MENDENGARKAN DENGAN SUNGGUH

Lanjutan dari berita “Dipanggil untuk Berdoa, Bekerja, dan Belajar”

 

Pada hari pertama retret, dengan tema “Berdoa”, Sdr. Iron, OFM mengutip surat dari St. Fransiskus Asisi kepada St. Antonius Padua. Melalui surat ini, Sdr. Iron, OFM menunjukkan bahwa doa dan kebaktian suci, baik pribadi maupun bersama, sangat sentral bagi para Fransiskan.

Selanjutnya, Sdr. Iron mengajak sekaligus membacakan teks Yoh. 17:1-25. Menurut Sdr. Iron, OFM teks ini banyak menginspirasi St. Fransiskus Asisi tentang doa. Lalu, merujuk pada AngTBul pasal 23, Sdr. Iron, OFM menegaskan keutamaan hidup Fransiskus Asisi, yakni doa dan kerja. Karena itu, beliau pun menyentil soal urutan tema yakni “berdoa, bekerja, belajar”. Menurutnya, doa dan kerja itu merupakan bagian yang melekat dalam hidup Fransiskus Asisi dan kita para pengikutnya, sedangkan belajar merupakan tuntutan dari Gereja dan menjadi ketaatan Fransiskus kepada Gereja itu sendiri. “tetapi bukan berarti belajar itu tidak penting”, sambungnya.

Selain itu, merujuk pada konsum Bab 2, AngTBul, dan Teks Kitab Suci Yoh; 17:1-26 Sdr. Iron, OFM menekankan tentang pentingnya doa, karena orang yang kita imani dan ikuti adalah orang yang juga berdoa (Fransiskus dari Asisi dan Yesus Kristus). Lalu, bagaimana berdoa yang baik? Sdr. Iron, OFM menjelaskan bahwa dalam Wasiat St. Fransiskus dari Asisi disampaikan tentang doa sederhana untuk memuliakan Tuhan serta dalam AngTBul 7 tentang selalu bertekun dalam doa atau dalam suatu pekerjaan yang baik.

Karena itu, empat poin yang ditekankan oleh Sdr. Iron, OFM berkaitan dengan doa yakni: pertama, doa adalah relasi kasih, syukur, dan hasrat kita kepada Allah. Kedua, doa adalah bagian sentral, puncak hidup para Fransiskan. Doa, menurut Sdr. Iron, OFM, adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup Fransiskan. Ketiga, doa itu sederhana/batin/kontemplasi. Kontemplasi adalah melihat Allah dengan mata spiritual. Lebih lanjut, kontemplasi Franiskan baginya sangat dinamis dan praktis yakni kita menemukan Inkarnasi Tuhan dalam kehidupan dunia ini. Keempat, To have the spirit for the prayer. Terkait hal ini, Sdr. Iron, OFM mengajak agar para saudara muda selalu memiliki dan merawat hidup doa. “Doa adalah Roh Tuhan yang ada di dalam diri kita”, katanya.

Hari Kedua, bersama Sdr. Tauchen kami mendalami tema tentang “Bekerja”. Sdr. Tauchen dalam pemaparannya memfokuskan tiga hal penting terkait tema belajar ini yakni Kitab Suci, Dokumen Ordo, dan Ratio Formationis. Dari Kitab Suci, Sdr. Tauchen mengutip misalnya Pkh. 9:10 “segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi” atau dari teks Yoh. 5:17 “Tetapi Ia berkata kepada mereka: Bapaku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga”. Teks-teks ini menurut Sdr. Tauchen menunjukan bahwa Yesus yang kita imani juga bekerja. Oleh karena itu, kita sebagai pengikut-Nya pula mesti bekerja. Sdr. Tauchen pun menyakini bahwa dalam pekerjaan apapun, Tuhan juga pasti ikut campur tangan (1 Kor: 15:58)

Dari dokumen ordo, Sdr. Tauchen mengutip teks AngTBul 7, AngBul 5, Konsum art. 76 sampai 77 yang sama-sama berbicara mengenai hakikat kerja dalam persaudaraan kita. Beliau mengungkapkan bahwa dengan bekerja kita mengatasi kemalasan sebagai musuh jiwa. Lebih lanjut, beliau pun menekankan agar senantiasa bekerja dengan setia dan bakti. Sedangkan dari Ratio Formationis, Sdr. Tauchen menekankan bahwa bekerja merupakan suatu upaya untuk melatih diri bertanggungjawab.

Hari Ketiga, bersama Sdr. Iron, OFM kami mendalami tema tentang “Belajar”. Sdr. Iron mengatakan bahwa dalam perkembangan Ordo, terdapat dua kelompok yang memberikan perhatian terhadap hakikat dari belajar ini yakni yang mengklaim diri sebagai kaum spiritual dan kaum intelektual. Bagi kaum spiritual memberi penekanan pada minoritas dan kesederhaan. Karena itu, belajar bagi mereka bukan menjadi prioritas. Sedangkan bagi kaum intelektual, selain kedua hal itu, belajar juga amat penting. Bagi mereka belajar adalah tuntutan Gereja untuk misi dan evangelisasi.

Terhadap perbedaan pendapat ini, ordo pun kemudian merumuskan bahwa kedua hal ini mesti berdialog. Dua-duanya mesti berjalan beriringan, sebab Fransiskus juga merupakan pribadi yang taat terhadap ajaran Gereja Katolik. Akhirnya, menurut Sdr. Iron dengan studi atau belajar seorang saudara dina tetap membawakan dirinya sebagai seorang pelayan. Karena itu, bagi Sdr. Iron mengenai tema kerja ini kita mesti merefleksikan teks dari Mrk. 16:9-20 (Tentang Perutusan Para Murid), Konsum 6 (Aspek-aspek pendidikan yang lainnya), dan juga Amsal 1:1-7 (Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan)

Hari keempat, bersama Sdr. Iron kami berbagi cerita tentang hal yang paling mengikat dari ketiga pokok di atas. Ada yang bilang pengorbanan, keheningan, kerendahan hati, dll. Akan tetapi, menurut saudara Iron, hal yang paling mengikat dari ketiga hal itu adalah “Mendengarkan”. Menurutnya, dalam doa, kita berusaha untuk mendengarkan sabda dan firman Tuhan. Dalam bekerja, kita berusaha mendengarkan panggilan untuk merawat alam semesta. Dalam belajar, kita mendengarkan panggilan Gereja untuk tugas pewartaaan.

Selanjutnya dalam Ekaristi upacara pembaharuan kaul, Sdr. Mikhael Peruhe, OFMM, Minister Provinsi dalam kotbahnya menegaskan pula tentang ketiga tema ini. Menurut Sdr. Mikhael Peruhe, doa merupakan dialog dengan Tuhan dalam keheningan dan menjadi saat yang paling tepat untuk menerima sabda dan firman Tuhan. Karena itu, beliau mengharapkan agar setiap saudara memiliki waktu hening untuk berjumpa dengan Tuhan. Sementara, bekerja dan belajar bagi beliau adalah buah-buah yang kita peroleh dari doa itu sendiri.

Karena itu, Sdr. Mikhael Peruhe pun menekankan agar semua saudara bekerja dan belajar dengan sungguh. Sdr. Mikhel pun berterima kasih kepada Tuhan dan semua saudara karena masih memiliki tekad untuk bergabung dalam persaudaraan Fransiskan ini. Seluruh kegiatan ret-ret ini pun diakhiri dengan acara makan malam bersama.

Oleh : Sdr. Simon Lebo, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *