Animasi Gardianat Greccio: Fratelli Tutti

Yogyakarta, 17 April 2021. Sesi ketiga dari kegiatan Animasi di Bitora kali ini dibawakan oleh Pater Agustinus Nggame, OFM. Pembahasannya berpusat pada dokumen Fratelli Tutti yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus. Beliau menjelaskan bahwa dokumen ini berdasarkan terjemahan bebas karena belum ada terjemahan secara resminya ke dalam bahasa Indonesia. Pater Gusti mengangkat dokumen ini karena dirasa cocok untuk direfleksikan dalam tahun persaudaraan ini, mengingat Dapur Penginjilan Spiritualitas sebelumnya memang merancang tahun ini sebagai tahun persaudaraan. Jadi, dokumen ini seolah menjadi dasar bagi dilaksanakannya tahun persaudaraan. Dokumen Paus Fransiskus yang berbicara tentang persaudaraan dan persahabatan sosial ini ditandatangani oleh Paus sendiri pada 3 Oktober 2020 di Assisi. Paus mengakui bahwa dokumen tersbut lahir karena terinspirasi dari Fransiskus Assisi yang tidak ingin memaksakan doktrin tetapi hanya ingin menyebarkan kasih, dan itu terlihat dalam kisah kunjungan Fransiskus Assisi ke Mesir untuk menemui Sultan Malik Al-Kamil. Bagi Paus Fransiskus, persaudaraan selalu menjadi perhatian utama dan ia ingin membangun persaudaraan itu karena menurutnya tidak ada manusia yang dapat hidup dalam kesendirian atau dalam keadaan terisolasi.

Dokumen Fratelli Tutti ini terbagi dalam 8 bab yang meliputi: 1.) Awan hitam di atas dunia yang tertutup, 2.) Seorang asing di jalan, 3.) Memimpikan dan melahirkan sebuah dunia yang terbuka, 4.) Hati yang terbuka pada dunia, 5.) Bentuk politik yang lebih baik, 6.) Dialog dan persahabatan daIam masyarakat, 7.) Langkah perjumpaan yang dibaharui, dan 8.) Agama sebagai pelayan persaudaraan di dunia.

Secara umum, Paus Fransiskus melihat realita dunia saat ini. Orang-orang tercerabut dari sejarah dan dari kebudayaan lokalnya; sebuah bentuk baru dari kolonialisasi kebudayaan. Orang-orang membiarkan yang lain merampok jiwa mereka (tradisi, identitas spiritual, konsistensi moral, kebebasan intelektual, ekonomi dan politik, menyebarkan paham-paham rasa keputusasaan dan ketidakberanian). Budaya konsumerisme telah begitu merasuki kehidupan kita. Barang-barang yang sudah out of date akan segera dibuang begitu saja dan hal ini bahkan terjadi juga dalam relasi kita kepada sesama. Ketika relasi memberikan keuntungan bagi kita maka kita akan menjaga relasi itu, namun jika relasi itu tidak menguntungkan bagi kita maka kita akan segera membuangnya. Orang lain tidak lagi dilihat sebagai pribadi yang patut dihormati dan dijunjung tinggi. Hal ini secara konkret terdapat di benua Eropa seperti di Italia, banyak anak muda mengabaikan orang-orang tua mereka.

Paus juga menyoroti perihal HAM yang saat ini masih belum universal. Artinya, masih banyak pelanggaran terhadap martabat manusia yang terjadi di mana-mana. Ketidakadilan gender, Human Trafficking, perbudakan adalah sebagian contoh dari pelanggaran HAM yang disoroti oleh Paus. Konflik dan ketakutan juga masih melanda dunia ini dengan adanya perang, serangan teroris, persekusi berbasis ras dan agama. Ada juga godaan bagi manusia untuk membangun dinding pemisah, untuk menutup diri atau karena takut terhadap orang lain. Dikatakan juga bahwa manusia dapat menemukan planet yang jauh, tetapi tidak dapat menemukan kebutuhan saudara dan saudari di sekitarnya. rtinya kepedulian terhadap sesama di sekitar mulai memudar. Di masa pandemi ini, Paus beranggapan bahwa pandemi menghidupkan kesadaran bagi kita untuk membentuk komunitas global bersama-sama berada dalam satu perahu dalam menangani permasalahan terkait pandemi saat ini. Salah satu contoh konkritnya adalah kerja sama pengadaan vaksin dengan beberapa negara tetangga seperti Tiongkok, Amerika, Inggris, dll, dengan tujuan untuk saling bahu-membahu berperang melawan suatu permasalahan bersama, yakni pandemic Covid-19.

Selain itu, Paus juga menawarkan sebuah proposal bagaimana seharusnya kita bertindak, apa yang harus kita lakukan untuk menghidupi sikap persaudaraan. Paus melihat bahwa tema persaudaraan ini sudah lama dibahas dalam Kitab Suci, terutama menyangkut kehidupan orang-orang Yahudi. Paus mengutip inspirasi dari kisah-kisah tradisi umat Israel dalam Kitab Suci. Dalam kaitannya agama sebagai pelayan persaudaraan di dunia, Paus mengatakan bahwa tanpa keterbukaan kepada Allah tidak ada dasar untuk berbicara tentang persaudaraan. Harus diakui pula bahwa salah satu penyebab utama krisis dunia modern adalah hilangnya hati nurani manusia, pengambilan jarak dari nilai-nilai religius, dan individualisme serta materialisme yang mendominasi. Adalah keliru kalau dalam debat publik, suara yang diperdengarkan hanya suara mereka yang berkuasa dan suara para ahli. Perlu diberi ruang bagi refleksi atau suara dari kaum religius. Para religius di masa lalu telah membuktikan bahwa diri mereka bermakna melalui refleksi atau suara-suara yang dikemukakan kepada publik. Untuk alasan ini, gereja tetap menghormati otonomi dalam kehidupan politik, tidak membatasi misi hanya pada wilayah pribadi. Sebaliknya, gereja tidak dapat dan tidak boleh tinggal di garis pinggir dalam membangun dunia yang lebih baik. Kalau tidak, ia gagal membangun kembali energi spiritual yang dapat memberi sumbangan bagi perbaikan masyarakat.

Akhirnya dalam sesi diskusi dan persentasi kelompok, hari ketiga kegiatan Animasi di Bitora ini, Pater Gusti mengatakan bahwa kita harus berbangga dengan spiritualitas yang dimiliki oleh Fransiskus dan para Fransiskan, karena menurutnya, spiritualitas kita bernilai dan sangat diperlukan gereja pada zaman ini. Paus Fransiskus Assisi yang seorang Jesuit saja berani mengambil jalan dan nilai hidup yang dihidupi oleh Fransiskus dari Assisi. Lantas, bagaimanakah dengan kita yang menamanakn diri seorang Fransiskan, pengikut Bapak Santo Fransiskus Assisi? Kita juga harus menunjukan kekhasan kita dan menampilkan kharisma kita sebagai seorang Fransiskan; mempertahankan apa yang sudah ada. Kita harus hadir di tengah dunia pertama tama melalui tindakan dan cara hidup kita. Pewartaan kita adalah melalui dialog gerak ‘aksi’ dan kemudian jika diijinkan Tuhan, barulah kita memulai dengan kata-kata kita. *

Sdr. Valentino Chandra K. dan Sdr. Alvin Nagang  (Postulan Yogyakarta)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *