Coki, Tuhan, dan Kita

sumber gambar:https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210902171456-12-688971/

Beberapa hari terakhir Indonesia dikejutkan dengan berita tertangkapnya Coki Pardede, salah seorang komedian besar Indonesia, karena kasus penggunaan Narkoba. Coki, lelaki yang sering ngonten bareng Tretan Muslim, adalah pria yang mungkin lebih dikenal karena pengakuannya sebagai seorang agnostik dan jokes-nya yang seringkali bermain di garis batas dunia perguyonan Indonesia, seperti agama, moralitas, dan isu-isu tabu lainnya. Tentu saja dua hal ini kerap kali membuatnya dipandang negatif. Berita tertangkapnya Coki karena narkoba dan pengakuan Tretan tentang Coki yang sering menonton film porno sesama jenis (gay) secara tidak langsung meningkatkan antipati kaum agamis Indonesia terhadap mereka yang mengaku sebagai agnostik. Ironisnya, kurang lebih pada waktu yang bersamaan, Saiful Jamil yang keluar dari penjara setelah mendekam karena kasus pedofilia, malah disambut bak pahlawan Olimpiade Tokyo 2021. Saya secara jujur merasakan ada yang salah dalam masyarakat Indonesia dalam bersikap terhadap tokoh publik. Entahlah, namun ini bukan tujuan tulisan ini.

Hal yang menjadi kegelisahan saya adalah tentang bang Coki sendiri, terutama salah satu pernyataannya

“Di saat seperti itu, agama Kristen yang dianggap berasal dari Tuhan yang Mahakuasa, nyatanya tidak mampu memberi solusi atas permasalahan manusia yang mortal dan terbatas. Wajar jika Nietzsche memilih untuk menyingkirkan Tuhan yang tidak berguna seperti itu”.

Jleb. Kesannya dalam. Bisa jadi memang dalam. Pertama, Coki membahas problem of evil, yang mana menjadi topik utama skripsi yang sedang saya geluti saat ini. Kedua, pernyataan Coki tentang Nietzsche mengandaikan dia telah membaca karya-karya Nietzsche, tokoh yang selalu ingin saya hindari karena gaya tulisannya yang aforistik dan membingungkan. Namun bukan berarti pernyataan Coki ini tanpa cacat.

Kalo Sial, Salah Siapa?

“Di saat seperti itu, agama Kristen yang dianggap berasal dari Tuhan yang Mahakuasa, nyatanya tidak mampu memberi solusi atas permasalahan manusia yang mortal dan terbatas.”

Tesis utama Coki jelas. Agama Kristen tidak mampu memberi solusi atas permasalahan manusia. Pertanyaannya, “apakah benar?”. Atau lebih jauh lagi, “masalah yang dialami itu masalah siapa?”. Saya tidak tahu pengalaman buruk apa yang telah menimpa Coki, namun sejauh yang saya tahu, Kekristenan telah dan masih memberikan solusi atas segala peristiwa kejahatan yang menimpa manusia. Kekristenan dengan kekhasan “ajaran kasih” dan “penebusan dosa manusia oleh Allah Putra” mengajak manusia untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Nah, dari titik inilah kecurigaan saya muncul. Jangan-jangan, Coki salah paham akan hakikat Kekristenan?

Mengapa salah paham? Karena dari pernyataan singkatnya, Coki menganggap agama sebagai obat bagi semua masalah manusia. Padahal hakikat agama Kristen adalah kembali kepada Allah, bukan sekedar obat. Pertanyaan lebih lanjut, jika masalah yang dialami Coki adalah salahnya sendiri, masa mau menyalahkan agama? Tuhan yang kita puja bukanlah tukang suruh-suruh apalagi babu yang tiap kali dimintai akan membantu karena Mahabaik. Bukan, itu teologi yang salah. Di sisi lain, Tuhan kita adalah Allah yang Mahaadil, adillah segala jalan-Nya. Terhadap keadilan Allah, wajar jika kita mengalami kesialan, bisa jadi memang benar ini hasil tindakan buruk kita. Kita yang main api, kita yang terbakar, masakan mau menyalahkan Tuhan? Jelas tidak masuk akal.

Tapi kamu kan tidak tahu apa pengalaman bang Coki. Jangan gegabah bicara begitu. Ya, saya tidak tahu. Saya juga tidak tahu pengalaman orang lain yang hidupnya jauh lebih menderita dari saya dan bang Coki. Namun sebagai manusia beriman, saya tahu bahwa segala sesuatu memiliki alasan dan penyelesaiannya sendiri. Saya tahu bahwa ada cobaan, ujian, dan hasil kesalahan manusia sendiri, dan semuanya itu tidak akan saya jadikan alasan untuk meninggalkan Tuhan. Baiklah jika kita merenungkan kata-kata Sadrakh, Mesakh, dan Abednego terhadap Nebukadnezar,

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu (Dan. 3:17-18).”

Tuhan Sudah Mati?

“Wajar jika Nietzsche memilih untuk menyingkirkan Tuhan yang tidak berguna seperti itu”

Tesis Coki menjadi semakin jelas. Nietzsche menyingkirkan Tuhan yang tidak berguna. Tuhan dilihat sebatas kegunaannya saja, seakan-akan Tuhan adalah alat yang dipakai untuk kepentingan manusia, tidak ada bedanya dengan rice cooker, ponsel, sapu, dan barang-barang lainnya. Nah ini yang keliru. Tuhan adalah Pencipta, bukan alat ciptaan manusia.

Terhadap pernyataan tersebut, ada satu pertanyaan yang muncul. Apakah benar Nietzsche menyingkirkan Tuhan karena Ia tidak berguna? Nietzsche, filsuf kondang abad 19, terkenal dengan kata-katanya, “Gott ist tot – Tuhan sudah mati”. Apa maksud kata-kata itu?

Bangunan filosofis Nietzsche adalah sikap “ya” terhadap kehidupan. Agama Kristen, menurutnya, tidak menampilkan sikap “ya” ini. Baginya agama Kristen adalah sistem yang pesimis dengan janji surga dan pahala bagi mereka yang tabah dalam penderitaan. Agama Kristen bagi Nietzsche juga adalah agama yang kaku penuh aturan, mengekang kebebasan manusia. Oleh karena itu Nietzsche menolak agama Kristen. Imbasnya, Nietzsche juga menolak konsep ketuhanan tersebut. Pengatur moralitas, baginya, haruslah manusia, bukan Tuhan. Kematian Tuhan dalam hal ini diartikan sebagai kenyataan yang mana manusia meninggalkan fondasi moralitasnya di dalam Tuhan; suatu gejala yang terjadi di masyarakat dalam kurun waktu hidup Nietzsche sendiri. Dengan demikian jelas bahwa Nietzsche menolak Tuhan karena merasa terkekang, bukan karena Tuhan itu tidak berguna. Lebih ekstrim lagi, Nietzsche adalah seorang ateis sehingga keberadaan Tuhan secara eksistensial itu sendiri tidak ada dalam perhatiannya.

Coki: Teguran Untuk Kita

             Coki adalah bagian dari sekian banyak orang yang mungkin meninggalkan Tuhan karena masalah-masalah hidup yang belum terselesaikan. Dia juga mungkin adalah bagian dari mereka yang melarikan diri melalui jalan pintas yang tidak sehat, seperti narkoba dan hal-hal lainnya. Namun pernahkah kita berpikir bahwa peristiwa Coki juga adalah cerminan masyarakat kita? Pernahkah kita berpikir bahwa kita bisa turut menyumbang beban penderitaan hidupnya?

            Secara pribadi saya berpikir bahwa Coki, dan mungkin Coki-Coki lainnya, dapat diselamatkan seandainya sejak semula mereka mendapat teman yang tepat. Hal ini menyentuh, bahkan menampar batin saya. Sudahkah kita menjadi terang dan garam dunia? Sudahkah kita menjadi rekan kerja Tuhan dalam dunia? Jangan sampai kita malah menjadi pengacau berkedok agama, masa bodoh saat kita dibutuhkan oleh mereka. Di satu sisi tentu saja setiap orang bebas dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri namun di sisi lain manusia adalah makhluk sosial yang harus selalu ada bagi yang lain, atau dalam bahasa biblis mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Secara khusus mungkin ini adalah teguran bagi para religius, yang seharusnya menjadi sandaran bagi umat yang malang. Jangan-jangan kita terlalu nyaman dalam menara gading bernama biara sampai lupa bahwa diluar sedang terjadi huru-hara. Entahlah, saya hanya mengajak pembaca sekalian berpikir sejenak. Dapatkah kita berusaha mencegah saudara kita tersesat? Sudahkah kita berdoa bagi mereka? Atau jangan-jangan kita juga turut mengutuk tanpa memberi solusi? Marilah kita merenungkan sabda Tuhan,

“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? (Luk. 6:41)”.

Rujukan:

Nietzsche, Friederich. The Gay Science. Bernard Williams, peny. Cambridge: Cambridge University Press, 2008.

Stangroom, Jeremy. Philosophy: 50 Ideas in 500 Words, London: Modern Books, 2018.

Suseno, Franz Magnis. Menalar Tuhan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2006.

Wibowo, A. Setyo. Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2017

https://megapolitan.kompas.com/read/2021/09/03/17172091/tangkap-coki-pardede-polisi-temukan-05-gram-sabu?page=all

https://nasional.kompas.com/read/2021/09/05/05300071/-populer-nasional-kebebasan-saipul-jamil-disambut-bak-pahlawan-profil-bupati diakses pada Jumat, 9 September 2021 pukul 16:00 WIB.

Sdr. Ronaldo R. A. Bhari, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *