Bersaudara dengan Diri Sendiri dan Sesama

Pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 November 2021, para Saudara Muda di Jakarta dan Cipanas mengikuti rekoleksi bulanan yang dilaksanakan secara online. Rekoleksi bulan ini bertema ‘Persaudaraan antar Umat Manusia’ dan dibawakan oleh Sdr. Franciscus Xaverius Sutardja, OFM, atau yang biasa disapa sdr. Tarjo. Beliau adalah misionaris di Thailand sejak tahun 2000 silam. Saat ini beliau bertugas sebagai direktur rumah retret Garden of Gospel Peace di Lamsai, Pathumthani, Thailand.

Pada sesi pertama di Sabtu malam, Sdr. Tarjo mengajak para saudara muda untuk pertama-tama membangun persaudaraan dengan diri sendiri. Ajakan ini mengingatkan kembali para Saudara Muda kepada pengolahan hidup sewaktu di postulat/novisiat, yaitu soal penerimaan diri. Penerimaan diri sangatlah penting, kata Sdr. Tarjo, karena dari sanalah kita dapat merasakan kebahagiaan, sehingga dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang utuh. Sdr. Tarjo membagikan tips yang menarik terkait hal ini. Beliau mengatakan, kita harus memelihara 4H: Head (pikiran), Heart (belas kasih), Hand (pelayanan), dan Holy (hidup rohani). Bagi Sdr. Tarjo, orang yang tekun memelihara 4H itu akan mampu menjalani kehidupan dengan ringan dan gembira.

Selanjutnya, Sdr. Tarjo mengingatkan agar para saudara muda menghindari kecenderungan untuk menjadi orang lain. ”Setiap orang adalah unik dengan kekhasannya masing-masing. Memang, semua orang perlu memiliki gambaran ideal tentang diri, tetapi hal itu juga harus dibarengi dengan sikap realistis. Tuhan mempunyai rencana bagi setiap orang dalam kelebihan dan kekurangannya. Kita harus menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi orang lain” ungkap sdr. Tarjo.

Pada sesi kedua di hari berikutnya, Sdr. Tarjo mengajak para saudara muda untuk melihat persaudaraan dalam konteks ordo. Ordo Fransiskan adalah instrumen persaudaraan bagi kita. Wujud dari instrumen ini berupa spiritualitas dan komunitas. Spiritualitas menunjukkan kepada kita tentang bagaimana persaudaraan Fransiskan, sementara komunitas menjadi tempat kita menghidupi persaudaraan Fransiskan tersebut. Dalam proses menghidupi spiritualitas persaudaraan dalam komunitas tersebut, Sdr. Tarjo menekankan kembali pentingnya persaudaraan dengan diri sendiri (penerimaan diri). Sebab, seringkali  kita terbentur pada idealisme persaudaraan sehingga mudah kecewa dengan keadaan. Oleh karena itu, kita harus terlebih dahulu mampu untuk menerima diri kita sendiri, agar kemudian mampu menerima saudara-saudara kita lainnya, yang masing-masing memiliki keunikan.

Sdr. Tarjo bercerita, ketika tinggal bersama dengan saudara-saudara Fransiskan dari berbagai negara, nampak perbedaan-perbedaan praktik penghayatan spiritualitas. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar dan bukan tentang salah atau benar, melainkan karena setiap saudara memiliki konteks dan latar belakang yang berbeda-beda. Selain itu, sekarang misalnya, Sdr. Tarjo dan saudara-saudara Fransiskan di Thailand masing-masing tinggal sendirian. Sdr. Tarjo sendiri tinggal di rumah retret, satu saudara di rumah perawatan pasien AIDS (St. Clare Hospice), satu saudara lainnya di rumah formasi St. Bonaventura di Samphran, Nakhon Pathom, dan saudara muda menjalani studi di Filipina. Hal ini tentu akan tidak sesuai dengan pemahaman umum tentang persaudaraan: bahwa persaudaraan berarti tinggal bersama dengan beberapa atau banyak saudara. Inilah yang ingin Sdr. Tarjo garisbawahi, bahwa persaudaraan harus dipahami melampaui apa yang kita pikirkan di kepala kita. “Lagipula, kita tidak akan terganggu dengan kenyataan persaudaraan jika kita telah mampu bersaudara dengan diri kita sendiri, mampu untuk menemukan kebahagiaan dalam diri kita sendiri. Bersama-sama oke, sendiri juga oke, kata Sdr. Tarjo.

Garden of Gospel Peace di Lamsai, Pathumthani, Thailand, tempat sdr. Tarjo berkarya

Pada akhir rekoleksi, Sdr. Tarjo mengajak para saudara muda untuk dengan tekun mengusahakan kedewasaan diri dalam persaudaraan. “Kita diajak untuk sanggup menerima diri sendiri apa adanya dan menerima saudara lain apa adanya. Kita adalah anugerah, dan setiap saudara pun adalah anugerah. Bersama-sama kita mengikuti Yesus Kristus dan Santo Fransiskus dalam kebebasan batin”, imbuh sdr. Tarjo.

Sdr. Yusuf Raditya, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *