Masa Penciptaan 2022: Mendengarkan Suara Ciptaan

Lampung, OFM- Memasuki Masa Penciptaan (Season of Creation) yang berlangsung sejak 1 September sampai 4 Oktober mendatang, para Saudara Dina dari Gardianat Portiuncula, Jakarta, bersama dengan umat Paroki St. Theodorus, Liwa menggelar Misa pembukaan di Stasi Sikancau, Lampung Barat, Kamis (1/9/2022). Diinspirasikan oleh tema Masa Penciptaan tahun 2022, “Dengarkan Suara Ciptaan”, semua hadirin bertekad untuk semakin peka mendengarkan jeritan Ibu Bumi yang kini menderita akibat multi krisis lingkungan yang berkepanjangan dan konflik di berbagai tempat.

Misa pembukaan Masa Penciptaan 2022 di Sekincau dirayakan secara konselebrasi oleh para Saudara Dina gardianat Portiuncula, Jakarta dan para Saudara Dina di Liwa. Direktur JPIC-OFM Indonesia, Sdr. Fridus Derong, OFM menjadi konselebran utama

Masa Penciptaan atau Season of Creation telah dicanangkan sejak 2015 silam. Adapun maksud dari penetapan bulan ciptaan ini yakni untuk merangkul, mendorong, dan mengajak semua orang-dengan berdoa, inisiatif positif, tindakan etis, untuk semakin peduli dengan fakta krisis lingkungan hidup dewasa ini. Akar sebab dari keprihatinan ini yaitu adanya kerusakan lingkungan hidup berskala global yang sungguh mempengaruhi seluruh integrasi relasi kehidupan manusia. Pada situasi demikian, orang-orang miskin merupakan kelompok yang paling rentan di dalam corak krisis semacam itu.

Dalam upacara pembukaan ini, seusai Misa, semua hadirin menyaksikan tindakan simbolis penanaman beberapa jenis pohon. Tindakan ini menyiratkan tanggapan nyata terhadap krisis lingkungan yang sedang tinggi terjadi saat ini. Sebelumnya, dalam homili misa, makna penanaman pohon dijelaskan sebagai ungkapan keterbukaan hati dan kesiapsediaan mendengarkan suara ciptaan. Sebagaimana diinspirasikan perikop Keluaran 3:1-2, dengan menanam pohon, manusia mencontohi tindakan Tuhan yang peduli dengan tangisan para penderita serta dan berjanji menghadirkan pembebasan berdasarkan arahan iman akan Allah.

Penanaman pohon setelah misa. Tanda peduli terhadap berbagai persoalan lingkungan hidup yang terjadi dewasa ini.

Mengapa mesti peduli dengan segenap ciptaan? Ciptaan seumpama buku kebijaksanaan yang akan mengalirkan kebaikan kepada semua orang jika didengarkan dengan baik. Agar sampai ke sana, semua orang mesti bersedia “membacanya”. Menariknya, alam semesta dapat dibaca oleh semua orang, bahkan yang buta huruf sekalipun. Saat bumi menjerit kesakitan, semua orang diminta untuk secara komunal bergerak meringankan rasa sakitnya. Penanaman pohon merupakan langkah awal dalam memberikan penawar rasa sakit kepada Ibu Bumi.

 

Kontributor: Sdr. Ogy Ganggus, OFM

Ed.: Sdr. Tian Gunardo, OFM

Post navigation