresahan hatinya. Salah satu peserta yang sempat kami wawancarai adalah Saudari Audrey Verena. Bagi dia, film ini merupakan representasi kolonialisme di zaman modern. “Dulu pas jaman sekolah, cerita-cerita tentang Papua terasa jauh karena hanya diceritakan sebagai kejadian lampau. Sekarang, apa yg diceritakan di sekolah sebagai kejadian lampau, masih terjadi. Nyata masih terjadi. Diulang, diteruskan tetapi dengan nama proyek yang berbeda saja. Seharusnya film seperti ini yang banyak diputar di sekolah, bukan narasi buatan pemerintah.”
Acara nobar Film Pesta Babi ini diakhir dengan foto bersama. Selanjutnya, para peserta yang turut hadir dipersilakan untuk kembali ke tempatnya masing-masing. Di wajah mereka tergambar banyak ekspresi, ada yang sedih, ada yang marah, jengkel dan tentu saja mengutuk keras praktik ketidakadilan terhadap masyarakat Papua dan alamnya. Namun, atas semua hal itu, terdorong oleh cita-cita yang satu dan sama, kita bangun solidaritas, dan bahu membahu menyuarakan ketidakadilan. HIDUP KORBAN, JANGAN DIAM, LAWAN!
Sdr. Robertus Efata Lehot, OFM

Tinggalkan Komentar