Anamnesis Keindhan: Refleksi tentang Jalan Keindahan dalam Hidup Religus (Bagian 1)

Sumber gambar: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2020-02/pope-francis-vigil-mass-feast-of-presentation-of-the-lord-homily.html

Pada 2015, dalam rangka merayakan Hari Doa Panggilan Sedunia ke-52, Konferensi Gereja Italia menyelenggarakan sebuah simposium berjudul “Vocazioni e Santità – Toccati dalla Bellezza” (Panggilan dan Kekudusan- disentuh oleh Keindahan). Simposium ini diadakan untuk mengangkat kembali hubungan erat antara panggilan dan jalan keindahan (via pulchritudinis).

Panggilan orang beriman memang seharusnya dimaknai sebagai jalan keindahan. Tuhan yang memanggil itu indah dan melalui pelbagai cara menarik manusia kepada diri-Nya. Di sisi lain, manusia (yang menjawab panggilan Tuhan) membiarkan dirinya ditransformasi oleh keindahan Tuhan. Oleh karena itu, panggilan adalah dialog interaktif antara Tuhan yang memanifestasikan keindahannya dan manusia yang membiarkan hatinya disentuh dan direbut oleh keindahan ilahi.

Sebagai murid Kristus, semua orang kristen dipanggil untuk menjadi bentuk kelihatan dari estetika ilahi.  Melalui mereka, Yesus – Pribadi “yang terelok di antara anak-anak manusia” (Mzm. 45 [44]: 3)- ditampilkan secara terus menerus dalam setiap masa. Dibaptis dalam nama Kristus, orang-orang Kristen menerima Roh Kudus yang memampukan mereka menjadi ikon-ikon Kristus. Kesediaan untuk membiarkan diri dibimbing dan dibarui oleh Roh Kudus membuat hidup mereka menjadi anamnesis atau pengulangan kembali keindahan Kristus, sang Allah yang menjadi manusia.

Dalam konteks hidup religius, via pulchritudinis dianggap sebagai elemen fundamental dari panggilan para religius. Paus Yohanes Paulus II, dalam Anjuran Apostolik Vita Consecrata, menegaskan bahwa “hidup bakti menjadi salah satu jejak konkret yang ditinggalkan Tritunggal dalam sejarah, sehingga manusia dapat merasakan pesona dan nostalgia keindahan ilahi” (VC 20). Dengan penegasan ini, hidup religius dimaknai sebagai salah satu bentuk hidup yang didirikan untuk memancarkan keindahan Allah di dunia.

Konsep tentang keindahan ilahi identik dengan kodrat hidup religius itu sendiri. Hidup religius lahir sebagai buah yang tak terelakan dari perjumpaan signifikan antara Allah, yang secara mengagumkan berkarya melalui kehadiran Putera-Nya, dan beberapa orang yang merasa tersentuh oleh karya tersebut. Mereka membiarkan diri ditransformasi oleh tindakan Allah dan membaktikan diri secara penuh kepada Allah.

Seperti yang kita ketahui, identitas hidup religius terletak dalam “menghadirkan kembali pola hidup yang dikenakan oleh Yesus sebagai Putera Allah dalam memasuki dunia” (LG 44; VC 16). Karena Kristus adalah “Keindahan yang menyelamatkan dunia” [1], maka para religius memiliki tugas untuk menjadi bentuk kelihatan dari keindahan Kristus. Dalam pengertian ini, keindahan ilahi memiliki kaitan yang erat dengan panggilan sejati dari mereka yang menjalankan hidup religius.

Misi para religius di dunia adalah “menjadi kenangan hidup Kristus”. Namun, tidak mungkin menjadi ‘kenangan hidup Kristus’ tanpa tersentuh oleh keindahan Pribadi dan nilai-nilai yang dihidupi-Nya. Sebagaimana juga ditegaskan dalam Evangelii Gaudium, “mewartakan Kristus berarti menunjukkan bahwa percaya kepada-Nya dan mengikuti-Nya bukan hanya suatu hal yang benar dan adil, tetapi juga suatu hal yang indah, mampu mengisi hidup dengan kemegahan baru dan sukacita yang mendalam, bahkan di tengah-tengah kesulitan-kesulitan. Setiap ungkapan keindahan sejati dengan demikian dapat diakui sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan Yesus “(EG 167).

Bagi mereka yang memilih hidup religius, Yesus menjadi satu-satunya harta tersembunyi yang paling berharga, sehingga untuk memiliki-Nya, mereka rela meninggalkan segala-galanya, belajar dan menganut bentuk hidup yang dijalani-Nya. Hidup religius merupakan Christi vivendi forma. Setiap orang yang dipanggil untuk memilih cara hidup ini “tersentuh tidak saja oleh misteri umum Kristus, tetapi juga oleh proyek hidup-Nya dan oleh cara yang Ia pakai untuk merealisasikan proyek hidup tersebut. Dasar dari semangat Kristus terletak dalam disposisi-Nya yang sempurna sebagai Anak dan Hamba, kesediaan-Nya untuk membiarkan segalanya direncanakan Allah, dan perhatiannya pada tanda-tanda kehendak-Nya dan kesediaan yang total untuk melaksanakannya: “makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34).[2]  

Masuk dalam tarekat hidup religius bukanlah sebuah keputusan yang seseorang ambil atas dasar pemaksaan yang datang dari luar. Hidup religius merupakan sebuah bentuk hidup yang berbicara tentang kelekatan penuh cinta para anggotanya dengan Tuhan. Hidup religius adalah buah dari pengalaman merasa disentuh oleh keelokan Tuhan dan dari sinilah lahir keputusan untuk secara bebas meninggalkan segala sesuatu demi mengikuti Tuhan.

Dokumen Vita Consecrata, dengan mengacu kepada para Bapa Gereja, menggambarkan perjalanan kaum religius sebagai filocalia, yaitu “cinta akan keindahan ilahi” (VC 19). Ini berarti bahwa para anggota religius, dipimpin oleh Roh Kudus, membiarkan diri mereka dikuasai secara total oleh pesona Allah dan dengan demikian hidup mereka menjadi tanda yang transparan dari estetika ilahi.

 Dengan membiarkan diri mereka ‘ditawan’ oleh pesona Allah dan Injil Putera-Nya, para religius pun menjadi nostalgia keindahan ilahi dalam Gereja dan di tengah dunia. Anjuran apostolik Vita Consecrata menggarisbawahi hal itu dengan mengatakan: “begitulah hidup bakti menjadi suatu meterai kelihatan, yang dikenakan pada sejarah oleh Titunggal Mahakudus, sehingga orang-orang dapat merasakan penuh kerinduan daya tarik Keindahan ilahi” (VC 20). Dengan demikian, tugas para anggota hidup bakti adalah merawat nostalgia keindahan ilahi dalam hidup mereka dengan menghidupi panggilan mereka secara setia dan otentik. Tentang hal ini, Paus Yohanes Paulus II mengingatkan: “hayatilah sepenuhnya kebaktian diri anda kepada Allah, supaya dunia ini jangan pernah tanpa sinar keindahan ilahi untuk menerangi jalan hidup manusiawi” (VC 109).

[1] Ini adalah kata-kata F. M. Dostoevskij dalam novel berjudul Idiota. Dikutip dari C.M. Martini, Quale bellezza salverà il mondo?, Milano, Centro Ambrosiano, 1999.

[2] J. Aubry, «La vocazione alla vita consacrata religiosa», dalam A. Favale, vocazione comune e vocazioni specifiche, Roma, LAS, 1993, hlm. 380.

 

Sdr. Agustinus Laurentius Nggame, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *